NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Isyarat di Kedai Teh

Pada saat Bagas Wibawa menutup telepon di Puri Wibawa, Bima sedang menatap tiga cangkir teh yang tidak boleh diminum dengan cara biasa.

"Yang ini dicium dulu aromanya," kata Laras. "Setelah itu baru diseruput sedikit."

Bima mengangkat cangkir kecil di depan hidung. "Kalau saya langsung minum?"

"Tehnya tetap masuk ke perut, tetapi Teh Laras akan tersinggung," jawab Anindya.

Laras mengangguk tenang. "Kak Anin belajar cepat."

Mereka duduk di ruang makan pribadi Sekar Arum. Kedai di bagian depan sudah melewati jam ramai. Dari balik pintu kayu berukir terdengar denting sendok dan percakapan pelanggan yang makin jarang. Aroma melati, kayu manis, serta daun teh panggang mengisi udara.

Bima akhirnya mengikuti petunjuk. Rasa hangat menyebar di lidah, meninggalkan pahit tipis sebelum berubah manis.

"Enak," katanya.

"Hanya enak?" Laras bertanya.

"Sangat enak. Saya takut jawaban yang lebih panjang akan dikenai biaya tambahan."

Anindya menahan tawa. Sejak duduk, kursinya telah bergeser sedikit demi sedikit mendekati Bima. Tangannya beberapa kali mengambil lauk dari piring yang sama, seolah piring di depan sendiri tidak ada. Ketika Bima hendak meraih sambal, Anindya lebih dulu memindahkannya menjauh.

"Bahu kamu belum pulih penuh," katanya. "Jangan makan terlalu pedas."

"Apa hubungan bahu dengan sambal?"

"Tidak ada. Aku hanya tidak mau kamu makan terlalu pedas."

"Berarti ini penyalahgunaan wewenang."

"Silakan lapor."

Laras meminum tehnya sambil menyembunyikan senyum. "Saya baru sadar makan malam ini tidak membutuhkan lauk."

Anindya meliriknya. "Teh Laras yang mengundang kami."

"Benar. Saya tidak tahu saya juga akan mendapat pertunjukan."

Wajah Anindya menghangat, tetapi ia tidak menggeser kursinya menjauh. Justru lututnya tetap menyentuh lutut Bima di bawah meja.

Bima tidak protes.

Pagi tadi ia sengaja duduk lebih jauh karena berniat menjaga jarak. Belum sampai satu hari, ia sudah berdiri mengaku sebagai suami sah, melindungi Anindya dari tamparan, lalu menerima undangan makan malam bersamanya. Rencana itu tidak sekadar gagal. Rencana itu bahkan tidak sempat hidup cukup lama untuk disebut rencana.

Setelah makanan utama habis, Laras meminta pelayan membawa buah dan satu teko baru. Kemudian ia memandang Bima dengan lebih serius.

"Pak Yudi mengirim kabar," katanya. "Darman belum keluar dari Surabaya."

Tawa kecil di ruangan berhenti.

"Bukankah dia sudah menandatangani pelaksanaan putusan?" tanya Anindya.

"Sudah. Kendaraannya terdeteksi berpindah dari tempat lama, tetapi tidak menuju batas kota. Dua orang bekas bawahannya juga ditanya soal rumah cadangan di kawasan industri."

Bima meletakkan cangkir. "Dia tidak berani melanggar sendirian."

"Itu kesimpulan saya." Laras merapatkan jemarinya di atas meja. "Darman kehilangan Guntur, kehilangan perusahaan pengaman untuk menekan Larissa, dan baru saja mempermalukan diri di depan tiga sesepuh. Orang dalam posisi itu seharusnya lari sejauh mungkin. Kalau dia bertahan, seseorang sedang menahannya."

"Orang Padepokan Giri Wesi?"

"Kemungkinan besar. Saya mendengar gosip lama di kalangan pengusaha pelabuhan. Ada seorang pewaris muda dari keluarga konglomerat yang juga masuk Giri Wesi lebih awal daripada banyak murid senior. Namanya tidak pernah disebut jelas. Orang-orang hanya bilang dia punya uang untuk menutup mulut dan cukup pengaruh untuk membuat masalah tampak seperti kebetulan."

Anindya mengusap sisi cangkir. "Lebih kuat dari Guntur?"

Laras tidak segera menjawab. "Saya tidak punya bukti. Bisa jadi ilmunya hanya setara Guntur, tetapi sumber dayanya jauh lebih besar. Bisa juga dia sendiri sudah menyentuh Manunggal, atau memiliki orang setingkat itu di belakangnya. Itu perkiraan terburuk, bukan fakta."

Bima mengangguk. Ia tidak menyukai lawan tanpa nama, tetapi ia lebih tidak menyukai informasi yang berpura-pura pasti. Laras cukup disiplin untuk membedakan dugaan dari kenyataan.

"Kalau Darman muncul, jangan hadapi sendiri," kata Laras kepada Anindya.

"Aku akan menghubungi polisi dan keamanan kompleks."

"Lalu hubungi saya," tambah Bima.

Anindya menatapnya. "Kalau kamu sedang bekerja?"

"Tetap hubungi saya."

