NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hukum Rimba di Reruntuhan Kuno

​Perahu Spiritual melaju membelah lautan awan selama tiga hari tiga malam. Ketika kecepatan perahu mulai melambat, sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa terpampang di hadapan ribuan Murid Luar.

​Di tengah deretan pegunungan tandus, langit tampak seperti cermin raksasa yang retak. Sebuah celah spasial berwarna ungu kehitaman berputar perlahan, memancarkan angin puyuh yang membawa aura kuno dan liar. Itulah gerbang masuk menuju Reruntuhan Lembah Angin.

​Tiga Tetua Sekte Dalam melayang di udara, menembakkan pilar-pilar Qi terang ke arah celah tersebut untuk menstabilkan pusarannya.

​"Dengarkan baik-baik!" Suara Penatua Kuang menggema dari haluan perahu. "Gerbang spasial ini tidak stabil. Saat kalian melompat masuk, pusaran ruang akan memisahkan kalian secara acak. Kalian mungkin mendarat di padang rumput yang aman, atau tepat di sarang siluman buas tingkat tinggi. Persiapkan senjata dan Qi pelindung kalian!"

​Mendengar hal itu, formasi kelompok yang sebelumnya telah disusun oleh berbagai faksi murid seketika buyar. Rencana Klan Wu untuk langsung mengepung Awan begitu masuk ke dalam reruntuhan menjadi mustahil.

​Wu Kang menoleh tajam ke arah Awan dari seberang geladak, matanya menyiratkan ancaman: Berdoalah agar aku tidak menemukanmu lebih dulu.

​Awan mengabaikannya. Ia melangkah ke tepi geladak bersama murid-murid lainnya.

​"Masuk!" perintah Penatua Kuang.

​Bagaikan tetesan hujan yang jatuh ke danau, ribuan Murid Luar melompat dari perahu menuju celah spasial berwarna ungu tersebut. Awan mengambil napas dalam-dalam, mengencangkan ikatan pedang Kayu Besi Hitam di punggungnya, dan menjatuhkan dirinya ke dalam pusaran.

​WUSSS!

​Sensasi ditarik oleh ruang dan waktu terasa memualkan. Bagi para kultivator di sekeliling Awan, tekanan spasial ini mengancam akan merobek pembuluh darah mereka, memaksa mereka menguras Dantian untuk membentuk perisai Qi.

​Namun, Awan sama sekali tidak mengaktifkan perlindungan apa pun.

​Kulitnya yang telah direbus dengan Teratai Magma dan Rumput Tulang Besi beresonansi dengan tekanan tersebut. Alih-alih terkoyak, otot-ototnya justru menegang, menahan gaya tarik spasial itu murni dengan kepadatan serat dagingnya. Baginya, ini hanya terasa seperti pijatan kasar.

​Sesaat kemudian, cahaya ungu membutakan matanya, dan kakinya menghantam tanah yang keras.

​Brak!

​Awan mendarat dengan sedikit membungkuk untuk menyerap benturan. Ia segera mengamati sekelilingnya.

​Tempat ini sangat berbeda dengan Sekte Daun Angin yang dipenuhi energi kehidupan. Langit di Reruntuhan Lembah Angin berwarna abu-abu suram. Daratannya berupa ngarai-ngarai batu merah yang terjal, dipenuhi oleh tulang-belulang raksasa dari siluman purba yang telah membatu.

​Angin yang berhembus di sini tidak hanya kencang, tetapi juga membawa bilah-bilah energi liar yang tajam. Lebih buruk lagi, Qi Spiritual di tempat ini sangat kacau. Kultivator biasa akan kesulitan menyerap energi alam di sini tanpa melukai meridian mereka.

​Awan tersenyum tipis.

​"Qi yang kacau? Meridian yang terluka?" gumamnya. "Tempat ini memang diciptakan untukku."

​Karena ia tidak memiliki meridian yang terbuka untuk menyerap Qi, racun atau kekacauan energi spiritual di udara sama sekali tidak memengaruhinya. Ia bernapas senormal ia menghirup udara di desa pandai besinya.

