Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelarian kecil Aleta
Alden berbalik setelah memberikan pernyataan ambigu itu. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, lalu menghela napas panjang. Sambil melepas kemeja tidurnya, ia melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Aleta yang masih mematung di dekat jendela.
"aku mau mandi dan siap-siap sekolah," ucap Alden dengan nada dingin sebelum menutup pintu kamar mandi.
Klik.
Suara kunci pintu kamar mandi terdengar, disusul dengan suara gemericik air yang mulai mengalir di balik pintu kayu itu.
Aleta mematung sejenak, mendengarkan suara air sebagai penanda bahwa Alden benar-benar sedang sibuk di dalam. Matanya kemudian beralih ke arah pintu kamar utama. Alden memang tidak mengunci pintu kamar dari luar, ia hanya menutupnya setengah terbuka—mungkin karena terlalu terburu-buru atau memang sengaja ingin menguji Aleta.
Jantung Aleta berdegup kencang. Ia melirik pintu yang terbuka tipis itu, menampilkan lorong rumah Alden yang tampak sepi dan remang. Niat untuk kabur kembali berkobar hebat di dadanya. Rasa sakit di lehernya seolah hilang ditelan oleh adrenalin.
Ia mulai melangkah maju, sangat pelan, memastikan tidak ada suara lantai yang berderit. Setiap langkah terasa seperti sebuah perjudian. Ia sudah berada di ambang pintu, tangannya perlahan meraih gagang pintu untuk membukanya lebih lebar.
Di dalam sana, suara pancuran air masih terdengar konstan. Aleta menoleh ke arah pintu kamar mandi sekali lagi, memastikan Alden belum selesai. Ia harus cepat. Satu langkah kaki lagi, dan dia bisa mencapai koridor. Namun, di saat ia baru saja akan melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu, tiba-tiba suara air kamar mandi di belakangnya berhenti seketika.
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Aleta membeku, napasnya tercekat di tenggorokan. Apakah Alden sudah selesai? Atau cowok itu baru saja mematikan air untuk mendengarkan apakah ada pergerakan di luar?
Tanpa menunggu sedetik pun, Aleta menyelinap keluar dari kamar dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Ia tidak mempedulikan rasa pening yang masih menghantam kepalanya; satu-satunya fokus Aleta adalah menembus lorong dan mencari jalan keluar tercepat.
Begitu sampai di koridor lantai dua, ia sempat tertegun. Rumah ini terlalu besar dan asing baginya. Ia memutuskan untuk menghindari tangga utama yang kemungkinan besar akan membuatnya bertemu dengan asisten rumah tangga atau orang tua Alden di lantai bawah.
Aleta berlari kecil meniti dinding, mencari tangga servis atau akses pintu belakang yang biasanya ada di dekat area dapur. Napasnya memburu, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Saat sampai di ujung lorong, ia mendengar suara langkah kaki dari arah bawah. Seseorang sedang menaiki tangga.
Panik, Aleta berbelok ke arah ruang cuci yang pintunya sedikit terbuka. Dari jendela kecil di ruang cuci itu, ia melihat posisi garasi bawah yang letaknya lebih rendah karena kontur tanah rumah tersebut yang miring. Jika ia melompat ke balkon kecil di bawahnya lalu ke area taman, ia mungkin bisa mencapai gerbang samping yang biasanya tidak dijaga ketat.
Tepat di saat itu, suara pintu kamar mandi di lantai atas terbuka dengan kasar.
"Aleta?" Suara Alden yang berat dan sarat akan ancaman terdengar menggema dari arah kamar, disusul dengan derap langkah kaki yang keluar dari kamar.
Alden sepertinya baru saja selesai mandi dan menyadari pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Ia pasti langsung tahu Aleta mencoba kabur.
🌍🌍🌍
Aleta tidak punya waktu. Ia memanjat ambang jendela ruang cuci, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya yang ketakutan. Ia sudah berdiri di atas balkon kecil, bersiap untuk melompat ke area taman bawah, saat ia menoleh ke belakang, ia bisa melihat bayangan Alden yang sudah mencapai ujung koridor, matanya menyapu setiap sudut dengan tatapan murka.
"Jangan coba-coba, Aleta!" teriak Alden dari jauh, suaranya menggelegar di sepanjang koridor, membuat Aleta gemetar hebat di atas balkon.
Bruk!
Aleta mendarat di atas rumput taman bawah dengan posisi tidak sempurna. Rasa nyeri langsung menjalar dari pergelangan kaki hingga ke lututnya, membuat gadis itu meringis menahan sakit. Tapi rasa takut tertangkap kembali oleh Alden jauh lebih mendominasi. Sambil menahan ringisan, ia bangkit berdiri dengan tertatih-tatih, lalu berlari sekencang yang ia bisa menuju gerbang samping yang tampak sepi.
