NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 - GERBANG INGATAN YANG KEMBALI

"Wulan, kenapa kau sebodoh itu? Apa kau kira pangeran ini menyukaimu? Jika kau bukan putri sah keluarga Ardani, apakah pangeran ini akan lebih memperhatikanmu?"

"Wulan! Bukankah cukup kau membunuh Nalendra?! Sakit sekali rasanya terkubur reruntuhan, menahan gerbang seorang diri. Kenapa bukan kau yang mati?"

"Apa gunanya kau? Pantas saja dia begitu memikirkanmu. Meski tak ada sejengkal pun tubuhnya yang tersisa, dia tetap ingin melindungi hidupmu. Mengapa kau pantas menerima semua itu?"

"Nona Ketujuh sungguh naif. Yang Mulia Pangeran Cendana telah berkomitmen seumur hidup untuk adikku. Adikku tak perlu memikirkannya. Dengan temperamen keras kepala dan manja sepertimu, bagaimana mungkin Yang Mulia menyukaimu?"

"Wulan, dengarkan kakakmu, berhentilah bersikap keras kepala. Jika kakakmu pergi kelak, kau harus hidup sendiri."

Udaranya sangat dingin hingga seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. Air Danau Rinai yang membekukan mengalir menutupi kepalanya, bercampur pecahan es halus, meresap masuk ke hidungnya. Bau samar darah memenuhi mulutnya, dan di kejauhan terdengar teriakan putus asa para pelayan yang memanggil namanya. Kaki dan tangannya menendang sekuat tenaga, tetapi baju basah yang menempel itu menyeretnya semakin dalam menuju dasar danau yang gelap.

Kesadaran gadis yang mengambang di air dingin itu perlahan kabur. Anggota tubuhnya yang berjuang tanpa hasil mulai kaku dan lelah, tenggelam sedikit demi sedikit meski ia masih setengah sadar. Kegelapan tanpa ujung menyapu tubuhnya dan menelannya dalam sekejap, sebelum sisa-sisa dingin yang terakhir pun ikut lenyap.

---

Seperti mimpi maupun kenyataan, semua pemandangan masa lalu melintas di depan mata bagai kilat. Gadis yang meringkuk di atas pembaringan mengerutkan kening, menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, membekaskan warna menyilaukan di wajah pucatnya. Air mata yang besar terus berjatuhan tanpa suara, membasahi bantal sutra di bawah pelipisnya, seolah duka bertahun-tahun hendak tumpah sekaligus dari tubuh kecil yang tak kuasa menahannya.

"Nona! Nona, bangunlah, wuwu—Nona!" Pelayan itu, yang setengah berbaring di sisi pembaringan, memegang tangan ramping tuannya dan menangis dengan air mata berderai.

Saat kesadaran yang kabur berangsur kembali, Wulan Ardani samar-samar mendengar tangis teredam itu. Ia ingin membuka mata, tetapi rasa sakit seperti tusukan jarum menjalar di sekujur tubuhnya; kelopak matanya terasa ditimpa beban yang berat. Pikirannya penuh kebingungan, sesak oleh suara-suara yang belum sepenuhnya hilang dari telinganya. Setelah beberapa kali berjuang tanpa hasil, ia membiarkan dirinya kembali tertidur lelap. Di ambang kesadaran itu, aroma obat pahit mengambang samar di udara, bercampur harum kayu cendana dari pembakar dupa di pojok ruangan — aroma-aroma yang familier, aroma kamar lamanya, sama sekali bukan aroma air laut yang menelannya.

Entah berapa lama kemudian, Wulan tiba-tiba gemetar dalam tidurnya, lalu membuka mata. Namun rasa sakit dari belakang kepalanya membuatnya tak kuasa menahan desahan, "Ah—"

Mendengar suaranya sendiri, ia terkejut. Hampir tanpa sadar ia menunduk dan melihat selimut sutra menutupi tubuhnya. Apakah... ia belum mati?

