NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Pekerja yang Tahu Terlalu Banyak

Blacky menggeram sebelum kamera melihat apa pun.

Malam kedua hujan.

Air sudah turun tanpa jeda sejak langit retak. Di layar ruang kontrol, halaman bunker tampak seperti kolam dangkal yang terus dipukul jarum putih. Kamera depan masih jelas, kamera samping berkabut, dan kamera belakang sesekali berubah menjadi layar kelabu karena air menempel di lensa.

Hendra sedang memeriksa tekanan pompa drainase ketika suara kecil itu muncul dari bawah meja.

"Grr..."

Blacky berdiri dengan kaki pendek yang masih sedikit gemetar. Tubuhnya sudah kering, bulu tiga warnanya mengembang setelah dihangatkan, tetapi matanya tidak terlihat seperti anak anjing lapar.

Matanya mengarah ke dinding belakang bunker.

Ke arah lereng.

Ke arah pintu servis lama.

Hendra berhenti mengetik.

Di luar, hujan terlalu keras. Mikrofon perimeter hanya menangkap derau air. Sensor gerak belakang tidak memberi alarm karena ranting dan air sudah membuat sistem sibuk sejak sore.

Namun Blacky terus menatap satu titik.

Geramannya makin rendah.

Hendra menatap layar kamera belakang. Tidak ada bayangan manusia. Hanya tirai air, pagar, semak, dan jalur servis yang gelap.

"Kau mendengar sesuatu?"

Blacky tidak menoleh.

Ia menggonggong sekali.

Pendek.

Tajam.

Hendra langsung berdiri.

Ia mengambil pistol, senter, jas hujan, dan tablet kontrol portabel. Setelah Bab 022, ia tidak lagi menganggap alarm elektronik sebagai satu-satunya penjaga. Dunia yang runtuh selalu menemukan cara masuk lewat celah yang tidak masuk daftar.

Peta bunker terbuka di layar tablet.

Pintu utama aman.

Gerbang aman.

Ventilasi utama aman.

Tetapi ada satu titik yang dulu selalu membuat Hendra tidak puas: jalur drainase inspeksi di sisi timur belakang, bekas kebutuhan konstruksi untuk menguji aliran air dan kabel sementara. Setelah proyek selesai, panel itu sudah dilas ulang dan ditutup pelat baja.

Namun orang yang pernah mengerjakannya pasti tahu letaknya.

Dan di luar sana, ada banyak orang lapar yang dulu pernah bekerja untuk Manajer Bonar.

Hendra mematikan lampu luar sisi belakang.

Halaman belakang tenggelam dalam gelap.

Di layar kamera termal kecil, barulah muncul bintik-bintik samar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Enam.

Enam sumber panas merayap di dekat lereng belakang, terlalu rendah untuk orang yang sekadar lewat, terlalu rapat untuk pengungsi biasa.

Blacky memperlihatkan gigi kecil.

"Pintar," gumam Hendra.

Ia tidak keluar lewat pintu utama. Ia bergerak melalui koridor samping, melewati ruang genset, lalu naik ke akses layanan atas. Blacky mengikuti di belakangnya dengan langkah pendek, tetapi Hendra menutup pintu dalam sebelum ia sempat ikut keluar.

"Di dalam."

Blacky mencakar pintu sekali.

Hendra tidak membuka.

Alarm bagus tidak perlu ikut bertarung.

Di luar, hujan menghantam wajahnya begitu ia keluar. Ia tidak menyalakan senter. Mata yang sudah ditempa Unsur Logam memang belum menjadi indra super, tetapi tubuhnya cukup kuat untuk bergerak dalam gelap dan hujan lebih baik daripada orang biasa.

Ia turun lewat jalur beton samping, berputar sampai berada di atas posisi panel drainase inspeksi.

Suara manusia muncul di antara hujan.

"Cepat. Panelnya di bawah akar itu."

Suara berat.

Serak.

Hendra mengenal wajahnya dari rekaman proyek.

