NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Titik Terang Pertama

Pagi setelah Kim Hwa mengaku, Liana tidak tidur.

Di kamar tamu rumah Jessy, tirai masih setengah tertutup. Cahaya matahari masuk tipis lewat sela kain, jatuh di atas lantai dan menyentuh kotak plastik tua yang semalaman dibuka di dekat kaki ranjang. Di dalam kotak itu ada benda-benda kecil yang tidak pernah benar-benar mati: sepatu anak berwarna cokelat, foto pudar, salinan laporan polisi, dan selembar kertas bergambar mobil yang dulu dicoret Dede dengan krayon merah.

Ponsel baru Liana tergeletak di atas selimut.

Jarinya berada di atas tombol play.

Ia sudah memutar rekaman itu berkali-kali sampai suara Kim Hwa terasa seperti racun yang terus diteteskan ke telinganya.

Dede tidak hilang...

Aku yang taruh dia di tempat itu...

Setiap kali kalimat itu terdengar, dada Liana hancur lagi. Namun di antara kehancuran itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama dua puluh tahun tidak pernah ia punya.

Bukti.

Jessy masuk membawa teh hangat dan roti panggang. Matanya bengkak, jelas ia juga tidak banyak tidur.

"Lia, makan sedikit."

Liana menggeleng.

"Kalau kamu pingsan hari ini, aku marah beneran."

Ancaman itu begitu khas Jessy sampai Liana akhirnya mengambil sepotong roti. Ia tidak tahu rasanya. Mulutnya bergerak hanya karena Jessy berdiri di depannya dengan tatapan siap memaksa.

Bel rumah berbunyi pukul delapan lewat dua puluh.

Jessy turun. Beberapa menit kemudian, Tiara masuk ke kamar dengan wajah pucat dan tas besar di bahu. Ia tidak memakai riasan, rambutnya diikat asal, tetapi matanya tegas.

"Ci Liana."

Liana berdiri. Tiara langsung memeluknya.

Pelukan itu pendek, hati-hati, seperti Tiara takut menyentuh luka yang terlalu baru. Namun justru karena hati-hati, air mata Liana kembali jatuh.

"Aku sudah bawa yang Ci minta," bisik Tiara.

Ia membuka tas. Di dalamnya ada beberapa benda yang dulu masih tersisa di rumah Phua: salinan lama akta kelahiran Dede, foto tambahan, kertas laporan kehilangan yang sudah menguning, dan amplop berisi cetakan foto kecil Dede memakai sweater biru dengan gambar Winnie the Pooh dan huruf "DD" di dadanya.

Liana menyentuh foto itu.

Dua puluh tahun lalu, ia mengira foto itu hanya kenangan. Hari ini, foto itu menjadi bukti bahwa anaknya pernah ada, punya nama, punya wajah, punya sweater yang bisa dikenali siapa pun kalau takdir masih menyisakan jejak.

"Jason tahu kamu ambil ini?" tanya Jessy.

Tiara menggeleng. "Tidak. Aku bilang ke rumah ada urusan kantor. Aku ambil dari kotak gudang sebelum dia bangun."

"Berbahaya, Tia."

"Lebih berbahaya kalau semua orang diam terus."

Liana menggenggam tangan Tiara. "Terima kasih."

Tiara menahan air mata. "Aku cuma berharap dulu aku lebih cepat berani."

"Tidak," kata Liana pelan. "Hari ini cukup."

Mereka bekerja hampir dua jam. Jessy menyusun dokumen menurut tahun. Tiara memotret ulang foto yang sudah pudar dengan kamera ponsel Liana agar ada salinan digital. Liana menyalin rekaman pengakuan Kim Hwa ke flashdisk kecil yang dibeli Jessy semalam di minimarket dua puluh empat jam. Setelah file tersimpan, Liana memegang flashdisk itu lama, seperti memegang kunci pintu yang sudah terkunci dua dekade.

Yayasan Temu Kembali menempati sebuah kantor sederhana di Jakarta Barat, tidak jauh dari deretan ruko lama dan jalan padat. Papan namanya tidak besar. Hanya tulisan biru tua dengan logo dua telapak tangan yang saling mendekat.

Namun bagi Liana, pintu kaca itu terasa seperti gerbang menuju kemungkinan yang ia takutkan sekaligus harapkan.

Di ruang tunggu, ada poster anak-anak hilang, nomor hotline, dan foto reuni keluarga yang berhasil bertemu kembali setelah bertahun-tahun. Beberapa foto membuat Liana tidak berani melihat terlalu lama. Ia takut berharap. Ia lebih takut tidak berharap.

Resepsionis membawa mereka ke ruang kerja Bryan Thung.

Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun, berwajah tenang, dengan kemeja lengan pendek dan map bertumpuk di meja. Begitu mendengar nama Liana, ia berdiri dan menjabat tangannya dengan hormat.

"Bu Liana, saya Bryan Thung. Saya turut prihatin atas kasus Ibu."

Liana duduk. Tiara duduk di sebelahnya, tangan tetap menggenggam tangan Liana di bawah meja.

Untuk beberapa detik, Liana tidak bisa bicara.

Bryan tidak mendesak. Ia hanya menunggu, wajahnya serius tanpa rasa kasihan berlebihan. Sikap itu membuat Liana akhirnya mampu mengeluarkan flashdisk dari tas.

"Pak Bryan," suaranya pecah, "tolong bantu saya. Ini bukti bahwa anak saya bukan hilang karena kecelakaan, tapi dibuang oleh mertua saya sendiri."

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Bryan menerima flashdisk dengan dua tangan. "Apakah Ibu bersedia kalau saya dengarkan sekarang?"

Liana mengangguk.

Suara Kim Hwa memenuhi ruangan beberapa menit kemudian.

Tidak ada yang bergerak. Tiara menunduk, air mata jatuh ke punggung tangannya. Liana menatap meja, kedua tangannya mengepal di pangkuan. Bryan mendengarkan sampai akhir tanpa memotong satu kata pun.

Setelah rekaman selesai, Bryan melepas earphone dan menarik napas panjang.

"Bu Liana, ini sangat penting."

"Apakah masih mungkin?" tanya Liana. Pertanyaan itu keluar lebih kecil daripada bisikan. "Dua puluh tahun, Pak Bryan. Apakah masih mungkin anak saya ditemukan?"

Bryan menatapnya langsung. "Saya tidak akan memberi janji kosong. Tapi dengan rekaman ini, foto, laporan polisi lama, ciri fisik, dan kemungkinan lokasi pembuangan, peluang pencarian menjadi jauh lebih kuat daripada sekadar laporan hilang biasa."

Liana menutup mata sebentar.

Kuat.

Satu kata kecil itu sudah cukup untuk membuatnya bernapas lagi.

Bryan membuka formulir. "Nama kecil anak Ibu?"

"Dede."

"Usia saat hilang?"

"Enam tahun."

"Ciri khusus?"

Liana menjawab perlahan, satu demi satu. Dede kidal. Alergi berat terhadap kedelai dan produk turunannya. Ada bekas gigitan anjing kecil di punggung tangan kiri. Di bahu kiri, dekat tulang selangka, ada tanda lahir berbentuk bulan sabit tipis.

Saat menyebut tanda lahir itu, suara Liana patah.

"Saya sering mencium bagian itu saat dia tidur," katanya.

Tiara menggenggam tangannya lebih erat.

Bryan menulis tanpa tergesa. Ia lalu menjelaskan prosedur: data Dede akan dimasukkan ke arsip nasional yayasan, dicocokkan dengan laporan anak ditemukan, adopsi lama, arsip panti asuhan, dan jaringan relawan daerah. Jika Liana bersedia, yayasan juga akan membantu membuat video pencarian dengan wajah dan suara Liana, agar bisa disebarkan ke platform sosial dan komunitas pencari keluarga.

"Untuk DNA?" tanya Tiara.

"Kita bisa ambil sampel Bu Liana hari ini sebagai data pembanding. Nanti kalau ada kandidat, kami minta pemeriksaan lanjutan melalui laboratorium resmi. Untuk kepentingan hukum, jalurnya tetap harus rapi."

Liana mengangguk. Kali ini ia tidak menangis. Air matanya masih ada, tetapi di baliknya mulai tumbuh sesuatu yang lebih keras.

Langkah.

Setelah semua berkas disalin, Bryan berdiri mengantar mereka sampai pintu. Namun ketika ia membuka map foto Dede sekali lagi, tangannya berhenti di tengah gerakan.

Matanya tertahan pada foto sweater biru dan catatan ciri fisik.

"Ada apa?" tanya Liana.

Bryan mengerutkan dahi, seperti sedang mencoba menarik sesuatu dari ingatan lama.

"Ciri-ciri ini..." katanya pelan. "Rasanya saya pernah lihat kasus mirip beberapa tahun lalu."

Jantung Liana langsung berdetak keras.

"Kasus apa?"

Sebelum Bryan menjawab, ponselnya berdering. Nama seorang koordinator lapangan muncul di layar, ditandai urgent.

Bryan menatap layar, lalu menatap Liana dengan wajah yang belum selesai bicara.

"Maaf, Bu. Saya harus angkat ini dulu."

Liana berdiri di depan pintu ruangannya, tangan masih menggenggam map foto Dede.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ketakutannya bercampur dengan harapan yang punya arah.

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!