"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Kael
"Tiga menit. Kalau kau gagal meretas kuncinya, bahan termit ini akan melelehkan seluruh brankas beserta kepala kalian," kekeh Zero melalui panggilannya.
Klik! Panggilan terputus, menyisakan suara dengung stasioner yang senyap di dalam ruang basement.
Nora menutup mulutnya erat-erat, matanya berair menatap layar timer digital pada brankas yang mulai membilang mundur.
"N-Nio... d-dia tidak main-main... peledak itu..." rintih Nora gemetar hebat, menekurkan kepala di dekat siku Nio.
"Gak usah banyak bicara. Pegang senter ini dan jangan goyang sedikit pun," pangkas Nio dingin dan dominan.
"Ngh... i-iya Nio... aku pegang... aku tidak akan goyang..." sahut Nora pasrah, menunduk tunduk menuruti perintah.
Nio mengeluarkan jarum koperet dan transmiter nirkabel dari sakunya, lalu menyuntikkannya ke sirkuit biomekanis brankas.
Jemari tangannya yang lain meraba tekstur selembar kertas kosong di saku pakaiannya, menjaga ketenangan otaknya.
'Cih! Trik peledak termit murahan begini cuma gertakan buat amatiran!' batin Nio menggeram.
Nio memutar frekuensi gelombang mikro pada laptopnya, memicu respon balik dari modul kunci brankas.
Bip! Bip! Bip!
Timer digital mendadak berhenti pada angka 00:07, sebelum engsel baja tebal brankas terlepas dengan bunyi dentang berat.
"K-berhasil... Nio, kamu berhasil!!" jerit Nora histeris bercampur lega, hendak memeluk Nio namun ditahan oleh Nio.
"Tahan emosimu. Ambil dokumen pelat mikro di dalam brankas itu sekarang," perintah Nio datar.
Nora dengan cepat menyambar pelat mikro berlapis kaca kedap udara yang tersimpan rapi di dalam rongga brankas.
Mereka bergerak cepat keluar dari Gedung Arsip Sipil menembus kegelapan malam, menyusuri gang-gang kecil kota.
Tiga puluh menit kemudian, mobil tua yang dikendarai Nio meluncur pelan menuju jalanan di bawah kedai kopi milik Kael.
Pendar redup lampu jalanan memantulkan bayangan amorf dari deretan bangunan tua yang sepi dan lembap.
Namun, sebelum mobil Nio sempat berbelok ke pelataran kedai, sinyal darurat berkode tiga kali berkedip dari lantai dua.
Nio menekan rem mendadak, menghentikan mobil di balik bayangan sudut gang sempit yang gelap.
"N-Nio... kenapa berhenti? Kedai Paman Kael kan di depan sana..." tanya Nora heran dengan dahi berkerut.
"Ada anomali di sekitar kedai. Kael menyalakan lampu peringatan darurat," sahut Nio tajam.
Nio mengamati spion luar, memperhatikan tiga pria berjas gelap yang berdiri tegak di depan pintu kedai Kael.
Satu pria bertubuh kekar berdiri membelakangi jalan, sementara dua lainnya mengawasi setiap sudut gang dengan tatapan dingin.
"M-mereka siapa, Nio? Apa mereka anak buah Zero lagi?!" bisik Nora ketakutan sambil merapat ke lengan Nio.
"Bukan. Pakaian dan gestur mereka terlalu rapi untuk kroco jalanan milik Zero," pangkas Nio analisis.
Ponsel di dalam saku Nio bergetar pelan, menampilkan nama Kael di layar yang berkedip samar.
Nio menggeser tombol hijau lalu menempelkannya ke telinga tanpa mengeluarkannya dari kegelapan mobil.
"Paman. Siapa orang-orang berjas di depan kedai?" tanya Nio langsung pada intinya.
"Nio! JANGAN MENDEKAT KE KEDAI!! MEREKA BUKAN ORANG BISAAN!!" bisik Kael terengah-engah dari seberang telepon.
"Gue bisa membereskan mereka dalam lima menit kalau Paman terdesak," sahut Nio tenang.
"JANGAN GILA, NIO!! Orang-orang ini berasal dari konsorsium pejabat tinggi kota!!" bentak Kael menahan suara.
Nio menaikkan sebelah alisnya, meraba kertas kosong di sakunya saat mendengar istilah konsorsium tersebut.
'Hah?! Jadi kasus penghilangan eksistensi ini membentang sampai ke elit birokrasi kota?!' batin Nio terkejut.
"Apa hubungan mereka sama Zero, Paman?" tanya Nio mengejar informasi.
"Zero itu cuma 'eksekutor' yang mereka sewa untuk membersihkan dokumen dan saksi kunci kejahatan mereka!" jelas Kael.
