NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Takdir

"Plak!"

Suara tamparan yang begitu keras menggema di koridor sunyi lantai tiga Rumah Sakit Delima Medika.

Senjani memegangi pipi kirinya yang kian lama menjadi merah padam, bekas tamparan itu terasa panas dan berdenyut. Sudut bibirnya sedikit berdarah. Di depannya, seorang wanita paruh baya berpakaian glamor menatapnya dengan pandangan menjijikkan, seolah-olah Senjani adalah seonggok sampah tak bernilai.

"Dasar terapis gak tahu diri ya! Kamu pasti sengaja kan bikin kaki anak saya semakin parah? Kamu mau coba-coba memeras keluarga kami?!" teriak wanita paruh baya itu tanpa memedulikan beberapa perawat yang mulai menoleh.

"Bu Tari, tolong dengarin penjelasan saya dulu," Senjani berusaha mengatur napasnya dan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Tadi itu adalah latihan Passive ROM yang memang wajar kalau memicu reaksi nyeri pada pasien pasca-operasi otot paha. Saya sama sekali tidak berniat—"

"Halah! Jangan sok pintar pakai bahasa medis kamu ya! Anak saya jelas-jelas menjerit kesakitan di dalam! Terapi kan harusnya bikin kondisi anak saya jauh lebih baik, bukannya tambah sakit!" Potong wanita itu kejam. "Saya sudah bilang kepada pihak rumah sakit. Detik ini juga, kamu harus DIPECAT!"

Kata-kata itu seperti sambaran petir di siang bolong bagi Senjani.

Dipecat?

Senjani rasanya ingin memohon dan bersujud di kaki Bu Tari. Tapi sayangnya, Bu Tari sudah terlanjur berbalik dan masuk ke ruang VIP sambil membanting pintu dengan keras. Tubuh Senjani mendadak lemas tak berdaya. Lututnya gemetar hebat, memaksanya bersandar pada dinding koridor yang dingin menyiksa.

Dipecat, itu artinya dia kehilangan satu-satunya sumber penghasilan yang selama ini menjadi penopang hidupnya. Lalu, bagaimana dengan biaya cuci darah ibunya yang harus dibayar minggu depan? Bagaimana dengan tumpukan utang biaya operasional rumah sakit yang sudah menunggak tiga bulan?

Dengan langkah gontai dan kepala yang pening, Senjani berjalan menuju ruang administrasi untuk membereskan barang-barangnya. Dunia seolah runtuh menimpanya bertubi-tubi dalam satu hari.

...****************...

Malam harinya, hujan deras tengah mengguyur kota Jakarta. Senjani duduk di kursi tunggu koridor bangsal kelas tiga, itu adalah tempat ibunya dirawat. Dia menatap selembar kertas tagihan berwarna merah di tangannya.

Total Tagihan: Rp 45.000.000,-

Harap dilunasi dalam waktu 3 hari, atau fasilitas pengobatan akan dihentikan.

Senjani meremas kertas itu putus asa. Air mata yang sejak siang tadi ia berusaha tahan, akhirnya tumpah juga dengan pelan. Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan, terisak pelan agar ibunya di dalam ruangan tidak mendengarnya. Dia benar-benar sudah buntu. Ke mana dia harus mencari uang sebanyak itu dalam tiga hari dengan statusnya yang sekarang pengangguran?

"Permisi, apakah benar Anda dengan Nak Senjani Kiran?"

Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa membuyarkan tangis Senjani seketika.

Senjani mendongak, di hadapannya berdiri seorang pria tua berambut putih, namun tubuhnya masih gagah dan tegap, pria tua itu mengenakan setelan jas yang sangat mahal. Di belakang pria tua itu, berdiri dua orang pria berbadan besar yang tampak seperti pengawal pribadi.

Senjani dengan gerakan tangan yang cepat segera menghapus air matanya dan berdiri. "I-iya, benar. Dengan saya sendiri. Maaf, Bapak ini siapa, ya?

Pria tua itu tersenyum ramah, sangat kontras dengan aura intimidasi dari pengawal di belakangnya. "Perkenalkan, nama saya Baskoro Nandotomo. Kamu mungkin gak ingat saya, tapi dua tahun lalu, kamu itu terapis yang membimbing saya sampai saya bisa berjalan lagi setelah stroke ringan."

Senjani mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. "Pak Baskoro... Nandotomo. Pemilik Nandotomo Group?" Senjani terkesiap. Dia tentu saja tahu nama itu. Salah satu konglomerat terbesar di negara ini.

"Benar, ternyata ingatan kamu masih bagus ya hahaha" Pak Baskoro terkekeh pelan. Sorot matanya kemudian beralih pada kertas tagihan merah yang usang di tangan Senjani. "Saya dengar kabar dari pihak rumah sakit katanya kamu baru saja diberhentikan ya ? Dan... saya juga tahu tentang kondisi ibu kamu saat ini."

