NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Adik Tiri Tahu

Pertanyaan itu tidak menemukan jawaban sampai pagi.

Arkan hanya menemukan satu keputusan kecil yang terasa masuk akal: ia menukar satu penerbangan pergi-pulang dengan Dio agar waktu istirahatnya keesokan malam tidak terlalu sempit. Pertukaran itu masih sesuai batas waktu tugas dan disetujui petugas penjadwalan. Tidak ada prosedur yang dilanggar.

Ia hanya tidak menjelaskan bahwa jadwal baru membuatnya bisa menjemput Laras setelah sif sore.

"Kamu menukar penerbangan?" tanya Laras saat melihat pembaruan kalender bersama mereka.

Mereka sedang sarapan di meja makan. Laras baru selesai menyematkan rambut, sementara Arkan berdiri di depan mesin kopi.

"Rutenya lebih pendek."

"Bukannya kemarin kamu bilang suka sektor yang lama?"

"Perlu ganti suasana."

Laras menatap punggungnya. "Oh."

Arkan meletakkan secangkir kopi di depan Laras. Tidak ada gula, hanya sedikit susu. Takaran yang sama seperti dua pagi terakhir.

"Sif kamu selesai jam sebelas," katanya.

"Iya."

"Kirim pesan kalau sudah relief."

"Supaya?"

"Aku jemput."

Laras menurunkan pandangan ke kopinya agar Arkan tidak melihat senyum yang muncul terlalu cepat. "Kalau nggak capek."

"Aku yang tahu capek atau nggak."

Nada itu datar, seolah ia hanya sedang memastikan rute tercepat dari bandara ke rumah. Namun, jantung Laras tetap berdetak lebih hangat.

Ia kembali ke kamar untuk mengambil pelembap bibir. Arkan mengikutinya beberapa langkah karena hendak mengambil jam tangan di atas nakas kiri. Saat Laras membuka laci nakas di sisi kanan, sepotong sampul biru tua terlihat di bawah lipatan syal dan kotak obat.

Arkan hanya sempat melihat sudut buku yang sudah kusam.

Laras segera mengambil pelembap bibir dan menutup laci.

"Buku lama?" tanyanya.

Gerakan Laras terhenti sesaat. "Punya sejak sekolah."

"Masih dibaca?"

"Kadang-kadang."

Jawabannya terlalu singkat. Arkan menangkap cara jemarinya tetap berada di gagang laci, seolah memastikan benda di dalamnya aman.

Ia tidak bertanya lagi.

"Aku berangkat dulu," kata Laras, meraih tas.

Arkan mengangguk. Buku lama itu bukan urusannya. Seperti makan siang Laras dengan Bagas bukan urusannya. Seperti senyum Laras ketika menerima pesan bukan sesuatu yang seharusnya ia perhatikan.

Sayangnya, sejak menikah, semakin banyak hal yang bukan urusannya justru menetap di kepalanya.

Pada siang yang sama, Tiara Prawira berjalan memasuki ruang kru Angkasa Nusantara dengan koper kabin berwarna krem dan senyum yang sudah terlatih. Ia baru selesai penerbangan dari Denpasar. Riasannya masih rapi, rambutnya tersanggul sempurna, dan langkahnya melambat ketika mendengar nama yang sangat ia kenal disebut di dekat mesin minuman.

"Kapten Arkan sekarang pakai cincin," kata seorang pramugari junior.

"Baru sadar?" sahut rekannya. "Katanya akad diam-diam."

Tiara berhenti menuang air.

"Siapa yang menikah?" tanyanya sambil tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanya bagian dari obrolan.

Kedua pramugari itu menoleh. Salah satu dari mereka menurunkan suara.

"Kapten Arkan. Kemarin Kopilot Dio hampir keceplosan di grup."

"Hampir?"

"Ada yang tanya cincinnya. Dio cuma balas, 'Jangan ganggu pengantin baru.' Habis itu pesannya dihapus. Tapi sudah ada yang baca."

Tiara mempertahankan senyum. "Mungkin cuma bercanda."

"Cincinnya benar ada. Aku lihat waktu briefing."

Gelas kertas di tangan Tiara berkerut.

