NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pusat perbelanjaan yang sejak tadi dipenuhi suara tawa dan percakapan pengunjung mendadak terasa berbeda bagi Dara dan Gavin.

Beberapa meter di depan mereka, Kiara berdiri sambil menggandeng lengan seorang pria berpenampilan urakan. Rambut pria itu dicat kecokelatan, jaket kulit hitam menggantung di tubuhnya. Pria itu memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil mengunyah permen karet.

Kiara menatap Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot matanya dipenuhi rasa iri.

Blus sederhana yang dikenakan Dara terlihat anggun. Rambutnya tertata rapi. Riasan tipis membuat wajah sepupunya tampak semakin cantik. Penampilan itu benar-benar berbeda dari Dara yang dulu selalu memakai baju bekas miliknya.

Rasa iri di dalam dada Kiara semakin membesar. Ia lalu menyunggingkan senyum sinis.

"Eh, Si Pincang."

Ucapan itu membuat langkah Dara berhenti. Julukan yang sudah lama tidak didengarnya kini kembali menusuk telinganya.

Gavin langsung menoleh tajam. Sorot matanya berubah dingin.

"Jaga ucapanmu!" Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.

Kiara justru tertawa kecil. "Lho? Salah ya? Memangnya dia tidak pincang?"

Bobby ikut menyeringai sambil melirik kaki Dara.

"Kasihan juga. Tapi benaran kakinya pincang."

Rahangan Gavin mengeras. Tangannya sampai mengepal tanpa sadar.

Dara yang berdiri di sampingnya langsung menyentuh pelan punggung tangan sang suami. "Aa."

Gavin menoleh.

Tatapan Dara begitu tenang dan suaranya juga pelan. "Biarkan aku."

Gavin mengernyit. "Tapi ...."

Dara menggeleng pelan. "Aku kenal siapa Kiara. Kalau Aa yang bicara, nanti dia akan memutarbalikkan keadaan. Dia akan merasa dirinya korban."

Gavin masih tampak menahan emosi. Namun, akhirnya ia menarik napas panjang. Ia memercayai istrinya.

Dara melangkah satu langkah ke depan. Wajahnya tetap tenang. Tak sedikit pun terlihat marah.

"Kiara."

"Iya?"

"Sudah selesai menghinanya?"

Kiara mengangkat dagunya. "Belum."

Dengan tatapan penuh ejekan, Kiara lantas berbicara, "Kamu berubah, ya? Dulu miskin. Sekarang setelah menikah sama orang kaya, langsung dandan seperti nona besar."

Tatapan Kiara kembali menyapu tubuh Dara. "Enak, ya. Hidupmu berubah gara-gara menikah."

Dara hanya tersenyum tipis. "Alhamdulillah."

Jawaban itu justru membuat Kiara kesal. "Kamu bangga?"

"Kenapa tidak?" balas Dara masih tersenyum manis. "Suamiku bekerja keras. Aku juga berusaha menjadi istri yang baik."

Kiara mendengus. "Kalau bukan karena orang tuaku yang membesarkanmu. Kamu mana mungkin hidup sampai sekarang? Kamu itu nggak tahu diri dan nggak tahu balas budi."

Ucapan itu membuat beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka. Suasana lorong mal mendadak menjadi canggung.

Namun, Dara tetap berdiri tenang. Ia menatap mata Kiara tanpa sedikit pun meninggikan suara.

"Kiara. Aku mau tanya."

"Apa?"

"Waktu kecil, siapa yang setiap selesai sekolah langsung membantu memasak?"

Kiara terdiam.

"Siapa yang mencuci pakaian sekeluarga?"

Kiara diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka Dara akan mengatakan hal itu.

"Siapa yang menyapu, mengepel, mencuci piring, membersihkan rumah setiap hari?"

Kiara mulai kehilangan senyum sinisnya. Bobby pun ikut terdiam seperti patung.

Dara melanjutkan dengan suara yang tetap lembut. "Siapa yang setiap musim panen ikut memetik teh sejak masih remaja? Siapa yang menerima upah tiap gajian menyerahkan seluruh uangnya kepada Bibi Tina?"

Wajah Kiara mulai berubah. "Itu ...."

Dara tidak memberinya kesempatan menyela. "Kalau memang Paman dan Bibi membesarkanku dengan kasih sayang, kenapa semua hasil kerjaku harus diserahkan kepada mereka? Kenapa aku selalu memakai baju bekasmu? Kenapa aku tidak pernah dibelikan pakaian baru?"

