Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rizky berdiri kagum di depan sebuah gedung tiga lantai berdesain klasik modern.
Papan nama besar di atas pintu masuknya bertuliskan Klinik Herbal Bintang Abadi.
Aroma obat-obatan tradisional kelas atas sudah tercium bahkan dari trotoar jalan.
Tempat ini jelas bukan klinik pinggiran, melainkan pusat pengobatan elit bagi kaum kaya.
Deretan mobil mewah terparkir rapi di halaman depan gedung tersebut.
Rizky melihat pantulan dirinya di kaca jendela sebuah mobil sedan mengkilap.
Pakaian bajunya masih kotor dan kusut akibat kecelakaan semalam.
Rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat lelah meski tubuhnya terasa bugar.
"Penampilanku memang mirip gembel, tapi barang yang kubawa ini harganya mungkin bisa membeli satu mobil di sini," gumam Rizky.
Rizky melangkah mantap menuju pintu kaca geser otomatis di pintu utama.
Namun sebelum kakinya sempat melewati batas pintu, seorang satpam berbadan tegap langsung menghadangnya.
TAP.
Satpam berseragam biru tua itu merentangkan tangannya dengan wajah garang.
"Berhenti di situ pengemis, tempat ini bukan panti sosial," bentak satpam itu kasar.
"Silakan pergi dari sini sebelum saya panggil polisi untuk mengusir kamu."
Rizky menghela napas panjang melihat perlakuan yang sudah sangat sering ia terima seumur hidupnya ini.
"Saya bukan pengemis Pak, saya datang ke sini mau menawarkan obat herbal langka," jawab Rizky tenang.
Rizky mengangkat pot plastik berisi Akar Tunjung Langit itu sejajar dengan dada satpam tersebut.
Satpam itu melirik pot kusam di tangan Rizky lalu tertawa meremehkan.
"Hahaha, obat langka apa dari pot bekas sampah begitu?" ejek satpam itu makin keras.
"Di dalam sana itu isinya obat-obatan dari luar negeri, bukan rumput liar bau tanah."
Keributan kecil di pintu masuk itu mulai menarik perhatian beberapa pengunjung klinik.
Seorang wanita muda berseragam resepsionis warna hijau muda berjalan keluar dari balik meja kasir.
"Ada ribut-ribut apa ini Pak Danu? Mengganggu kenyamanan pasien tahu," tegur resepsionis itu dengan wajah kesal.
Resepsionis yang papan namanya bertuliskan Siska itu menatap Rizky dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik.
"Pak Danu, cepat usir orang gila ini keluar, baunya bikin ruangan klinik jadi kotor," perintah Siska sambil menutup hidungnya.
"Kamu dengar sendiri kan? Cepat pergi dari sini gembel, jangan bikin masalah," ancam Pak Danu sambil mendorong bahu Rizky.
Rizky memundurkan langkahnya sedikit untuk menjaga pot di tangannya agar tidak terjatuh.
"Kalian bahkan belum melihat apalagi memeriksa tanaman ini, bagaimana bisa kalian menyebut ini rumput liar?" protes Rizky.
"Klinik sebesar ini ternyata stafnya punya mata tapi tidak bisa melihat barang berharga."
Wajah Pak Danu memerah menahan marah mendengar sindiran telak dari pemuda miskin di depannya.
"Berani-beraninya kamu menghina tempat kerja kami, sini pot sampahmu itu!"
Satpam itu mengayunkan tangannya berniat merebut dan membuang pot di tangan Rizky.
Rizky yang otaknya sekarang bekerja sangat cepat bisa membaca gerakan satpam itu dengan sangat mudah.
WUSH.
Rizky memiringkan badannya sedikit dan tangan satpam itu hanya menebas angin kosong.
Pak Danu hampir saja terjatuh ke depan karena tenaga ayunannya sendiri.
"Kurang ajar, kamu berani melawan ya!" teriak Pak Danu yang kini benar-benar emosi.
Siska ikut berteriak histeris meminta tolong staf lain dari dalam klinik.
"Tolong panggilkan polisi, ada preman mau merampok klinik kita!" jerit Siska berlebihan.
Rizky hanya bisa menggelengkan kepala melihat drama yang dibuat oleh dua orang staf sombong ini.
"Tunggu sebentar, hentikan keributan ini!"
Sebuah suara wanita yang lembut namun tegas tiba-tiba terdengar dari arah tangga lantai dua.
Semua orang langsung terdiam dan menoleh ke sumber suara tersebut.
Seorang wanita muda berusia awal dua puluhan menuruni anak tangga dengan anggun.
Wanita itu memakai jas laboratorium putih bersih yang membalut tubuh langsingnya.
Wajahnya sangat cantik natural tanpa riasan berlebih, dengan rambut hitam panjang yang diikat ekor kuda.
Kacamatanya yang berbingkai tipis menambah kesan cerdas dan elegan pada penampilannya.
"Ada apa ini Siska? Kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak di lobi utama?" tanya wanita itu mendekat.
"Mbak Indah, ini ada pengemis gila yang mau maksa masuk jualan rumput liar," adu Siska dengan nada manja.
"Iya Nona Indah, dia malah menantang saat saya suruh pergi," tambah Pak Danu mencari pembelaan.
Wanita bernama Indah Sari itu menatap Rizky dengan tatapan menilai, namun sama sekali tidak ada sorot merendahkan di matanya.
Rizky balas menatap Indah dan pada saat yang bersamaan kotak sistemnya muncul.
[Indah Sari. Usia 23 Tahun. Status: Kepala Apoteker Klinik Bintang Abadi. Keahlian: Identifikasi Herbal Tingkat Lanjut.]
"Oh, jadi dia ini apoteker utamanya, pantas auranya berbeda dari dua badut tadi," batin Rizky tersenyum tipis.