NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit

Hutan pinus di tepi tebing belakang Paviliun Pedang Suci gelap dan lembap. Lin Tian bersandar pada batang pohon raksasa, memuntahkan gumpalan darah hitam yang mendesis saat menyentuh tanah.

Energi kultivasi ranah Pondasi Awal milik Jin Wuya terlalu liar dan kuat untuk ditelan mentah-mentah oleh kultivator Pengumpulan Qi. Jika bukan karena darah jantung naga purba yang telah menempa ulang meridiannya menjadi sekuat baja, dan Segel Dewa Penelan Langit yang bertindak sebagai tungku pemurnian, tubuh Lin Tian sudah lama meledak menjadi serpihan daging.

Di dalam dantiannya, qi hitam berurat emas itu tidak lagi berbentuk gas, melainkan mulai mengembun menjadi cairan kental yang berat. Setiap tetes cairan qi ini memancarkan tekanan spiritual yang jauh melampaui batas normal Pengumpulan Qi.

Krak. Krak.

Suara tulang dan otot yang menyusun ulang dirinya terdengar dari dalam tubuh Lin Tian. Batas dantian yang seharusnya menahan laju kultivasinya hancur berantakan. Ia langsung menembus Pengumpulan Qi tingkat empat, lima, enam... hingga berhenti paksa di puncak tingkat sembilan.

Ia tidak memadatkan qi-nya menjadi Pondasi layaknya kultivator pada umumnya. Sebagai gantinya, dantiannya kini berisi lautan qi hitam keemasan yang berputar bagai pusaran air bah. Secara teknis ia masih di ranah Pengumpulan Qi, namun kekuatan fisik dan cadangan energinya kini setara, bahkan melampaui, kultivator Pondasi Awal biasa.

Tiba-tiba, langit malam di atas Sekte Pedang Perak berubah warna.

Cahaya biru raksasa memancar dari sembilan puncak gunung yang mengelilingi sekte. Cahaya-cahaya itu saling terhubung, membentuk kubah transparan bergambar ribuan pedang raksasa yang menyelimuti seluruh wilayah Gunung Awan.

"Formasi Penutup Langit Sembilan Pedang..." gumam Lin Tian, menatap kubah cahaya di langit dengan tatapan dingin.

Formasi pelindung tingkat tertinggi sekte telah diaktifkan. Ini berarti tidak ada satu pun makhluk hidup, bahkan seekor lalat, yang bisa keluar dari gunung ini tanpa izin dari Patriark.

Suara bergema dari pusat sekte, diperkuat oleh qi hingga terdengar ke setiap sudut gunung. Itu adalah suara Tetua Han, penegak hukum sekte yang terkenal kejam dan kaku.

"Jin Wuya telah dibunuh! Paviliun Pedang Suci hancur dan urat naga gunung telah rusak! Seluruh murid inti dan penjaga formasi, segel semua jalur keluar. Cari pembunuh berdarah dingin itu! Siapa pun yang membawa kepalanya akan diberi hadiah seribu batu roh tingkat tinggi dan pil Pembentuk Pondasi!"

Lin Tian menyeka sisa darah di bibirnya. Hadiah seribu batu roh? Nyawa Jin Wuya ternyata cukup murah di mata sekte yang munafik ini.

Ia menurunkan pandangannya ke tangan kanannya. Di telapak tangannya tergeletak cincin spasial emas milik Jin Wuya. Cincin ini masih memancarkan aura sisa milik pemilik aslinya, menolak untuk dibuka oleh orang lain.

Lin Tian mendengus. Ia mengalirkan qi hitam pekatnya, memaksa masuk ke dalam cincin tersebut. Sifat korosif dari energi iblisnya langsung melahap jejak jiwa Jin Wuya yang sudah mati, menghapus kunci spiritualnya dalam hitungan detik.

Ruang di dalam cincin itu seluas ruangan kecil. Tumpukan batu roh tingkat tinggi, botol-botol pil langka, dan beberapa artefak senjata berserakan di dalamnya. Namun, Lin Tian mengabaikan semua harta itu. Matanya langsung terkunci pada dua benda yang tergeletak di atas meja giok di dalam ruang cincin.

Benda pertama adalah token besi hitam berukir awan gelap—tanda pengenal utusan tingkat tinggi Istana Langit Hitam.

