Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, ketegangan menyelimuti seluruh penjuru kediaman Ashcroft. Para penjaga memeriksa setiap sudut bangunan dengan teliti, surat-surat lama kembali diteliti satu per satu, sementara kepala pelayan pun mencatat siapa saja yang keluar-masuk kediaman selama beberapa minggu terakhir.
Aruna berdiri di ruang kerja ayahnya, menatap tumpukan dokumen yang menumpuk di atas meja. Jika ingatannya tak keliru, benda yang mereka cari akan segera ditemukan di ruang arsip. Namun tempat itu sesungguhnya hanyalah jebakan yang telah disiapkan lebih dulu.
"Jebakan?" Arthur yang berdiri di sampingnya seketika menoleh.
Aruna tersentak kaget. "Ah... maksudku, ada kemungkinan seperti itu."
Ia menarik napas lega dalam hati. Hampir saja ia mengucapkan hal yang tak seharusnya diketahui siapa pun. Adrian yang berdiri tak jauh di dekat rak buku terus memperhatikan adiknya dengan tatapan menyelidik.
"Kau yakin akan hal itu?" tanyanya tenang.
"Ya," jawab Aruna mantap. "Menurutku, kita tak sekadar mencari bukti siapa pelakunya. Kita pun harus menyadari siapa yang sengaja meninggalkan bukti itu agar kita temukan."
Arthur mengangguk pelan. "Pemikiran itu memang masuk akal."
Mereka pun berjalan menuju ruang arsip yang terletak di bagian belakang kediaman. Ruangan itu jarang dikunjungi sehingga debu menebal di atas rak-rak kayu yang berjejer rapi. Adrian membuka laci demi laci, namun tak menemukan benda yang dicari. Hingga akhirnya seorang penjaga mengangkat sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di sudut ruangan.
"Yang Mulia, lihatlah yang kami temukan."
Arthur segera mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen serta sebuah stempel yang seakan tak berbeda jauh dari segel resmi keluarga Ashcroft. Mata Aruna seketika membelalak. Itulah benda yang selama ini digunakan untuk menjatuhkan keluarganya dalam cerita asli.
"Ini..." Arthur mengangkat stempel itu sambil menatapnya saksama.
"Inilah segel keluarga kita?" tanya Adrian tak yakin sembari memeriksanya lebih dekat.
"Jangan disentuh sembarangan!" seru Aruna seketika. Semua orang yang hadir pun terdiam dan menatapnya heran.
"Periksalah dengan teliti sebelum menyimpulkan apa pun," ujar Aruna menunjuk stempel itu.
"Mengapa begitu?" tanya Arthur bingung.
"Karena jika pelakunya memang sengaja ingin menjebak kita, ia tak akan meninggalkan bukti yang begitu mudah ditemukan tanpa menyisakan jebakan di dalamnya."
Adrian segera mengambil sarung tangan dan memeriksa ukiran pada stempel itu dengan saksama. Tak lama kemudian, ia menemukan perbedaan yang halus namun nyata.
"Ukiran pada lambangnya berbeda."
Arthur segera membandingkannya dengan segel asli yang tersimpan di ruang kerja. "Segel asli keluarga kita memiliki ukiran bunga mawar di bagian bawah. Sedangkan yang ini tidak memilikinya."
Aruna menghela napas lega. Dalam cerita asli, para penyidik kerajaan justru tertipu karena tak menyadari perbedaan kecil itu. Arthur pun menatap benda palsu itu dengan tatapan tajam dan dingin.
"Jadi seseorang sengaja menaruh benda palsu ini di sini agar kita menemukannya dan terjebak dalam tuduhan yang dibuat-buat," ujarnya tegas.
"Benar sekali," sahut Adrian.
Belum sempat mereka menyelidiki lebih jauh, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat ke ruangan itu. Seorang penjaga masuk dengan napas memburu.
"Yang Mulia! Kami menangkap seorang pelayan yang mencoba meninggalkan kediaman secara diam-diam!"
Arthur mengerutkan kening. "Siapa pelayan itu?"
"Namanya Thomas, Yang Mulia."
Aruna terdiam seketika. Ia begitu mengenal nama itu. Dalam cerita yang dibacanya, Thomas memang bekerja untuk Duke Harold secara diam-diam. Namun seharusnya pria itu baru tertangkap tiga bulan lagi, bukan saat ini.
Arthur segera memerintahkan Thomas dibawa masuk. Wajah pria itu tampak pucat dan penuh ketakutan.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!" seru Thomas berusaha membela diri.
Adrian menatapnya tajam. "Jika kau tak bersalah, mengapa kau mencoba melarikan diri dari kediaman ini?"
Thomas terdiam dan tak berani menjawab. Aruna memperhatikannya dengan saksama, lalu seakan mendengar suara hati pria itu yang memancarkan ketakutan, bukan niat jahat. Ia pun melangkah maju mendekati pelayan itu.
"Thomas, katakan padaku... untuk siapa kau bekerja diam-diam?"
"Aku melayani keluarga Ashcroft, Yang Mulia," jawabnya gemetar.
"Bukan itu yang kutanyakan," ujar Aruna lembut namun tegas. "Siapa yang mengancam keluargamu hingga kau terpaksa membantu orang lain?"
Wajah Thomas seketika kehilangan sisa warna yang masih tersisa. Arthur dan Adrian saling berpandangan menyadari ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik kejadian itu. Akhirnya Thomas berlutut di hadapan mereka.
"Ampunilah hamba, Yang Mulia! Hamba tak punya pilihan lain selain menurutinya."
"Siapa yang memerintahmu?" tanya Arthur dengan nada berat.
Thomas menelan ludah dengan susah payah. "Duke Harold."
Ruangan itu seketika sunyi senyap. Aruna mengepalkan tangannya erat. Ia memang tak salah menebak nama itu. Namun Thomas kembali melanjutkan ucapannya dengan suara gemetar.
"Tetapi hamba tak pernah memalsukan segel maupun dokumen itu! Hamba hanya diperintahkan untuk mengambil selembar surat dari ruang kerja Duke Arthur dan menyerahkannya kepada seseorang."
"Surat itu kini berada di mana?" tanya Arthur segera.
"Hamba tak tahu isinya," jawab Thomas. "Surat itu sudah hamba serahkan kepada orang yang datang menjemputnya di gerbang kediaman."
Aruna merasa sesuatu yang tak beres. Segalanya terasa terlalu mudah dan terlalu cepat terungkap. Dalam ingatannya, orang yang menerima surat itu bukanlah anak buah Duke Harold, melainkan seseorang yang datang atas perintah orang lain yang jauh lebih berkuasa.
"Ayah..." Aruna menatap ayahnya dengan tatapan serius. "Ada kemungkinan Duke Harold tak bergerak sendirian. Ia mungkin hanyalah alat yang digunakan oleh orang lain."
Arthur pun segera menyadari bahaya yang mengancam. "Adrian, perintahkan orang-orang kepercayaanmu segera menyelidiki siapa sosok yang menerima surat itu dari tangan Thomas."
"Aku melaksanakannya sekarang," jawab Adrian dan segera melangkah keluar ruangan.