"Nona! Nona, kau sudah bangun!" Suara seorang gadis yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya menyadarkannya kembali.

Wulan menoleh ke arah sumber suara dan benar-benar tercengang saat melihatnya.

...Intan?!

Ia menggosok matanya karena tak percaya. Gadis menangis yang berlutut di depannya jelas merupakan gadis kecil yang telah bersamanya selama lebih dari sepuluh tahun, tetapi ia tampak jauh lebih muda dari terakhir kali ia melihatnya. Sanggul pelayan di kepalanya masih rapi, pipinya tembam dengan sisa-sisa air mata, dan seragam pelayan yang dikenakannya masih baru, belum tersentuh derita bertahun-tahun yang selalu ia ingat.

Bukankah Intan mati demi menyelamatkannya tiga tahun lalu?

"Nona, Nona, ada apa denganmu?" Intan merasa cemas melihat kebingungan di mata tuannya.

"Intan...?" Wulan menatap hampa.

"Ya! Hamba ini memang Intan!" Intan menyeka air mata di sudut matanya dan mengangguk putus asa.

Wulan menatapnya kosong, lalu tiba-tiba menyingkap selimut dan duduk. Ia memandangi dekorasi ruangan yang terasa akrab sekaligus asing. Taplak meja rias bersulam bunga, gorden sutra berwarna perak, hingga seikat bunga kering yang menggantung di dekat jendela — semuanya masih berada di tempatnya, seolah waktu tidak pernah berjalan di ruangan ini. Ini jelas kamar tidurnya sebelum ia berangkat meninggalkan rumah!

Apa yang terjadi? Wulan benar-benar bingung menghadapi apa yang terhampar di depannya. Ia jelas mati dibuang ke tengah laut, tetapi ketika terbangun, bukan hanya tubuhnya kering tanpa bekas luka, ia bahkan menyaksikan orang yang mati demi menyelamatkannya itu hidup kembali di hadapannya. Kepalanya terasa dipukul palu; logika menolak apa yang dilihatnya, tetapi kenyataan di depan matanya tak bisa dibantah. Jantungnya berdegup tidak keruan, bertubi-tubi seperti genderang sebelum pertempuran, dan rasa sakit di ubun-ubunnya berdenyut mengikuti irama itu.

Pikirannya kacau, dan rasa sakit di kepalanya semakin jelas. Wulan tak tahan dan menarik napas dalam-dalam. Mungkinkah ia sedang bermimpi, dan mimpi yang menyiksa itu tak kunjung usai? Pandangannya tiba-tiba gelap. Ia memejamkan mata karena tak nyaman dan membiarkan dirinya jatuh ke belakang.

Alih-alih jatuh ke bantal yang empuk, sebuah lengan yang agak ramping memeluk bahunya. "Wulan!"

Tubuh Wulan bergetar mendengar suara yang dikenalnya itu. Ia tiba-tiba membuka mata dan menatap sepasang mata cokelat muda yang penuh kekhawatiran.

"...Kakak Waskita?" Ia linglung, seakan tak percaya.

"Ya." Waskita menatapnya cemas, meletakkan mangkuk obat di tangannya yang lain ke atas meja di sisi pembaringan, lalu dengan hati-hati menyentuh kepalanya. "Wulan, apakah kepalamu masih sakit?"

"Kau... benar-benar Kakak Waskita?"

Waskita tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Wulan, ada apa denganmu? Apa kau tidak mengenaliku?"

Wulan kembali menatap Intan dengan tatapan kosong. "...Intan?"

"Nona, ini aku, Intan." Intan berlutut di sisi pembaringan. Melihat tuannya seolah kehilangan jiwa, ia hampir menangis. "Nona, jangan menakuti Intan! Intan akan memanggilkan tabib istana sekarang juga!" Sambil berkata begitu, ia menyeka air matanya dan berlari keluar dengan tergesa-gesa, nyaris tersandung ambang pintu karena gugup, hingga bunyi langkah kakinya menjauh hilang di ujung koridor.

