NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Janji Seorang Suami

"Baik, Pak Hendry."

Suara Adrian Chandra di telepon masih tertinggal ketika Hendry menutup panggilan.

Di luar jendela PT Daun Kreasi, Kota Biru sudah masuk dini hari. Lampu-lampu ruko tinggal separuh menyala. Di ruang produksi, mesin proofing akhirnya berhenti setelah bekerja tanpa ampun sejak tengah malam. Sampel untuk PT Surya Abadi sudah tersusun rapi dalam map presentasi, siap dikirim pagi nanti.

Tina Larasati tertidur sebentar di kursinya, kepalanya hampir jatuh ke keyboard. Gilang Nugraha duduk di lantai dekat mesin, memegang kompres dingin di pipinya yang lebam, tetapi matanya lega. Beberapa staf lain membersihkan meja dengan gerakan pelan, seperti baru keluar dari badai.

Hendry memandang mereka sebentar.

Inilah yang hampir dihancurkan oleh keserakahan orang lain.

Yang dipertaruhkan melampaui nama perusahaan Jessica: gaji puluhan orang, biaya sekolah anak pegawai, biaya obat ibu Golianto, dan harga diri yang selama ini ia pertahankan sendirian.

"Pak Hendry," Bagus mendekat. "Kita ke rumah sakit?"

Hendry mengangguk. "Kamu makan dulu."

Mata Bagus langsung hidup kembali. "Saya bisa makan di jalan."

"Jangan makan di mobil."

"Kalau begitu saya makan cepat."

Hendry hampir tersenyum. Setelah semua darah panas malam ini, kelaparan Bagus terasa seperti hal paling normal di dunia.

Mereka kembali ke RS Sejahtera saat langit mulai memucat. Di koridor VIP, suasana jauh lebih tenang daripada malam sebelumnya. Perawat jaga mengenali Hendry dan langsung menunduk sopan.

"Bu Jessica sudah bangun sebentar tadi, Pak. Beliau mencari Anda."

Hendry memperlambat langkah.

Di dalam kamar, Jessica bersandar pada bantal. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya sudah lebih jernih. Infus masih menetes di sisi ranjang. Di pangkuannya ada ponsel, layar terbuka pada pesan dari staf PT Daun Kreasi.

Ia mengangkat mata ketika Hendry masuk.

"Kamu benar-benar pergi ke kantor."

"Kamu yang menyuruhku menyelamatkan perusahaan."

"Aku tidak menyuruhmu." Jessica menggenggam ponsel. "Aku bahkan tidak percaya kamu bisa."

Hendry menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Sekarang?"

Jessica tidak langsung menjawab. Ia membuka beberapa foto di ponselnya. Sampel kemasan. Mesin proofing yang menyala. Tina yang mengacungkan jempol dengan wajah lelah. Golianto yang tersenyum kaku meski pipinya lebam.

"Tina bilang penalti kontraknya sudah selesai. Golianto bilang kamu menjemputnya dari tempat rentenir." Suara Jessica bergetar pelan. "Mereka semua bilang, kamu yang menyelamatkan order PT Surya Abadi."

"Order itu belum selesai. Pagi ini sampelnya dikirim."

"Hendry."

Kali ini, namanya terdengar berbeda. Bukan panggilan dingin seorang istri yang lelah. Bukan teguran. Ada sesuatu yang lunak di sana, sesuatu yang sudah lama tertutup oleh kecewa.

"Dari mana uangnya?"

Hendry menatap mata Jessica. Pertanyaan itu sudah ia duga.

"Dari pekerjaan baruku."

"Sebagai sopir Pak Budiman?"

"Ya."

Jessica menatapnya lama. Ia jelas tidak sepenuhnya percaya. Tetapi ia juga terlalu lelah untuk membongkar semua malam ini.

"Sopir biasa tidak bisa membuat Direktur RS Sejahtera membungkuk," katanya.

"Sopir biasa juga tidak selalu punya majikan seperti Budiman Suryadi."

Jessica menunduk. Jari-jarinya menyentuh tepi selimut, meremasnya perlahan.

"Selama tiga tahun, aku pikir kamu tidak pernah peduli pada apa yang kutanggung. Aku pulang malam, kamu hanya tanya sudah makan atau belum. Aku bicara soal klien, kamu diam. Aku marah, kamu juga diam."

Hendry menerima kata-kata itu tanpa menyela.

"Aku pikir diam berarti kamu tidak mampu. Atau tidak mau." Jessica menarik napas, matanya mulai basah. "Ternyata ketika aku benar-benar jatuh, kamu bergerak lebih cepat daripada siapa pun."

Hendry mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. Ia tidak ingin memaksa.

Jessica melihat gerakan itu. Setelah beberapa detik, ia sendiri yang meletakkan tangannya di atas tangan Hendry.

Sentuhan itu ringan.

Tetapi bagi Hendry, lebih berat daripada semua kartu akses, nama besar, dan aset yang baru ia dengar kemarin.

"Terima kasih," bisik Jessica.

Hendry menatap tangan mereka.

"Aku belum pantas menerima itu."

"Kenapa?"

"Karena seharusnya aku melakukannya lebih awal."

