"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Diusir dari Rumah Mertua
Foto-foto itu jatuh ke meja kaca dengan suara tajam.
PRAK.
Arya Suryanegara tidak langsung menunduk untuk melihatnya. Ia masih berdiri di sisi ruang keluarga Rumah Besar Keluarga Permata, dengan kemeja putih yang sudah pudar di bagian kerah dan tas kain tua di dekat kakinya. Di hadapannya, lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya dingin ke lantai marmer. Semuanya bersih, mahal, dan asing, seolah rumah itu tidak pernah mengizinkannya menjadi bagian dari apa pun.
Maryam menunjuk wajahnya.
"Masih mau pura-pura tidak tahu?" suara perempuan itu melengking, memecah udara malam. "Lihat baik-baik, Arya. Lihat kelakuanmu sendiri!"
Baru setelah itu Arya menurunkan pandangan.
Foto pertama memperlihatkan dirinya keluar dari sebuah kamar hotel. Foto kedua memperlihatkan Wulan, sahabat Sinta, berdiri tidak jauh darinya dengan rambut berantakan dan bahu sengaja dibuka. Foto ketiga lebih kasar lagi: sudutnya dipotong, cahayanya dibuat remang, seolah mereka baru saja melakukan sesuatu yang memalukan.
Arya hampir tertawa.
Hotel itu adalah tempat ia mengantar dokumen proyek dua minggu lalu. Wulan saat itu muncul di lobi, sengaja menabraknya, lalu menjatuhkan tas kecil. Arya bahkan tidak menyentuh tangannya. Kamera di sudut lobi pasti merekam semuanya dengan jelas.
Tetapi tentu saja, yang ada di meja malam ini bukan rekaman asli.
Yang ada hanyalah foto-foto murah, dipotong untuk membunuh harga diri seorang laki-laki.
"Kenapa diam?" Maryam maju satu langkah. Gelang emas di pergelangan tangannya berdenting. "Laki-laki macam apa kamu? Sudah tiga tahun makan nasi dari rumah ini, masih berani main perempuan di luar?"
Di sofa panjang, Sinta Permata duduk dengan punggung tegak. Wajahnya cantik, dingin, dan lelah. Gaun krem yang ia kenakan tampak terlalu rapi untuk seseorang yang katanya baru saja dikhianati suaminya.
Arya menatapnya. "Kamu percaya foto itu?"
Bibir Sinta bergerak sedikit.
Untuk satu detik, Arya melihat sesuatu di matanya. Bukan keyakinan. Bukan marah. Melainkan ragu yang cepat-cepat ia kubur di balik wajah beku.
"Buktinya ada di depan mata," jawab Sinta.
Wulan yang duduk di sampingnya segera menunduk, memainkan ujung rambut. Suaranya dibuat gemetar, tetapi sudut bibirnya terlalu tenang.
"Aku juga tidak mau masalah ini jadi besar, Sin. Tapi waktu itu aku benar-benar takut. Mas Arya... dia memintaku jangan cerita ke siapa-siapa."
Seorang ART yang berdiri dekat pintu dapur menahan napas. Dua pelayan lain saling melirik, lalu cepat-cepat menunduk. Di rumah ini, bahkan orang yang biasa Arya bantu membawakan galon pun tahu kapan harus ikut membisu.
Arya mengangkat satu foto dari meja.
Kertasnya licin. Cetakannya baru. Ujungnya belum benar-benar kering.
"Wulan," katanya pelan, "berapa mereka membayarmu?"
Wulan tersentak. "Apa maksudmu?"
"Aku bertanya baik-baik."
"Kamu menuduhku?" Wulan langsung berdiri. Air matanya keluar terlalu cepat. "Sin, lihat! Sudah ketahuan masih berani memutar balikkan keadaan!"
Maryam menghantam meja dengan telapak tangan.
