Kenalin,gua Nata Ghifari Ananjar.
Umur 18 tahun dan punya abang namanya
Rafa Ghifari Ananjar.
Abang gua ganteng ,banyak cewe yang nempel bahkan sampai nenek -nenek sekalipun nge- fans sama dia.
Abang gua paling suka tebar pesona didepan umum ,beda banget sama gua yang jengah liat kelakuannya.Walaupun begitu
gua sayang sama abang gua,begitupun sebaliknya.Dan
satu hal yang paling males buat gua,yaitu nganter abang gua yang keinginannya selalu aneh-aneh,kaya orang ngidam.Kalo nganter nya jalan kaki,gua harus ridho dikejar nyampe ngos-ngosan oleh ibu dan bapak kompleks ,yang lihat gua kaya maling.
Apabila gua kena sama kejaran mereka,bakalan abis ni muka gua ,bahkan nama gua juga bakalan tak kalah terkenal sama abang gua.
Dan gua juga diberi gelar" Tak kalah Tampan" oleh cewe-cewe yang bikin gua ilfil sama mereka.
Dah lah yah bang neng,ikutin aja kisahnya, Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA MEREKA?
"WOYYY BANG, BANGKE LO YA!" Riuh Natan bolak-balik ke rak sepatu untuk mengecek sepatunya yang hilang sejak tiga puluh menit yang lalu,
"WOY BIJI KARBIT, LO KAN YANG MAKE SEPATU GUE?" Natan marah nampak menggebu-gebu, apalagi sekarang ia sedang kepepet karena waktu pertemuan ia dengan teman-temannya semakin menipis,
"RIBUT AMAT LO, GUE MINJEM SEJAM DOANG," Rafa yang tak lain abangnya menunjuk sepatu Natan yang sudah berada di jemuran, naasnya sepatu itu basah kuyup karena sepertinya baru saja dicuci.
"WAHHH, NYARI MATI LO YA," Natan berlari menuju abangnya yang tak segan untuk memukul Rafa seiring perasaanya yang kian jengkel,
"BOCAH EMOSIAN, SALAH LO KEMARIN GAK ANGKAT PANGGILAN DARI GUE, YAUDAH GUE PAKE AJA." Rafa menghempas tangan Natan yang berusaha memukul dirinya, beginilah keseharian mereka yang tak pernah akur dan Natan merasa penuh perbandingan dalam keluarganya.
"GUA LIHAT-LIHAT SEPATU LO LEBIH BANYAK, MEREK NYA JUGA BAGUS, KENAPA GAK LO PAKE? SENGAJA MANFAATIN BARANG PUNYA GUE?" Sewot Natan namun tak membuat Rafa terusik, justru ia malah meremehkan Natan seakan semua itu salah adiknya,
"SURUH SIAPA LO BODO? NIH BELI! LU KAGAK PUNYA DUIT KAN? GAK MUNGKIN JUGA BOKAP NGASIH LO JAJAN GEDE, SEDANGKAN LO TIAP HARI TAWURAN DAN NYARI MASALAH BUAT KELUARGA INI," Ucapan Rafa hanya semakin membuat Natan murka, Natan sendiri benci jika kakaknya selalu mengungkit hal itu,
"LO EMANG BANYAK PRESTASI, TAPI SOAL ATTITUDE, LO GAK PUNYA ADAB, ANAK ANJ*NG, " Telak Natan melemparkan uang yang diberikan Rafa, ia memilih untuk pergi menggunakan sendal karet daripada mendengar ocehan yang membuat dirinya bisa darah tinggi,
"LO EMANG BANGSA* NATAN, LO SENDIRI GAK PUNYA SOPAN SANTUN, SO SO AN NOLAK DUIT GUE," Cacian Rafa tak digubris Natan yang sudah menaiki motornya dan membuka pagar untuk meninggalkan perkarangan rumah, mukanya tentu saja masam, rautnya datar dan banyak tanya akan hidupnya sepanjang ia berjalan,
" HIDUP GUE GAK PERNAH TENANG ANJ*NG," Umpatnya risau, terfokus pada Rafa yang sikapnya agak laen emang. Hal seperti tadi saja bisa membuat Natan marah besar karena abangnya selalu berbuat seenaknya, sedangkan dirinya dituntut untuk menghormati dan menghargai abangnya.
"Rafa, kamu gak bisa lebih baik ke Natan? adikmu juga perlu dihargai, jangan sembarangan menggunakan barang milik orang lain sekalipun itu milik keluarga kita sendiri," Mama yang mendengar anak-anaknya bertengkar keluar dari dapur dan mendekati Rafa yang ngemil lalu menatap mamanya malas,
" BELAIN TERUS ANAK ANJ*NG ITU," Rafa menatap mamanya sinis,
"RAFA, JAGA UCAPANMU!" Nada sang mama meninggi mendengar Rafa selalu sekasar itu bahkan tak segan saat sedang bersama dirinya,
"KALAU PAPA BALIK, ABIS KALIAN BERDUA," Rafa mengancam lalu pergi meninggalkan mamanya dengan perasaan tak senang bahkan tak terima diteriaki seperti itu.
"Bu, ibu istirahat saja yuk, nanti biar Rafa bibi yang atur," Bujuk pembantu rumah tangga-nya, ia menyaksikan segala hal yang terjadi pada pagi hari itu, termasuk pagi-pagi sebelumnya.
