Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Menjelang jam pulang sekolah, suasana di sekitar gerbang dan area parkir tampak ramai oleh lalu lalang kendaraan orang tua murid. Namun, di antara sekian banyak mobil yang mengantri, kehadiran mobil Alphard putih milik Zaky tentu menjadi pusat perhatian.
Pria itu sengaja datang lebih awal untuk menjemput Azzam dan Azzura secara langsung. Namun, di balik alasan menjemput si kembar, ada niat utama yang membuat dadanya berdesir hangat sepanjang hari, ia ingin kembali melihat paras cantik Arumi sebelum hari berganti malam.
Tak jauh dari posisinya parkir, di balik kaca mobil serba hitam yang terparkir samar di seberang jalan, seorang pria berjas gelap memegang ponsel di telinganya. Sepasang mata tajam milik pria bernama Rudolf itu terus mengintai setiap gerak-gerik Zaky dari kejauhan.
"Lapor Nyonya, Tuan Zaky menjemput Tuan Muda Azzam dan Nona Azzura secara langsung. Dan... saya melihat Tuan Zaky bertemu kembali dengan Bu Arumi di area parkir," lapor Rudolf dengan suara pelan namun tegas melalui sambungan telepon.
Di tempat lain, tepatnya di ruang tengah mansion Tanuwijaya yang megah, Nyonya Maya mendengarkan laporan itu dengan rahang yang mengeras. Cangkir teh porselen di tangannya bergetar akibat amarah yang seketika membakar dadanya.
"Jadi sekarang Zaky sudah mulai pura-pura perhatian dengan si kembar?!" desis Nyonya Maya dengan suara bergetar menahan amarah. "Dia yang selama belasan tahun ini selalu bersikap acuh, tidak peduli dengan darah dagingnya sendiri, bahkan selalu menganggap mereka sebagai aib... sekarang demi mengejar wanita miskin dan kampungan itu, dia rela melakukan semua pencitraan ini?! Benar-benar membuatku muak!"
Nyonya Maya mengepalkan tangannya begitu kuat hingga telapak tangan dan jarinya memutih, kemarahan dan rasa cemas bercampur menjadi satu di dadanya.
"Terus pantau putraku, Rudolf! Jangan sampai lepas dari pengawasanmu sedikit pun," perintah Nyonya Maya dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Aku harus secepatnya membuat perhitungan dengan wanita itu agar dia sadar diri dan segera menjauhi putra serta kedua cucuku!"
"Baik, Nyonya. Akan saya laksanakan," balas Rudolf sebelum mengakhiri panggilan.
Sementara intaian bahaya mengintai dari kejauhan, suasana di sudut area parkiran sekolah justru terasa sebaliknya. Azzam dan Azzura yang baru saja keluar dari gerbang langsung menghampiri sang ayah yang berdiri tegap di samping mobilnya. Di belakang si kembar, tampak Arumi berjalan pelan mengantar anak-anak didiknya.
Melihat kehadiran Arumi, Zaky langsung melempar senyum hangatnya yang paling tulus, mengabaikan tatapan heran beberapa wali murid di sekitarnya.
Arumi menghentikan langkahnya di dekat pintu mobil Zaky, memegang tali tas kerjanya dengan jemari yang sedikit gemetar. Meski dalam hatinya ada rasa hangat yang menyeruak dan ingin melompat gembira melihat perubahan sikap Zaky yang begitu perhatian dan manis padanya, Arumi berusaha keras menjaga martabat dan profesionalitasnya sebagai guru di depan anak-anak.
"Pak Zaky..." panggil Arumi lembut dengan wajah yang sengaja dibuat sedatar dan tenang mungkin. "Saya mau mengucapkan terima kasih banyak atas kue sehat yang tadi pagi dikirimkan lewat Azzam dan Azzura. Kuenya sangat enak dan sangat membantu memulihkan stamina saya."
Mendengar ucapan terima kasih itu langsung dari bibir Arumi, binar kebahagiaan terpancar makin jelas di matanya Zaky. Pria itu mendeham pelan, berusaha mengontrol degupan jantungnya yang tak karuan.
"Sama-sama, Rum... maksudku, Bu Arumi," ujar Zaky membetulkan sebutannya di depan anak-anak. "Kue itu sengaja dipesan khusus untuk memulihkan flu berat. Yang penting Bu Arumi sudah merasa lebih baik sekarang."
"Iya Bu, kue dari Papah tadi habis dimakan pas jam istirahat kan?" timpal Azzura dengan senyum mengembang, ikut senang melihat gurunya sudah tampak lebih segar.
