NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Pembersihan Duri di Anak Perusahaan

Dentuman pintu ganda lorong direksi yang terbuka lebar bergema dahsyat di seluruh penjuru lantai lima. Udara di dalam ruang wawancara mendadak terasa begitu membeku, sarat akan tekanan intimasi yang luar biasa tebal. Dua satpam yang hampir mencengkeram lengan Alya mendadak menghentikan gerakannya, mematung dengan wajah pucat.

Dari balik pintu, sekelompok pria berkemeja hitam rapi melangkah masuk dengan barisan yang presisi. Di tengah-tengah pengawalan ketat itu, berjalan seorang pria berpostur tegap dengan jas abu-alunya yang elegan. Langkah kakinya yang tenang namun mantap memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup merundukkan siapa saja.

Pria itu adalah Reno. Di sampingnya, Bagas melangkah tegap sambil membawa lembaran berkas tebal di dalam map kulit hitam.

Alya menahan napas. Matanya terbelalak menatap sosok pria yang selama tiga tahun ini tidur di kamar sempit rumahnya, pria yang dulunya selalu mengenakan celemek dan menyiapkan sarapan untuknya. Kini, Reno berdiri di sana bagaikan penguasa tertinggi yang menatap dunia dari puncaknya.

Dion, yang belum menyadari siapa sosok di hadapannya, menyapu pandangannya dengan bingung. Namun, ketika ia melihat lencana khusus berlogo Naga Hitam yang menyala di kerah jas Bagas, jantungnya mendadak berdegup kencang seperti dihantam palu besar.

"Si—Siapa kalian?!" bentak Dion, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara lantang. "Ini ruang wawancara privat Perusahaan Zena! Berani sekali kalian menerobos masuk tanpa izin?!"

Bagas melangkah maju satu langkah. Matanya menatap Dion dengan dingin, seolah menatap seekor serangga kecil yang tak berarti.

"Perusahaan Zena?" suara Bagas terdengar berat dan tegas. "Mulai dua hari yang lalu, Perusahaan Zena telah dibeli secara tunai oleh Konsorsium Naga Hitam. Dan pria yang berdiri di hadapanmu saat ini..." Bagas membungkukkan badannya 90 derajat ke arah Reno, "...adalah pemilik tunggal dari Konsorsium Naga Hitam sekaligus pemilik baru perusahaan ini, Tuan Muda Reno."

*DEG!*

Kata-kata Bagas bagaikan petir di siang bolong yang menghantam tepat di atas kepala Dion. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas. Wajah Dion yang tadinya memerah penuh amarah kini berubah pucat pasi, tak berdarah.

"Penguasa... Naga Hitam?" bisik Dion dengan bibir gemetar. Ia tahu betul reputasi mengerikan dari klan raksasa tersebut—sebuah kekuatan yang sanggup meruntuhkan perekonomian suatu kota hanya dalam hitungan menit.

Namun, kepanikan Dion seketika tertutupi oleh sifat liciknya. Matanya melirik Alya yang berdiri tak jauh dari sana. Dalam otaknya yang picik, ia berpikir bahwa Reno belum tahu apa yang terjadi di dalam ruangan ini. Dion buru-buru menyusun skenario manipulatif untuk menyelamatkan posisinya.

Dion membungkuk dalam-dalam di hadapan Reno, memasang raut wajah penuh kedukaan dan kesetiaan yang dibuat-buat.

"Tuan... Tuan Muda Reno!" seru Dion dengan nada gemetar penuh kepura-puraan. "Selamat datang di Perusahaan Zena! Suatu kehormatan luar biasa bagi kami! Maafkan kekacauan ini, Tuan Muda. Wanita ini..." Dion menunjuk Alya dengan jari gemetar, "...wanita ini datang melamar pekerjaan, tetapi ia sama sekali tidak memiliki tata krama! Ia mencoba memeras saya demi mendapatkan posisi Manajer Proyek, dan ketika saya menolaknya secara profesional, dia justru menampar saya dan menyerang saya!"