"Terimakasih ya bi, gak usah saya di sini aja," Mama menolak halus, hati bibi ikut tersayat karena ia ikut melihat pertumbuhan dua anak yang dulu selalu berdamai itu, ia yang melihat keadaan sekarang, tentunya amat sedih. Terutama perubahan sikap Rafa yang lebih lama dalam masa pengasuhannya semenjak ia lahir.
" WOY TAN," Teriak seseorang yang memanggilnya dari belakang motornya ketika di lampu merah, mana suaranya kenceng lagi.
"HAFAL BANGET LO INI GUE," Heran Natan seraya takjub dengan temannya yang selalu tau itu dia sekalipun ia di bungkus pake gulungan terpal.
"LO SERIUSAN SEKOLAH PAKE SELOP? MANA SELOP NYA KENYAL-KENYAL GITU LAGI," Lais Aditya Nugraha yang merupakan nama panjangnya itu merupakan teman sekelas Natan, ia menyelidiki hal yang agak laen dari penampilan Natan hari ini,
"Diem lo, gue colok mata lo!" Natan memalingkan wajahnya sinis dan melirik lampu lalu lintas yang sudah hijau, motornya di gas cukup kencang, hal itu membuat Lais cukup terkejut dan menggelengkan kepalanya .
" Lagi gak bae-bae aja ni bocah, gue harus kasih tau yang lain." Niatnya yang cukup cepu. Namun sebenrnya Lais amat perhatian tentang Natan, terlebih ia yang lebih tau tentang hidupnya Natan karena sudah bersama sejak ia jadi bocil paud.
"WOY BOCAH KECIL, MAJU NAPA! KAGAK LIAT LAMPU HIJAU UDAH NYALA?" Teriak bapa-bapa pengangkut tahu di motor tuanya yang emosi karena jalannya terhalangi oleh Lais,
" Lah, gue kira dia jalan karena kabur lawan arus, udah lampu ijo ternyata, " Cengo Lais salah prasangka terhadap Natan sebelumnya,
"IYA MAAF YA PAK," Ucapnya, lalu melaju dengan kecepatan sedang, karena jarak sekolahnya tak jauh dari lampu lalu lintas tadi.
"Rafa, mau bibi bantu menyiapkan keperluan kamu?"Tanya bibi salah satu orang yang membuat hati Rafa dan Natan melembut jika di dekatnya,
"Engga perlu bi, bibi sarapan aja, hal ini Rafa bisa atur." Titah Rafa yang sebenarnya ingin ditinggal sendiri. Sebetulnya Rafa sering merenung tentang tindakannya kepada adiknya. Namun ada sesuatu hal yang salah membuatnya tak terima hingga menjadi sosok berkepribadian seperti ini,
"Yaudah Fa, kalau ada hal yang perlu bibi bantu, panggil aja ya! Bibi pamit," Bibi meninggalkan Rafa yang tengah mempersiapkan barangnya untuk segera pergi ke kampus. Bibi sendiri sudah tak segan memanggil Rafa dan Natan dengan nama aslinya karena kedua bocah bau menyan itu tidak mau dipanggil tuan muda kecil, yang bagi mereka amat geli untuk didengar.
"LO MEMANG GAK GUNA DI KELUARGA INI NATAN, LO HAMA, BAGUSNYA LO GAK ADA HARI ITU," Benci Rafa menatap foto ia bersama Natan kecil yang saling berpelukan, seakan tak menyangka hubungan mereka akan seperti hari ini. Ia tak pernah membanting kenangan itu sekalipun ia cukup benci,
"BRO NGAMPUS GAK HARI INI? GUE TUNGGUIN DI BASECAMP!" Notif dari ponselnya membuat pandangan Rafa beralih, ia lalu mengetik sesuatu sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan kamar yang menjadi saksi segala sesuatu yang dirasakan pria tampan itu.
Sedangkan di sekolah SMA Jiwa Nusantara, kini tengah dihebohkan oleh kedatangan Natan yang selalu menjadi pusat perhatian karena wajah tampannya yang tak berhenti memikat, dari awal masuk saja jeritan wanita sudah terdengar dimana-mana, membuat siswa-siswa lain jengah dan dengki menatap Natan yang rasanya beruntung sekali memiliki wajah setampan itu.
"NIH YA...KALAU WAJAH GUE SECAKEP NATAN, TIAP JAM GUE BAKALAN GANTI CEWE, RUGI AMAT TUH ANAK NOLAK CEWEK MULU," Ucap salah satu siswa yang bersender di dinding depan kelas bersama anak-anak lainnya,
"UNTUNGNYA ENGGAK YA, KALAU GUE SIH CAKEPNYA LEBIH DARI NATAN," Pede siswa teman siswa tersebut yang menimbulkan gelak tawa karena penampilannya yang hitam dan acak-acakan saking malasnya untuk mengurus diri.
"KALAU GAK KALAH HITAM SIH IYA," Timpal siswa lainnya, membuat siswa yang diejek itu melempar sepatunya yang baru mau ia pasang.
aku akan membantumu menyelesaikan misterinya
KEMANA AJA KAU THOR😭😭
SEMANGAT DONG!!!! 🔛🔥
JANGAN PHP'IN KITA SEMUA DONG THOR LANJUTIN DONG CERITANYA😭
AWAS KALO GK DI UP AKU GENTAYANGIN RUMAH MU👿
semangat 😊