NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH

Sore hari menjelang jam kepulangan, area depan gerbang utama SMA Garuda Bangsa riuh oleh ratusan siswa yang mengantre kendaraan atau sekadar berkumpul di sekitar pedagang makanan ringan. Angin sore berembus agak kencang, menerbangkan beberapa helai daun mahoni kering ke atas semen.

Naya sedang berdiri di dekat pos satpam bersama Saskia. Mukanya agak ditekuk gara-gara dompetnya ketinggalan di meja belajar rumah, sementara perutnya sudah lapar setengah mati.

Di saat yang sama, Arka melangkah keluar dari area parkiran bersama Dito. Laki-laki itu mengenakan jas OSIS lengkap dengan papan jalan kayu di tangan kirinya. Wajahnya dipasang datar tanpa cela, memancarkan wibawa Ketua OSIS yang tak terjangkau.

Saat melintas di dekat pos satpam, mata Arka menangkap Naya yang sedang cemberut. Niat awal Arka murni ingin mengingatkan Naya soal tugas rekapitulasi data panitia yang belum diserahkan.

"Naya," panggil Arka tegas, menghentikan langkahnya dua meter dari tempat Naya berdiri. "Berkas rekapitulasi divisi dekorasi mana? Kenapa belum kamu serahkan ke meja sekretariat sebelum bel pulang?"

Naya yang sedang lelah, lapar, dan sensitif langsung menyilangkan tangan di dada. "Kan udah gue serahin ke Melisa tadi siang! Tanya aja sama sekretaris kesayangan lo itu!"

Arka mengerutkan keningnya, memasang nada kedisiplinan yang kaku. "Melisa bilang kamu baru menyerahkan lembar pertama. Lembar lampiran duanya mana? Jangan biasa menggampangkan pekerjaan, Naya."

Beberapa siswa yang melintas di sekitar gerbang mulai menoleh, berbisik-bisik melihat pertengkaran rutin antara sang Ketua OSIS dan siswi pembuat masalah itu.

Saskia yang berdiri di sebelah Naya menyipitkan matanya curiga, memperhatikan interaksi mereka dengan pandangan penuh intrik.

Naya yang menyadari tatapan selidik Saskia dan beberapa siswa di sekitarnya mendadak panik. Mengingat peringatan Arka kemarin soal Saskia yang mulai curiga, otak Naya langsung memutar skenario liar: Gue harus bikin pertengkaran ini kelihatan sangat meyakinkan! Bikin seolah-olah kita bener-bener saling benci biar mereka nggak curiga!

Dengan sengaja, Naya menaikkan volume suaranya satu oktav, memasang raut wajah sangat galak.

"Ih! Lo tuh bawel banget sih dari tadi?!" sembur Naya sengit, melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah Arka. "Segala hal dicari-cari salahnya! Kaku banget kayak papan gilasan!"

Arka tersentak tipis melihat reaksi Naya yang mendadak amat dramatis. "Saya cuma menjalankan prosedur—"

"Prosedur gundulmu!" potong Naya berapi-api, berusaha keras membuataktingnya terlihat alami. "Gue capek ya diatur-atur sama lo mulu! Di sekolah diatur, di rumah juga—"

Naya menghentikan kalimatnya secara mendadak.

Kata "di rumah" terlepas begitu saja dari bibirnya di tengah emosi akting yang kebablasan.

Seketika itu juga, atmosfer di depan pos satpam membeku total.

Naya membelalakkan matanya lebar-lebar, tangannya refleks menutupi mulutnya sendiri. Keringat dingin merembes deras di pelipisnya.

Arka membeku di tempatnya berdiri. Manik mata hitamnya berkilat tajam, terbelalak kaget. Rahangnya menegang keras. Perkataan Naya barusan adalah pelanggaran paling fatal di depan belasan siswa yang sedang menonton mereka.

Saskia yang berdiri di samping Naya langsung tersentak, matanya melebar drastis. "Di rumah...?" bisik Saskia pelan, menatap Naya dengan napas tercekat. "Maksud lo apa, Nay? Di rumah juga diatur?!"

Beberapa siswa kelas 10 dan 11 yang berdiri di dekat pedagang batagor mulai saling berbisik heran. "Di rumah? Maksudnya Naya sama Arka satu rumah?"

Kepanikan raksasa membakar dada Naya. Wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat.

Di saat krisis yang berpotensi membongkar rahasia besar itu berada di puncak kritis, Dito dengan kecerdasan dan refleks secepat kilat langsung melangkah maju, memecah ketegangan dengan tawa renyah yang dibuat-buat keras-keras.

"Bwahahaha!" Dito tertawa riuh sambil menepuk-nepuk bahu Arka kasar. "Aduhh! Naya, Naya! Lo kalau lagi ngamuk omongannya makin ngawur aja ya! Maksud lo 'di rumah' tuh di rumah kalian masing-masing pas Arka nge-WA lo buat nagih tugas kan?!"

Dito memutar tubuhnya menghadap para siswa yang menonton, melambaikan tangannya santai. "Biasa guys! Anak IPS kalau lagi diperiksa berkasnya sama Pak Ketua emang suka ngelindur ngomongnya! Udah-udah, bubar-bubar! Jangan ditontonin, ntar kalian ketularan kaku kayak Arka!"