Dion mengusap pipinya yang masih memerah, berpura-pura menjadi korban yang teraniaya. "Saya hanya berusaha melindungi nama baik dan aset Perusahaan Zena dari pelamar tak tahu diri seperti dia, Tuan Muda! Mohon serahkan wanita ini kepada pihak berwajib!"

Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Hatinya membara mendengar kebohongan yang begitu telanjang keluar dari mulut Dion. Ia menatap Reno, mencoba melihat reaksi pria itu. Ada rasa cemas yang menyelusup di dada Alya: *Apakah Reno akan mempercayai fitnah manajer ini? Apakah Reno membencinya begitu dalam hingga akan membiarkannya hancur?*

Reno sama sekali tidak memandang Dion. Pandangan matanya yang tajam melintas pelan, menatap Alya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Saat melihat jejak kegugupan di mata mantan istrinya, tatapan Reno sedikit melunak, meski raut wajahnya tetap sedingin es.

Reno memutar tubuhnya perlahan ke arah Dion. "Menyerangmu? Memerasmu?" suara Reno begitu rendah, namun mengandung tekanan yang membuat udara di dalam ruangan terasa semakin berat.

"Benar, Tuan Muda! Semua yang saya katakan adalah kebenaran!" tegas Dion penuh keyakinan, mengira kebohongannya berhasil menipu sang penguasa.

Reno mengisyaratkan tangannya pada Bagas.

Bagas tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh ejekan. Ia mengeluarkan sebuah perangkat perekam suara berteknologi tinggi dari saku jasnya dan menekan tombol *play*.

*Klik.*

Suara rekaman digital yang sangat jernih mendadak bergema memenuhi seluruh ruangan wawancara:

*"...Maksudku sangat sederhana. Posisi Manajer Proyek ini memiliki gaji puluhan juta per bulan... Jadilah wanitaku. Temani aku beberapa malam dalam seminggu, dan semua masalah finansialmu akan selesai..."*

Suara ajakan penuh nafsu milik Dion terpancar jelas tanpa cela, disusul oleh suara tamparan nyaring Alya dan makian Dion yang menuduh Alya secara sepihak.

Mendengar suaranya sendiri berputar di udara, seluruh pertahanan Dion runtuh seketika. Lututnya menegang lemas sebelum akhirnya ia jatuh terjerembap ke atas lantai dingin, berlutut tepat di hadapan kaki Reno.

"I—Ini... Ini jebakan!" ratap Dion dengan suara serak, keringat dingin membasahi seluruh dahinya. "Tuan Muda, ampun! Saya khilaf! Saya tidak tahu kalau..."

"Kamu tidak tahu?" potong Bagas dingin. Ia membuka map kulit hitamnya dan melempar setumpuk dokumen tepat ke wajah Dion. Kertas-kertas itu berserakan di lantai, menampilkan bukti transfer rahasia, laporan audit palsu, dan rekaman penggelapan dana perusahaan.

"Dion," kata Bagas mantap. "Selama tiga bulan menjabat sebagai Manajer HRD, kamu telah menerima suap dari Keluarga Surya sebesar sepuluh miliar untuk memasukkan orang-orang mereka ke dalam proyek Zena. Kamu juga telah memperkosa dan memeras sedikitnya lima pelamar wanita sebelum Nona Alya."

Tubuh Dion gemetar hebat. Bukti-bukti yang dibawakan Bagas begitu sempurna, tanpa celah sedikit pun untuk membela diri.

Reno melangkah satu pukulan maju, menatap Dion dari atas dengan pandangan penuh jijik. "Perusahaan Zena tidak membutuhkan sampah beracun sepertimu."

Reno menatap dua satpam yang berdiri terpaku di dekat pintu. "Tunggu apa lagi? Seret dia keluar. Serahkan seluruh bukti ini ke markas kepolisian pusat. Pastikan pria ini menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi tanpa ada kemungkinan jaminan hukum."

