NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai pemenang YAAW 2026 periode 1 kategori 2 juara 3🥳 🎉 🎉

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pak Rahman menatap Arsy cukup lama. Seolah sedang menghafal wajah putrinya untuk yang terakhir kalinya. Setiap lekuk, setiap garis, setiap air mata yang jatuh tanpa suara.

“Nak…” katanya pelan dan napasnya tersendat. “Dengerin ayah baik-baik.”

Arsy menggeleng keras.

“Jangan ngomong gitu, Yah,” pinta Arsy cepat dan panik. “Lebih baik ayah istirahat aja. Ayah masih lemah. Nanti kita ngobrol lagi kalau ayah sudah lebih baikan.”

Pak Rahman tersenyum kecil. Senyum yang membuat dada Arsy terasa nyeri luar biasa.

“Ayah nggak bisa nak, waktu ayah udah nggak banyak lagi.”

“Enggak!” Arsy langsung memotong perkataan ayahnya, suaranya meninggi karena ketakutan. Air matanya jatuh semakin deras.

“Jangan ngomong gitu, Ayah. Arsy nggak mau dengerin itu.”

Pak Rahman menggenggam tangan Arsy dengan sisa tenaganya. Genggaman itu terasa lemah, tapi sarat makna.

“Dengerin ayah, Arsy.” ucap pak Rahman lirih namun tegas. “Ayah mohon.”

Arsy terisak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia menunduk, keningnya menyentuh tangan ayahnya, membuat pak Rahman menarik napas panjang dengan susah payah, lalu menoleh ke arah Syakil.

“Syakil…” panggilnya pelan dan membuat Syakil tersentak. Ia segera mendekat dan berdiri tegak di sisi ranjang pak Rahman.

“Iya, Pak,” jawabnya dengan suara rendah penuh hormat.

Pak Rahman menatapnya lama. Tatapan seorang ayah yang sedang menilai masa depan anaknya di mata seorang lelaki.

“Ayah ingin kalian menikah,” ucap Pak Rahman terbata-bata. “Sekarang.”

Kata itu jatuh seperti petir di tengah ruangan dan membuat Arsy mengangkat kepalanya dengan cepat.

“Ayah!” serunya panik. “Jangan mikirin itu sekarang. Ayah fokus sembuh dulu, ya. Urusan Arsy nanti saja.”

Pak Rahman menggeleng pelan. Napasnya semakin berat.

“Tidak, Nak… Ayah tidak mau nanti,” katanya lirih. “Ayah ingin melihat kamu menikah dan berada dalam penjagaan laki laki yang tepat sebelum Ayah pergi nanti.”

“Ayah nggak akan pergi ke mana-mana!” tangis Arsy pecah. “Ayah masih harus nemenin Arsy. Ayah masih harus lihat Arsy bahagia. Jangan tinggalin Arsy sekarang yah…”

Tangis Arsy berubah menjadi isakan yang tak tertahan. Tubuhnya gemetar. Tangannya mencengkeram seprai ranjang ayahnya seolah itu satu-satunya penopang hidupnya. Pak Rahman mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh pipi Arsy dengan gerakan yang begitu lemah.

“Arsy… Nak… dengerin ayah…”

Arsy menunduk dan menangis di tangan ayahnya.

“Waktu ayah sudah sangat dekat,” lanjut Pak Rahman dengan suara putus putus. “Dan ayah… ayah tidak akan tenang… kalau kamu ayah tinggalkan sendirian.”

Syakil berdiri kaku. Tenggorokannya terasa kering. Hatinya berdenyut keras menyaksikan percakapan yang terlalu sakral untuk disela.

“Ayah ingin kamu punya imam,” kata Pak Rahman pelan. “Laki-laki yang menjaga kamu, yang melindungi kamu, yang mencintai kamu dan bukannya yang menyakiti kamu.”

Arsy menangis semakin keras.

