Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Hampir Mati Kelaparan
Sebulan kemudian, Rian Prasetyo membuka kulkas kosnya dan menatap ruang kosong di dalamnya.
Ada satu botol air putih.
Ada setengah bungkus sambal sachet.
Ada harapan yang sudah kedaluwarsa.
Rian menutup kulkas pelan-pelan.
Di meja kecil, dompetnya terbuka. Ia menghitung ulang uang tunai yang sama untuk ketiga kalinya, seolah angka bisa berubah kalau dipandang dengan cukup sedih.
Seratus dua puluh delapan ribu Rupiah.
Di rekening pribadi, sedikit lebih buruk: hampir tidak ada.
Sementara di rekening bisnis Sistem Rugi, masih ada puluhan miliar yang tidak boleh ia pakai untuk membeli sarapan.
Rian duduk di lantai.
"Gue ini orang miskin paling kaya se-Indonesia."
Panel biru muncul, dingin dan tidak berperasaan.
[Dana Sistem tidak dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi host.]
"Iya, iya. Gue sudah hafal."
Perutnya berbunyi.
Pagi itu, sarapan Rian adalah air putih dan tekad untuk tidak mati sebelum toko rugi.
Ia keluar kos menjelang siang. Panas Kota Tanjung Emas menempel di kulit seperti kain basah. Di pinggir jalan, aroma bakso, nasi goreng, dan ayam geprek bergantian menyerang hidungnya.
Satu mangkuk bakso: 15.000 Rupiah.
Masih sanggup.
Tapi kalau ia makan bakso sekarang, malam nanti bagaimana?
Rian berdiri di depan gerobak bakso terlalu lama sampai penjualnya bertanya, "Mau, Mas?"
"Nanti, Pak. Saya lihat-lihat dulu."
Melihat bakso saja sekarang sudah jadi kegiatan ekonomi.
Ponselnya bergetar.
Ibu.
Rian menelan ludah, merapikan suara, lalu mengangkat telepon.
"Halo, Bu."
"Rian, kamu sudah makan?"
Pertanyaan pertama ibunya selalu itu. Bukan "sudah sukses?", bukan "sudah kaya?", bukan "kapan kerja?". Hanya makan.
Dan justru itu yang membuat Rian merasa tertusuk.
"Sudah, Bu. Tadi makan banyak."
Kebohongan itu berdiri di atas perut kosong.
Bu Sri Rahayu diam sebentar. "Suaramu lemas."
"Cuaca panas."
"Kerjamu bagaimana? Kemarin kamu bilang sibuk sekali. Tapi Ibu tidak pernah dengar nama kantormu."
Rian melihat pantulan dirinya di kaca toko kosong. Rambut berantakan, mata cekung, kemeja kusut.
"Masih urus proyek kecil, Bu."
"Rian." Suara Bu Sri turun satu nada. "Kamu jangan ikut bisnis aneh-aneh, ya. Sekarang banyak anak muda diajak investasi bodong, MLM, kerja tidak jelas."
Rian hampir tersedak.
Ibunya tidak tahu bahwa anaknya memang sedang terlibat sistem paling aneh di dunia. Bedanya, bukan MLM. Lebih parah: ia harus rugi agar bisa hidup.
"Tenang, Bu. Tidak begitu."
"Kalau butuh uang, bilang. Jangan malu sama Ibu dan Bapak."
Kalimat itu membuat dada Rian menghangat sekaligus sakit.
Ia punya 50 miliar, tapi tidak bisa meminta ibunya berhenti khawatir.
"Aku baik-baik saja, Bu. Nanti aku kabari."
Setelah telepon ditutup, Rian berdiri beberapa detik tanpa bergerak.
Lalu ia memutuskan pergi ke Garuda Mart.
Bukan karena rindu.
Ia hanya ingin melihat kehancuran yang indah.
Sebelum ia sempat memesan ojek, Darmawan menelepon.
"Pak Bos, maaf mengganggu. Saya hanya mau lapor, stok beras dan minyak harus ditambah hari ini."
Rian langsung berdiri lebih tegak.
"Stok habis?"
"Hampir, Pak Bos."
Hampir habis.
Akhirnya.
Mungkin pelanggan tidak cocok. Mungkin barang rusak. Mungkin gudang kacau. Rian menahan senyum.
"Baik. Saya akan cek sendiri nanti."
"Siap, Pak Bos. Tim sudah siap bantu bongkar begitu barang datang."
Rian menutup telepon dengan hati sedikit lebih ringan.
Ia belum tahu bahwa "stok hampir habis" bukan tanda kekacauan.
Itu tanda barang terlalu cepat terjual.