"Cukup!" teriaknya. "Dasar benalu! Dari awal aku sudah bilang, laki-laki seperti dia tidak pantas masuk keluarga kita. Tidak punya pekerjaan jelas, tidak punya mobil, tidak punya rumah, tidak punya malu. Tiap hari cuma menumpang nama Permata!"
Arya diam.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun ia mencuci piring setelah makan keluarga. Mengantar Maryam ke salon saat sopir mereka cuti. Menunggu Sinta pulang dari kantor sampai lewat tengah malam. Memperbaiki pipa bocor di gudang. Menelan tawa sepupu-sepupu Permata setiap kali mereka menyebutnya si miskin.
Tiga tahun ia bisa membalas.
Satu telepon saja cukup untuk membuat rekening Keluarga Permata membeku. Satu perintah saja cukup untuk memutus kontrak mereka dengan PT Takdir Nusantara Group. Satu tanda tangan saja cukup untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memberi makan rumah besar ini dari balik layar.
Tetapi ia tidak melakukannya.
Karena dulu, ia pernah berpikir Sinta berbeda.
Sekarang perempuan itu duduk di depannya, membiarkan ibunya melempar kotoran ke wajahnya, dan memilih percaya pada foto palsu yang bahkan tidak disusun dengan cerdas.
Ada sesuatu di dalam dada Arya yang akhirnya berhenti bergerak.
"Baik," katanya.
Ruang keluarga mendadak hening.
Maryam menyipitkan mata. "Apa?"
"Kalau kalian ingin aku pergi, aku pergi."
Sinta menoleh cepat. "Arya..."
Maryam tertawa sinis. "Dengar itu, Sinta? Akhirnya dia sadar diri."
Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan melemparkannya ke hadapan Arya. Isinya sudah disiapkan: surat pernyataan kesediaan bercerai, pernyataan pelepasan klaim atas harta gono-gini, dan beberapa lembar tambahan yang disusun oleh pengacara keluarga. Tanda tangan Sinta sudah ada di bagian bawah.
Arya membaca sekilas.
Tidak ada kejutan.
Rumah ini bahkan tidak ingin menunggu proses hukum berjalan. Mereka ingin gambar malam ini terlihat sempurna: suami miskin ketahuan selingkuh, menunduk, tanda tangan, lalu keluar tanpa membawa apa pun.
"Tanda tangan," kata Maryam. "Kamu pergi tanpa membawa apa-apa. Baju, uang, perhiasan, kendaraan, semua yang ada di rumah ini milik keluarga kami. Jangan harap bisa menuntut satu rupiah pun."
Arya memandang pena di atas map.
Sinta menggenggam ujung sofa. "Arya, ini bukan berarti aku ingin mempermalukanmu. Tapi setelah semua yang terjadi, kita memang tidak bisa lanjut."
"Setelah semua yang terjadi?" Arya mengulang.
Sinta menelan ludah.
Arya menatapnya beberapa detik lebih lama. "Kamu pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi?"
Sinta membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Maryam memotong dengan kasar, "Untuk apa bertanya? Foto sudah cukup. Jangan pakai drama orang miskin yang sok terluka. Kamu pikir air mata bisa membuat kami iba?"
Arya mengambil pena.
Ia menandatangani lembar pertama.
Lalu lembar kedua.
Lalu lembar ketiga.
Goresan penanya tenang. Tidak gemetar. Tidak ragu. Justru karena terlalu tenang, Wulan yang tadi pura-pura menangis mulai berhenti mengusap mata. Maryam juga menatapnya dengan sedikit bingung, seolah kemenangan yang terlalu mudah justru terasa tidak wajar.
Sinta menatap tanda tangan itu. Wajahnya memucat sedikit.
"Mulai malam ini," kata Arya sambil menutup map, "urusan kita selesai."
Maryam menyambar map itu, memeriksa tanda tangan seperti takut Arya menipu mereka. Setelah yakin semuanya lengkap, ia tersenyum puas.
"Bagus. Sekarang keluar."
Arya membungkuk mengambil tas kainnya.
