NovelToon NovelToon
SEMUA SALAH BUNDA

SEMUA SALAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
​Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
​Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
​Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
​Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
​Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
​Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YOVANA BAGIAN 2

​Hari keberangkatan Zain terasa begitu biasa bagi Bunda, tetapi menjadi siksaan yang teramat berat bagi Yovana.

​Bunda sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menghancurkan hidup putrinya. Bagi Bunda, Yovana hanya seorang remaja 17 tahun yang sedang mengalami masa-masa sensitif atau lelah karena urusan sekolah. Setiap kali melihat Yovana lebih banyak berdiam diri di kamar, Bunda hanya memaklumi dan menganggapnya sebagai fase pubertas biasa.

​Pagi itu, Yovana sedang membantu Bunda menyapu halaman saat Zain melangkah keluar rumah. Seketika itu juga, gerakan menyapu Yovana terhenti. Tubuhnya kaku.

​Bunda yang melihat Yovana melamun hanya tersenyum tipis. “Kamu kenapa, Nak? Kok melamun?”

​Yovana buru-buru menyapu kembali, menundukkan kepala dalam-dalam. “Enggak apa-apa, Bun. Cuma capek.”

​“Ya sudah, habis ini kamu istirahat di kamar saja,” kata Bunda hangat, sama sekali tidak menangkap ketakutan hebat yang tersembunyi di balik mata anak gadisnya.

​Siang menjelang sore, ponsel Zain berdering. Bunda sedang berada di dapur menyiapkan makan malam, sementara Yovana duduk kaku di sudut ruang tengah.

​Zain mengangkat telepon singkat, lalu menghampiri Bunda di dapur. “Saya ada panggilan tugas dari kantor. Harus berangkat ke luar daerah nanti malam.”

​Bunda mengerutkan kening, sedikit terkejut. “Nanti malam? Berapa lama?”

​“Belum tahu. Kalau pekerjaan cepat selesai, saya langsung pulang.”

​Di ruang tengah, Yovana mendengar percakapan itu. Nanti malam. Zain bakal pergi. Untuk sejenak, ada secercah harapan rapuh yang muncul di dadanya. Namun, harapan itu seketika sirnah saat Zain berjalan melewati ruang tengah dan memberikan tatapan dingin yang penuh intimidasi padanya. Yovana langsung merapatkan tubuhnya ke kursi, tak berani bernapas lega.

​Sisa sore itu berlalu seperti biasa. Bunda sibuk membantu Zain menyiapkan pakaian ke dalam tas, merasa sedih karena harus ditinggal tugas lagi. Bunda sama sekali tidak tahu bahwa di dalam kamar sebelah, Yovana sedang menghitung detik demi detik dengan jantung yang berdebar kencang.

​Menjelang malam, Bunda pamit keluar rumah sebentar untuk mengembalikan wadah makanan ke rumah Bu Sari.

​“Bunda ke rumah Bu Sari sebentar ya, Nak. Cuma lima menit,” pamit Bunda dari balik pintu kamar Yovana.

​“Iya, Bun,” sahut Yovana lirih.

​Pintu depan terdengar ditutup. Rumah itu seketika menjadi hening. Yovana duduk di tepi tempat tidur, berdoa dalam hati agar Bunda cepat kembali.

​Namun, hanya berselang dua menit, ketukan yang paling ditakutinya terdengar di pintu kamar.

​Tok. Tok. Tok.

​Tubuh Yovana seketika membeku.

​“Yovana.” Suara Zain terdengar dari luar.

​Yovana tidak menjawab. Tangannya meremas kain seprai rapat-rapat.

​“Buka pintunya. Bicara sebentar.”

​“Aku... aku enggak mau,” bisik Yovana dengan suara gemetar.

​Ketukan itu berganti menjadi dorongan keras. “Buka. Sebelum Bunda kamu pulang.”

​Yovana tidak punya pilihan dan tidak punya kekuatan untuk melawan. Di dalam rumah yang sepi itu, sebelum melangkahkan kaki untuk pergi keluar daerah, Zain kembali melakukan aksi kekerasan dan intimidasi terakhirnya pada Yovana.

​Tidak ada suara jeritan yang keluar. Tidak ada saksi. Teror dan ancaman yang ditanamkan Zain selama ini telah berhasil melumpuhkan Yovana sepenuhnya. Yang tersisa hanya ruangan dingin itu dan keputusasaan Yovana yang makin dalam.

​Ketika semuanya berakhir dan langkah kaki Zain akhirnya menjauh keluar dari kamarnya, Yovana hanya bisa meringkuk di lantai. Matanya menatap kosong ke dinding. Hatinya telah pecah menjadi kepingan yang tak mungkin bisa disatukan lagi. Rasa takut yang selama ini menggerogotinya perlahan berubah menjadi kehampaan yang dingin.

​Tak lama kemudian, Bunda pulang. Suara ramahnya terdengar mengisi rumah.

​Zain berakting dengan sangat sempurna, pamit pada Bunda seperti suami yang penuh perhatian. Bunda mengantarnya sampai ke depan pintu, memeluknya, dan mendoakan perjalanannya. Dari balik tirai kamar, Yovana melihat momen itu dengan mata yang tak lagi meneteskan air mata. Air matanya sudah habis.

​Mobil yang membawa Zain akhirnya melaju dan menghilang di kegelapan malam.

​Malam semakin larut. Bunda sempat mengetuk pintu kamar Yovana. “Nak, Bunda masuk ya?”

​Yovana sudah berada di atas tempat tidur, menyelimuti seluruh tubuhnya dan membelakangi pintu. “Aku udah mau tidur, Bun.”

​Bunda tersenyum dari ambang pintu, merasa tenang karena mengira putrinya hanya sedang tertidur lelap. “Ya sudah, selamat tidur ya, Sayang.”

​Pintu ditutup rapat. Bunda kembali ke kamarnya untuk tidur, benar-benar tidak menyadari bahwa di kamar sebelah, jiwa anaknya sedang sekarat.

​Setelah suasana rumah benar-benar sunyi, Yovana perlahan duduk. Ia mengambil buku catatan kecil yang selama ini menjadi tempatnya menampung penderitaan. Tangannya yang gemetar meraih pena.

​Ia tidak lagi menulis kalimat ketakutan. Kali ini, jemarinya bergerak menuliskan kalimat terakhir dengan kepasrahan yang teramat dingin:

​Aku udah enggak sanggup lagi.

Maafin Yovana, Bun.

​Yovana menutup buku itu pelan, meletakkannya di atas meja belajar. Ia menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat, lalu beralih menatap langit-langit kamar.

​Malam itu, dalam kesendirian dan kegelapan yang mencekam, Yovana akhirnya membuat keputusan terakhirnya—sebuah jalan keluar tragis untuk mengakhiri penderitaan panjang yang tak pernah diketahui oleh siapa pun.

1
andhig Rosdiana
terimakasih udah mampir dikarya aku jangan lupa udah rilis karya terbaru aku ya ...tumbal prewangan.😍
andhig Rosdiana
novel aku bab nya nggak banyak ya ringkas jelas padat dan selesai 🥰
andhig Rosdiana
yuk say ...udah mulai rilis LG novel genre misteri horor aku ya ... jangan lupa👍dan komentar ya say ...supaya bisa semngat update nya 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!