NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Ehem!"

Elliot mendadak menegakkan tubuhnya dengan gerakan kaku yang luar biasa canggung. Ia menarik tangannya dari tepi bak, berbalik setengah badan sambil batuk-batuk kecil untuk menetralisir suaranya.

"Ah... b-benar," suara Elliot mendadak kaku dan serak. Dia mati-matian memasang lagi topeng dinginnya, padahal ujung telinganya sudah merah padam. "Maksudku... masih ada urusan yang belum beres. Besok pagi aku akan mengajakmu ke benteng perbatasan. Jangan sampai kesiangan."

Tanpa menunggu balasan Davira, sang penguasa utara itu langsung berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar mandi, menutup pintu dengan buru-buru seolah ada pasukan musuh yang menyerang.

Di dalam bak air hangat, Davira mengerjap beberapa kali, menatap pintu yang tertutup rapat dengan rasa tak percaya.

"Sialan," batin Davira sambil mendengus pelan, menahan tawa sekaligus rasa jengkel yang membuncah. Suaminya kabur di detik-detik paling menegangkan.

*****

"Percuma! Aku datang ke sini untuk apa!" seru Fiona di sela isak tangisnya yang parau. Tangannya memukul-mukul sandaran kursi sampai sakit. "Tadi di ladang, Elliot membela perempuan itu! Dia menatapku... dingin. Seolah aku ini tidak lebih dari debu di ujung sepatunya." Suaranya tercekat. "Sudah tidak ada harapan lagi. Dia sudah sepenuhnya terpikat oleh Davira!"

Lord Roderick mendengus kesal. Dia mondar-mandir di depan perapian. Wajahnya kusut. Penangkapan sang pengawas membuatnya gusar, dan ditambah lagi ratapan keponakannya. Kepalanya berdenyut.

"Berhenti meratap, Fiona! Air matamu tidak akan menyelesaikan masalah keuangan keluarga Duncan!" bentak sang paman tajam.

Namun, sebelum Fiona sempat membalas dengan tangisan yang lebih keras, sang bibi–Eleanor melangkah mendekat. Wanita paruh baya itu meraih kedua bahu Fiona, memaksa gadis itu mendongak dan menatap matanya lekat-lekat.

"Dengarkan bibi, Fiona. Jangan bersikap bodoh dan menyerah semudah itu," bisik sang bibi dengan nada tajam namun penuh perhitungan. "Kau merasa kalah hanya karena wanita itu berhasil mencuri perhatian Elliot lewat aksi kotornya membajak tanah?"

Fiona terisak, menatap bibinya dengan mata merah menyala. "Elliot sama sekali tak melirikku Bibi!"

Eleanor tersenyum licik. "Tentu. Untuk saat ini Lord Elliot memang terkesan dengan keberaniannya." Dia mendekat, suaranya merendah. "Tapi jangan lupa satu hal, Fiona... Davira itu hanyalah mantan ratu. Seorang janda yang dibuang suaminya demi wanita lain."

Fiona mengerjap, isak tangisnya mendadak terhenti.

"Sedangkan kau?" lanjut sang bibi, merapikan helai rambut Fiona yang berantakan. "Kau adalah seorang gadis muda yang masih perawan. Pria sekeras Elliot mungkin bisa dibuat kagum oleh kecerdasan seorang wanita matang, tapi pada akhirnya, naluri seorang pria yang haus akan kehangatan—akan selalu mendambakan kelembutan dan kesucian seorang perawan."

Sang bibi mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke mata Fiona. "Jangan saingi dia dalam urusan kastil. Gunakan pesona seorang gadis polos. Tunjukkan kelembutanmu, manfaatkan kemudaanmu, dan buat Elliot melupakan mantan ratu itu di balik pesonamu."

Fiona tertegun. Isak tangisnya benar-benar reda. Sinar keputusasaan di matanya perlahan sirna, digantikan oleh kilatan ambisi dan rasa percaya diri yang kembali membara.

Ia menyeka sisa air mata di pipinya, lalu bibirnya perlahan membentuk senyum miring yang penuh perhitungan. Seolah-olah sebuah ide cemerlang baru saja melintas di benaknya.

"Bibi benar," bisik Fiona, suaranya yang tadinya parau kini terdengar jauh lebih tenang. Ia menatap paman dan bibinya bergantian. "Aku tidak perlu mengotori tanganku dengan urusan ladang atau pembukuan yang membosankan itu."

Fiona menegakkan tubuhnya, merapikan gaun tidurnya yang kusut. "Lagi pula, aku punya kesempatan yang jauh lebih baik."

Paman Fiona, yang masih berdiri dengan tangan bersilang di dekat perapian, mengerutkan kening. "Kesempatan apa yang kau maksud?"

Fiona tersenyum penuh arti. "Elizabeth—adik perempuan Elliot, baru saja mengirimiku pesan. Dia mengajakku berkunjung ke benteng pertahanan utama Orion besok pagi."

Mata sang bibi langsung berbinar mendengar nama Elizabeth disebut. "Adik perempuan Lord Elliot? Bukankah dia selama ini selalu berada di pihak kita dan tidak menyukai wanita asing itu?"

"Tentu saja," jawab Fiona penuh percaya diri, rasa malunya mendadak menguap, digantikan oleh kelicikan yang membara. "Elizabeth mengundangku untuk menemaninya berkeliling area latihan prajurit. Dan tentu saja, Elliot serta Davira juga akan kesana besok untuk memeriksa pos-pos pertahanan."

Sudut bibir Lord Roderick terangkat membentuk senyum licik yang mengerikan. "Gunakan Elizabeth. Adik perempuan Elliot itu. Hasut dia untuk menyingkirkan Davira dari kastil ini."