Tas itu ringan. Di dalamnya hanya ada dua potong pakaian, charger ponsel lama, dan sebuah kotak kecil berisi foto usang ibunya. Selama tiga tahun tinggal di rumah besar ini, barang miliknya memang tidak pernah lebih banyak dari itu.
Ketika ia berjalan menuju pintu, seorang pelayan tua secara refleks ingin membantunya membawa tas. Maryam langsung membentak.
"Biarkan! Dia bukan tamu. Dia juga bukan keluarga."
Tangan pelayan itu berhenti di udara.
Arya menoleh sedikit pada pelayan itu. "Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih."
Kalimat sederhana itu membuat mata pelayan tua tersebut memerah. Selama tiga tahun, hanya Arya yang pernah memanggilnya Bu, bukan sekadar pembantu.
Maryam mendengus. "Masih sempat cari simpati."
Di ambang pintu, Sinta akhirnya berdiri.
"Arya."
Langkah Arya berhenti.
"Kalau nanti kamu kesulitan..." Suara Sinta mengecil. "Aku bisa minta orang kantor mencarikan pekerjaan untukmu. Setidaknya bagian administrasi atau keamanan."
Ruang itu kembali diam.
Wulan menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Maryam tertawa pendek. "Dia? Administrasi? Jangankan mengurus dokumen, mengurus hidup sendiri saja tidak bisa."
Arya tidak marah.
Anehnya, ia benar-benar tidak marah lagi.
Ia hanya menatap Sinta seperti menatap seseorang yang berdiri di sisi lain kaca. Dekat, tetapi tidak mungkin disentuh.
"Simpan tawaran itu," katanya. "Keluarga Permata akan lebih membutuhkannya daripada aku."
Alis Sinta berkerut. "Apa maksudmu?"
Arya tidak menjawab.
Maryam menunjuk pintu utama dengan dagu terangkat. "Pergi sana, pengemis! Jangan pernah kembali ke rumah ini. Kalau besok aku masih melihatmu di sekitar gerbang, aku lapor satpam komplek!"
Di luar, hujan mulai turun tipis. Air memukul halaman batu, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja dari taman depan. Arya melangkah melewati pintu besar yang dulu ia pel setiap pagi saat sopir keluarga belum bangun.
Tidak ada yang mengantar.
Tidak ada yang menahan.
Pintu di belakangnya ditutup keras oleh Maryam.
BRAK.
Suara itu seharusnya terasa seperti akhir.
Tetapi bagi Arya, suara itu justru seperti kunci yang akhirnya terbuka.
Ia berjalan menuruni tangga marmer, melewati air mancur kecil yang lampunya berkedip. Sandal lamanya menyentuh genangan. Kemejanya mulai basah oleh hujan, tetapi punggungnya tetap tegak.
Di dalam rumah, suara Maryam masih terdengar samar.
"Akhirnya rumah ini bersih dari pembawa sial."
Arya berhenti sejenak di depan gerbang besi.
Ia tidak menoleh.
Sudut bibirnya naik sangat tipis.
Tiga tahun.
Cukup.
Ponsel lamanya bergetar di saku.
Nomor yang muncul tidak memiliki nama, tetapi Arya mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. Ia mengangkat panggilan itu, menempelkan ponsel ke telinga, dan memandang jalanan Kota Awan yang basah oleh hujan.
"Pak Satria," katanya pelan, "aku sudah keluar."
Di seberang sana, napas seorang pria tua terdengar bergetar.
"Tuan Muda..." Suara Pak Satria serak, seolah menahan sesuatu selama bertahun-tahun. "Akhirnya."
Arya memejamkan mata sebentar. Semua hinaan di ruang keluarga tadi menguap bersama dingin hujan.
"Tiga tahun sudah cukup," katanya.
"Benar, Tuan Muda." Kali ini suara Pak Satria menjadi lebih mantap. "Semua sudah siap, Tuan Muda."