​Baru saja Awan berdiri tegak, telinganya yang sangat sensitif menangkap suara derik langkah kaki dari balik bebatuan, sekitar lima puluh meter di sebelah kirinya.

​Awan langsung mempraktikkan Seni Penyamaran Bayangan yang telah ia modifikasi. Ia mengendalikan organ dalamnya, menurunkan detak jantungnya hingga berdetak sangat lambat. Suhu tubuhnya ditekan turun. Ia berdiri tak bergerak di balik pilar batu merah, menyatu sepenuhnya dengan bayangan.

​Tiga orang pemuda berjubah biru perlahan muncul dari balik bebatuan. Mereka memegang kompas spiritual yang jarumnya berputar liar karena gangguan medan magnet reruntuhan.

​"Sialan! Formasi spasial itu benar-benar melempar kita ke area pinggiran yang tandus," umpat salah satu dari mereka. Ia berada di Alam Pengumpul Qi Tingkat Enam.

​"Setidaknya kita bertiga mendarat berdekatan," sahut temannya yang bertubuh kurus. "Kakak Senior Wu Kang berjanji akan memberikan lima ratus Batu Roh tingkat menengah kepada siapa pun yang bisa membawa kepala si pelayan fana itu. Ini kesempatan kita untuk kaya jika kita menemukannya lebih dulu."

​Pemuda ketiga, yang memiliki bekas luka di pipinya, tertawa remeh. "Di arena dia hebat karena ada aturan. Di sini? Aku akan membakar kulit fananya dengan Bola Api Peledak dari jarak lima puluh meter."

​Di balik pilar batu, hanya berjarak lima meter dari mereka, sepasang mata sedingin es terbuka.

​Awan tidak merasakan amarah; ia hanya merasakan kepraktisan seorang pemburu. Tiga musuh. Tingkat Enam dan Tujuh. Jarak tempur: sangat dekat.

​Tidak perlu menunggu mereka menyerang. Di alam liar, yang ragu adalah yang mati.

​Awan tidak mencabut pedangnya. Ia hanya melepaskan kendali pada titik beratnya dan membiarkan gravitasi mengambil alih.

​Langkah Besi Jatuh.

​BHOOM!

​Suara ledakan tanah bergemuruh. Tubuh Awan melesat seperti peluru meriam yang ditembakkan dari jarak dekat. Tiga kultivator itu bahkan belum sempat menoleh saat Awan sudah muncul di tengah-tengah mereka.

​Pemuda dengan bekas luka di pipi adalah yang pertama menyadari kehadiran Awan. Matanya membelalak ngeri melihat wajah fana yang baru saja mereka bicarakan kini berada tepat di depan hidungnya.

​"T-Tunggu—!"

​Tangan kanan Awan yang sekokoh besi mencengkeram wajah pemuda itu dengan kasar, membungkam teriakannya, lalu dengan momentum lari yang belum berhenti, Awan menghantamkan belakang kepala pemuda itu ke pilar batu terdekat.

​KRAK!

​Tengkorak bertemu batu merah. Batu merah itu retak, namun tengkorak sang kultivator hancur seketika. Pemuda itu tewas sebelum sempat mengalirkan secercah Qi.

​"Musuh!" teriak pemuda kurus dengan panik, buru-buru melompat mundur sambil merapal segel tangan. Energi angin berpusar di telapak tangannya.

​Temannya yang satu lagi langsung mencabut pedang, menebaskan bilah pedang berlapis Qi elemen logam ke arah leher Awan. "Mati kau, Fana!"

​Awan tidak menghindar. Ia sengaja memiringkan lehernya, membiarkan pedang baja berlapis Qi itu menghantam otot bahunya.

​TRANG!

​Suara benturan logam bergema. Mata kultivator itu nyaris keluar dari rongganya. Pedang spiritual tingkat rendahnya... memantul!