“Arsy belum siap, Yah…” Arsy terisak. “Arsy masih butuh Ayah.”

Pak Rahman tersenyum tipis. Air matanya menggenang di sudut matanya.

“Kamu harus siap, Nak,” katanya lembut. “Ayah yakin kamu adalah perempuan yang kuat dan lebih kuat dari yang kamu kira.” pak Rahman menoleh kembali ke arah Syakil.

“Syakil…” panggilnya lagi. “Mendekat lah.”

Syakil melangkah lebih dekat. Ia bahkan berlutut sedikit agar sejajar dengan pandangan Pak Rahman.

“Saya di sini, Pak,” ucapnya lirih dan membuat pak Rahman menatap Syakil dalam-dalam.

“Bapak minta tolong sama kamu buat jagain Arsy,” katanya dengan suara gemetar. “Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Jangan pernah kau biarkan dia menangis sendirian lagi.”

Syakil menelan ludahnya dengan berat. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Saya bersumpah, Pak,” ucap Syakil dengan tegas. “Akan selalu menjaga Arsy dengan segenap hidup saya.”

Pak Rahman mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arsy.

“Ayah ingin… Ayah sendiri yang jadi wali nikah kamu,” katanya lirih. “Itu permintaan terakhir Ayah.”

Kalimat itu menghantam Arsy tanpa ampun.

“Ayah…” Arsy menggeleng keras. “Jangan bilang itu permintaan terakhir, Arsy mau ayah sembuh dan terus nemenin Arsy.”

Pak Rahman tersenyum lagi. Senyum yang kali ini benar-benar terasa seperti perpisahan.

“Jika kamu menolak, Ayah akan pergi dengan hati yang gelisah,” katanya pelan. “Tolong kabulkan permintaan ayah ya, nak.”

Tangisan Arsy pecah sepenuhnya. Tubuhnya condong ke depan, dahinya menempel di tangan ayahnya.

“Kenapa ayah jahat banget sama Arsy,” isaknya lirih. “Kenapa Ayah minta Arsy untuk hidup sendirian di dunia ini tanpa kehadiran ayah,”

Pak Rahman mengusap kepala Arsy sekuat tenaga yang ia punya.

“Karena ayah sayang sama kamu, nak.” katanya pelan. “Sudah saatnya ayah kembali untuk menemani mama kamu diatas sana.”

Arsy terdiam cukup lama. Tangisnya berubah menjadi isak pelan yang tersengal. Dadanya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia menoleh ke arah Syakil. Lelaki itu menatapnya dengan mata yang penuh ketulusan, tanpa paksaan, tanpa tuntutan.

“Arsy…” panggil Syakil pelan. “Apa pun keputusan kamu, aku akan menghormatinya.”

Kata-kata itu justru membuat tangis Arsy kembali pecah. Ia kembali menatap ayahnya. Wajah yang selama ini membesarkannya. Tangan yang selama ini menjadi tempat ia pulang.

“Ayah…” katanya dengan suara yang nyaris tak bersisa. “Kalau itu yang Ayah mau, kalau itu yang bikin Ayah tenang,” Arsy menarik napas panjang, sangat panjang, seolah sedang menguatkan dirinya untuk sebuah keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

“Arsy… bersedia.”

Pak Rahman membeku untuk sesaat. Lalu, senyum paling lega terukir di wajahnya. Sementara air mata jatuh dari sudut matanya.

“Alhamdulillah…” bisiknya lirih.

Tangannya mencengkeram tangan Arsy dan Syakil sekaligus, menyatukan keduanya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Terima kasih udah mau kabulkan permintaan terakhir ayah ya, Nak…” ucap pak Rahman pelan. “Terima kasih.”

Arsy menangis tanpa suara. Dadanya sesak, hatinya hancur, tapi di balik semua itu ia tahu, ia baru saja mengabulkan permintaan terakhir seorang ayah yang mencintainya lebih dari hidupnya sendiri.

