NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Keluarga Prameswari Datang

Mama Ratih datang ke Jakarta tanpa memberi tahu Nadira.

Nadira tahu dari Fadli, itu pun setelah adiknya menelepon dengan suara panik.

"Kak, Mama sama Papa sudah di Stasiun Gambir."

Nadira yang sedang menulis rekam medis langsung berhenti. "Apa?"

"Mereka naik kereta pagi. Katanya mau lihat keadaan Kakak."

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Aku juga baru tahu! Mama bilang kalau bilang dari awal, Kakak pasti melarang."

Nadira memijat pelipis.

Mama Ratih dan Papa Hendra tinggal di Purwokerto. Mereka adalah orang tua angkat yang membesarkan Nadira sejak usia tujuh tahun. Papa Hendra lembut dan tidak banyak bicara. Mama Ratih keras, praktis, dan sering menganggap cinta harus berbentuk pengaturan.

Mereka tahu Nadira menggugat cerai. Tapi mereka belum tahu semua kekacauan Arga, Laras, Vania, dan akun gosip.

Atau mungkin sudah tahu terlalu banyak dari orang lain.

"Bawa mereka ke apartemenku. Aku pulang setelah sif."

"Kak, Mama sudah bilang mau ke rumah sakit."

"Jangan."

"Terlambat. Mereka naik taksi ke sana."

Nadira menutup mata.

Tentu saja.

Setengah jam kemudian, Mama Ratih muncul di lobby rumah sakit dengan kerudung cokelat muda dan tas besar. Papa Hendra berjalan di belakangnya membawa kardus oleh-oleh. Fadli mengikuti dengan wajah bersalah.

Mama Ratih langsung memeluk Nadira.

"Ya Allah, Nduk. Kamu kurus."

Nadira membalas pelukan itu. "Mama kenapa tidak bilang mau datang?"

"Kalau bilang, kamu pasti bilang sibuk."

"Aku memang sibuk."

"Itu masalahmu dari dulu. Semua orang kamu urus, diri sendiri tidak."

Papa Hendra tersenyum lembut. "Nadira sehat?"

"Sehat, Pa."

Mama Ratih melepas pelukan dan melihat wajah Nadira lebih teliti. "Sehat apa? Matamu cekung. Fadli bilang kamu diserang orang."

Nadira menatap Fadli.

Fadli mengangkat tangan. "Aku tidak mungkin bohong kalau Mama sudah interogasi."

Mama Ratih menggenggam tangan Nadira. "Kamu ikut Mama pulang."

Kalimat itu jatuh seperti pintu tertutup.

"Ma."

"Tidak ada Ma. Jakarta tidak aman. Suamimu tidak jelas. Orang-orang kaya itu bikin hidupmu kacau. Kamu pulang dulu ke Purwokerto. Kerja di rumah sakit sana juga bisa."

Nadira menarik napas. "Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja."

"Pekerjaan atau laki-laki itu?"

Nadira terdiam.

Fadli langsung berkata, "Ma, jangan mulai di lobby."

Mama Ratih menatapnya. "Kamu diam. Kamu juga bikin pusing."

Fadli langsung diam.

Papa Hendra memegang bahu istrinya. "Ratih, kita bicara di tempat yang lebih tenang."

Nadira membawa mereka ke kantin dokter yang agak sepi. Ia memesan teh hangat untuk orang tuanya. Mama Ratih tidak menyentuh minumannya.

"Mama lihat berita," katanya.

Nadira sudah menduga.

"Berita tidak semuanya benar."

"Tapi fotonya benar. Kamu di pengadilan dengan Arga. Kamu di mobil dia. Kamu di rumah sakit dengan anak perempuan itu."

"Kendra anak kecil, Ma."

"Aku tidak bicara soal anak itu. Aku bicara soal kamu. Kamu selalu begini. Dari kecil kalau ada yang susah, kamu yang maju. Kalau ada yang menangis, kamu yang mengalah. Sekarang suamimu membawa masalah janda dan anak, kamu lagi yang harus memahami?"

Nadira tidak langsung menjawab.

Ia tahu Mama Ratih keras karena takut. Tapi kata-katanya tetap melukai.

"Aku tidak sedang memahami semuanya. Aku sedang menyelesaikan hidupku."

"Dengan tetap dekat dengan Arga?"

"Dia masih suamiku secara hukum."

"Kamu yang menggugat cerai."

"Iya."

"Lalu kenapa masih masuk mobilnya?"

Nadira menatap ibunya. "Karena malam itu aku diserang dan dia orang yang paling cepat datang."

Mama Ratih menutup mulut, matanya berkaca-kaca. Untuk sesaat, kemarahannya runtuh menjadi takut.

"Nduk..."

Nadira melembut. "Aku baik-baik saja."

"Kamu bilang baik-baik saja sejak kecil." Mama Ratih menggeleng. "Waktu anak-anak panti lain mengejek kamu, kamu bilang baik. Waktu kamu sakit tifus tapi tetap bantu Mama jualan, kamu bilang baik. Waktu menikah dengan laki-laki yang langsung pergi, kamu juga bilang baik. Mama capek mendengar kamu baik-baik saja."

Nadira menunduk.

Papa Hendra akhirnya bicara. "Nadira, kami tidak ingin mengatur hidupmu. Tapi kami takut kehilangan kamu."

"Aku tahu, Pa."