Goyonan Dito yang santai dan masuk akal berhasil memancing tawa beberapa siswa. Ketegangan di depan gerbang perlahan memudar ketika siswa-siswa tersebut kembali berjalan keluar gerbang.

Saskia mengerutkan keningnya, menatap Dito lalu menatap Naya. "Beneran gitu maksud lo, Nay?"

Naya yang hampir pingsan gara-gara serangan jantung mendadak buru-buru mengangguk-angguk histeris. "I—iya! Maksud gue gitu, Sas! Di WA rumah gue di-chat mulu sama dia buat nagih berkas! Beneran!"

Arka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Laki-laki itu menatap Naya dengan pandangan tajam, dingin, dan penuh peringatan tersembunyi.

"Serahkan berkasnya besok pagi sebelum bel masuk," ujar Arka sangat pendek dan datar, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran mobil tanpa menoleh lagi.

Dito menyunggingkan senyum tipis pada Naya, lalu menyusul langkah Arka.

Naya berdiri lemas di dekat pos satpam. Lututnya terasa bergoyang gara-gara rasa bersalah dan ketakutan yang teramat sangat.

Satu jam kemudian, di dalam mobil hitam milik Arka yang terparkir di bawah deretan pohon mahoni dua blok dari sekolah.

Atmosfer di dalam kabin mobil terasa teramat dingin dan mencekam. Tidak ada suara radio, tidak ada suara hembusan napas yang santai. Hanya ada deru mesin mobil yang halus.

Arka duduk di balik kemudi, kedua tangannya mencengkeram erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya kaku tanpa ekspresi.

Naya duduk di kursi penumpang samping pengemudi, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas tali tas punggungnya kuat-kuat. Rasa bersalah yang membakar dadanya membuat Naya tak berani menatap wajah Arka.

"Naya," suara Arka terdengar sangat rendah, tegas, dan sarat akan kekecewaan yang mendalam.

Naya tersentak pelan. "I—iya..."

Arka memutar tubuhnya sedikit, menatap Naya lurus-lurus. "Apa yang kamu pikirkan tadi?"

"Gue... gue cuma mau bikin pertengkaran kita kelihatan meyakinkan di depan Saskia..." rintih Naya pelan, suaranya parau dan bergetar.

"Membuat meyakinkan bukan berarti kamu ceroboh menyebut kata 'rumah' di depan belasan siswa, Naya!" potong Arka dengan nada yang sangat menekan, walau diusahakannya tidak berteriak. "Kamu tahu betapa tipisnya batas aman kita tadi? Kalau Dito tidak cepat mengalihkan pembicaraan, besok pagi seluruh sekolah sudah tahu rahasia kita!"

Arka menghembuskan napas panjang yang amat berat, menyandarkan punggungnya di kursi. "Saya sudah berulang kali ingatkan kamu untuk hati-hati. Ini bukan permainan, Naya."

Naya menelan ludah yang terasa teramat pahit. Air mata penyesalan mulai menggenang di sudut matanya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah interaksi mereka, Naya tidak membalas omelan Arka dengan kata-kata galak, sarkasme, atau julukan "Robot".

Naya mendongak pelan, menatap mata Arka dengan pandangan yang penuh rasa bersalah yang tulus.

"Arka..." bisik Naya pelan, sebutir air mata lolos membasahi pipinya. "...gue minta maaf."

Arka tersentak kecil melihat air mata itu. Kemarahan dan ketegangan di wajahnya seketika luntur. Laki-laki itu terpaku menatap Naya yang menunduk pasrah sambil menyapu air matanya sendiri.

"Gue bener-bener minta maaf..." lanjut Naya dengan suara bergetar. "Gue ceroboh banget. Gue... gue cuma takut rahasia kita terbongkar terus lo kena masalah gara-gara gue. Gue minta maaf, Arka..."

Permintaan maaf yang tulus dan tanpa bantahan dari Naya itu memukul dada Arka dengan dahsyat. Rasa kesal di dalam dirinya menguap seketika, digantikan oleh rasa iba dan dorongan protektif yang amat kuat.

Arka menghembuskan napas pelan. Laki-laki itu merengkuh tubuhnya mendekat, lalu mengulurkan tangan kanannya. Dengan jemari yang hangat dan lembut, Arka menghapus usapan air mata di pipi Naya.

"Sudah... jangan menangis," suara Arka berubah menjadi teramat lembut, menghangatkan kabin mobil yang dingin.

Naya menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. "Lo... lo nggak marah lagi?"

"Saya tidak marah, Naya," kata Arka pelan, matanya menatap lembut mata bulat cewek itu. "Saya cuma cemas. Saya cuma tidak ingin hal buruk terjadi sama kamu atau hubungan kita. Lain kali... tolong lebih berhati-hati."

Naya menganggukkan kepalanya cepat. "Iya... gue janji. Gue bakal lebih hati-hati."

Arka menyunggingkan senyum tipis nan sangat halus, mengusap pelan puncak kepala Naya dengan kasih sayang yang jujur.

Sore itu, di balik pertengkaran yang hampir menjadi bencana besar, Naya belajar menurunkan gengsinya untuk meminta maaf, sementara Arka belajar memaafkan dengan ketulusan hati—membuktikan bahwa kedewasaan hubungan mereka kian tumbuh melampaui rasa takut dan kesalahan yang ada.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!