Selama dua tahun terakhir, ia beberapa kali sengaja mengajukan pertukaran jadwal ketika nama Arkan muncul dalam daftar kru. Tidak semua permintaan berhasil. Kalau berhasil pun, Arkan memperlakukannya sama seperti anggota kabin lain: salam singkat, briefing jelas, lalu jarak yang tidak bisa ditembus.

Itu justru membuat Tiara semakin tertarik.

Arkan bukan kapten yang mudah terpesona senyum pramugari. Namanya dihormati, keluarganya terpandang, kariernya melesat, dan wajahnya cukup untuk membuat foto candid dari lorong pesawat ramai dibicarakan. Tiara yakin laki-laki seperti itu hanya perlu waktu untuk melihat perempuan yang sepadan dengannya.

Ia tidak pernah membayangkan waktu itu digunakan Arkan untuk menikahi orang lain.

"Ada yang tahu istrinya siapa?" tanyanya.

"Nggak ada. Katanya bukan orang kabin."

"Mungkin anak pemilik maskapai," celetuk yang lain. "Atau pilot juga."

Tiara mengangkat bahu. "Kalau benar menikah, pasti sebentar lagi diumumkan."

Ia membuang gelas yang belum sempat diminum, lalu masuk ke ruang rias. Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya lenyap.

Tiara membuka grup kru. Pesan Dio sudah tidak ada, tetapi beberapa balasan berupa emoji cincin masih tertinggal. Ia mengetik nama Arkan di kolom pencarian, memeriksa foto-foto lama, lalu memperbesar setiap gambar yang diambil dalam tiga hari terakhir.

Pada satu foto briefing, cincin perak melingkari jari manis Arkan.

Sederhana. Tegas. Mustahil salah dikenali.

Ponselnya bergetar sebelum ia sempat menutup gambar. Sebuah pesan masuk dari Sherly, teman lama yang sejak reuni jarang menghubunginya.

Sherly:

Ti, lo udah tahu ini belum?

Sebuah tangkapan layar menyusul. Gambar itu berasal dari WA Status Wulan yang diteruskan oleh salah satu ibu alumni sekolah. Hanya tampak dua tangan bercincin di atas buku nikah, disertai ucapan syukur dan nama kedua mempelai.

Laras Anjani dan Arkananta Wibisana.

Tiara membaca nama itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Udara di ruang rias mendadak terasa pengap. Ia memperbesar foto sampai tulisan di buku nikah pecah menjadi kotak-kotak buram, tetapi nama itu tidak berubah.

Laras.

Perempuan yang dulu berdiri diam saat teman-teman sekelas menjauhinya. Perempuan yang gaunnya mereka rusak. Perempuan yang di reuni kemarin berani mengatakan ibunya adalah istri sah, seolah satu kalimat cukup untuk menghapus cerita yang sudah dipercaya orang bertahun-tahun.

Tiara masih ingat Arkan berdiri di depan Laras malam itu.

Jangan sentuh dia.

Ternyata bukan sekadar membela teman lama.

Laras telah menjadi istrinya.

Sherly:

Gila sih. Pantes dia pede banget waktu reuni.

Sherly:

Jadi dia nikah sama kapten yang kemarin itu?

Tiara tidak menjawab. Kuku jarinya menekan telapak tangan, meninggalkan empat bekas bulan sabit. Di cermin, wajahnya masih cantik dan rapi. Hanya matanya yang berubah.

Selama ini, Tiara selalu percaya Laras akan berhenti di tempat yang sudah mereka tentukan untuknya. Boleh punya pekerjaan bagus, boleh dipuji karena suaranya, tetapi tetap menjadi perempuan dengan cerita keluarga yang setiap saat bisa dilemparkan ke wajahnya. Tiara bahkan mengira keberanian Laras di reuni hanyalah pertunjukan sesaat sebelum ia kembali sendirian.

Sekarang Laras bukan hanya berdiri tegak. Ia masuk ke keluarga yang bahkan Vania sebut dengan nada hati-hati.