Ruangan IGD kembali terasa sunyi, meski sebenarnya dipenuhi suara mesin yang berdetak, langkah suster yang tergesa-gesa diluar, dan napas berat Pak Rahman yang kian tak teratur. Waktu seakan menahan dirinya sendiri, menunggu satu keputusan yang telah diucapkan, tapi belum sepenuhnya diterima oleh hati Arsy. Dokter yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang memperhatikan kondisi Pak Rahman dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Ia bukan hanya melihat seorang pasien kritis, tapi seorang ayah yang sedang menuntaskan amanah terakhirnya di dunia.

“Dokter…” suara Pak Rahman terdengar sangat lemah. “Tolong… bantu saya.”

Dokter mendekat dan berlutut sedikit agar sejajar dengan wajah Pak Rahman.

“Iya, Pak Rahman. Kami di sini.”

Pak Rahman menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya naik turun tidak beraturan.

“Saya ingin… menikahkan anak saya sekarang,” katanya dengan terbata bata. “Di sini… sebelum saya benar-benar… pergi.”

Ruangan itu kembali hening. Bahkan suara monitor jantung terdengar lebih pelan dari biasanya dan membuat dokter menghela napas panjang. Ia menoleh pada suster di sampingnya. Mata mereka sama-sama berkaca-kaca.

1
Inooy
ckckck,,ternyata Shakil ganas jg yaaa..waktu masih d Indonesia Syakil main nya soft banget, tapiii pas d Kairo ganas nya minta ampuuun..sampe2 Arsy g berdayaaa 😁
smoga usaha mu g sia2 Syak, smua perjuangan mu membuahkan hasil..biar mama mu makin bahagia 🤭
Inooy
aduuuhh Arsy ama Syakil bikin udara d sekitar ku makin panas membaraaa..panas tp bukan api, gimana doooong!?
Wiwit
numpang lewat aja raditnya🤣🤣🤣🤣
Inooy
makin hareudaaaaang...😁
Inooy
mulai lg niih hareudaaang, kipas mana kipaaass!!! 😂
Inooy
hihihi ternyata mama nya Syakil absurd jg yaaa 😁,,makin suka nih ama mama Syakil...
Inooy
beruntung nya Arsy punya suami baik dengan bonus mertua super duper baik,,menerima menantu dengan tangan terbuka tanpa melihat status dn derajat nya 🥰

ada g siih d dunia nyata yg kaya ginii,,rasa nya kaya mencari jarum d tumpukan jerami deeh 🤭
Inooy: karena langka nya itu ka Sylvi jd susah nemuin nyaa 🤭
total 2 replies
Inooy
smoga kehangatan ini selalu menyertai Arsy, setelah nya jangan ada lg badai2 berikut nya..cukup luka hati nya d Indonesia aj, d Kairo tinggal menikmati kebahagiaan nya 🥺
Inooy
hhaa,,lega rasa nya!!! ternyata mama dn papa Syakil menerima Arsy dengan tangan terbuka, menerima Arsy sbagai menantu nya..rasa nya plong setelah rasa deg2an takut Arsy g d terima d kluarga Syakil...😮‍💨
Inooy
kira2 kluarga nya Syakil nerima Arsy g yaaa, aq makin deg2an...
Inooy
koq aq deg2an y, takut kehadiran Arsy g d terima d keluarga nya Syakil,,secara skarang kluarga Syakil orang kaya d Kairo nya..iya siih Shakil bilang orangtua nya bakalan nerima Arsy sbagai menantu nya,,tp orangtua nya Syakil kan belum pernah kenalan ama Arsy, takut nya udh jauh2 pindah...eeh d Kairo malah d cueikin 🙈
Inooy
sumpaah ni bab bikin pikiran aq traveling k mana..makin hareudang euuy 😂 kipas mana kipaaaass 🤣🤣
Inooy
hhadeuuuuh makin gerah niih,,ka Sylvi nakal iiih bikin otak aq travelling k mana2 😂
kondisikan otaaak,,hayo kondisikaaaan 🤣
Inooy
laaah euuy,,sekarang d bikin panas dn geraaah..sebelum nya d landa badai dn air mata 😁
ka Sylvia bener2 yaaa mo bikin aq kegerahan 😂
Inooy: butuh bangeet kaa,,klo ada kipas nya yg super gede biar cepet adem 😂
total 2 replies
Inooy
ooooohh,,suami yg benar2 menjaga dn melindungi martabat istri nyaa 🥰