​Fiona menyeringai penuh ambisi, ​"Aku mengerti, Paman. Besok di benteng pertahanan, Elizabeth akan menjadi pion yang sempurna untuk menyingkir Davira."

*****

Esok paginya, begitu Davira membuka mata, aroma hangat roti panggang dan sup jagung segar sudah memenuhi kamar. Noela, pelayan pribadinya, berdiri di sisi meja dengan senyum ramah.

“Selamat pagi, Nyonya,” sapanya lembut sambil menata serbet. “Sarapan sudah siap. Hari ini Tuan Duke meminta saya menyiapkan sesuatu yang ringan saja.”

Davira duduk perlahan, masih membiasakan diri dengan udara pagi utara yang menggigit. Di atas kursi beludru dekat tempat tidur, tergantung sebuah mantel bulu yang begitu indah—warnanya merah menyala dengan hiasan benang emas di tepinya.

“Noela… ini—?” tanyanya sambil bangkit dan menyentuh mantel bulu itu dengan hati-hati.

Noela tersenyum kecil. “Itu pemberian Tuan Duke, Nyonya. Katanya mantel itu dibuat khusus dari wol domba utara. Hangat, tebal, dan kuat, sangat cocok untuk cuaca ekstrem di perbatasan ini.”

Davira menatap takjub. Ia belum pernah melihat potongan kain sehalus dan seberat itu, apalagi yang terasa begitu menghangatkan hanya dalam satu sentuhan. “Indah sekali…” gumamnya pelan.

Noela menunduk sopan. “Tuan Duke bilang, Anda akan membutuhkannya hari ini.”

Davira menatap mantel itu sekali lagi, lalu tanpa sadar seulas senyum terukir di bibirnya, menghangatkan dadanya lebih dari apapun pagi itu.

Di halaman kastil utama, Elliot tengah sibuk memeriksa peti-peti kayu berisi bahan makanan dan selimut yang akan dikirim ke penduduk di wilayah perbatasan.

Namun, langkahnya terhenti seketika ketika ia mendengar derap sepatu mendekat dari belakang. Saat ia menoleh, napasnya nyaris tercekat.

Davira berjalan menghampirinya, mengenakan mantel merah pemberiannya. Bulu lembut di kerah mantel itu membingkai wajahnya yang cerah, kontras dengan latar belakang salju putih dan diterpa sinar matahari pagi.

Elliot terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berucap pelan, nyaris berupa gumaman, “Mantel itu… cocok sekali dengan rambut pirangmu.”

Davira menatapnya, sedikit terkejut oleh nada suara Elliot yang terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. “Terima kasih. Mantel pemberianmu ini sangat hangat… warnanya juga indah.”

Elliot tersenyum tipis, pandangannya sempat turun sesaat ke arah kerah mantel itu sebelum kembali menatap manik kelam Davira. “Sebenarnya… itu adalah mantel peninggalan mendiang ibuku.”

Davira terdiam, jemarinya tanpa sadar meraba lembut bulu halus di kerahnya. “Oh… maaf, aku tidak tahu.”

Elliot menggeleng ringan. “Tak perlu minta maaf. Aku justru senang akhirnya ada yang memakainya lagi. Ibuku pasti tidak ingin keindahannya terkubur di dalam lemari.”

Davira menatap suaminya dengan mata yang melembut. Ada ketulusan yang tersembunyi di balik suara berat pria itu, menyentuh sudut hatinya yang paling dalam. “Aku akan menjaganya baik-baik.”

Elliot mengangguk, senyum samar terukir di bibirnya. “Aku tahu kau akan melakukannya.”

Tak lama kemudian, suara langkah riang memecah udara pagi. Elizabeth datang menyapa dengan senyum sumringah, mantel favoritnya yang berwarna abu-abu berayun lembut tertiup angin.

“Halo, Kakak Ipar! Aku hampir tak mengenalimu dengan mantel merah itu,” serunya ceria sambil menggenggam tangan Davira akrab. “Kau terlihat seperti ratu salju yang tersesat di taman musim semi.”

Davira tersenyum kecil, menerima sambutan itu dengan ramah. “Selamat pagi, Elizabeth. Kau terlihat sangat bersemangat pagi ini.”

Namun, di belakang Elizabeth, langkah lain menyusul mendekat. Miss Duncan—atau Fiona—muncul dengan balutan mantel berwarna pastel pucat yang menonjolkan rambut merahnya di bawah sinar matahari. Senyumnya terukir anggun, tetapi sorot matanya menyiratkan ketajaman yang disembunyikan rapat-rapat.

“Selamat pagi, Lady Davira,” ucap Fiona dengan nada sopan yang terasa dingin di ujung kalimatnya.

Davira membalasnya dengan senyum yang tenang, sama sekali tidak terusik oleh cara Fiona menyebut nama suaminya begitu akrab.

Sementara itu, dari jarak beberapa langkah di belakang, Elliot memperhatikan ketiganya dalam diam. Sekilas, ia bisa merasakan aura tak kasat mata yang mulai beradu di udara, keceriaan Elizabeth yang menyimpan rencana tersendiri, senyum manis Fiona yang sarat akan kepalsuan, serta ketenangan mutlak Davira yang memancarkan wibawa tanpa perlu berusaha sedikit pun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Buset... baru pembuka aja udah bikin merinding, kejamnya sang raja 😅
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
ternyata bener selingkuhan Raja itu, dan dia termakan oleh omongan selingkuhannya dan akhirnya Kerajaan Nether mati
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
terlihat anggun, ada typo kak 😁
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
sepertinya Raja ini selingkuh🤔dan memakan hasutan si cewek selingkuhannya 🤔
Asra
Wow, keren kak! Semangat selalu berkarya nya.🙌
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih 🥺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!