Keluarga Wibisana punya nama, kekuasaan, dan kehormatan yang tidak bisa dibeli sekadar dengan tas mahal atau foto dari kabin kelas bisnis. Sementara Arkan adalah laki-laki yang tak pernah Tiara lihat menundukkan standar untuk siapa pun. Kalau laki-laki itu memilih Laras, orang-orang akan mulai bertanya apakah semua ejekan tentang Laras selama ini memang bohong.

Tiara tidak sanggup membiarkan kemungkinan itu tumbuh.

Ia juga tidak mau mengakui bagian yang lebih buruk: bukan cuma nama Laras yang naik, melainkan Laras mendapatkan satu-satunya laki-laki yang selama ini ingin ia taklukkan.

Ia keluar dari grup kru, membuka kontak bernama Mama, lalu menekan tombol panggil.

Vania menjawab pada dering ketiga.

"Tiara? Kamu sudah mendarat?"

"Mama tahu Laras menikah?"

Di ujung sana, suara Vania berhenti. "Dari mana kamu dengar?"

"Jadi Mama tahu."

"Papa melihat status Wulan. Mama pikir itu cuma acara kecil."

"Suaminya Arkananta Wibisana."

Kali ini keheningan berlangsung lebih lama.

"Kapten Arkan?" Nada Vania berubah tajam. "Anaknya Bu Ratna?"

"Iya."

"Nggak mungkin."

"Ada buku nikahnya. Ada cincin di tangan Arkan."

Tiara berjalan ke sudut ruang rias yang sepi. Suaranya rendah, tetapi setiap kata keluar seperti ujung pisau.

"Anak pelakor itu sekarang jadi istri Kapten Arkan, Ma. Dia masuk ke keluarga Wibisana sementara semua orang masih mengira dia korban."

"Dia memang pandai memainkan wajah polos seperti ibunya."

Tiara menatap pantulan dirinya. "Di reuni, Arkan melindungi dia di depan semua orang."

"Pernikahan cepat seperti itu biasanya punya celah," kata Vania. "Kamu jangan gegabah. Cari tahu dulu apa yang mereka sembunyikan."

"Aku bisa dekat dengan Arkan lewat jadwal penerbangan."

"Jangan terlalu jelas mengejar laki-laki yang sudah menikah. Orang akan menyalahkanmu."

Nasihat itu hampir membuat Tiara tertawa. Bukan karena ia setuju, melainkan karena Vania selalu tahu cara membungkus keinginan buruk dengan alasan menjaga nama baik.

"Aku nggak perlu mengejar," kata Tiara. "Aku cuma perlu membuat Arkan sadar dia menikahi perempuan yang salah."

"Dan pekerjaan Laras?"

"AirNav kelihatan bersih dari luar. Semua orang punya kesalahan. Tinggal cari satu yang bisa dibesarkan."

Vania mengingatkannya untuk tidak meninggalkan jejak. Tiara mengakhiri panggilan, lalu kembali membuka grup kru. Kali ini ia tidak menulis di sana. Terlalu banyak mata.

Ia memilih satu kontak yang sering menukar informasi jadwal dan kabar kru dengannya. Jempolnya melayang di atas layar.

Di rumah Alam Sutera, pada waktu yang hampir bersamaan, Laras sudah kembali setelah sif. Sesuai janji, Arkan menjemputnya. Di perjalanan, Laras tertidur dengan kepala bersandar pada bahunya saat mobil berhenti lama di lampu merah.

Arkan tidak membangunkannya. Ia hanya memiringkan tubuh agar leher Laras tidak tertekuk, lalu membiarkan bahunya menjadi sandaran sepanjang jalan.

Malam itu, Laras kembali tidur di sisi kanan ranjang. Di dalam nakasnya, buku harian lama terbaring di bawah syal, penuh dengan nama laki-laki yang kini tidur hanya sejauh dua bantal darinya.

Tak seorang pun di rumah itu tahu sebuah rencana baru saja dimulai.

Di ruang kru, cahaya ponsel memantulkan senyum tipis Tiara saat ia mengetik pesan pertama kepada orang dalamnya.

Tiara:

Tolong cari jadwal Kapten Arkan dan semua yang kamu tahu tentang Laras di AirNav. Pernikahan ini baru mulai. Aku punya banyak cara untuk membuatnya berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!