"Kalau kamu ingin cerai, kami dukung. Kalau kamu ingin memberi Arga waktu, kami mungkin sulit menerima, tapi kami akan mencoba. Yang penting, jangan sembunyikan bahaya dari kami."

Mama Ratih menatap suaminya tidak setuju. "Pak."

"Dia sudah dewasa, Ratih."

"Dewasa bukan berarti tidak bisa salah."

"Benar. Tapi tugas kita bukan menarik paksa."

Nadira menatap Papa Hendra dengan rasa terima kasih.

Percakapan itu terhenti ketika Arga masuk ke kantin.

Ia datang untuk kontrol luka, ditemani Bima. Begitu melihat Nadira bersama orang tuanya, ia berhenti.

Fadli yang pertama melihatnya. Wajahnya langsung berubah waspada.

Mama Ratih mengikuti arah pandang Fadli.

"Itu Arga?"

Nadira menahan napas.

Arga berjalan mendekat pelan. Ia berhenti di jarak sopan, lalu menunduk.

"Assalamu'alaikum, Om, Tante. Saya Arga."

Mama Ratih menatapnya dari kepala sampai kaki.

"Jadi kamu laki-laki yang membuat anak saya menunggu empat tahun?"

Bima pura-pura melihat menu kantin.

Arga tidak menghindar. "Iya, Tante."

"Yang mengusir dia dari rumah?"

"Iya."

"Yang sekarang mendekat lagi setelah tahu dia dokter cantik yang kamu suka?"

Nadira tersedak teh.

Fadli menutup mulut.

Papa Hendra berdehem. "Ratih."

Arga tetap menunduk. "Saya tidak bisa membantah."

Mama Ratih tampak kesal karena Arga tidak melawan.

"Kamu pikir dengan wajah menyesal, semua selesai?"

"Tidak."

"Bagus kalau tahu."

Nadira berkata pelan, "Ma, Arga sedang kontrol."

"Aku tidak melarang dia kontrol. Aku sedang kontrol mulutnya."

Bima hampir batuk.

Arga mengangkat kepala. "Tante, saya tahu saya salah. Saya tidak akan meminta Tante mempercayai saya hari ini. Tapi saya minta izin untuk memperbaiki kesalahan saya pada Nadira dengan cara yang tidak memaksanya."

Mama Ratih menatapnya tajam. "Kalau Nadira tetap cerai?"

"Saya akan menerima proses hukum."

"Kalau dia menikah lagi?"

Rahangan Arga menegang tipis, tapi ia menjawab, "Kalau itu pilihannya setelah semua selesai, saya tidak punya hak menahan."

Nadira menatap Arga.

Ia tahu jawaban itu menyakitkan bagi Arga. Justru karena itu, ia tahu pria itu sedang berusaha jujur.

Mama Ratih tidak langsung bicara.

Akhirnya ia berkata, "Aku tidak suka kamu."

"Saya mengerti."

"Tapi setidaknya kamu tidak berkelit."

Arga mengangguk.

Dokter Rendra muncul dari pintu kantin. "Mayor Arga, kalau drama keluarga sudah selesai, jahitan Anda menunggu."

Suasana yang tegang pecah sedikit.

Fadli tertawa duluan. Maya tidak ada di sana, tapi Nadira tahu sahabatnya pasti akan menyukai dokter Rendra.

Arga pamit untuk kontrol.

Saat ia pergi, Mama Ratih menatap Nadira.

"Dia berubah?"

Nadira melihat punggung Arga yang berjalan bersama Bima.

"Aku belum tahu."

"Tapi kamu ingin tahu?"

Pertanyaan itu membuat Nadira diam terlalu lama.

Nadira menunduk ke gelas teh yang sudah dingin. "Aku ingin tahu apakah orang bisa berubah tanpa membuatku ikut hancur lagi."

Mama Ratih mengusap wajah. "Itu bukan jawaban yang menenangkan."

"Aku tahu."

"Kalau suatu hari dia membuatmu menangis lagi?"

Nadira menatap ibunya. "Aku tidak akan menyembunyikannya."

Mama Ratih tampak ingin mengatakan tidak percaya. Tapi Papa Hendra memegang tangannya di bawah meja, dan kemarahan yang hampir keluar berubah menjadi napas panjang.

Fadli ikut bicara, ragu-ragu. "Kak, aku dulu kesal banget sama Mas Arga. Sekarang juga masih. Tapi tadi waktu dia jawab Mama, aku merasa... setidaknya dia tidak lari."

Mama Ratih langsung menoleh. "Kamu jangan cepat luluh."

"Aku tidak luluh, Ma. Aku cuma punya mata."

Nadira tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak orang tuanya datang.

Papa Hendra ikut tersenyum. "Kalau nanti kamu bingung, pulang dulu. Rumah tidak akan bertanya kamu menang atau kalah."

Nadira mengangguk. "Aku tahu, Pa."

"Tahu saja tidak cukup," kata Mama Ratih. "Telepon juga. Jangan cuma kirim pesan pendek seperti pejabat."

"Iya, Ma."

Mama Ratih menghela napas. "Itu yang Mama takutkan."

Nadira menggenggam tangan ibunya.

"Aku juga takut, Ma."

Untuk pertama kalinya hari itu, Mama Ratih tidak memarahinya.

Ia hanya menggenggam balik tangan Nadira, erat sekali.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!