​Latihan berendam di air didihan Teratai Magma tidak mengkhianati Awan. Otot dan kulitnya kini memiliki daya tahan yang menyaingi zirah baja kualitas menengah. Tebasan kultivator Tingkat Enam hanya meninggalkan garis putih dangkal di kulit bahunya.

​"Giliranku," bisik Awan.

​Tangan kiri Awan bergerak dengan kecepatan kilat, menangkap pergelangan tangan kultivator pemegang pedang tersebut, lalu memelintirnya hingga tulang lengan itu patah dan mencuat keluar dari kulit.

​Bersamaan dengan jeritan kesakitan lawannya, Awan menarik Kayu Besi Hitam dari punggungnya dengan tangan kanan. Tanpa ancang-ancang panjang, ia mengayunkan gagang pedang kayu yang berat itu layaknya palu godam tepat ke dada kultivator tersebut.

​DUAAGH!

​Dada pemuda itu melesak ke dalam. Ia terlempar sejauh belasan meter, memuntahkan darah hitam bercampur serpihan paru-paru, mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

​Kini, hanya tersisa pemuda kurus yang sedang gemetar ketakutan sepuluh meter dari Awan. Segel tangan yang ia rapal buyar karena teror absolut yang mencekik jantungnya. Dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas, dua temannya yang merupakan ahli Tingkat Enam dibantai layaknya ayam sakit.

​"M-Monster..." pemuda kurus itu tergagap, jatuh terduduk di tanah berbatu. "Kau bukan manusia..."

​Awan berjalan perlahan mendekatinya. Pedang Kayu Besi Hitam di tangan kanannya meneteskan darah segar.

​"Di mana Wu Kang dan anggota klan Wu lainnya berencana berkumpul?" tanya Awan dengan nada datar, seolah ia baru saja menanyakan arah jalan di pasar.

​"A-Aku tidak tahu! Sumpah!" pemuda kurus itu merangkak mundur, air mata ketakutan membasahi wajahnya. "Kakak Senior Wu hanya bilang jika kami melihatmu, kami harus menembakkan kembang api suar merah! Dia... dia membawa artifak Kompas Pelacak Darah. Dia pasti sedang mencarimu!"

​Awan berhenti melangkah.

​Kompas Pelacak Darah. Sebuah artifak yang bisa melacak seseorang jika penggunanya memiliki sampel darah target. Awan ingat, saat di arena, Wu Jian berhasil menusuk bahunya dan darahnya menempel di pedang perak tersebut. Wu Kang pasti menggunakan darah di pedang itu untuk melacaknya.

​"Begitu," gumam Awan.

​"T-Tolong, ampuni aku! Aku tidak akan ikut campur lagi! Aku akan memberikan semua Batu Rohku—"

​Sebelum pemuda kurus itu menyelesaikan kalimatnya, Awan mengayunkan pedang kayunya.

​PRAK.

​Keheningan kembali menyelimuti ngarai batu merah tersebut, hanya diselingi oleh lolongan angin yang hampa.

​Awan tidak merasa bersalah. Membiarkan musuh hidup di tempat di mana hukum tidak berlaku adalah kebodohan terbesar. Ia berjongkok, dengan telaten menggeledah tubuh ketiga kultivator tersebut. Ia mengamankan tiga Kantong Penyimpanan tingkat rendah, sejumlah Pil Penyembuh, dan beberapa ratus Batu Roh tingkat rendah.

​Ia memindahkan semuanya ke dalam Kantong Penyimpanan Terkompresi miliknya.

​Awan berdiri dan menatap ke ufuk barat, di mana sebuah menara hitam samar-samar terlihat menjulang menembus awan abu-abu. Itu adalah pusat dari Reruntuhan Lembah Angin, tempat di mana harta karun dan warisan kuno berada.

​"Wu Kang sedang melacakku," Awan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum pemburu yang mengerikan. "Jika musuh tahu di mana posisiku, maka aku tidak perlu membuang tenaga untuk mencarinya. Aku hanya perlu menyiapkan medan pertempuran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!