Di lantai atas, Alden yang melihat aksi nekat Aleta hanya mendengus sinis. Alih-alih langsung melompat mengejar seperti orang kesetanan, Alden justru berbalik dengan langkah yang sangat tenang. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya, mengambil kaos hitam polos, dan memakai seragam sekolahnya yang sudah disiapkan sejak tadi oleh pelayan dengan gerakan yang sangat santai.
Alden benar-benar tidak khawatir sama sekali.
Sambil mengancingkan seragamnya, cowok itu melirik ke arah luar jendela dengan senyum meremehkan. Kompleks perumahannya bukanlah kawasan biasa; ini adalah kawasan elit yang sangat luas dengan sistem keamanan berlapis, dan jalanan di luar sana mirip seperti labirin bagi orang asing.
Ditambah lagi, dompet dan ponsel Aleta tidak ada pada gadis itu.
Jalan saja yang jauh, Aleta, batin Alden sambil menyambar kunci mobil dan tas sekolahnya. aku mau lihat seberapa jauh kamu bisa lari tanpa uang, tanpa arah, dan dengan kaki yang mungkin sekarang cedera.
Alden sangat tahu, jangankan keluar dari area perumahan ini, mencari jalan menuju gerbang utama kompleks saja pasti akan membuat Aleta kebingungan setengah mati. Dengan santai, Alden berjalan menuruni tangga rumahnya, siap melakukan "perburuan" kecil sebelum ia berangkat ke sekolah.
🌍🌍🌍
Aleta terus berlari dengan napas yang tersengal-sengal. Rasa nyeri di pergelangan kakinya semakin menyiksa setiap kali ia memijak tanah, namun ia memaksakan diri. Saat ia sampai di area belakang rumah yang rimbun oleh pepohonan dan tembok tinggi, ia baru sadar bahwa ia hanya berputar-putar di dalam area properti yang luas itu.
Tidak ada jalan keluar. Di depannya hanya ada tembok pembatas beton yang menjulang tinggi, dan di sekelilingnya adalah taman-taman asri yang dirancang untuk memanjakan mata, bukan untuk melarikan diri.
Aleta berhenti sejenak, terengah-engah dengan air mata yang mulai menggenang. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu berbalik arah dengan langkah yang lebih terarah. Ke depan, pikirnya. Gerbang utama. Itu satu-satunya akses keluar.
Ia menyusuri jalan setapak di pinggir rumah, mencoba tetap berada di balik bayangan pepohonan agar tidak terlihat dari jendela lantai dua. Begitu ia sampai di depan rumah, pemandangan gerbang utama yang megah dan tinggi menjulang di hadapannya.
Gerbang itu tertutup rapat, hanya menyisakan celah kecil untuk akses pejalan kaki yang terkunci otomatis dengan sistem pemindai. Aleta mendekatinya dengan harapan tipis, mencoba mendorong pagar itu, namun pagar besi tersebut bergeming.
Tepat saat ia sedang berjuang dengan pagar itu, sebuah suara mesin mobil yang halus mendekat dari arah pelataran rumah. Mobil sport hitam milik Alden bergerak perlahan, keluar dari garasi. Lampu depan mobil itu menyorot tajam ke arah sosok Aleta yang berdiri mematung di depan gerbang.
Mobil itu berhenti tepat di belakang Aleta. Alden menurunkan kaca jendelanya, menatap gadis itu dengan tatapan datar—tidak ada kemarahan, hanya ada rasa geli yang tampak jelas di wajahnya.
"Udah puas lari-larinya?" tanya Alden dengan nada santai, seolah-olah dia sedang menyapa seseorang yang sedang jalan-jalan sore, bukan seseorang yang baru saja berusaha kabur darinya.
"Mau lanjut ke mana lagi? Gerbang itu dikunci pakai sistem biometric dan password yang cuma gue dan orang rumah yang tahu. Kamu bisa berdiri di situ sampai besok, dan nggak bakal ada yang bukain."
Aleta membeku di depan gerbang besi yang dingin itu. alih-alih meneteskan air mata ketakutan seperti sebelumnya, ada emosi lain yang membakar dadanya sekarang. Dia benar-benar muak. Rasa lelah, sakit di pergelangan kaki, dan ego Alden yang gila ini membuat ketakutannya menguap, digantikan oleh kemarahan yang memuncak.
Aleta berbalik, menatap lurus ke arah Alden yang masih duduk santai di balik kemudi mobil sport-nya.
