NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:599.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Karma

Pagi itu, berita tentang keluarga Wijaya meledak di mana-mana.

Televisi, portal berita dan media sosial, semuanya membicarakan hal yang sama, tentang kebangkrutan mendadak salah satu perusahaan paling berpengaruh.

Di layar televisi ruang tamu, seorang pembawa berita berbicara dengan nada serius.

"Perusahaan Wijaya Group dilaporkan mengalami kerugian besar akibat investasi berisiko tinggi yang gagal total."

Gambar berganti, menampilkan gedung megah yang dulu menjadi simbol kejayaan.

"Sejumlah investor menarik dana mereka, sementara beberapa mitra bisnis memutuskan kerja sama secara sepihak."

Video lain muncul, menampilkan wawancara singkat dengan analis keuangan.

"Ini bukan sekadar kerugian biasa. Ini kesalahan strategi besar. Terlalu agresif, tanpa mitigasi risiko yang jelas."

Nama Rahman disebut berulang kali. Dan, di media sosial, komentar mengalir deras.

"Makanya, jangan terlalu serakah."

"Baru juga naik sedikit, sudah sok besar."

"Katanya hebat, ternyata cuma untung-untungan."

Namun yang paling menyakitkan adalah saat nama Camila ikut diseret.

"Bukannya dia yang dulu jadi selingkuhan? Sekarang malah kabur bawa uang?"

"Lengkap sudah dramanya."

Berita demi berita, komentar demi komentar, semuanya seolah menikmati kehancuran itu.

Di dalam rumah keluarga Wijaya, televisi masih menyala. Namun tidak ada yang benar-benar menonton.

Dyah duduk terpaku, tatapannya kosong. Tangannya mencengkeram ujung sofa.

"Ini... ini tidak mungkin," gumamnya lirih.

Lina berdiri di dekat tangga. Wajahnya pucat, matanya merah karena menangis semalaman.

"Teman-temanku... semua lihat berita itu," ucapnya dengan suara bergetar. "Mereka terus mengirim pesan dan bertanya macam-macam."

Ia menutup wajahnya, sambil terisak. "Aku malu."

Rahman berdiri tidak jauh dari sana, mendengar semuanya. Namun, ia tidak bergerak. Ia sudah terlalu lelah untuk bahkan sekadar marah.

Ponsel di genggamannya kembali bergetar. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

Ia ragu sejenak namun, tetap menjawab panggilan tersebut.

"Pak Rahman?" Suara di seberang terdengar tegas. "Saya dari pihak bank. Mengenai pinjaman Anda, kami butuh kepastian pembayaran dalam waktu dekat."

Rahman memejamkan mata, tidak langsung menjawab karena untuk pertama kalinya ia tidak mempunya jawaban.

"Pak?"

Rahman membuka matanya. "Akan saya usahakan," jawabnya akhirnya. Namun, bahkan ia sendiri tahu,

itu hanya kalimat kosong.

Panggilan terputus, Rahman menurunkan ponselnya perlahan.

Kini, semua sudah berubah. Jika dulu orang-orang mendekatinya, sekarang semua menjauh. Bahkan, mereka yang dulu tersenyum di depannya, kini menjadi orang pertama yang menyaksikan kehancurannya.

Ia menatap televisi. Wajahnya sendiri terpampang di sana. Namun, bukan sebagai sosok yang sukses. Melainkan, contoh kegagalan.

Rahman tertawa pelan. "Hebat!"

Dyah menoleh. "Man!'

Rahman menggeleng pelan, menatap kosong ke depan. Dan tanpa sadar, satu nama muncul di benaknya.

Mela.

Wanita yang dulu ia tinggalkan tanpa ragu demi wanita lain. Wanita yang tidak pernah sekalipun mengkhianatinya dan selalu berkorban untuk nya, untuk keluarganya.

Rahman menutup mata. Untuk pertama kalinya penyesalan itu benar-benar terasa. Dan kali ini, tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

***

Siang itu, matahari bersinar terik di atas desa Morana. Namun, angin yang berembus pelan membuat suasana di lahan tetap nyaman.

Mela duduk di dalam gubuk kecil. Keringat masih menempel di pelipisnya.

Di sampingnya, Dino menyandarkan punggung sambil meneguk air dari botol.

Beberapa hari terakhir, hubungan mereka berubah. Bukan lagi sekadar teman lama tapi, ada perhatian yang lebih dalam. Ada kebiasaan kecil yang hanya mereka pahami.

Dan, tanpa perlu banyak kata, semua orang sudah tahu saat melihat gelagat mereka.

"Kayaknya, kita tinggal nunggu undangan aja, nih," celetuk Yati sambil terkekeh.

"Undangan apa?" sahut Asih tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Undangan nikah mereka lah, apalagi," timpal Surti.

Darmi ikut menyeringai. "Kalau bukan mereka, siapa lagi yang tiap hari lengket kayak perangko?"

Mela memutar bola mata namun, senyum tipis tetap muncul di wajahnya. Sedangkan, Dino hanya tertawa pelan, tanpa berniat menyangkal.