"Kalau bahumu sakit?"

"Kak Anin boleh menelepon sambil memarahi bahu saya."

Nada ringan itu tidak menghapus keputusan di baliknya. Anindya mengerti. Ia mengangguk pelan.

Laras menunggu sampai Anindya pergi ke kamar kecil. Begitu pintu tertutup, ia menuangkan teh ke cangkir Bima.

"Bang Bima sempat ingin menjauh darinya?"

Bima menatap aliran teh. "Kelihatan sekali?"

"Kursi waktu sarapan mungkin bisa menipu Kak Anin selama tiga detik. Tidak saya."

"Teh Laras memasang mata-mata di rumah orang?"

"Tidak perlu. Kak Anin bercerita bahwa ada laki-laki yang duduk seperti tamu, lalu satu jam kemudian mengaku sebagai suami sah."

Bima menghela napas. "Itu gertakan."

"Saya tidak bertanya soal status hukum. Saya bertanya apa yang Bang Bima inginkan."

Pertanyaan itu lebih sulit daripada memecahkan Kebal Karang.

Bima memutar cangkir di antara telapak tangan. "Saya pernah berpikir menjaga dia berarti memastikan tidak ada orang menyakitinya. Ternyata kalau saya datang dan pergi sesuka hati, saya juga bisa menjadi orang yang menyakitinya."

"Jadi?"

"Saya takut dia menginginkan rumah tangga yang belum tentu sanggup saya janjikan. Saya takut Sasa menganggap saya akan selalu ada, lalu suatu hari pekerjaan atau masa lalu saya menyeret saya pergi. Karena itu pagi tadi saya mau menjaga jarak."

"Rencana yang bagus?"

"Rencana yang mati sebelum makan siang."

Laras tersenyum tipis. "Setidaknya Bang Bima jujur soal kegagalannya."

"Jangan beri tahu Kak Anin."

"Terlambat."

Bima menoleh. Anindya sudah berdiri di pintu kamar kecil dengan kedua tangan bersilang. Tidak jelas berapa banyak yang ia dengar.

"Pulang," katanya.

"Kedengarannya seperti perintah hukuman."

"Memang."

Laras mengantar mereka sampai pintu samping. Sebelum Anindya masuk ke Daihatsu Xenia, Laras mengingatkan bahwa semua kabar tentang Darman akan dikirim melalui pesan terenkripsi sederhana yang mereka sepakati. Bima berjanji tidak akan mengejar rumor tanpa verifikasi.

Jalan menuju rumah Anindya tidak terlalu padat. Lampu kota bergerak sebagai bayangan kuning di kaca. Anindya duduk diam selama hampir sepuluh menit.

"Kak Anin marah?" tanya Bima.

"Sedikit."

"Karena saya ingin menjaga jarak?"

"Karena kamu memutuskan sendiri bahwa pergi akan lebih baik untukku."

Bima tidak langsung menjawab. "Aku tidak pandai tinggal."

"Belajar."

Satu kata itu membuat tangannya mengencang pada setir.

Ia memarkir Xenia di depan rumah. Lampu teras tampak mati, tetapi Anindya tidak khawatir. Sasa menginap di rumah pengasuh tepercaya karena Anindya sudah memperkirakan makan malam selesai larut. Rumah seharusnya kosong.

Namun Anindya tidak langsung turun. Ia membuka sabuk pengaman, lalu berbalik menghadap Bima.

"Soal pagi tadi," katanya.

"Suami sah itu gertakan."

"Aku tahu."

"Kalau Kak Anin ingin menagih harga gertakan, rekening bonus saya tinggal sedikit setelah membeli mobil."

Anindya mengangkat tangan dan menarik kerah bajunya.

Ciuman pertama singkat, lebih seperti peringatan. Bima membeku sepersekian detik. Ketika Anindya tidak menjauh, ia merangkul pinggangnya dan membalas. Ciuman berikutnya lebih dalam, hangat, dan tanpa keraguan yang selama ini selalu berdiri di antara mereka.

Napas Anindya bergetar di dekat pipinya. Jemarinya berpindah dari kerah ke belakang leher Bima. Bima menahan pelukan agar tidak menekan bahu kirinya yang masih nyeri, tetapi rasa sakit ringan itu tenggelam di antara detak jantung dan aroma teh yang masih tertinggal pada bibir Anindya.

Mereka berpisah hanya untuk menarik napas.

"Itu harga gertakannya?" bisik Bima.

"Bunga awal."

Ia hampir menarik Anindya kembali, tetapi perempuan itu sudah membuka pintu mobil sambil menyembunyikan wajah merahnya.

Mereka berjalan menuju teras berdampingan. Saat Anindya memasukkan kunci, Bima melihat goresan baru di sekitar lubang kunci dan serpihan kayu kecil di lantai.

Tangannya langsung menahan pergelangan Anindya.

"Jangan masuk."

Dari dalam terdengar benda jatuh, disusul makian mabuk.

Pintu yang belum sempat mereka buka penuh mendadak ditendang dari sisi dalam.

Brak!

Daun pintu menghantam dinding. Darman berdiri sempoyongan di ambang, mata merah oleh alkohol dan dendam.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!