Karta.

Para pekerja dulu memanggilnya Si Jenggot karena dagunya penuh rambut kasar. Ia bukan kepala proyek, hanya mandor kecil yang sering mengurus pekerjaan kasar, tetapi orang seperti itu justru hafal celah fisik lebih baik daripada insinyur yang memegang gambar.

"Kau yakin di dalam ada makanan?" bisik seseorang.

Karta mendesis, "Aku ikut pasang raknya, bodoh. Gudang dingin sebesar itu tidak mungkin kosong. Orang kaya itu pasti simpan air, beras, solar. Kalau kita tunggu pemerintah, anak kita mati duluan."

Satu orang lain berkata, "Tapi ini tempat orang yang bunuh rombongan Bahtiar, kan?"

Hujan berhenti sebentar di mulut mereka.

Karta meludah.

"Justru karena itu tidak ada yang berani datang dari depan. Kita masuk dari sini, ambil barang, pergi. Kalau dia melawan, kita ramai-ramai."

Hendra berdiri di atas lereng, mendengar sampai selesai.

Mereka tidak datang karena tahu cincin.

Mereka tidak tahu soal tanker dan tidak membawa dendam besar.

Mereka datang karena tahu ada makanan.

Dalam kiamat, alasan sesederhana itu sudah cukup membuat orang membongkar rumah orang lain.

Enam orang itu berjongkok di bawah akar besar. Satu memegang linggis, satu membawa bor baterai yang dibungkus plastik, dua membawa karung, satu membawa parang, dan Karta sendiri memegang pistol tua yang entah didapat dari mana.

Mereka menemukan pelat baja luar.

Bor menyala.

Ngingggg.

Suara kecil itu langsung ditelan hujan.

Hendra menunggu.

Ia ingin tahu seberapa banyak yang mereka ingat.

Karta menunjuk sisi kiri panel. "Jangan tengah. Tengah tebal. Lasnya di sisi. Dulu kita tutup buru-buru karena Pak Bonar minta selesai cepat."

Baik.

Itu celah nyata.

Hendra menandainya dalam kepala.

Lalu ia melompat turun.

Kakinya mendarat di lumpur tepat di belakang mereka.

BYUR!

Enam orang itu berbalik serentak.

Senter jatuh ke tanah. Cahaya berputar kacau.

Karta mengangkat pistol.

Hendra sudah berada di depannya.

Tangannya menekan pergelangan Karta ke samping.

DOR!

Peluru menembus hujan dan menghantam batang pohon.

Sebelum tembakan kedua, pergelangan Karta patah.

KRAK!

Pistol jatuh.

Karta meraung, tetapi hujan menelan setengah suaranya.

Pria berparang menyerang dari kanan. Hendra menunduk, memukul perutnya, lalu memutar bahunya sampai parang lepas. Pria itu jatuh ke lumpur, napasnya terputus-putus.

Dua orang mencoba lari.

Hendra mengambil linggis dari tangan pekerja pertama dan melemparkannya ke depan kaki mereka.

TRANG!

Linggis menghantam batu, memantul, membuat keduanya terjatuh saling menabrak.

Yang membawa bor mengangkat kedua tangan.

"Ampun, Pak! Kami cuma lapar!"

Hendra berjalan mendekat.

"Lapar membuatmu mengetuk," katanya. "Bukan membongkar panel."

Orang itu menangis. "Kami dengar di dalam ada stok. Anak-anak di bawah tidak makan dua hari. Kami cuma mau sedikit."

Hendra menatapnya.

Kalimat seperti itu bisa benar.

Bisa juga hanya tali terakhir yang dilempar orang saat pisau sudah di tangan.

Di kehidupan lalu, ia pernah memberi "sedikit". Sedikit makanan berubah menjadi alamat. Alamat berubah menjadi rombongan. Rombongan berubah menjadi malam panjang di depan pintu.

Di dunia baru ini, satu celah kecil bisa membunuh semua persiapan.