"Lalu kenapa mereka mengincar kedai Paman sekarang?" sela Nio penasaran.
"Pergerakanmu membongkar brankas di gedung arsip tadi membuat mereka panik, Nak!" seru Kael cemas.
Kael menghela napas berat, terdengar suara gesekan kursi kayu dari saluran telepon tersebut.
"Mereka tahu ada pakar data nirnama yang sedang merekonstruksi data korban Zero," lanjut Kael pelan.
"Mereka mau beli data itu, atau membumihanguskan siapa pun yang memegangnya?" tebak Nio sinis.
"MEREKA MAU MENGELIMINASI SEMUA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA, NIO!!" bentak Kael tegas.
Nora yang mendengar samar-samar bentakan Kael di telepon mendadak memucat, menggigit bibir bawahnya erat-erat.
"N-Nio... kalau pejabat-pejabat itu terlibat... a-apa adikku Milo sebenarnya korban kejahatan mereka...?" rintih Nora.
Nio meletakkan telapak tangannya di atas paha Nora, menekan pelan untuk mengendalikan kepanikan cewek itu.
"Sembunyikan kepalamu di bawah dasbor. Jangan buat gerakan sekecil apa pun," perintah Nio dominan.
"Ngh... i-iya Nio... aku sembunyi... aku dengar katamu..." sahut Nora pasrah, menunduk merapat ke lantai mobil.
Nio kembali memfokuskan perhatiannya pada telepon bersama Kael di ujung sana.
"Paman aman di dalam? Perlu gue tarik Paman keluar dari sana?" tanyak Nio memastikan keselamatan Kael.
"Aku tua-tua begini masih punya penyangkalan buat menghadapi gertakan pejabat busuk, Nio," kekeh Kael pahit.
"Bagus. Bereskan masalah di kedai tanpa memicu tembakan," pangkas Nio.
"Nio... dengarkan peringatan terakhirku ini baik-baik," sela Kael dengan nada bicara yang mendadak sangat serius.
Keheningan pekat seolah menekan ruang mobil saat Nio menunggu kelanjutan kalimat pria tua itu.
"Ini bukan lagi soal mencari nama adik gadis di sampingmu atau membongkar kejahatan Zero," ujar Kael pelan.
"Lalu soal apa?" tanya Nio rendah.
"Kau sedang mengusik fondasi kekuasaan kota ini. Jika kau terus maju, kau tidak hanya akan kehilangan ingatan..."
Kael menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan penekanan kata demi kata yang tajam.
"...kau akan tereliminasi secara total dari duni nyata, tanpa meninggalkan residu nama sedikit pun!" pangkas Kael.
Nio menyunggingkan senyum sinis di balik kegelapan mobil, meremas kertas kosong di sakunya dengan makin kuat.
"Gue memang gak punya nama untuk dihapus, Paman. Justru mereka yang harus takut sama orang nirnama," sahut Nio.
"Cih! Dasar anak muda keras kepala. Amankan pelat mikro itu dan pergi ke perlindungan Sektor Sembilan!" seru Kael.
Klik! Kael memutus sambungan telepon untuk menghadapi orang-orang berjas yang mulai mengetok pintu kedainya.
Nio memutar kemudi mobil dengan gerakan cepat, menjauh dari area kedai Kael tanpa memicu kecurigaan.
Mobil meluncur menembus keheningan kota malam yang terasa kian asing dan mencekam.
"N-Nio... sekarang kita mau kemana...?" tanya Nora pelan, menyembulkan kepalanya dari bawah dasbor.
"Sektor Sembilan. Kita bongkar pelat mikro ini dan jemput adikmu di stasiun induk," jawab Nio mantap.
Nora menatap profil wajah Nio dari samping, terpesona oleh aura ketenangan dan keberanian tanpa batas pria itu.
'Di saat seluruh dunia bersekongkol menghapus kami... dia berdiri bagai benteng tak tertembus,' batin Nora pasrah.
Nora menyandarkan kepalanya di bahu Nio, meletakkan tangannya di atas tangan Nio yang sedang memegang kemudi.
"A-aku percayakan seluruh eksistensi hidupku padamu, Nio..." bisik Nora lembut dengan nada tunduk mutlak.
"Simpan tenaga lu. Pertempuran sebenarnya baru dimulai saat kita menginjakkan kaki di Sektor Sembilan," pangkas Nio.
Namun, saat mobil mereka baru saja menyeberangi jembatan batas sektor, sebuah lampu sorot raksasa mendadak menyala dari atas helikopter patroli.
Suara sirine berdengung keras membelah langit malam, disusul barikade kendaraan taktis yang membendung seluruh badan jalan di depan.