NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Versailles Bukan Rumah Para Raja

Pagi datang terlalu cepat.

Aku bahkan belum sempat tidur dengan benar.

Semalaman aku membaca buku kecil yang ditemukan di gang itu.

Sayangnya...

Isinya hanya beberapa halaman.

Sebagian besar kosong.

Sebagian lagi berisi kalimat-kalimat pendek yang terasa seperti teka-teki.

Dan satu nama yang terus muncul.

Adrien Delacroix.

Ayahku.

Atau setidaknya...

Pria yang seharusnya menjadi ayahku.

Aku duduk di lantai bengkel sambil bersandar pada dinding.

Léo tidur di sofa dengan mulut terbuka.

Aku mengambil sepotong roti dari meja.

Mengunyahnya pelan.

"Romantis sekali."

gumamku.

"Orang lain bangun pagi menikmati croissant."

"Aku bangun pagi membaca pesan dari orang mati."

Aku melempar remah roti ke arah Léo.

Ia tidak bangun.

Aku melempar lagi.

Masih tidak bangun.

Akhirnya aku mengambil sepatu.

Plak!

"AU!"

Léo langsung bangun.

"APA?!"

"Bangun."

"Kau gila?"

"Kita pergi ke Versailles."

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu mengambil bantal dan melemparkannya ke wajahku.

"Masih pagi."

Aku tertawa.

"Selamat pagi."

── Maël kepada kalian ──

Kalau kalian punya teman seperti Léo...

Jangan pernah berharap hidup kalian tenang.

Dia bisa tidur saat dunia kiamat.

Tapi kalau ada yang mengambil roti terakhirnya...

Dia bisa berubah menjadi monster.

── Kembali ke cerita ──

Henri ternyata sudah bangun.

Ia sedang berdiri di dekat pintu sambil minum kopi.

Begitu melihatku membawa buku hitam itu...

Ekspresinya berubah.

"Kau menemukannya."

Aku berhenti.

"Kau tahu?"

Henri tidak menjawab.

Aku tersenyum.

Senyum yang tidak benar-benar ramah.

"Jangan bilang..."

"...'belum saatnya'."

Henri menghela napas.

"Maël."

"Ya?"

"Alamat itu berbahaya."

"Lebih berbahaya daripada orang-orang yang mencoba membakar bengkel?"

"Jauh lebih."

Aku mengangkat buku.

"Ini tulisan ibuku."

Henri menatapnya.

"Ya."

"Dan dia bilang jangan percaya padamu."

Henri terdiam.

Léo yang baru saja bangun langsung menatap kami.

"Oh."

katanya.

"Ini bakal menarik."

Aku menunjuk Léo.

"Jangan ikut campur."

"Aku bahkan belum bicara."

"Tapi wajahmu sudah bicara."

Henri akhirnya duduk.

"Kalau kau pergi..."

"...aku ikut."

Aku menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin tahu kebenaran."

"Dan?"

"Kalau kau ikut..."

"...aku tidak tahu apakah yang kau ceritakan benar."

Henri terdiam.

Kalimat itu jelas menyakitinya.

Tapi ia tidak marah.

Justru...

Ia tersenyum tipis.

"Baik."

"Pergilah."

Aku terkejut.

"Serius?"

"Serius."

"Tapi..."

"...aku akan memberimu satu peringatan."

"Apa?"

"Jangan percaya siapa pun yang menunggumu di sana."

Aku mengangkat alis.

"Termasuk?"

Henri menatapku.

"Terutama orang yang mengaku mengenal ayahmu."

Perjalanan menuju Versailles dimulai dengan cara yang sangat tidak romantis.

Kami naik kereta.

Berdiri.

Berdesakan.

Dan Léo hampir kehilangan sepatunya.

"MAËL!"

"Apa?"

"SEPATUKU!"

Aku melihat ke bawah.

Sepatu Léo memang sudah tidak ada.

Aku menunjuk seorang pria yang sedang berdiri dua meter di belakangnya.

"Di bawah kursi."

Léo merangkak mengambilnya.

Beberapa penumpang menatap kami aneh.

Aku tersenyum kepada seorang nenek.

"Bonjour."

Nenek itu tersenyum balik.

Léo memasang sepatunya.

"Kenapa kau selalu santai?"

"Aku sudah terbiasa dipermalukan di tempat umum."

Setelah hampir satu jam...

Kami tiba di Versailles.

Aku pernah melihat foto tempat ini.

Istana besar.

Taman luas.

Air mancur.

Turis.

Orang-orang datang untuk melihat kemewahan masa lalu.

Namun alamat yang kami cari...

Bukan istana.

Bukan tempat wisata.

Melainkan sebuah jalan kecil di belakang kawasan tua.

Bangunan-bangunan tua berdiri rapat.

Sebagian ditumbuhi lumut.

Sebagian bahkan sudah kosong.

Aku membuka buku hitam.

Mencocokkan alamat.

"Di sini."