Jessica memalingkan wajah, air mata akhirnya jatuh. Ia cepat menghapusnya, seolah malu menunjukkan kelemahan.

"Aku tidak tahu harus percaya sejauh apa," katanya jujur. "Semua terjadi terlalu cepat. Rumah sakit, Tina, Golianto... kamu seperti orang lain."

"Aku tetap Hendry."

"Hendry yang mana?"

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada yang Jessica sadari.

Hendry terdiam beberapa saat. Di balik nama itu ada masa lalu yang belum bisa ia buka. Ada Hartanto Pratama. Ada Wulan Pratiwi. Ada keluarga Pratama, aset triliunan, dan musuh yang mungkin belum terlihat.

Jika ia membuka semuanya sekarang, Jessica akan terseret terlalu cepat ke dunia yang bahkan Hendry sendiri belum siap masuki kembali.

"Hendry yang ingin kamu dan Daun aman," katanya akhirnya. "Hendry yang tidak akan membiarkan perusahaanmu dihancurkan orang lain. Hendry yang akan membayar semua diamnya selama tiga tahun."

Jessica menatapnya. "Kamu bicara seperti sedang berjanji."

"Memang."

"Janji apa?"

Hendry menggenggam tangannya lebih mantap.

"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dengan sukarela."

Wajah Jessica langsung memerah.

"Kamu..." Ia menoleh ke arah jendela, pura-pura melihat lampu kota yang mulai padam di bawah cahaya pagi. "Kamu baru menyelamatkan perusahaan sedikit, sudah mulai sombong."

"Belum. Kalau sombong, aku akan bilang waktunya tidak lama."

"Hendry."

Nada teguran itu kembali, tetapi kali ini tidak dingin. Ada rasa malu di baliknya.

Untuk pertama kalinya setelah sangat lama, udara di antara mereka tidak terasa seperti dinding. Masih ada jarak, masih ada rahasia, tetapi di dinding itu sudah muncul retakan kecil. Cahaya masuk dari sana.

Pintu diketuk pelan.

Bagus menjulurkan kepala. Di tangannya ada kantong makanan.

"Maaf, Pak Hendry. Perawat bilang Bu Jessica boleh makan bubur. Saya belikan. Saya juga beli untuk saya."

Jessica berkedip. "Untuk kamu juga?"

Bagus mengangkat kantong lain yang ukurannya tiga kali lebih besar. "Yang ini punya saya, Bu."

Jessica tidak bisa menahan tawa kecil. Begitu tertawa, perutnya terasa sakit, dan ia langsung meringis.

Hendry menatap Bagus. "Lihat? Kau membuat pasien sakit."

Bagus panik. "Maaf, Bu. Saya makan di luar saja."

Setelah Bagus keluar dengan wajah bersalah, Jessica masih tersenyum samar.

"Dia lucu."

"Dia juga bisa membuat empat preman menyesal lahir."

Senyum Jessica memudar. "Kamu benar-benar pergi ke tempat berbahaya."

"Aku tidak sendiri."

"Tetap saja." Jessica menatapnya serius. "Jangan mempertaruhkan nyawamu hanya demi perusahaan."

"Bukan demi perusahaan."

"Lalu?"

"Demi kamu."

Jessica kembali memalingkan wajah. Kali ini telinganya ikut merah.

Ponsel Hendry bergetar.

Nama Budiman Suryadi muncul di layar.

Hendry berdiri. "Aku angkat sebentar."

Jessica mengangguk, tetapi matanya mengikuti sampai Hendry keluar ke balkon kecil di samping kamar VIP.

Udara pagi menyentuh wajah Hendry. Ia mengangkat telepon.

"Ada kabar?"

Suara Budiman terdengar lebih berat dari biasanya. "Pak Hendry, saya sudah meminta orang memeriksa masalah PT Daun Kreasi. Keterlambatan vendor, hilangnya file desain, tekanan pada Tina Larasati, dan utang Gilang Nugraha... semuanya tidak berdiri sendiri."

Mata Hendry menyipit.

"Siapa?"

"Jejaknya mengarah ke dua orang. Yudi Mulyadi dan Yanto Mulyadi."

Nama Yanto membuat wajah Hendry langsung dingin.

Budiman melanjutkan, "Yanto bermain di depan, pura-pura membantu keluarga Mahendra. Yudi bergerak di belakang, menekan vendor dan memberi jalan pada rentenir gelap. Tujuannya sederhana: membuat PT Daun Kreasi jatuh, lalu memaksa Bu Jessica menerima bantuan Mulyadi."

Jari Hendry mengeras di pagar balkon.

Di dalam kamar, Jessica masih belum tahu bahwa orang yang tersenyum membawa bunga di rumah sakit adalah salah satu orang yang hampir menghancurkan perusahaannya.

"Kumpulkan bukti," kata Hendry.

"Sedang dilakukan."

"Jangan sentuh mereka dulu."

Budiman diam sejenak. "Anda ingin melakukannya sendiri?"

Hendry menatap langit Kota Biru yang mulai terang.

"Mereka membuat istriku menangis," katanya pelan. "Jadi mereka harus tahu siapa yang mereka bangunkan."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!