Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Semakin Memuncak Bahaya Semakin Dekat
Bab 14
Hari hari berlalu dengan cepat dan setiap hal yang tertulis di dalam rencana musuh terus terjadi satu per satu seolah olah ada waktu yang berjalan menuju ke arah hari yang sudah ditentukan sebelumnya. Kerugian yang diderita oleh Ayah semakin membesar hingga uang kas perusahaan hampir habis dan beberapa properti yang menjadi sumber penghasilan utama mulai terpaksa dijual dengan harga yang jauh di bawah harga yang sebenarnya. Setiap kali ada keputusan penting yang harus diambil Vanessa selalu ada di sisi Ayah memberikan nasihat yang terdengar seperti cara untuk menyelamatkan keadaan namun sebenarnya justru semakin memperburuk keadaan dan menjadikan Ayah semakin lemah dan semakin tidak berdaya di hadapan orang orang yang ingin merampas segala sesuatu yang dimilikinya.
Suatu hari Ayah pulang dengan wajah yang pucat dan tubuh yang terlihat gemetar seolah olah baru saja menerima pukulan yang sangat berat. Ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu dengan keras tanpa menyapa siapa pun. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan amarah dan kesedihan yang terdengar sampai ke bagian belakang rumah tempat tinggalku. Aku segera menyusuri lorong dinding sambil berjalan perlahan dan berhati hati mendekati ruang kerja Ayah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka aku melihat Ayah duduk di kursi kerjanya dengan kedua tangan mencengkeram rambutnya yang berantakan di atas meja yang penuh dengan kertas kertas yang berserakan dan robek berantakan. Ibu berdiri di hadapannya dengan wajah yang ketakutan dan bingung sementara Vanessa berdiri di sampingnya dengan wajah yang tampak sedih dan prihatin namun di balik tatapan matanya tersembunyi rasa puas yang sangat dalam yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dari pandangan yang waspada.
Ayah berkata dengan suara yang bergetar dan penuh keputusasaan mereka menarik semua dukungan keuangan kami hari ini. Semua rekan kerja yang dulu bekerja sama dengan kami selama bertahun tahun tiba tiba menarik diri dan menuntut pengembalian uang yang sudah kami pinjam secara mendadak. Jika dalam waktu satu minggu ini kami tidak bisa melunasi semua hutang yang ada maka seluruh aset perusahaan dan rumah ini akan disita dan dimiliki oleh orang lain. Kami akan kehilangan semuanya. Tidak ada yang tersisa bagi kami. Ibu yang mendengar hal itu langsung terjatuh ke kursi terdekat dan menangis tersedu sedu tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sementara Vanessa dengan cepat mendekat dan memeluk bahu Ayah sambil berkata dengan suara yang lembut dan menenangkan Jangan putus asa Ayah masih ada satu jalan yang bisa kita tempuh. Teman teman kenalan saya yang bekerja di bidang keuangan menawarkan solusi yang bisa membantu kita melewati masa sulit ini dengan aman. Mereka bersedia memberikan pinjaman yang cukup besar dengan syarat yang terlihat sangat ringan dan menguntungkan. Ayah yang sedang berada di titik terendah keputusasaannya tanpa berpikir panjang langsung menyetujui usul itu dengan mengangguk lemah dan berkata lakukanlah apa pun yang perlu dilakukan Vanessa. Selama kita tidak kehilangan rumah ini dan nama baik kita lakukanlah semuanya.
Jantungku berdegup sangat kencang mendengar percakapan itu. Aku tahu betul siapa orang orang yang dimaksud oleh Vanessa itu. Mereka adalah orang orang yang namanya tertulis di dalam daftar yang kutemukan di ruangan bawah tanah mereka adalah kelompok yang sama yang sudah lama merencanakan perampasan harta keluarga ini. Pinjaman yang ditawarkan itu hanyalah jebakan terakhir yang dirancang agar Ayah secara sukarela menyerahkan segala hak miliknya ke tangan musuh tanpa menyadari bahwa ia sedang menandatangani surat penyerahan segala sesuatu yang dimilikinya kepada orang orang yang sudah lama mengincarnya. Aku merasa sangat ingin berlari masuk ke ruangan itu dan berteriak memberitahu mereka semua namun aku tahu bahwa jika aku melakukannya sekarang mereka tidak akan mendengarkan aku seperti yang sudah berkali kali terjadi sebelumnya. Mereka hanya akan menuduhku berbohong lagi dan mungkin saja mempercepat pelaksanaan rencana jahat itu karena merasa terancam.