"aku bukan buronan,ka Alden!" bentak Aleta, suaranya bergetar karena menahan amarah yang teramat sangat.
"kamu pikir kamu siapa?!"
Selama ini Aleta diam karena terkejut dan syok atas perlakuan kasar Alden semalam.
Tapi jika dipikirkan lagi, situasi ini benar-benar tidak masuk akal. Aleta bahkan tidak mengenal Alden secara pribadi. Mereka tidak punya hubungan pertemanan, apalagi asmara.
Di mata Aleta, Alden hanyalah seorang kakak kelas sekaligus Ketua OSIS di sekolah barunya. Seorang murid yang seharusnya menjadi teladan, bukan psikopat posesif yang menyekap orang di rumahnya.
"Hari ini hari seharusnya aku sekolah, mengikuti kegiatan MPLS yang lainya, ka Alden!" seru Aleta lagi, menunjuk ke arah seragam yang melekat di tubuh Alden
"aku seharusnya ada di sekolah sekarang, ikut kegiatan, bukan berdiri di sini jadi tawanan kamu! kamu Ketua OSIS kan?, tapi kelakuan kamu bener-bener sakit!"
Mendengar bentakan Aleta dan sebutan "sakit" yang keluar dari mulut gadis itu, senyum meremehkan di wajah Alden perlahan memudar. Matanya menyipit, menatap intens Aleta yang berani melawannya dengan napas memburu.
Keheningan mencekam kembali menyelimuti pelataran rumah mewah itu.
🌍🌍🌍
Alden mematikan mesin mobilnya. Detik berikutnya, pintu mobil sport hitam itu terbuka. Bukannya marah atau mengamuk karena dibentak, Alden justru melangkah keluar dengan gestur yang teramat tenang.
Sepasang matanya menatap Aleta lekat-lekat, dan perlahan, sebuah senyuman ramah terukir di wajah tampannya. Senyuman yang biasa ia tunjukkan di depan para guru dan murid-murid sebagai Ketua OSIS yang teladan dan berwibawa—sangat kontras dengan tatapan dinginnya beberapa menit lalu.
Ia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di hadapan Aleta yang masih menyala-nyala oleh amarah.
"Oh, jadi sekarang udah ingat kalau aku ini Ketua OSIS kamu?" ucap Alden dengan nada suara yang berubah menjadi sangat ramah, bahkan terdengar lembut di telinga.
Alden sedikit menundukkan kepalanya, sengaja ingin mendengarkan setiap penuturan dan kekesalan Aleta dari dekat. Jarak yang kikis ini membuat Aleta bisa menghirup aroma parfum maskulin Alden yang mengintimidasi.
"Terusin, Aleta. aku mau dengar semua yang ada di isi kepala kamu sekarang," lanjut Alden, masih dengan senyum ramah yang terlihat begitu tenang namun justru terasa sangat mencekam.
"Bilang kalau aku sakit, bilang kalau aku keterlaluan. Keluarin semuanya."
Sikap Alden yang tiba-tiba berubah justru membuat bulu kuduk Aleta meremang. Ia tahu, di balik senyuman ramah sang Ketua OSIS ini, ada rencana licik yang sedang disembunyikannya rapat-rapat.
Aleta tidak gentar dengan perubahan sikap Alden yang mendadak. Ia harus menguatkan hatinya, menolak untuk terlihat lemah di depan Alden. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Aleta menatap lurus ke dalam manik mata Alden yang berada tepat di depannya.
"Lepasin aku..." Kalimat itu meluncur lirih namun sarat akan penekanan dari mulut Aleta.
Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.
"Aku harus pulang, mama pasti khawatir. Aku juga ingin melanjutkan ke sekolah untuk menyelesaikan MPLS, dan aku janji... aku akan melupakan semua kejadian dua hari belakangan ini. Anggap kita gak pernah ketemu,ka Alden."
Aleta memberikan tawaran itu dengan harapan Alden akan berpikir logis. Bagi Aleta, melupakan trauma dua hari ini adalah harga yang murah asalkan ia bisa mendapatkan kembali kebebasannya dan pulang ke pelukan ibunya.
Mendengar janji Aleta yang ingin melupakan semua kejadian dan menganggap mereka tidak pernah bertemu, senyum ramah di bibir Alden perlahan membeku. Sorot matanya yang tadi melembut, kini kembali menggelap, memancarkan aura posesif yang kuat.
Melupakan semuanya? Bagi Alden, itu adalah hal terakhir yang akan ia izinkan terjadi di dunia ini.
🌍🌍🌍
Jangan lupa komen dan likeee yaaa🙏🏻😚
biar tambah semangat lanjutnya.
aduh selanjutnya Alden bakal gimana ya?