Wulan masih termangu, tak mampu sadar untuk waktu yang lama.

Waskita menyentuh pipi pucatnya dengan sedih dan berbisik dengan suara tertekan penuh rasa tak berdaya. "Wulan, jika kau benar-benar tak ingin menikah, bisakah kau pergi memohon kepada Pangeran Senja? Biar kakak yang menemanimu menghadap Sultan, asal kau selamat. Kakak tidak tahan melihatmu kembali celaka."

"Menikah?" Wulan mengulanginya dengan hampa, seolah kata itu berasal dari bahasa yang sudah lama tidak ia kenal.

"Akan ada jalan. Kakak bisa membantumu mencari jalan. Tetapi kau harus berjanji tidak akan lagi melakukan hal berbahaya seperti menceburkan diri ke air. Kali ini pun kau nyaris kehilangan nyawamu, dan itu sudah cukup untuk membuat kakak kehilangan akal sehat."

Mendengar kata menceburkan diri dan menikah, pikiran Wulan akhirnya jernih. Tujuh tahun — tiga hari — angka-angka itu bertabrakan di kepalanya bagai pedang yang saling beradu. Ia tertegun sesaat, seakan tiba-tiba teringat sesuatu, wajahnya langsung pucat. Tujuh tahun. Tiga hari menjelang pernikahan yang ditetapkan dekret Sultan. Jika benar ia kembali ke titik itu, maka segalanya belum terjadi — Nenek Utari masih kuat berjalan, para kakaknya masih utuh, dan orang-orang yang kelak mempertaruhkan nyawanya demi dirinya masih hidup. Dengan penuh semangat ia meraih tangan Waskita dan berkata berulang kali, "Cermin! Kakak Waskita, berikan aku cermin itu!"

Waskita tertegun, tak mengerti maksudnya, tetapi tetap mengambilkan cermin perak dari meja rias.

Wulan buru-buru mengambilnya dan menatap ke dalam.

Bruk—

Cermin perak itu jatuh dari genggamannya dan menggelinding ke lantai dengan suara benturan yang tumpul.

Wulan tampak kaget. Orang yang ada di cermin jelas-jelas dirinya, tetapi jelas bukan dirinya!

Ia ingat betul: ketika berusia dua puluh dua tahun, ia tewas ditenggelamkan di laut, namun bayangan yang terpantul di cermin perak itu jelas tampak seperti anak berusia lima belas tahun. Lima belas tahun — usia di mana segalanya baru saja dimulai, usia di mana ia masih percaya bahwa mengejar Pangeran Cendana adalah jalan keluar dari pernikahan yang dibencinya.

Apakah ia telah kembali ke tujuh tahun yang lalu?!

"Wulan!" Waskita melihat ekspresinya dan sangat ketakutan sehingga segera memegang tangannya. "Ada apa denganmu?"

"Kakak Waskita." Wulan melihat ekspresi cemas dan penuh kasih yang tak bisa ia abaikan. Ia berbalik dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan kakaknya, matanya tak kuasa menahan rasa panas, suaranya tercekat oleh isak tangis. Seluruh pengalaman hidup yang belum sempat ia nikmati, seluruh penyesalan yang menumpuk selama bertahun-tahun, semuanya luruh dalam pelukan hangat itu. Ia pernah kehilangan pelukan ini satu kali — dan waktu itu, ia bahkan tidak sempat mengucapkan permisi, tidak sempat membalas satu pun kebaikan yang pernah diberikan kepadanya.

Waskita tertegun sejenak, dan kasih di matanya semakin kuat. Ia menepuk punggung Wulan dengan lembut sambil menghibur, "Sudah, tidak apa-apa. Wulan jangan takut. Kakakmu ada di sini."

Wulan menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang menggenang di matanya.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!