Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAISAR GILA
Aura tertegun, tapi bukannya terpesona atau tersanjung, tatapan mata Aura mendadak berubah makin dingin dan tajam, alis nya cantiknya bertaut rapat.
"Pria gila..." batin Aura, geram.
Aura menyunggingkan senyum sinis nya, menatap balik sang penguasa kekaisaran tanpa ada ketakutan sedikit pun.
"Kekuasaan di bawah kakiku?" ulang Aura dengan nada meremehkan yang sangat jelas.
"Anda salah menawar, Yang Mulia Kaisar," ucap Aura tegas, suaranya terdengar begitu lantang di dalam ruangan tertutup itu.
"Saya bisa berdiri tegak di atas kaki saya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Dan untuk menghabisi musuh-musuh saya? Saya tidak butuh kekuasaan Anda untuk melakukannya," lanjut Aura penuh penekanan, menolak mentah-mentah ucapan Kaisar Zane tepat di depan wajahnya.
Kaisar Zane menatap raut penolakan penuh keangkuhan dari gadis di depannya itu, sesuai dugaan nya, gadis bermulut tajam itu akan menolak, tapi bukannya marah karena tawaran nya ditantang, kilatan misterius di mata hitamnya justru makin pekat, membentuk senyum tipis yang amat dingin di bibirnya.
Kaisar Zane menyandarkan kembali punggungnya di kursi kereta, matanya sama sekali tidak lepas dari raut wajah Aura yang membara penuh harga diri.
"Jawaban yang sangat sombong, Lady Aura," ucap Kaisar Zane dingin, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
"Tapi justru itu yang membuat penawaran ku tidak berubah," lanjut sang Kaisar dengan nada datar tanpa beban.
Aura mendengus sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gaya angkuhnya yang biasa.
"Anda pikir saya bercanda, Yang Mulia?" tanya Aura tajam.
"Saya serius, saya tidak butuh pria mana pun untuk memberikan kekuasaan di bawah kaki saya. Saya bisa merebutnya sendiri jika saya mau," tegas Aura, menatap lurus ke dalam mata hitam yang mengintimidasi itu.
Kaisar Zane terkekeh pelan, sebuah tawa singkat yang terasa begitu berat dan dingin mengisi ruang kereta kuda.
"Aku tahu kamu mampu," ucap Kaisar Zane, santai.
"Tapi memiliki kekuasaan secara mandiri dan memiliki seluruh kekaisaran ini di pihakmu adalah dua hal yang berbeda," lanjut sang Kaisar, memajukan wajahnya sedikit lebih dekat pada Aura.
Aura menaikkan sebelah alisnya, sedikit pun tidak mundur dari jarak yang makin terkikis itu.
"Lalu? Anda pikir penawaran Anda itu terdengar seperti ajakan kerja sama yang manis?" sindir Aura pedas.
"Itu terdengar seperti Anda cuma menganggap saya sebagai wanita murahan, yang mau melakukan apapun demi kekuasaan, termasuk menjual harga diri saya sendiri," lanjut Aura dingin.
Kaisar Zane menatap Aura beberapa saat dalam keheningan yang cukup menekan, pria dewasa itu sama sekali tidak emosi mendengar ucapan berani dari gadis di depannya.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Lady Aura," jawab Kaisar Zane datar.
"Aku tidak suka membuang waktu dengan omong kosong romantis yang tidak berguna," lanjut sang Kaisar penuh penekanan.
Aura tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu renyah sekaligus meremehkan.
"Bagus kalau begitu," ucap Aura tersenyum miring.
"Karena saya juga tidak tertarik dengan omong kosong romantis Anda atau tawaran gila barusan," lanjut Aura menolak dengan sangat jelas.
Kaisar Zane menopang dagunya dengan satu tangan, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah cantik calon Permaisurinya itu.
"Kamu menolak ku sekarang," ucap Kaisar Zane dingin.
"Tapi pada akhirnya, kamu akan sadar kalau berjalan bersamaku adalah satu-satunya cara untuk membungkam seluruh bangsawan di kekaisaran ini tanpa perlu membuang banyak tenaga," lanjut pria bertubuh tinggi tegap itu dengan percaya diri.