Aku segera kembali ke kamarku dan menuliskan semua yang baru saja aku dengar secara rinci di dalam buku catatanku. Aku mencatat waktu pembicaraan itu nama orang orang yang ditawarkan oleh Vanessa dan persetujuan yang diberikan oleh Ayah tanpa menanyakan pendapat siapa pun. Setelah selesai menulis aku segera mengirim pesan singkat kepada Alena melalui Bibi Rina yang selalu menjadi perantara komunikasi kami. Aku memintanya untuk segera mencari tahu nama lembaga keuangan yang ditawarkan oleh kenalan Vanessa dan melihat apakah ada hubungan antara lembaga itu dengan kelompok penjahat yang sudah kami ketahui sebelumnya. Alena datang ke rumah sore harinya dengan wajah yang serius dan membawa kabar yang sangat buruk. Ia menemukan bahwa lembaga keuangan yang dimaksud itu sepenuhnya dimiliki oleh kelompok yang sama yang mengirim Vanessa ke rumah kami. Syarat pinjaman yang terlihat ringan itu sebenarnya memiliki jaminan yang berupa seluruh aset milik Ayah sehingga jika ada sedikit pun keterlambatan pembayaran maka seluruh harta keluarga ini akan berpindah tangan secara sah menurut hukum ke tangan musuh tanpa bisa diperdebatkan lagi.
Mendengar hal itu aku merasa semakin yakin bahwa waktunya tinggal sedikit lagi. Dalam beberapa hari ke depan tanda tangan Ayah akan menutup segala jalan keluar dan rencana besar mereka akan selesai sepenuhnya. Aku harus bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Aku mengeluarkan salinan dokumen dokumen asli yang tersimpan di ruangan bawah tanah daftar nama mata mata rencana kerusakan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi serta bukti bukti pertemuan rahasia yang telah aku kumpulkan selama berbulan bulan. Aku menyusunnya secara rapi dan teratur sehingga siapa pun yang membacanya akan langsung mengerti seluruh gambaran kejahatan yang sedang terjadi di dalam rumah ini. Aku juga menuliskan laporan lengkap setiap peristiwa yang terjadi mulai dari hari pertama Vanessa datang ke rumah ini hingga hari di mana Ayah bersedia menandatangani perjanjian yang akan menghancurkan masa depan seluruh keluarganya.
Sementara itu di dalam rumah suasana semakin tegang dan penuh ketegangan. Ketiga kakakku mulai saling menyalahkan satu sama lain atas kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan mereka. Vanessa dengan cerdiknya menanamkan kecurigaan di antara mereka sehingga mereka tidak lagi bersatu dan tidak lagi saling mendukung persis seperti yang direncanakan sejak awal. Kakak Dika menuduh Kakak Rizky yang mengelola sebagian urusan keuangan sebagai penyebab kerugian yang besar. Kakak Rizky menuduh Kakak Arka yang bertanggung jawab atas hubungan dengan rekan rekan kerja sebagai penyebab rekan rekan kerja menarik diri. Dan Kakak Arka merasa dikhianati oleh kedua kakaknya yang tidak mau mendengarkan penjelasannya. Mereka bertiga bertengkar hebat di ruang tengah di hadapan Ayah dan Ibu yang hanya bisa duduk diam dan membiarkan kejatuhan keluarga ini terjadi di depan mata mereka sendiri tanpa ada yang berusaha menghentikannya. Vanessa berdiri di sudut ruangan menonton pertunjukan yang ia susun sendiri dengan senyum yang tersembunyi di balik wajah yang tampak sedih dan prihatin.
Malam itu aku duduk di dekat jendela kamarku yang kecil di bagian belakang rumah menatap ke arah cahaya lampu yang menyala di ruang utama rumah yang besar dan megah itu. Di bawah cahaya lampu yang terang benderang itu orang orang yang paling aku cintai sedang menghancurkan diri mereka sendiri dan tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukannya. Waktu yang tersisa tinggal menghitung hari. Tidak ada lagi kata kata yang bisa menyelamatkan mereka hanya ada bukti nyata yang bisa menghentikan segala sesuatu sebelum tanda tangan itu menutup pintu harapan kita selamanya. Aku berjanji di dalam hatiku bahwa aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi tidak peduli seberapa keras aku harus berjuang sendirian. Aku akan menyelamatkan mereka bahkan jika mereka tidak mau diselamatkan olehku.
Bersambung...