Benda kedua adalah sebuah slip giok korespondensi yang masih memancarkan sisa aura Zhao Yan.

Lin Tian mengalirkan qi-nya ke dalam slip giok tersebut. Suara dingin dan arogan milik Zhao Yan langsung bergema di dalam kepalanya.

"Jin Wuya, ritual darah di Kota Qingshui telah selesai. Darah Penjaga Kunci telah kami kirimkan melalui jalur rahasia. Segera setelah kau menembus Inti Emas menggunakan telur naga itu, Istana Langit Hitam akan mengirim utusan untuk mengambil 'Kunci brankas bawah tanah' Sekte Pedang Perak. Jangan coba-coba berkhianat, atau nyawamu akan kami ambil."

Lin Tian menghancurkan slip giok itu menjadi debu. Matanya menyipit, memancarkan niat membunuh yang membuat suhu di sekitarnya turun drastis.

Jadi, Jin Wuya hanyalah boneka yang serakah. Istana Langit Hitam tidak hanya membantai keluarganya untuk ritual, tetapi juga memanfaatkan keserakahan Jin Wuya untuk meruntuhkan Sekte Pedang Perak dari dalam dan mencuri harta karun terdalam sekte ini. Zhao Yan dan Istana Langit Hitam adalah dalang sesungguhnya dari semua kekacauan ini.

"Zhao Yan..." desis Lin Tian. Nama itu kini menjadi target utamanya setelah Jin Wuya mati.

Namun, untuk membalas dendam, ia harus keluar dari gunung terkutuk ini terlebih dahulu.

Langkah kaki yang cepat dan suara semak yang terinjak terdengar dari arah kiri. Sebuah regu patroli yang terdiri dari lima murid inti dan satu Tetua luar (Pondasi Awal tingkat rendah) sedang menyisir hutan pinus dengan obor qi di tangan mereka.

"Jejak darah di sini masih segar! Dia tidak mungkin pergi jauh!" teriak salah satu murid inti.

Lin Tian tidak bersembunyi. Ia melangkah keluar dari balik bayangan pohon, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam.

Tetua luar yang memimpin regu itu langsung menghentikan langkahnya, matanya membelalak melihat aura hitam keemasan yang memancar dari tubuh pemuda berjubah hitam itu. "Kau... kau bocah iblis yang—"

Kalimat Tetua itu tidak pernah selesai.

Lin Tian melesat. Kecepatannya kini berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Dalam sepersekian detik, ia sudah berada di depan Tetua luar tersebut. Pedang hijau bergeriginya menebas horizontal, memotong kepala Tetua itu sebelum pria tersebut sempat mengangkat perisai qi-nya.

Darah segar menyemprot ke wajah keempat murid inti yang membeku karena ketakutan.

"M-mundur! Bunyikan peluit darurat!" teriak salah satu murid, namun tangannya gemetar hebat hingga tidak bisa meraih peluit di pinggangnya.

Lin Tian tidak memberi mereka kesempatan. Ia mengayunkan tangan kirinya, melepaskan lima bilah qi hitam berbentuk sabit yang memotong leher keempat murid tersebut secara bersamaan. Mayat-mayat itu ambruk ke tanah tanpa suara, hanya menyisakan obor qi yang masih menyala di atas rumput.

Lin Tian segera menggeledah mayat Tetua luar tersebut dan menemukan sebuah peta formasi patroli malam hari. Ia membandingkannya dengan ingatannya tentang peta titik lemah formasi yang ia temukan di markas pengkhianat Faksi Ular Berbisa di bawah air terjun.

Matanya berbinar. Titik buta terdekat ada di Jurang Pembuangan Limbah Alkimia di sisi barat gunung. Tempat itu dipenuhi oleh kabut racun sisa pembuangan pil gagal, yang secara alami mengganggu sensor formasi Penutup Langit.

Lin Tian menyarungkan pedangnya, menatap kubah cahaya biru di langit untuk terakhir kalinya.

Malam ini, Sekte Pedang Perak akan berduka atas kematian Tetua Agung mereka. Namun besok, ketika mereka menyadari bahwa brankas bawah tanah dan rahasia formasi mereka telah bocor ke tangan Istana Langit Hitam, kekacauan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Lin Tian melebur ke dalam kegelapan hutan, bergerak menuju jurang racun, meninggalkan jejak pembantaian di belakangnya.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!