Aura menyunggingkan senyum manis yang penuh racun, menatap Kaisar Zane dengan tatapan menantang.
"Kita lihat saja nanti, Yang Mulia, siapa yang akan datang merangkak, aku atau Anda sendiri," ucap Aura, tersenyum miring.
"Untuk saat ini, kesepakatan kita cuma sebatas politik dan membalas dendam. Jangan melangkah lebih jauh dari itu kalau Anda tidak mau saya menusuk Anda seperti yang saya lakukan pada Luis," ancam Aura penuh keberanian.
"Mencoba menusukku?" ulang Kaisar Zane pelan, mata elangnya berkilat berbahaya.
"Silakan coba kalau kamu sanggup, Lady Aura," tantang sang Kaisar balik dengan suara beratnya yang teramat dingin.
Aura mendengus, merapikan gaun birunya sembari menoleh ke arah jendela kereta yang tertutup rapat.
"Pembicaraan gila ini sudah selesai, kan? Saya mau turun sekarang," ucap Aura malas melayani kegilaan pria tua di hadapannya ini.
Kaisar Zane tidak melarang, pria itu memberikan dua kali ketukan pelan pada dinding kayu kereta sebagai kode untuk pengawalnya di luar.
Kereta kuda itu pun perlahan di buka, Nico dengan sigap membukakan pintu dari luar dan membungkuk hormat.
"Silakan, Lady Aura," ucap Nico sopan.
Aura berdiri dari duduknya, merapikan posisi gaunnya dengan sangat anggun, sebelum melangkah keluar, Aura menoleh sebentar pada Kaisar Zane yang masih menatapnya datar.
"Terima kasih atas tumpangannya yang sangat tidak menyenangkan ini, Yang Mulia," sindir Aura manis sebelum akhirnya melangkah turun dari kereta kuda kaisar.
Kaisar Zane hanya menatap punggung tegap Aura yang berjalan menuju keretanya sendiri dengan langkah angkuh.
"Gadis yang sangat keras kepala," gumam Kaisar Zane pelan, sudut bibirnya kembali berkedut membentuk senyuman tipis.
Aura melangkah masuk ke dalam kereta kudanya sendiri dengan wajah dinginnya.
Emosinya masih membakar dada mengingat kalimat tak beretika yang keluar dari mulut Kaisar Zane barusan.
Sora yang baru saja masuk mengekor di belakangnya langsung meringis pelan melihat raut wajah majikannya yang terlihat tidak bersahabat.
"N-Nona... Anda tidak apa-apa?" tanya Sora cemas, pelan-pelan menutup pintu kereta.
"Kaisar dingin itu benar-benar membuat kepalaku mau pecah, Sora," gerutu Aura kesal, mendaratkan tubuhnya di kursi beludru sembari bersedekap dada.
"Pria tua itu pikir dia bisa mengatur segalanya cuma karena dia seorang Kaisar? Cih, bermimpi saja!" omel Aura, kesal.
Glek
Sora menelan ludahnya susah payah, panik setengah mati mendengar majikannya mengomeli sang penguasa kekaisaran secara terang-terangan.
"Nona, pelankan suara Anda! Nanti ada prajurit yang dengar!" bisik Sora panik sembari mengamati luar jendela.
Aura mendengus sinis, mengibaskan tangannya acuh tak acuh.
"Biar saja dengar, aku tidak takut," jawab Aura santai.
Namun, raut kekesalan di wajah Aura perlahan memudar, berganti dengan senyuman miring yang begitu dingin dan mematikan, matanya menyipit tajam mengingat wajah histeris Elisabeth di kediaman Velis tadi.
"Sora," panggil Aura dengan nada suara yang mendadak berubah serius.
"I-iya, Nona?" jawab Sora sigap.
"Panggilkan Rian saat kita sampai di kediaman nanti," perintah Aura tegas.
"Tuan Rian, pengawal pribadi Anda?" tanya Sora menaikkan sebelah alisnya.
"Iya. Ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan hari ini juga," jawab Aura, dengan kilatan penuh dendam di matanya.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