Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN SANG TIRAN DAN JALAN TANPA KEMBALI
Udara di dalam ruang kerja itu terasa begitu pekat hingga membuat paru-paru Rae terasa terhimpit. Di depannya, Kaelen Azrael perlahan bangkit dari kursi kebesarannya. Setiap jengkal pergerakan pria itu memancarkan aura predator yang siap menerkam mangsanya. Sepasang mata merah menyala milik Kaelen menatap lurus ke arah dokumen perceraian di atas meja, lalu beralih perlahan ke wajah murni Rae yang menatapnya dengan bibir terkatup rapat.
"Cerai?" Kaelen mengulangi kata itu. Suaranya terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan, namun ada nada ejekan yang dingin di dalamnya. "Kau, seorang wanita dari keluarga Elixir yang haus harta, berani menyodorkan kertas sampah ini kepadaku setelah enam bulan aku tinggalkan?"
Kaelen melangkah memutari meja kerja mahoninya. Langkah kakinya yang berat terdengar sangat teratur di atas lantai kayu, menciptakan ritme yang meneror mental Rae.
Namun, di balik topeng kemarahan dan arogansinya yang sedingin es, Kaelen sebenarnya sedang mengalami gejolak batin yang luar biasa hebat. Jauh di dalam pusat kesadarannya, ada sesuatu yang bergejolak hebat—sesuatu yang selama bertahun-tahun ini mati, beku, dan tidak pernah berfungsi.
Gairah.
Kaelen mengepalkan tinjunya erat-erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam. Otaknya berputar gila. Selama ini, Kaelen meyakini dirinya impoten. Jangankan pada wanita lain, bahkan pada Evadne—wanita yang dia yakini dia cintai dan puja secara rahasia—tubuhnya tidak pernah memberikan reaksi biologis apa pun. Setiap kali dia menyentuh Evadne, itu hanyalah bentuk pemuasan psikologis dan rasa ingin melindungi yang menyimpang, dibatasi oleh janji suci pada mendiang orang tuanya. Kaelen mengira dia ditakdirkan untuk cacat secara seksual seumur hidupnya.
Tapi malam ini... detik ini... hanya dengan menatap wajah bersih Aletheia yang menyerupai Dewi malam, dan mendengar nada ket ketegasan yang bar-bar dari bibir ranum itu, sesuatu di bawah sana mendadak terbangun dengan sentakan yang sangat kuat. Hasrat yang begitu besar, liar, dan haus darah mendadak meledak di dalam tubuh Kaelen, seakan-akan menuntut untuk dituntaskan saat itu juga.
"Sialan! Kenapa wanita menor ini bisa membangkitkan akal sehat tubuhku?!" Kaelen mengumpat kasar dalam hatinya. Keberadaan Evadne yang biasanya memenuhi isi kepalanya mendadak memudar, tergantikan sepenuhnya oleh bayangan sosok Rae yang berdiri angkuh di depannya.
Melihat Kaelen yang terus berjalan mendekat dengan tatapan mata merah yang kian menggelap dan berbahaya, insting survivor Rae langsung berbunyi nyaring. Dia tahu ada yang salah dengan tatapan pria itu. Itu bukan lagi sekadar tatapan ingin membunuh—itu adalah tatapan lapar seorang tiran yang mendambakan kepemilikan mutlak.
"Jangan mendekat, Tuan Azrael," ucap Rae sambil mengambil langkah mundur yang taktis. Tangannya yang bebas diam-diam bersiap dalam posisi siaga bela diri. Walaupun dia takut dengan reputasi Raja Mafia ini, jiwa montir dan petarung bar-barnya menolak untuk menyerah tanpa perlawanan. "Saya tidak meminta harta Anda sepeser pun. Semua aset Anda tetap aman. Cukup tanda tangani surat itu, dan saya akan menghilang dari kehidupan Anda selamanya."
"Menghilang?" Kaelen mendengus sinis. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa dua langkah. "Siapa yang memberimu izin untuk mengatur jalannya permainan di mansionku, Aletheia?"
SREEEKK!
Dengan kecepatan kilat yang hampir tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa, Kaelen maju dan mencengkeram pergelangan tangan Rae. Cengkeraman itu begitu kuat seperti borgol besi, langsung mengunci pergerakan Rae.
"Lepaskan bajingan!" Rae memaki spontan. Rasa takutnya sesaat kalah oleh harga dirinya yang diinjak-injak.
Menggunakan teknik bela diri yang dia kuasai di kehidupan lampau, Rae memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk menyikut rusuk Kaelen dengan keras menggunakan tangan kirinya yang bebas.
DUAK!
Sikutan telak Rae menghantam tubuh kokoh Kaelen. Pria itu sedikit terkejut merasakan kekuatan fisik wanita di depannya yang jauh berbeda dari Lethe yang rapuh. Namun, kekuatan Kaelen yang overpowered sebagai penguasa dunia bawah tanah bukanlah lelucon. Kaelen bahkan tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia hanya menyipitkan mata merahnya, merasa tertantang dan semakin terangsang oleh perlawanan liar istrinya.
"Kau menyembunyikan banyak hal selama enam bulan ini, hm?" desis Kaelen.
Dengan satu sentakan kasar, Kaelen menarik tubuh Rae hingga membentur dada bidangnya yang keras. Tangan kirinya bergerak cepat mengunci kedua tangan Rae di belakang punggung wanita itu, sementara tangan kanannya naik ke atas, mencengkeram kuat rahang Rae, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik mata merahnya yang berkilat buas.
Rae terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat membentur dada Kaelen. Wajah mereka begitu dekat hingga Rae bisa merasakan embusan napas Kaelen yang panas di kulit wajahnya. Punggung Rae yang belum sembuh total dari luka cambuk keluarga Elixir sedikit berdenyut nyeri akibat gerakan sensual yang mendadak ini, membuat Rae meringis pelan.
Melihat ringisan itu, tatapan Kaelen justru semakin menggelap. Aroma tubuh Rae yang murni tanpa wewangian kosmetik murah benar-benar membakar habis sisa-sisa kewarasan Kaelen. Hasratnya yang selama ini tertidur selama puluhan tahun kini berontak menuntut pemuasan mutlak. Dia tidak peduli lagi tentang alur drama, tentang Evadne, atau tentang apa pun. Yang dia tahu, wanita di pelukannya ini harus menjadi miliknya seutuhnya malam ini.
"Kau ingin cerai?" Kaelen berbisik tepat di depan bibir Rae, suaranya sangat serak dan sarat akan gairah yang berbahaya. "Setelah kau mengubah dirimu menjadi secantik ini... setelah kau berhasil menyembuhkan apa yang mati di dalam diriku... kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?"
"Kaelen... lepaskan... akh!" Kata-kata Rae terputus saat Kaelen menyentuhnya secara paksa, mengangkat tubuhnya dengan satu tangan yang perkasa dan menghempaskannya ke atas sofa kulit besar di ruang kerja tersebut.
Dokumen perceraian yang tadi dibawa Rae terlempar berantakan di atas lantai, terabaikan begitu saja di bawah dinginnya lampu ruangan. Kaelen langsung mengungkung tubuh Rae di bawahnya, menahan setiap pergerakan kaki dan tangan Rae yang mencoba menendang dan mencakar tubuhnya.
"Kau adalah milikku, Aletheia. Di dunia ini, atau di dunia mana pun, takdirmu sudah terkunci di tanganku sejak kau melangkah masuk ke mansion ini," bisik Kaelen dengan nada posesif yang gila, matanya yang merah menyala bagaikan iblis yang telah menemukan jiwanya yang hilang. "Ingat ini baik-baik di dalam otak jeniusmu, Istriku... aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sampai mati pun, kau tetap milikku."
Mata merah dan rahang tegas dan siluet wajah sempurna yang tampak bagaikan pahatan dewa Yunani di bawah temaram lampu kamar. Sepasang matanya merah yang tajam kini memerah, menyala oleh kabut gairah yang begitu pekat dan hasrat mendalam yang selama ini tertidur rapi di balik sikap tenangnya. Ia menurunkan pandangan, menatap lekat tubuh istrinya yang terlelap dengan tatapan intens yang seolah sanggup membakar keheningan malam, siap membangunkan gelora yang tak lagi bisa ia bendung