NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Selesai dengan ritual mandi yang melelahkan bagi keduanya, Tirta sudah berganti pakaian santai. Hari ini ia terpaksa meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan sedang sakit. Hanya karena mengurus satu pria keras kepala ini, ia sampai harus berbohong kepada kantornya.

Kini gadis itu berdiri di depan jendela, membuka tirai lebar-lebar hingga cahaya matahari masuk memenuhi kamar. Pemandangan di luar tampak begitu indah. Langit berwarna biru cerah dengan sinar mentari yang hangat menyapa halaman rumah.

Dari balik punggungnya, Marchel hanya terdiam menatap gadis yang mengenakan dress biru selutut itu. Hal yang selama ini begitu ia larang, kini justru ia izinkan dengan mudah. Bahkan hanya karena membuka tirai kamarnya, Tirta terlihat tersenyum begitu bahagia.

Apa sesederhana itu caranya membuatmu bahagia?

Sudut bibir Marchel terangkat tipis.

"Ayo kita bercukur!" Suara ceria Tirta membuyarkan lamunannya. Gadis itu mengangkat kotak kecil berisi alat cukur, krim cukur, serta handuk kecil yang sudah ia siapkan.

"Apa kamu benar-benar tidak marah kalau aku yang melakukannya?" tanyanya memastikan. Marchel menggeleng pelan.

"Apa pun keinginanmu akan aku turuti." Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ia sadari. Tirta sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menganggap pria itu sedang menggodanya lagi.

"Iya, iya. Jangan banyak bicara."

Ia lalu duduk di depan meja kaca, sementara Marchel sudah berpindah ke sofa panjang di kamarnya. Sebuah ember kecil berisi air hangat diletakkan di samping Tirta, lengkap dengan perlengkapan bercukur yang sudah tersusun rapi.

Senyum gadis itu tak kunjung hilang. Ini adalah pertama kalinya ia membantu seseorang bercukur, dan entah kenapa kegiatan sederhana itu terasa begitu menyenangkan.

"Siap?" tanya Tirta sembari mengambil sedikit krim cukur.

"Iya...." Marchel mengangguk pelan. Ini juga pertama kalinya ia membiarkan seseorang mengubah penampilannya.

Dulu, bahkan saat masih bersama Rachel, mantan kekasihnya, ia tidak pernah mengizinkan siapa pun ikut campur dalam urusan penampilan.

Namun hari ini berbeda.

Ia rela memangkas habis janggut dan kumis yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya.

Dan lebih gilanya lagi...

Ia mempercayakan semuanya kepada seorang pemula.

Tirta mulai mengoleskan krim cukur ke sepanjang rahang Marchel. Jemarinya bergerak perlahan hingga membuat dirinya sendiri geli.

"Ini sudah sepanjang janggut Santa Claus. Lama-lama kamu benar-benar bisa jadi Santa." Ucapnya sambil tertawa kecil. Karena posisi mereka cukup berjauhan, Tirta beberapa kali harus memajukan tubuhnya agar bisa menjangkau sisi wajah pria itu.

"Kalau aku jadi Santa..." Marchel menatap wajah Tirta tanpa berkedip. "Apa hadiah Natal yang akan kamu minta?"

"Aku?" Tirta berpikir sebentar.

"Aku minta uang yang banyak." Jawabannya membuat Marchel ikut tertawa.

Benar saja.

Seperti kebanyakan orang.

"Menurutmu... uang bisa membeli segalanya?" Pertanyaan itu terdengar jauh lebih serius.

"Hmm...." Tirta menghentikan tangannya sejenak.

"Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Tapi... hampir semua hal tetap membutuhkan uang." Jawaban itu membuat Marchel tersenyum tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meraih pergelangan tangan Tirta.

"Kemarilah." Dengan lembut ia menarik gadis itu hingga berdiri, lalu mendudukkannya di pangkuannya.

Anehnya...

Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa canggung. Tirta duduk menyamping di atas paha Marchel. Kedua kakinya menjuntai ke sisi sofa, sementara tangannya kembali mengambil alat cukur dan mulai mengarahkannya ke wajah pria itu.