"Iya, Azzura. Terima kasih ya, anak-anak," sahut Arumi tersenyum hangat, lalu melirik Zaky sekilas dengan tatapan lembut yang sempat membuat pria itu menahan napasnya sejenak. "Kalau begitu, kalian hati-hati di jalan ya."
Arumi melambaikan tangannya seiring Azzam dan Azzura masuk ke dalam mobil. Zaky pun mengangguk penuh arti, menyunggingkan senyum penuh janji sebelum akhirnya memutari mobil untuk kembali ke kursi kemudi. Di balik ketenangan sikap Arumi, Zaky tahu bahwa dinding es yang membentengi hati wanita yang sangat dicintainya itu kini perlahan-lahan mulai mencair.
*
*
Malam semakin larut. Setelah menikmati semangkuk nasi goreng hangat yang dibeli di depan gang, Arumi dan Ayu duduk bersantai di ruang tamu kontrakan mereka yang sederhana. Suasana malam yang sejuk membawa kehangatan tersendiri di antara kedua sahabat itu.
Ayu menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa, lalu menyenggol lengan Arumi dengan senyum jahil yang mengembang sempurna.
"Eh Rum, gimana hubunganmu sekarang sama Pak Zaky? Pasti tadi ketemu lagi kan di sekolah?" tanya Ayu dengan nada menggoda, matanya dikedipkan berkali-kali.
Pipi Arumi seketika merona merah. Ia buru-buru memalingkan wajah untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Ish, apaan sih Mbak Yu... Hubungan apa coba! Kami cuma sebatas wali kelas dan orang tua murid, tidak lebih."
"Halah, alasan! Sudah, jangan kelamaan dipendam," kekeh Ayu makin gencar menggoda. "Kalau si duda kaya bin tampan kayak dia nanti tiba-tiba ngelamar kamu, langsung terima ya! Awas saja kalau ditolak, nanti aku rebut dia dari tanganmu!"
"Ish... Jangan lah...! Eh...ops...!" Arumi refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari respon spontannya, lalu menepuk pelan paha Ayu. "Ish, kau ini senang sekali menggoda aku sih, Yu! Lagipula... aku dan Zaky itu tidak mungkin bersatu. Tembok pemisah di antara kami terlalu tinggi dan kuat," ujar Arumi pelan, raut wajahnya yang semula merona mendadak berubah muram dan penuh kesedihan saat mengingat kenyataan rumit di antara mereka.
Ayu yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya baru saja hendak menenangkan, ketika tiba-tiba suara ketukan pintu depan terdengar cukup keras.
Tok...tok...tok!
"Siapa ya malam-malam begini?" gumam Ayu heran.
"Biar aku saja yang buka, Mbak Yu," ucap Arumi seraya bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu depan.
Namun, begitu daun pintu kayu itu ditarik terbuka, senyum Arumi seketika luntur total. Tubuhnya menegang kaku di ambang pintu. Di hadapannya kini berdiri sosok wanita paruh baya dengan pakaian mewah yang tampak sangat mencolok. Mutiara menghiasi lehernya, dan tatapan matanya dipenuhi keangkuhan, dingin, serta kebencian yang mendalam. Wanita itu tak lain adalah Nyonya Maya, ibu kandungnya Zaky.
Nyonya Maya bersedekap dada, mengedarkan pandangan sekilas ke arah kontrakan kecil itu dengan raut jijik, sebelum akhirnya menghujat Arumi dengan tatapan menghina.
"Oh... jadi di sini rumah wanita tidak tahu malu yang berani mendekati dan menggoda putraku?" desis Nyonya Maya dengan suara dingin yang menusuk.
Deg!
Jantung Arumi rasanya berhenti berdetak seketika. Pasokan udara di sekitar dadanya terasa menipis. Arumi terkejut setengah mati mendengar kalimat tajam yang merendahkan harga dirinya itu. Pikiran Arumi langsung berputar liar. Apakah Nyonya Maya sudah tahu siapa aku sebenarnya? Apakah beliau ingat aku adalah wanita dari kampung yang dulu hampir dinikahi Zaky? Atau... ini karena fitnah keji yang dulu ditanamkan oleh mendiang Citra hingga beliau membenciku setengah mati seperti ini?
Ayu yang mendengar keributan dan kalimat kurang ajar itu langsung berlari menghampiri pintu. Berdiri di samping Arumi, dada Ayu bergemuruh hebat memendam amarah. Matanya menatap geram ke arah wanita tua kaya raya yang datang-datang tanpa sopan santun dan langsung menginjak-injak harga diri sahabatnya di rumah mereka sendiri.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