beruntung kamu terlepas dr Radit, Sy..kini kamu mendapatkan suami yg benar2 menjaga dn melindungi..menjadikan diri nya tameng bagi kamu Sy,,Syakil benar2 tulus mencintai..mencintai tanpa syarat dn tanpa memaksa..ibarat nya kamu d buang batu kerikil, mendapatkan berlian....
Inooy
hhadeuuuuhh, ni orang pengen aq getok aj kepala nya biar otak nya jalan 😤

heeey broo,,kamu kata nya sahabat nya Radit..tp ketika Radit nyakitin Arsy masa kamu g taaaauu,,benar kata Syakil..sahabat macam apa yg ngebiarin sahabat nya selingkuhin calon istri nyaa,,ato jangan2 kamu jg satu tim ama Radit yg suka selingkuhin wanita nyaa??
heeeran..g tau kebenaran yg sebenar benar nya, berani berani nya menjudge Arsy wanita g beneeer!? 🤨😬
Inooy
wuidiiiih, keren Syaak 👍👍..pak Rahman tidak salah menilai laki2 yg akan jd suami nya Arsy,,d tengah omongan orang2 yg menjelekkan Arsy dn pak Rahman karena ketidak tahuan mereka..kamu maju mengklarifikasi sebenar nya, kini kamu jd garda terdepan bagi Arsy..kamu benar2 pria sejati Syak!!
kamu menepati janji mu utk selalu melindungi Arsy, karena pria sejati akan selalu berusaha melindungi dn membahagiakan orang yg d cinntai nya....
Inooy
dn sekarang waktu nya bangkit, Sy..terkadang luka g akan pernah hilang,,apalagi kehilangan orang yg benar2 qta sayangi akan selalu membekas d memori qta..luka hanya bisa d samarkan dengan kehadiran seseorang yg benar2 tulus terhadap qta..karena luka hati akan selalu bersemayam d hati qta, jd bangkitlah utk menunjukkan siapa diri qta..tunjukan bahwa qta masih baik2 aj, terlebih sekarang ada seseorang yg akan selalu melindungi mu, Sy...🥺
Inooy
hhaaa,,untung aj ada Omar..klo g Arsy akan d liputi penyesalan sepanjang hidup nya telah menyia nyiakan laki laki sebaik Syakil...
memang paling g enak klo qta merasa jd beban bagi orang lain,,apalagi orang tersebut sangat amat baik terhadap qta...
Inooy
hhuaaaaaa ka Sylviii bikin mata ku banjiir air mataaaa 😭😭😭😭😭
y Allah,,aq jd keinget bapa aq yg udh ninggalin aq /Sob/

d saat ayah Rahman menghembuskan napas nya yg terakhir, Arsy udh ada yg melindungi biarpun pernikahan nya benar2 mendadak dn mendesak..hanya dengan menikahkan Arsy, ayah Rahman bisa pergi dengan tenang..karena sejati nya cinta seorang ayah akan selalu mengutamakan kebahagiaan anak nya....

jujur baru d cerita ini aq nemuin nikah dadakan tanpa riweuh cari penghulu dn sebagai nya...d cerita2 yg pernah aq baca, rata2 d saat napas udh berada d ujung kerongkongan..orang2 sibuk cari penghulu dn nyari bwt mahar,,d sini cukup dengan seorang ayah yg langsung menikahkan anak nya d tengah2 kondisi sang ayah d ujung napas 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!