"Apa kamu takut?" tanya Tirta sambil mulai mencukur perlahan. "Atau kamu gugup?" Saat itu kedua tangan Marchel perlahan melingkar di pinggangnya agar posisi Tirta tetap seimbang. Namun dasar gadis tidak peka. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan sikap pria itu.

"Sedikit." Jawab Marchel lirih.

Padahal yang membuatnya gugup bukanlah alat cukur di tangan Tirta. Melainkan gadis yang sedang duduk nyaman di pangkuannya. Sekarang justru ia menyesali keputusannya sendiri. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya.

Tirta yang melihat Marchel tiba-tiba menjadi pendiam hanya mengira pria itu benar-benar takut. Dengan lembut ia menyibakkan rambut yang menutupi telinga Marchel, lalu menyelipkannya ke belakang agar tidak terkena krim cukur. Sentuhan lembut itu membuat tubuh Marchel menegang. Panas menjalar begitu cepat ke seluruh tubuhnya.

"Akh...." Suara tertahan itu langsung membuat Tirta refleks menjauhkan alat cukurnya.

"Maaf!" Wajah gadis itu langsung pucat.

"Apa aku melukaimu?" Ia buru-buru memeriksa rahang Marchel yang baru setengah dicukur.

Tak ada luka.

Tak ada darah.

Marchel hanya memejamkan mata rapat sambil mengatur napasnya. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

Tirta semakin panik. Ia langsung melempar alat cukur ke dalam ember, lalu memegang wajah pria itu dengan cemas.

"Di mana yang sakit? Coba bilang padaku." Marchel hanya menggeleng pelan.

"Jangan bergerak...." Tangannya justru semakin erat melingkari pinggang Tirta.

"Aku mohon."

"Baik... aku tidak bergerak." Suara Tirta mulai bergetar.

"Tapi bilang padaku, bagian mana yang sakit? Apa perlu aku telepon dokter?"

"Tidak usah...." Marchel menjawab lirih.

Dengan susah payah ia mengulurkan tangan kanannya dan menekan tombol kecil di sisi sofa. Tangannya yang lain sama sekali tidak melepaskan Tirta.

Beberapa saat kemudian...

Pintu kamar terbuka. Arga bersama dokter pribadi Marchel masuk dengan napas tersengal, seolah berlari dari lantai bawah.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Arga bertanya panik. Melihat mereka datang, Tirta langsung merasa sedikit lega.

"Aku tidak tahu, Kak." Matanya mulai berkaca-kaca.

"Marchel tiba-tiba berteriak kesakitan. Aku pikir aku melukainya dengan pisau cukur, tapi aku sudah mencari dan tidak ada luka sama sekali." Suara Tirta mulai dipenuhi rasa bersalah.

Arga dan sang dokter saling bertukar pandang. Lalu keduanya menoleh kepada Marchel. Pria itu hanya membuka sebelah matanya dan memberi isyarat halus ke arah bawah. Seketika ekspresi Arga membeku. Sementara sang dokter hanya menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya.

Marchel kembali menarik Tirta lebih dekat hingga wajahnya tenggelam di ceruk leher gadis itu. Tirta yang sama sekali tidak mengerti hanya mengusap punggung pria itu perlahan, berusaha menenangkannya. Berbeda dengan Arga dan dokter yang kini sama-sama menahan tawa. Arga bahkan sampai menutup mulutnya karena hampir tertawa keras.

"Kak! Dok!" Bentakan Tirta membuat keduanya tersentak.

"Kenapa kalian malah diam? Tolong bantu aku! Kasihan Marchel, dia benar-benar kesakitan!" Dokter itu akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menatap Tirta dengan wajah yang sulit dijelaskan antara kagum dan geli.

"Aku memang dokter..."

"Tapi kali ini bukan aku yang bisa menyembuhkannya." Tatapannya beralih kepada Marchel yang masih memeluk Tirta erat.

"Orang yang bisa menyembuhkannya..." Sang dokter tersenyum tipis.

"...hanya kamu, Tirta."

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!