Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nabila dan Halusinasi Kemewahan
Dinding semen yang dingin dan mengelupas di sudut tahanan wanita Lembaga Pemasyarakatan itu membiaskan hawa lembap yang menusuk tulang. Di atas selimut tipis berbau tengik yang terbentang di lantai, Nabila meringkuk. Jemarinya yang pucat dan kurus meremas pinggiran kain kusam itu, mencoba mencari kehangatan yang tak pernah ada.
Lampu gantung di koridor luar berkedip-kedip kusam, memancarkan pendar redup yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di sela-sela jeruji besi. Suara dengkur halus tahanan lain dan tetesan air dari keran yang bocor di ujung lorong merayap pelan, menjadi satu-satunya irama yang menemani malam-malam panjang Nabila.
Namun, di dalam pikiran Nabila yang kian terkoyak, suara-suara itu perlahan menguap.
Nabila memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas perlahan, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang janggal, manis, namun sama sekali tidak memancarkan kehidupan.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, dunia Nabila berubah total.
Ia tidak lagi berada di atas lantai semen yang dingin. Dalam halusinasinya yang kian pekat, ia sedang berdiri di atas balkon vila mewahnya di Bali. Angin laut yang hangat membelai lembut gaun sutra berwarna krem yang melambai anggun. Di tangannya, ia memegang gelas porselen berisi teh herbal mahal yang aroma melatinya begitu menenangkan.
"Mas Arga..." bisik Nabila sangat pelan di kegelapan sel, bibirnya bergumam lembut seolah suaminya sedang berdiri tepat di sampingnya. "Lihat deh... pemandangan matahari terbenamnya bagus banget ya? Mas enggak usah kerja terus... duduk di sini sama aku..."
Dalam bayangan liar yang dibangun otaknya demi melarikan diri dari kenyataan pahit, Arga berjalan mendekat. Pria itu tersenyum dengan tatapan hangat yang amat dalam—tatapan penuh cinta yang dulu selalu Arga berikan sebelum pengkhianatan itu membongkar segalanya. Arga merangkul bahunya, meremas jemarinya, dan berbisik bahwa semua aset ini adalah milik Nabila, bahwa Nabila adalah satu-satunya ratu dalam hidupnya.
"Aku tahu Mas Arga paling sayang sama aku..." Nabila terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar teramat menyedihkan di dalam ruang tahanan yang sunyi. Tangannya yang kurus terangkat ke udara kosong, membelai bayangan semu di depannya. "Reza itu cuma orang asing, Mas... dia enggak ada artinya buat aku. Cuma Mas Arga yang selalu ada buat aku..."
Nabila memiringkan kepalanya, seolah sedang menyandarkan dahinya di dada tegap Arga. Ia menghirup udara malam yang berbau hapak itu, tetapi di dalam benaknya, ia sedang menghirup wangi parfum mahal Arga yang maskulin dan menenangkan.
Ilusi kemewahan dan cinta palsu itu begitu manis, menjadi satu-satunya candu yang menahan jiwanya agar tidak hancur lebur secara total. Bagi Nabila, menerima kenyataan bahwa ia telah membuang suami terbaik demi seorang penipu yang akhirnya melemparnya ke penjara adalah siksaan yang terlampau berat untuk ditanggung akal sehatnya. Maka, jiwanya memilih untuk bersembunyi di dalam halusinasi.
Gubrak!
Suara ketukan tongkat kayu milik sipir yang dihantamkan ke jeruji besi memecah keheningan dengan kasar.
"Tahanan nomor 84! Tidur! Jangan ngoceh sendiri malam-malam!" bentak petugas sipir dari balik jeruji dengan suara melengking yang dingin.
Halusinasi indah itu retak seketika, runtuh berkeping-keping bagaikan cermin porselen yang dihempaskan ke batu.
Nabila tersentak, matanya terbuka lebar. Pemandangan balkon vila di Bali, gaun sutra krem, dan kehangatan dekapan Arga lenyap tanpa bekas dalam sekejap mata. Yang tersisa di depan matanya hanyalah jeruji besi berkarat, dinding semen yang basah, dan bau pesing dari sudut sel.
"M-mas Arga...?" bisik Nabila, suaranya gemetar hebat oleh kepanikan yang mendadak menyerang dadanya. Ia memandang ke sekeliling dengan pandangan liar, meraba-raba udara kosong di hadapannya. "Mas Arga mana?! Mas Arga tadi di sini! Mas Arga!"
Tahanan wanita di sebelahnya terbangun, mengusap matanya dengan raut wajah jengkel. "Duh, Mbak! Bikin kaget aja! Suamimu itu udah menceraikanmu! Kamu itu di penjara! Stop gila malam-malam begini!"
"Enggak! Kamu bohong!" jerit Nabila hysteris, air mata meledak dari matanya. Ia merangkak dengan cepat menuju sudut sel, memeluk kedua lututnya kencang-kencang. Tubuhnya bergetar hebat bagaikan diterjang badai karam. "Mas Arga cinta sama aku! Mas Arga cuma lagi sibuk di kantor! Nanti sore dia jemput aku pakai mobil mewah kita! Dia mau belikan aku gelang emas baru!"
Nabila menyembunyikan wajahnya di balik lututnya, menangis terisak-isak dengan nada suara yang patah dan mengerikan.
Logika kehancurannya telah bekerja sempurna. Kemewahan yang dulu ia kejar melalui jalan pengkhianatan kini bertransformasi menjadi racun yang menggerogoti jiwanya dari dalam. Semakin keras ia berusaha berlari menuju halusinasi kemewahan masa lalunya, semakin menyakitkan kenyataan hidupnya di balik jeruji besi menghantamnya kembali.
Di tengah kegelapan sel yang kian mencekam, Nabila meremas jemarinya sendiri yang tak lagi berhiaskan perhiasan apa pun. Ia berbisik-bisik sendiri, mencoba merajut kembali benang-benang ilusi yang telah terputus, menangisi sebuah istana megah yang sejatinya telah ia bakar dengan tangannya sendiri.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt