NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 3

Bunyi bel kecil di atas pintu memecah keheningan begitu Anindiya dan Rina melangkah masuk. Aroma melati samar bersanding dengan wewangian kayu manis langsung menyambut mereka, menciptakan suasana butik yang tenang dan sedikit hangat.

​"Selamat pagi," sapa seorang perempuan paruh baya dari balik meja kasir.

​Perempuan itu nampak berusia lima puluh tahunan. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disanggul rapi. Kebaya sederhananya yang berwarna cokelat muda membingkai fisiknya dengan anggun dan bersahaja.

​"Selamat pagi, Bu," balas Anindiya sembari melempar senyum ramah.

​"Silakan, Mbak. Dilihat-lihat dulu," ujar pemilik butik itu lembut sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada buku catatan di meja.

​Sebagai seorang makeup artist yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di industri pernikahan, Anindiya memiliki insting alami tiap kali memasuki tempat seperti ini. Butik ini memang tidak seluas butik langganannya di pusat kota, tetapi kerapian tiap sudutnya membuktikan betapa terawatnya tempat ini. Barisan gaun pengantin tertata rapi berdasarkan jenis bahan, mulai dari gaun bermodel modern minimalis hingga potongan klasik yang kaya akan detail renda.

​Jari-jemari Anindiya menyusuri deretan kain sutra dan organza yang tergantung. "Bahannya bagus-bagus, Rin," bisiknya pelan, sambil memegang tepi salah satu gaun.

​Rina yang berjalan melangkah di sampingnya ikut meneliti. "Iya, potongannya rapi banget. Cocok buat konsep pernikahan yang elegan."

​Anindiya mengangguk setuju. Mereka terus menyusuri ruangan, berdiskusi kecil soal padu padan tata rias yang pas untuk beberapa model gaun di sana. Namun, pergerakan Anindiya mendadak terhenti di sudut paling belakang.

​Di sana, sebuah etalase kaca berdiri sendiri. Terpisah cukup jauh dari rak-rak gaun lainnya, seolah sengaja diposisikan agar tidak bersentuhan dengan gaun apa pun di dalam ruangan.

​Di balik kaca tebal itu, sebuah manekin mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading.

​Anindiya terpaku. Ada puluhan, bahkan ratusan gaun indah yang pernah ia lihat selama menjadi MUA. Ada yang berharga ratusan juta, buatan desainer ternama, hingga yang bertabur kristal megah. Tetapi gaun satu ini memancarkan aura yang benar-benar berbeda.

​Gaun itu tidak mencolok. Potongannya cenderung sederhana, namun kesederhanaan itulah yang justru membuatnya nampak menawan. Payet-payet kecil di bagian dada memantulkan cahaya lampu butik dengan pendar lembut yang tenang. Renda halus menjulur rapi melingkupi lengan dan pinggang, sementara ekor gaunnya jatuh menjuntai anggun ke lantai.

​Secara refleks, langkah Anindiya mendekati etalase tersebut.

​"Mbak Anin?" tegur Rina, menyadari langkah temannya yang tertinggal. "Kenapa?"

​Anindiya tidak langsung menjawab. Matanya terpaku menyusuri tiap lekuk jahitan gaun tersebut.

​"Indah banget, Rin," gumam Anindiya pelan, hampir menyerupai bisikan.

​Rina menyusul berdiri di sampingnya. Begitu menatap gaun di balik kaca itu, Rina pun sempat terdiam beberapa saat. "Iya sih... beda banget sama gaun-gaun di depan tadi."

​"Aku belum pernah lihat detail potongan yang sehalus ini," ujar Anindiya sembari menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin. Di dalam benaknya, bayangan gaun ini berada di studio miliknya langsung berputar. Gaun ini akan menjadi mahakarya di sanggarnya—gaun unik yang mampu membuat pengantin mana pun merasa begitu istimewa.

​Bagi Anindiya, riasan wajah yang sempurna tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa gaun yang tepat. Dan gaun di hadapannya ini seperti memiliki 'jiwa' yang belum pernah ia temukan pada gaun-gaun lainnya.

​"Gaun yang itu memang sering membuat orang berhenti melangkah."

​Suara lembut namun berat dari arah belakang mengejutkan mereka. Pemilik butik telah berdiri tak jauh di samping etalase.

​Anindiya menoleh, matanya berbinar. "Bu, apa gaun ini dijual?"

​Raut wajah perempuan berke baya cokelat itu mendadak berubah. Hanya sebuah kejap singkat—garis bibirnya menegak dan matanya sedikit membesar—sebelum ia dengan cepat menguasai ekspresinya kembali. Namun, keraguan itu tak luput dari pengamatan Anindiya.