Léo melihat bangunan di depan kami.

"Ini?"

Aku mengangguk.

Sebuah rumah tua berwarna putih kusam.

Pintunya terkunci.

Jendelanya ditutup papan.

Di atas pintu...

Terdapat simbol burung layang-layang.

Aku mendekat.

Menyentuh ukiran itu.

Debu menempel di jariku.

"Sudah lama tidak digunakan."

kata Léo.

Aku mengangguk.

"Tapi seseorang masih datang."

"Apa?"

Aku menunjuk tanah.

Ada bekas sepatu.

Masih baru.

Dan...

Bekas roda kendaraan.

"Berarti kita tidak sendirian."

Kami menyelinap lewat pintu belakang.

Di dalam...

Bau debu memenuhi udara.

Rumah itu kosong.

Namun tidak sepenuhnya.

Ada meja.

Kursi.

Lemari.

Dan sebuah perapian tua.

Aku berjalan menuju dinding.

Di sana terdapat beberapa foto.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semua foto anak-anak.

Aku mengenali beberapa wajah.

Mereka ada di map Camille.

Anak-anak yang hilang.

Aku menelan ludah.

"Jadi..."

"...mereka pernah tinggal di sini."

Léo mengangguk.

"Sepertinya."

Aku berjalan lebih jauh.

Di salah satu meja terdapat sebuah kotak musik.

Aku menyentuhnya.

Klik.

Kotak itu terbuka.

Sebuah melodi kecil terdengar.

Lembut.

Sedih.

Dan entah kenapa...

Aku mengenal lagu itu.

Aku mulai bersenandung tanpa sadar.

Léo menatapku.

"Kau tahu lagu itu?"

Aku menggeleng.

"Tidak."

"Tapi..."

"...rasanya seperti pernah mendengarnya."

Aku menutup mata.

Dan tiba-tiba...

Sebuah ingatan muncul.

Seorang perempuan duduk di samping tempat tidur.

Menyanyikan lagu itu.

Tangannya mengusap rambutku.

"Maël..."

Suara itu lembut.

Hangat.

Aku hampir bisa merasakan tangannya.

"Ibu..."

Aku membuka mata.

Air mata sudah mengalir di pipiku.

Léo langsung diam.

Aku tidak menghapusnya.

Karena untuk pertama kalinya...

Aku tidak ingin melawan ingatan itu.

Aku ingin mengingat.

Tiba-tiba...

Krek.

Suara papan lantai terdengar dari lantai atas.

Aku langsung berdiri.

Léo mengambil tongkat kayu.

"Siapa di sana?"

Tidak ada jawaban.

Kami menaiki tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga.

Semakin tinggi...

Semakin dingin.

Lantai dua gelap.

Ada tiga kamar.

Kamar pertama kosong.

Kamar kedua kosong.

Kamar ketiga...

Pintunya sedikit terbuka.

Aku mendorongnya.

Kreeek...

Di dalam hanya ada satu meja.

Di atas meja...

Sebuah amplop.

Namaku tertulis di sana.

MAËL.

Aku mengambilnya.

Tanganku gemetar.

"Ini..."

Léo menatapku.

"Surat lagi?"

Aku mengangguk.

Aku membuka amplop itu.

Tulisan tangan yang sama.

Tulisan ibuku.

Namun kali ini...

Hanya ada satu kalimat.

"Jika suatu hari kau sampai di Versailles, berarti Henri sudah gagal menjagamu."

Aku membeku.

Di bawah kalimat itu ada tulisan lain.

"Jangan cari ayahmu."

Aku mengernyit.

"Apa-apaan..."

Lalu aku membalik surat itu.

Ada satu kalimat terakhir.

Dan kalimat itu membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

"Karena ayahmu bukan orang yang selama ini kau pikirkan."

Tiba-tiba...

Pintu kamar di belakang kami tertutup.

BRAK!

Léo terkejut.

"Maël!"

Aku langsung berbalik.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Seorang gadis.

Usianya mungkin sebaya denganku.

Rambut pirang pendek.

Jaket kulit hitam.

Tatapannya tajam.

Tangannya memegang pisau kecil.

Namun ia tidak menyerang.

Ia hanya menatapku.

Lalu berkata dalam bahasa Prancis:

"Tu es vraiment le fils d'Adrien?"

Aku menelan ludah.

"Kau..."

"...kenal ayahku?"

Gadis itu tersenyum tipis.

"Lebih dari yang kau kira."

Ia menurunkan pisaunya.

Lalu berkata:

"Je m'appelle Élodie."

"Namaku Élodie."

Ia menatap surat di tanganku.

Dan untuk pertama kalinya...

Aku melihat seseorang yang sepertinya benar-benar tahu seluruh kebenaran.

Namun sebelum aku sempat bertanya...

Élodie berkata pelan:

"Maël... ton père est vivant."

Ayahmu masih hidup.

Aku membeku.

Léo juga.

Dan dunia seolah berhenti bergerak.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!