Jantung Senjani berdegup kencang. Ada rasa malu sekaligus waswas. "Maaf, Pak Baskoro ada keperluan apa ya mencari saya?"

Pak Baskoro melangkah satu pijakan lebih dekat tepat di depan Senjani. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh penekanan.

"Saya ke sini mau menawarkan sebuah kesepakatan buat Nak Senjani. Saya akan melunasi semua biaya pengobatan ibu nya Nak Senjani malam ini juga. Bahkan, saya akan mengirim ibunya Nak Senjani ke rumah sakit terbaik di Singapura untuk penyembuhan totalnya."

Senjani tertegun. Mulutnya setengah terbuka tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "A-apa? Tapi... kenapa? Apa imbalan yang Bapak inginkan dari saya?"

Pak Baskoro mengembuskan napas panjang, gurat kesedihan mendadak muncul di wajah tuanya.

"Cucu saya, Jiro Nandotomo. Dia mengalami kecelakaan mobil tragis enam bulan lalu yang membuat kedua kakinya lumpuh sekarang. Semenjak saat itu, dia terus-menerus mengurung diri, menjadi monster yang pemarah, dan selalu mengusir setiap terapis yang saya sewa."

Pak Baskoro menatap langsung ke dalam manik mata Senjani.

"Saya tahu bagaimana dedikasi dan kesabaran Nak Senjani waktu merawat saya dulu. Karena itu, saya mau Nak Senjani untuk menikah dengan cucu Saya, Jiro. Rawat dia, sembuhkan kakinya, dan menjadi istri dari cucu saya."

Senjani membeku. Otaknya mendadak buntu, berusaha mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Menikah? Dengan seorang Tuan Muda kaya raya yang lumpuh demi melunasi utang? Ini pasti gila. Jelas ini seperti cerita di dalam dongeng kuno yang gak masuk akal.

"Pak, maaf, tapi saya seorang fisioterapis, bukan wanita yang bisa dibeli dengan pernikahan kontrak—"

"Tolong pikirkan lagi kondisi ibumu, Nak Senjani," potong Pak Baskoro dengan nada tenang namun mematikan. "Waktu ibumu sudah tidak banyak. Dan saya tahu, kamu tidak punya pilihan lain selain harus menerima tawaran saya, jangan sampai membuat anda menyesal karena terlambat."

Senjani terdiam, jelas kalimat itu menampar realitasnya yang pahit. Pak Baskoro benar. Dia tidak punya pilihan lain.

...****************...

Tiga hari kemudian.

Senjani berdiri di depan sebuah pintu kamar kayu ek besar yang mewah di dalam rumah kediaman utama keluarga Nandotomo. Dia sudah mengenakan gaun pengantin putih yang sederhana namun sangat elegan. Pernikahan mereka baru saja dilangsungkan secara tertutup beberapa jam yang lalu.

Tanpa pesta dan jamuan, tanpa senyuman dan kebahagiaan. Hanya tanda tangan di atas kertas bermeterai.

Dengan tangan yang gemetar, Senjani memutar kenop pintu dengan hati-hati, ia melangkah masuk ke dalam kamar pengantin miliknya. Kamar itu luas, namun terasa sangat dingin dan temaram karena gorden yang tertutup dengan rapat.

Di sudut kamar dekat jendela, seorang pria duduk di atas kursi roda elektrik. Pria itu memiliki rahang yang tegas, paras yang luar biasa tampan, namun tatapan matanya seolah memancarkan kebencian mendalam kepada seluruh dunia. Jiro Nandotomo. Yang sekarang sudah menjadi suaminya.

Jiro memutar kursi rodanya perlahan, menghadap ke arah Senjani yang masih berdiri mematung di dekat pintu.

"Jadi, kamu wanita murahan yang dibeli oleh Kakek dengan uang miliaran itu?" ucap Jiro. Suaranya terdengar sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.

Senjani mencengkeram buket bunga di tangannya dengan erat. "Tuan Jiro, saya di sini sebagai—"

"DIAM!!!" Jiro membentak, membuat Senjani tersentak mundur ketakutan.

Jiro menatap Senjani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik dan merendahkan. Pria itu kemudian mengambil sebuah bantal di dekatnya, lalu melemparkannya dengan kasar tepat ke arah Senjani.

"Brak!" Bantal itu mengenai dada Senjani dengan kuat dan jatuh ke lantai.

"Sekarang juga kau keluar dari kamarku! Jangan pernah bermimpi untuk menyentuhku, dan jangan pernah berharap aku sudi menganggapmu sebagai istri di rumah ini, dasar wanita oportunis!" usir Jiro dengan napas memburu karena emosi.

Senjani menatap bantal di lantai, lalu menatap pria di atas kursi roda itu. Air matanya mulai menggenang, namun dia mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha menahannya. Karena, perjuangan nerakanya di rumah ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!