Sebulan sudah berlalu sejak Darmawan mulai menjalankan rencana gila itu. Dengan 400 karyawan, gaji tinggi, jam kerja pendek, harga super tipis, dan biaya pembukaan yang mengalir seperti pipa bocor, seharusnya toko itu sudah sekarat.
Rian membayangkan lorong kosong, kasir menguap, stok menumpuk, Darmawan menelepon dengan suara panik.
Bayangan itu membuat langkahnya lebih ringan.
Ketika ia mendekati jalan utama tempat Garuda Mart berdiri, suara ramai mulai terdengar.
Rian berhenti.
Di depan toko, ada antrean.
Bukan dua atau tiga orang.
Puluhan.
Sebagian besar ibu-ibu membawa daftar belanja. Ada yang menggandeng anak, ada yang mendorong troli penuh minyak goreng, beras, popok, gula, dan sabun cuci. Di area parkir, beberapa karyawan berseragam Garuda Mart membantu mengangkat barang ke motor dan mobil pelanggan.
Senyum mereka cerah.
Terlalu cerah.
Rian merasa lututnya melemah.
Ini bukan antrean orang minta refund.
Ini antrean orang belanja.
Ia berjalan mendekat dengan topi diturunkan rendah. Di pintu masuk, seorang karyawan menyambut pelanggan.
"Selamat siang, Bu. Beras promo ada di lorong tiga. Minyak goreng yang lebih hemat ada paket keluarga di sebelah kanan."
Seorang ibu tertawa senang. "Mas, minggu lalu saya beli deterjen yang biru. Yang mana, ya?"
Karyawan itu langsung menjawab, "Ibu yang biasa belanja hari Jumat, kan? Yang Ibu ambil waktu itu merek Sinar. Stoknya baru datang pagi ini."
Rian membeku.
Mereka bahkan mengingat pelanggan?
Di lorong lain, karyawan membantu seorang nenek memilih gula rendah kalori. Di kasir, antrean panjang bergerak cepat karena jumlah kasir terlalu banyak. Di dekat gudang, dua orang pramuniaga mengemas belanjaan dalam kardus agar mudah dibawa.
Empat ratus karyawan yang menurut Rian seharusnya menjadi lubang biaya ternyata berubah menjadi pasukan pelayanan.
Rian mendekati seorang ibu yang baru keluar membawa dua kantong besar.
"Bu, maaf. Toko ini ramai sekali, ya?"
Ibu itu menoleh. "Ramai terus, Mas. Harga di sini paling rendah. Karyawannya juga baik. Saya beli banyak, mereka bantu angkat sampai motor."
"Tidak keberatan antre?"
"Kalau hematnya terasa, antre sedikit tidak apa-apa. Daripada ke Makmur Mart, mahal, pegawainya jutek. Di sini saya malah dikasih tahu paket mana yang lebih murah."
Makmur Mart.
Nama pesaing itu masuk ke telinga Rian seperti bunyi alarm.
"Ibu sering ke sini?"
"Setiap minggu. Sekarang ibu-ibu komplek saya juga ikut. Kami patungan beli barang grosir di sini."
Patungan.
Grosir.
Rian nyaris mencengkeram dadanya.
Ia membuat harga tipis agar laba kecil.
Para ibu-ibu justru mengubahnya menjadi pusat belanja stok rumah tangga.
Ia membuat karyawan terlalu banyak agar biaya membengkak.
Karyawan itu justru menciptakan pelayanan yang membuat pelanggan balik lagi.
Ini bukan rugi.
Ini pengkhianatan oleh logika bisnis.
Rian mundur pelan, menyeberang ke warung kecil di seberang Garuda Mart. Ia akhirnya membeli Indomie rebus seharga 8.000 Rupiah. Pilihan termurah yang masih terasa seperti makanan.
Sambil menunggu mie matang, ia membuka panel sistem.
[Siklus Pertama: hari ke-30.]
[Data operasional real-time tersedia.]
"Tampilkan tren."
Panel berubah menjadi grafik.
Garis biru naik.
Naik lagi.
Lalu naik lebih curam, seperti roket yang lupa bahwa tugasnya adalah jatuh.
Rian menatap grafik itu tanpa berkedip.
"Jangan bilang..."
[Detail penyelesaian akan diumumkan pada akhir Siklus.]
Sistem menutup angka rinci tepat ketika Rian paling membutuhkannya.
Di depannya, mangkuk Indomie diletakkan di meja.
Di seberang jalan, antrean Garuda Mart makin panjang.
Rian mengambil sumpit, menatap toko miliknya sendiri, lalu tertawa pelan seperti orang yang hampir menangis.
"Gue cuma mau rugi," gumamnya. "Kenapa susah banget?"