Namun, suasana santai itu tiba-tiba pecah saat suara Asih melengking. "EH?"

Semua orang langsung menoleh.

"Ada apa, Sih? Bikin kaget saja," gerutu Yati.

Namun, Asih tidak menjawab. Ia diam membeku. Matanya melotot, menatap layar ponsel. Dan, beberapa detik kemudian, Ia justru tertawa keras.

"Hahahaha!"

Semua orang saling pandang.

"Ini orang kenapa, sih?" bisik Surti.

"Jangan-jangan... Asih kesurupan," tambah Darmi.

Asih akhirnya berdiri sambil tertawa. "Mel! Mel!" Ia berjalan cepat mendekati Mela. "Lihat ini!" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya.

Mela mengernyit namun, tetap menerima ponsel itu.

Di layar, terpampang berita besar dengan judul—

"Wijaya Group Resmi Bangkrut, Mantan Istri Jadi Sorotan."

Jantung Mela seolah berhenti sejenak. Matanya membaca cepat tentang kerugian besar, investor yang menarik diri, utang yang menumpuk dan, tentang nama Rahman yang kini jatuh. Semua tertulis jelas.

Beberapa detik, Mela tidak bergerak.

Darmi dan yang lain, yang penasaran akhirnya mendekat, membaca berita tersebut.

"Wah... Sekarang mantan suami mu bener-bener jatuh, Mel," ucap Darmi

Yati langsung tertawa kecil. "Ini sih bukan jatuh lagi tapi, nyemplung ke jurang."

"Makanya, jangan nyakitin orang baik," sahut Surti.

Asih mengangguk semangat. "Itu namanya karma!"

"Setuju!" timpal Yati. "Karma itu nyata, loh!"

Mereka tertawa keras. Ada kepuasan di sana. Seolah keadilan akhirnya datang, meski terlambat.

Namun, di tengah semua itu, Mela tetap diam. Matanya masih tertuju pada layar.

Rahman, dulu pria itu adalah pusat hidupnya. Dulu, pria itu adalah orang yang paling ia percaya. Dan sekarang, nama Rahman hanya menjadi bagian dari berita.

"Apa kamu nggak apa-apa, Mel?" tanya Darmi pelan.

Mela tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya.

Bukan cinta tapi, rasa iba melihat seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya, kini jatuh sehancur itu.

Namun di saat yang sama, ada perasaan lain. Perasaan lega karena semua yang terjadi dulu, akhirnya menemukan jawabannya.

Mela menarik napas panjang. Lalu, mengembalikan ponsel itu pada Asih.

"Ya, mungkin ini memang jalannya," jawabnya tenang, tanpa emosi berlebihan.

Darmi menatapnya lekat. "Kamu masih peduli pada mereka?"

Mela tersenyum tipis. "Sebagai manusia... iya." Ia menatap hamparan lahan di depan. "Tapi sebagai seseorang yang pernah terluka, aku rasa ini sudah cukup adil."

Hening, Angin berembus pelan.

Dino sejak tadi hanya diam, menatap Mela. Tatapannya dalam bukan karena berita itu tapi, karena cara Mela menghadapinya tanpa dendam, dan kebencian.

Dan di saat itu, Dino semakin yakin, wanita di hadapannya adalah seseorang yang layak diperjuangkan.

1
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Arin
/Heart/
niktut ugis
kenapa manggil nya masih mama mela?... Mela kan ibu kandung lina😌
Anonim
apakah bos arga itu dino
niktut ugis
wes lah halu dulu kalian bertiga
niktut ugis
ach Rahman kamu kecoa busuk
niktut ugis
cari tuch camilan wanita pujaan
Zakia Ulfa
puluhan tahun menikah dengan Rahman, apakah mela tak punya tabungan thoorrr... seenggaknya dia tak harus turun langsung nyangkul tanah kan kalau punya uang,bahkan mungkin bisa beli lahan tanpa menyewanya.
niktut ugis
melawan para pecundang tak perlu ikut jadi pecundang tapi bantai dengan santai dan pasti langsung jleb
Titien Prawiro
Apa artinya merajuk pasal tak dayang, bahasa apa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
niktut ugis
jika berhianat dalam pernikahan tak perlu berapa lama pernikahan sudah di jalani berpisah jalan terbaik agar perasaan hati bisa bahagia
Titien Prawiro
Rahman mau balas dendam rupanya sama Camila dengan cara halus dan elegan, tunggu saja permainannya.
Titien Prawiro
percaya diri amat mau balikan
Titien Prawiro
Jangan kamu Terima keluarga jahat itu Mela.
Titien Prawiro
Jangan2 mereka ke kampungnya Mela. apa gk malu ya.
Titien Prawiro
Puji Tuhan Mela bahagia.
Titien Prawiro
Syuuuukuuuurriii. gk bersyukur kamu Man, punya istri baik sabar disia-siakan. nikmati tuh kebangkrutan mulai kemiskinanmuPerempuan yg dibanggakan seperti lintah, sekali sedot habissss.
Ds Phone
lega semua nya selamat
Ds Phone
ada kecemasan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!