Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Vivienne Laurent duduk bersandar di sofa dekat jendela. Cahaya matahari sore yang hangat menyelinap masuk melalui tirai tipis, menyinari wajahnya yang tampak lebih segar dibanding beberapa bulan lalu.
Perlahan, kedua telapak tangannya mengusap perut yang kini mulai membuncit. Senyum lembut menghiasi bibirnya. Tatapannya penuh kasih sayang, seolah mampu melihat bayi kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Sayang," bisik Vivienne pelan.
Jemarinya bergerak perlahan membelai perutnya. "Kamu harus baik-baik di dalam sana, ya?"
Suara Vivienne terdengar begitu lembut, dipenuhi kasih seorang ibu. "Tumbuhlah menjadi anak yang sehat. Mama dan Papa sudah tidak sabar menunggu hari saat kita akhirnya bisa bertemu."
Air mata tipis menggenang di pelupuk mata Vivienne. Bukan karena sedih, akan tetapi karena bahagia.
Setelah dua kali kehilangan, akhirnya Tuhan kembali mempercayakan seorang anak kepadanya. Tak ada satu hari pun yang Vivienne lewatkan tanpa mengucapkan syukur. Setiap malam ia berbicara dengan bayi itu. Setiap pagi ia mengelus perutnya sambil mendoakan keselamatan calon buah hatinya.
Bagi Vivienne, bayi itu adalah keajaiban. Harapan yang akhirnya kembali hadir.
Tiba-tiba, Vivienne menghentikan usapan tangannya. Matanya membulat dan tubuhnya membeku selama beberapa detik.
"Eh?"
Ada sesuatu yang bergerak pelan. Seolah ada sentuhan kecil dari dalam perutnya. Vivienne menahan napas.
Beberapa detik kemudian, gerakan itu kembali terasa. Kali ini lebih jelas. Sebuah tendangan kecil dari dalam rahimnya.
"Ya, Tuhan!"
Tangan Vivienne refleks menutup mulut. Air mata langsung mengalir membasahi pipinya.
"Bayiku, bergerak?!"
Suara Vivienne bergetar. Tangis bahagia pecah begitu saja. Ia tertawa di sela isaknya, lalu kembali mengusap bagian perut yang baru saja bergerak. Tatapannya dipenuhi cinta.
"Sayang, ini Mama. Boleh, ya, sesekali tendang lagi?"
Seolah mengerti ucapan ibunya, beberapa detik kemudian perut Vivienne kembali berkedut pelan.
Vivienne langsung tertawa. "Astaga, kamu benar-benar mendengar suara Mama."
Wanita itu menundukkan kepala, lalu mengelus lembut perutnya.
"Terima kasih ... terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Mama janji akan menjaga kamu."
Vivienne mengusap air matanya sambil tersenyum lebar. Dadanya terasa begitu hangat.
"Mama akan melakukan apa pun supaya kamu lahir dengan sehat."
Vivienne ingin membagikan kebahagiaan itu kepada orang yang paling dicintainya, Dominic
Vivienne segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Tangannya sedikit gemetar karena terlalu bersemangat.
Tak lama kemudian, panggilannya tersambung.
"Halo, Vivi." Suara Dominic terdengar dari seberang sana. "Ada apa?"
Vivienne tertawa kecil. "Dominic! Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan."
"Apa itu? Suaramu terdengar senang sekali."
Vivienne menahan napas sesaat. "Bayi kita baru saja bergerak."
Suasana di seberang telepon langsung hening. Beberapa detik kemudian terdengar suara Dominic yang meninggi karena terkejut.
"Apa? Benarkah?"
"Iya." Vivienne mengangguk berkali-kali, seolah suaminya bisa melihatnya. "Tadi dia menendang perutku."
"Sungguh?"
"Iya. "Ini pertama kalinya aku merasakan gerakan bayi kita. Dia sangat aktif " Tangis bahagia kembali terdengar dalam suaranya.
Dominic tertawa lega. "Itu kabar terbaik hari ini, Vivi."
Vivienne tersenyum semakin lebar. "Nanti malam kamu harus merasakannya sendiri. Aku ingin kamu juga merasakan tendangan pertama anak kita."
Dominic langsung menjawab tanpa berpikir panjang. "Aku pasti pulang lebih cepat."
Vivienne terkekeh. "Kalau begitu hari ini tidak boleh lembur."
Dominic ikut tertawa. "Baik, Nyonya."
"Bagus. Aku tunggu kepulangan kamu."
Setelah mengucapkan salam, panggilan pun berakhir. Vivienne memandangi layar ponselnya sambil tersenyum sendiri. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia bisa merasakan kebahagiaan sebesar ini.
Perlahan, jemari lentik wanita itu kembali mengusap perutnya. "Papa senang sekali mendengarnya. Dia pasti sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu."
Senyum Vivienne semakin lebar. Kemudian pikirannya melayang kepada keluarga Ashcroft. Selama ini mereka tidak pernah benar-benar menerimanya. Setiap kali ia mengalami keguguran, semua kesalahan selalu ditimpakan kepadanya, bahkan hingga sekarang.
Vivienne menarik napas panjang. Matanya perlahan kembali berbinar.
"Ah, sudahlah." Vivienne menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Aku tidak perlu memikirkan mereka. Yang penting aku, Dominic, dan bayi ini bahagia."
Tiba-tiba, suara notifikasi pesan memecah keheningan ruangan. Vivienne menoleh ke arah ponselnya. Ia mengerutkan kening ketika membaca nama pengirim yang muncul di layar. Killian Prescott.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Si bujangan lapuk itu kirim pesan apa?"
Nada suaranya berubah dingin. Nama itu sudah cukup untuk membangkitkan kekesalan di dalam hatinya. Sejak masih merangkak sampai sekarang, mereka tidak pernah akur. Entah berapa kali mereka bertengkar. Entah berapa kali mereka saling menjatuhkan.
Vivienne bahkan yakin, jika ada daftar orang yang paling membencinya di dunia, maka nama Killian pasti berada di urutan pertama.
"Apa lagi maunya sekarang?" gumamnya kesal.
Dengan enggan, Vivienne membuka pesan itu. Matanya bergerak membaca setiap kata. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Wajahnya memucat, napasnya tercekat, dan jantungnya berdetak semakin cepat.
[Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya.]
Vivienne menggeleng pelan. Tangannya mulai gemetar. Ponsel di genggamannya nyaris terlepas. Matanya membaca pesan itu sekali lagi. Semakin dibaca, semakin sulit ia memercayainya.
"Apa maksud Killian ini?"
Suara Vivienne bergetar. Darahnya mendidih. Air mata yang tadi mengalir karena bahagia kini kembali jatuh. Namun, kali ini karena kemarahan dan ketakutan yang tiba-tiba merenggut seluruh kebahagiaannya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Killian!" teriak Vivienne sambil mencengkeram ponsel erat-erat. Tatapannya dipenuhi amarah.
Namun, jauh di lubuk hatinya ada rasa takut yang perlahan mulai tumbuh. Takut, kalau pesan itu ternyata bukan sekadar kebohongan.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