"Baik, Tuan Muda!" jawab kedua satpam itu serentak. Mereka yang tadinya hendak menangkap Alya, kini dengan kasar mencengkeram kedua lengan Dion dan menyeretnya keluar secara paksa.

"Tuan Muda! Ampun, Tuan Muda! Nona Alya, tolong saya! Ampuni saya!" teriakan dan ratapan Dion bergema semakin jauh di lorong sebelum akhirnya lenyap di telan pintu lift.

Suasana ruang wawancara mendadak kembali hening. Kini hanya tersisa Reno, Bagas, dan Alya di dalam ruangan berdesain elegan tersebut.

Alya berdiri mematung. Dadanya berdesir hebat. Ia menyaksikan bagaimana dalam kurun waktu kurang dari lima menit, Reno meruntuhkan seorang pria berkuasa yang tadi begitu menakutkan baginya. Kekuatan dan keadilan yang ditunjukkan Reno membuat hati Alya bergetar hebat.

Reno membalikkan badannya, menatap Alya secara langsung. Tatapannya tidak lagi dingin seperti saat menatap Dion, melainkan kembali menjadi sosok yang tenang dan rasional.

"Kualifikasi dan konsep pengembangan proyek kawasan pesisir yang kamu ajukan dalam berkasmu sangat luar biasa," kata Reno datar namun lugas. "Penilaian analisis riset pasarmu melebihi rata-rata pelamar lainnya."

Alya tertegun. "Reno... kamu membaca portofolioku?"

Reno menatap Bagas, memberi isyarat pelan. Bagas segera menyodorkan sebuah dokumen kontrak kerja berstempel resmi Perusahaan Zena ke hadapan Alya.

"Mulai hari ini, kamu resmi diangkat sebagai Manajer Proyek Utama untuk pembangunan kawasan pesisir Perusahaan Zena," ujar Reno tegas.

Alya menatap dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru dan gembira yang membuncah di dalam dadanya. Namun sebelum Alya sempat mengucapkan terima kasih, suara Reno kembali terdengar, dingin dan berwibawa.

"Tapi ingat, Alya," Reno menatap mata Alya dengan dalam, memberikan batasan yang sangat jelas. "Posisi ini diberikan murni karena kemampuan dan kualifikasimu, bukan karena hubungan masa lalu kita. Di perusahaan ini, aku adalah pemilik, dan kamu adalah karyawanku. Tidak ada perlakuan khusus, tidak ada belas kasihan jika kamu gagal."

Alya menyapu air mata di sudut matanya, lalu mengangguk mantap. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Reno dengan senyuman penuh tekad.

"Saya mengerti, Tuan Reno," jawab Alya formal dan penuh rasa hormat. "Saya tidak membutuhkan perlakuan khusus. Saya akan membuktikan dengan hasil kerja saya."

Reno mengangguk tipis, merasa puas dengan respons Alya. Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan diiringi oleh Bagas dan para pengawalnya.

Namun, baru saja langkah kaki Reno menghilang di balik pintu, ponsel di dalam saku jas Bagas berdering nyaring. Bagas menggeser layar ponselnya, mendengarkan laporan singkat dari intelijen pusat.

Wajah Bagas mendadak berubah serius. Ia mendatangi Reno yang sedang berjalan menuju kantor presiden direktur.

"Tuan Muda," bisik Bagas dengan suara rendah. "Keluarga Surya baru saja mengetahui pembatalan posisi Dion dan pengangkatan Nona Alya. Randy Surya baru saja memerintahkan seluruh pemasok bahan bangunan di kota ini untuk memblokir total pasokan material ke proyek Alya."

Mata Reno menyempit, kilatan dingin kembali muncul di sepasang maniknya. "Rupanya Keluarga Surya sudah tidak sabar untuk menggali kuburannya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!