Karta masih berlutut, memeluk pergelangan patahnya. Matanya merah oleh sakit dan marah.

"Kau mau bunuh semua orang demi gudangmu?" desisnya.

Hendra menoleh.

"Tidak."

Karta seperti menemukan harapan.

Hendra melanjutkan, "Aku membunuh orang yang mencoba masuk."

Wajah Karta kosong.

Malam itu, hujan menjadi saksi yang sangat berisik.

Pertarungan berikutnya bahkan tidak pantas disebut pertarungan. Enam orang itu adalah pekerja basah, lapar, dan panik. Hendra adalah orang yang sudah ditempa emas dua ton dan empat tahun kiamat.

Satu demi satu, mereka tumbang.

Tidak ada yang sempat berlari keluar dari pagar belakang.

Tidak ada yang sempat menyalakan radio kecil di saku.

Tidak ada yang sempat melihat pintu sebenarnya.

Ketika semuanya selesai, Hendra berdiri di dekat panel drainase inspeksi. Napasnya stabil. Jas hujannya terciprat lumpur. Di balik hujan, lampu ruang luar bunker berkedip sekali.

Blacky menggonggong dari dalam.

Kali ini bukan geraman.

Panggilan.

Hendra mengumpulkan alat mereka: pistol tua, bor baterai, dua linggis, parang, radio kecil, karung plastik, obeng, dan pahat. Semua benda mati itu masuk ke Ruang Penyimpanan. Setelah itu, ia menyeret tubuh-tubuh ke lubang belakang yang sama sekali tidak ingin ia pakai lagi secepat ini.

Tanah basah lebih berat daripada tanah kering.

Ekskavator kecil bekerja lambat.

Air hujan memenuhi bekas galian sebelum ia selesai menutupnya.

Hendra tidak mengutuk.

Ia hanya mencatat.

Karta.

Lima pekerja/pengikut.

Panel drainase inspeksi timur belakang.

Titik las sisi kiri rawan.

Setelah area bersih, Hendra tidak langsung masuk. Ia mengambil pelat baja cadangan dari gudang luar, mengelas lapisan kedua di atas panel, lalu memasang baut pengunci dalam pola silang. Ia menambahkan sensor getar mandiri dan satu kamera kecil di balik penutup pipa palsu.

Satu celah mati.

Masih ada banyak celah lain yang harus dipikirkan.

Menjelang pagi, ia kembali ke ruang dekontaminasi.

Blacky menunggu di balik pintu dalam. Begitu Hendra masuk, anak anjing itu menggonggong dua kali, lalu berlari kecil mengitari kakinya.

Hendra melepas jas hujan.

"Kau yang dengar duluan."

Blacky mendongak.

Hendra mengambil sepotong kecil daging matang dari piringnya dan meletakkannya di lantai.

"Hadiah pertama."

Blacky mencium, lalu melahapnya cepat. Setelah itu ia duduk di depan pintu, masih menatap arah belakang seolah tugasnya belum selesai.

Hendra menyentuh cincin.

Tidak ada panas baru kali ini.

Tetapi ia tidak kecewa.

Tidak semua hal berguna harus bersinar.

Di layar ruang kontrol, hujan makin deras. Parit luar sudah meluap. Jalan tanah di luar gerbang hilang di bawah aliran cokelat. Radio darurat yang sejak semalam hanya berderau tiba-tiba menangkap suara putus-putus.

"...permukaan air pesisir... naik cepat... warga Surabaya bagian rendah... diminta..."

Derau menelan kalimat itu.

Hendra membesarkan volume.

Suara itu kembali, lebih pecah, lebih panik.

"...potensi gelombang besar... ulangi... gelombang besar..."

Blacky berhenti mengunyah.

Hujan menghantam bunker seolah tidak berniat berhenti selama tiga hari.

Hendra menatap peta Indonesia di layar.

Jika hujan ini terus menekan laut, maka kota kelahirannya akan menjadi kabar buruk berikutnya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!