​Tatapan pemilik butik pada gaun itu bukanlah tatapan seorang penjual yang sedang menimbang harga, melainkan tatapan seseorang yang memandang ingatan lama yang menyakitkan.

​"Maaf, Nak," jawab perempuan itu pelan. "Gaun yang itu tidak dijual."

​Dahi Anindiya berkerut halus. "Tidak dijual?"

​Perempuan paruh baya itu menggeleng tegas. "Itu hanya pajangan butik ini."

​Anindiya kembali berpaling menatap gaun di dalam kaca, mengamati kecantikannya yang seolah terus memanggilnya. "Kalau begitu, saya ingin membelinya untuk koleksi pribadi sanggar saya, Bu. Saya MUA, dan saya yakin bisa merawatnya dengan sangat baik."

​"Tidak bisa, Nak," potong pemilik butik dengan nada yang semakin dingin.

​Jawaban spontan itu justru menyalakan rasa penasaran Anindiya. "Kenapa, Bu? Apakah gaun ini milik orang lain? Atau pesanan khusus?"

​Pemilik butik terdiam cukup lama. Tatapannya tertuju lurus pada manekin di dalam kaca. "Bukan karena masalah siapa pemiliknya."

​"Lalu karena apa?" desak Anindiya lembut.

​Namun, tidak ada jawaban yang keluar. Pemilik butik itu hanya tertegun mengamati gaun tersebut, membiarkan keheningan menguasai ruangan di antara mereka.

​Rina yang berdiri di samping Anindiya mulai merasa ada atmosfer yang ganjil. Perubahan aura di ruangan itu membuatnya tidak nyaman. Ia menyenggol pelan lengan Anindiya. "Mbak... mungkin kita lihat gaun lain aja di depan. Banyak kok yang bagus."

​Dalam kondisi biasa, Anindiya pasti akan mengalah dan mendengarkan saran Rina. Namun entah mengapa, sore itu ada dorongan kuat di dalam dadanya yang menolak untuk berbalik arah. Ia merasa tidak bisa meninggalkan butik ini tanpa membawa gaun itu bersamanya.

​"Saya benar-benar serius menginginkan gaun ini, Bu," paksanya, melangkah satu cangkul lebih dekat ke arah pemilik butik.

​Perempuan paruh baya itu menarik napas panjang. Matanya menatap Anindiya dengan sorot yang sulit diartikan. "Nak... kadang sesuatu yang terlihat begitu indah tidak selalu membawa kebahagiaan bagi pemiliknya."

​Kalimat itu terucap begitu dalam hingga sempat membuat Anindiya bungkam. Namun, ambisi profesional dan rasa penasaran di kepalanya menepiskan firasat itu.

​"Kalau masalah harga, Ibu tidak perlu khawatir. Saya sanggup membayar lebih dari harga pasaran gaun ini," tegas Anindiya. "Berapa pun yang Ibu minta."

​Keheningan melingkupi butik itu. Suara gemericik air terjun buatan di luar toko menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Pemilik butik menatap Anindiya cukup lama, seolah sedang menilai seberapa keras kepala wanita muda di hadapannya ini.

​Tatapan itu lalu beralih kembali pada gaun di dalam etalase. Ada guratan kesedihan mendalam dan keletihan yang amat sangat di wajah perempuan tua itu, seakan ia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan berat yang sudah lama ia hindari.

​Perlahan, langkah kaki berbalut sandal kain itu berjalan menuju etalase. Jemarinya yang mulai berkerut merogoh saku kebaya, mengeluarkan sekeping kunci perak.

​Namun tepat ketika kuncinya hampir menyentuh lubang slot etalase, tangannya terhenti.

​"Nak..." panggilnya dengan suara parau tanpa menoleh.

​Anindiya menahan napas. "Iya, Bu?"

​"Kalau suatu hari nanti kamu menyesal..." Perempuan itu menggantung kalimatnya.

​Anindiya mengernyit. "Maksud Ibu?"

​Perempuan paruh baya itu tidak lagi menjawab. Ia memutar kunci tersebut. Suara klak pendek dari engsel pintu kaca terdengar menyayat di tengah keheningan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendorong pintu etalase hingga terbuka lebar.

​Di tempatnya berdiri, Anindiya tersenyum lega. Kepuasan langsung memenuhi dadanya.

​Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak detik pertama matanya terkunci pada gaun putih gading itu... sebuah rahasia lama yang terbungkus rapi puluhan tahun baru saja dibangunkan kembali.

​Dan tanpa disadarinya, Anindiya baru saja melangkah masuk ke dalam takdir yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!