Kiara menggertakkan gigi. "Itu karena ...." Dia terlihat bingung mau membalas apa.

"Karena apa?" Dara masih tersenyum. "Tolong jelaskan. Biar semua orang di sini juga tahu."

Kiara membuka mulut. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar.

Dara kembali berkata pelan. "Aku tidak pernah melupakan bahwa aku tinggal di rumah peninggalan Kakek yang jadi milik Paman dan Bibi. Aku juga bersyukur karena masih diberi tempat berteduh. Tidak diusir setelah Nenek meninggal. Tapi, itu bukan berarti aku harus menutup mata terhadap semua yang benar-benar terjadi."

Tatapan Dara tetap teduh. "Aku bekerja. Aku membantu rumah. Aku memberikan uang hasil kerja buruh serabutan. Jadi jangan katakan aku tidak tahu membalas budi. Karena sejak kecil aku sudah membalasnya dengan tenagaku."

Kalimat itu membuat beberapa orang yang sejak tadi memperhatikan mulai saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar jelas.

Wajah Kiara semakin memerah. Bobby yang sejak tadi hanya diam mulai merasa tidak nyaman.

Pemuda itu berbisik pelan. "Sayang. Sudahlah."

Kiara langsung menyentaknya. "Diam!"

Namun, Dara belum selesai. Ia menatap sepupunya dengan penuh ketenangan.

"Kiara. Aku tidak pernah iri kepadamu. Dulu kamu punya banyak baju. Aku memakai baju bekasmu. Aku tidak pernah mengeluh."

"Kamu sekolah dengan tenang. Sementara aku harus bekerja sepulang sekolah. Aku juga tidak pernah iri," lanjut Dara. Ia menarik napas pelan. "Tapi sekarang, kenapa justru kamu yang terlihat tidak bisa menerima kebahagiaanku?"

Pertanyaan itu membuat Kiara membeku. Ia tidak mampu membalas. Karena semua yang dikatakan Dara adalah kenyataan.

Gavin yang sejak tadi berdiri di samping istrinya hanya menatap dengan kagum. Ia sempat mengira Dara akan menangis atau membalas dengan kemarahan. Namun, ternyata tidak.

Istrinya memilih mengatakan kebenaran, tanpa bentakan atau makian. Akan tetapi, setiap kalimat yang keluar begitu tepat hingga membuat lawan bicara kehilangan kata-kata.

"Luar biasa," batin Gavin. "Dara jauh lebih kuat daripada yang selama ini kukira."

Kiara mengepalkan kedua tangannya. Dadanya naik turun menahan malu. Ia merasa semua mata sedang memandang rendah dirinya.

Dengan suara yang mulai bergetar, ia mencoba mempertahankan harga dirinya. "Kamu berubah sombong sejak jadi istri orang kaya."

"Bukan." Dara tersenyum kecil. "Yang berubah hanya kehidupanku, tapi hatiku tetap sama. Aku masih Dara yang dulu."

"Bedanya, sekarang aku belajar menghargai diriku sendiri," lanjut Dara dengan penuh percaya diri.

Kalimat itu menghantam hati Kiara jauh lebih keras daripada bentakan apa pun. Tanpa mampu berkata apa-apa lagi, Kiara menggertakkan giginya, berbalik dengan kesal, lalu menarik lengan Bobby.

"Ayo!"

Mereka pergi dengan langkah cepat meninggalkan Dara dan Gavin.

Setelah bayangan Kiara menghilang di balik keramaian mal, Gavin menoleh kepada istrinya. Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kamu hebat."

Dara menatap Gavin sambil tersenyum malu. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Aa."

Gavin mengangguk pelan. Lalu, tanpa ragu, ia menggenggam tangan Dara.

Kali ini bukan karena sedang "latihan kencan" seperti yang mereka baca di internet.

Melainkan karena ia benar-benar ingin menunjukkan bahwa, mulai hari itu, istrinya tidak akan lagi menghadapi semua luka itu seorang diri.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
Sugiharti Rusli
dan sejak dulu Dara bahkan tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri dan diberikan oleh paman dan bibinya kan,,,
Sugiharti Rusli
rumah itu milik kakeknya, jadi dia juga memiliki hak yang sama buat tinggal sebagai pengganti ortunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!