NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Makan Malam yang Menyatukan

Minggu pagi udah cerah dari jam enam. Gue bangun, langsung rapiin kamar, terus bantu Ibu di dapur — bikin kue cubit dan minuman segar buat dibawa.

"Semangat sekali, Nak," kata Ibu sambil aduk adonan, senyumnya manis banget. "Seperti kamu mau pergi ke pesta impian."

"Gak sebesar itu, Bu. Cuma makan bareng. Tapi..." Gue senyum malu dikit. "Rasanya penting banget. Semua orang yang selama ini saling cari, akhirnya ketemu di satu meja."

"Itulah yang indah, Amira. Bukan kemegahannya, tapi kebersamaannya."

Pas gue siap berangkat, Farhan udah nunggu di depan. Baju rapi tapi sederhana, rambutnya diatur dikit, bawa senyum paling tenang yang pernah gue lihat.

"Lo cantik banget, Mir."

pipi gue panas dikit. "Makasih. Lo juga... keren."

Jalan ke rumahnya gak jauh, tapi kerasa kayak perjalanan panjang. Kayak kita jalan dari tempat yang gelap ke tempat terang pelan-pelan.

Di depan rumah, udah kedengaran suara orang ngobrol dan ketawa. Bukan suara tegang kayak dulu. Suara hangat.

"Masuk aja," kata Farhan sambil pegang punggung tangan gue pelan. "Lo udah bagian dari keluarga ini."

Di ruang tamu, Bapak dan Ibu yang merawat Farhan sedang susun piring. Bu Sari bawa mangkuk besar berisi sayur lodeh. Pak Budianto lagi bantu atur kursi. Dan di pojok... Dimas udah duduk, senyum dikit pas lihat kita masuk.

"Mir!" sapa Dimas. "Duduk dong."

"Pagi semuanya," sapa gue sopan, taruh bawaannya di meja. "Saya bawa kue dan minuman, Bu."

"Wah, terima kasih banyak, Amira," kata Bu Sari senang. "Mari, silakan duduk. Kita mulai saja."

Kita duduk melingkar di meja panjang — Bapak di satu ujung, Bu Sari di ujung lain. Di sebelah kiri Farhan duduk sama Ibu, di sebelah kanan gue duduk sama Dimas. Pak Budianto di tengah, tersenyum tenang natap kami semua.

Sejenak hening. Bapak berdiri pelan, napas dalam.

"Terima kasih semuanya sudah datang," suaranya bergetar sedikit tapi tegas. "Hari ini kita tidak merayakan kemenangan. Kita merayakan keberanian — berani jujur, berani memaafkan, berani mulai lagi." Beliau natap Farhan. "Terima kasih, Nak. Sudah memberi kami kesempatan menjadi bagian dari hidupmu."

Farhan menunduk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Bu... kalian berdua. Karena tanpa kalian, saya tidak akan pernah berdiri di sini."

Lalu beliau menoleh ke Bu Sari. "Dan Bu... selamat datang. Semoga kita bisa saling melengkapi."

Bu Sari menangis haru, pegang tangan Farhan di atas meja. "Terima kasih sudah ada. Terima kasih sudah hidup."

Makan pun dimulai. Awalnya agak canggung — tapi canggung yang manis, bukan yang berat. Lama-lama obrolan mengalir sendiri.

"Kapan pertama kali lo sadar lo sayang sama Mira?" tanya Dimas tiba-tiba sambil ketawa pelan.

Farhan langsung merah, nunduk mainin sendok. "Diam aja lo."

"Ayo cerita dong," ejek Pak Budianto lembut. "Kami juga mau tahu."

Farhan napas panjang, natap gue pelan. "Sebenarnya dari kelas sepuluh. Hari hujan pertama kali kita ketemu di koridor. Lo berdiri di pojok, peluk buku erat-erat. Gue nawarin payung... dan lo senyum. Saat itu gue tau... gue gak akan bisa natap orang lain kayak gitu."

mata gue panas, senyum sendiri. "Gue baru sadar belakangan. Waktu semua orang ninggalin lo... cuma lo yang tetap berdiri tegak. Dan di saat itu gue sadar — gue gak mau ke mana-mana kalau gak bareng lo."

Dimas senyum tenang, minum teh pelan. "Gue juga pernah mikir... mungkin gue kira suka sama Mira karena dia baik. Ternyata gue cuma butuh teman. Dan Mira itu teman yang luar biasa." Dia natap Farhan. "Dan lo... lo orang yang paling tulus yang gue kenal. Kalian cocok. Bukan karena sempurna. Tapi karena saling melengkapi."

"Lo juga bagian dari kita, Dim," kata gue lembut. "Jangan pernah merasa terasing."

"Iya," tambah Farhan. "Kita bertiga melewati badai bareng. Gak mungkin gampang gitu aja lo pergi dari hidup kita."

Obrolan berlanjut sampai sore. Cerita tentang ayah Farhan — tentang kebaikannya, tentang cara beliau tertawa, tentang mimpi-mimpinya. Cerita tentang Dimas — tentang pelajaran yang beliau ambil, tentang rencana beliau setelah selesai masa pembinaan. Cerita tentang Pak Budianto — tentang bagaimana beliau diam-diam menjaga kami dari jauh.

Sore menjelang, langit berubah warna jadi oranye lembut. Kita semua duduk di beranda, sebagian berdiri, sebagian duduk di kursi rotan.

Farhan nyamperin gue, berdiri di samping. "Lo tau gak... ini hari yang gue kira gak bakal pernah ada."

"Kenapa?"

"Karena gue pikir gue cuma punya satu keluarga. Satu nama. Satu kebenaran. Ternyata gue dapet lebih banyak dari yang gue bayangin." Dia natap semua orang di beranda. "Dua Ibu. Satu Ayah. Sepupu yang jadi guru. Teman yang berani jujur. Dan lo."

"Dan lo punya diri sendiri," tambah gue pelan. "Yang utuh."

"Iya. Gue Farhan. Dan gue juga Raka. Dua nama, satu hati." Dia genggam tangan gue pelan di belakang punggung, gak mau orang lain lihat. "Dan hati itu milih lo."

Saat itu Bu Sari berdiri, bawa dua bungkusan kecil. "Saya ada sesuatu untuk kalian berdua."

Beliau kasih ke Farhan dulu — sebuah jam tangan sederhana, bingkai perak. "Punya ayahmu. Beliau selalu pakai ini. Sampai hari terakhir."

Lalu ke gue — sebuah bros kecil berbentuk matahari, terbuat dari kuningan tua. "Punya ibuku. Dulu beliau bilang, matahari selalu kembali, walau malam datang setiap hari."

"Terima kasih, Bu," kata gue tulus, pegang bros itu erat.

"Terima kasih sudah menjaga anak saya," kata beliau lembut. "Dan terima kasih sudah membuatnya merasa cukup."

Matahari mulai turun. Kita semua pamit pelan-pelan. Dimas duluan, diantar Pak Budianto. Lalu kami juga bersiap pulang.

Di depan pagar, Bapak dan Ibu panggil gue. "Amira... terima kasih sudah datang. Kalau kamu mau ke sini kapan saja, rumah ini rumahmu juga."

"Makasih, Pak, Bu. Saya senang sekali hari ini."

Jalan pulang cuma kita berdua. Langit udah mulai gelap, lampu jalan nyala satu-satu. Tangan kita saling pegang, gak perlu disembunyikan lagi.

"Besok sekolah," kata Farhan pelan. "Biasa aja."

"Ya. Biasa."

"Tapi rasanya beda kan?"

"Beda jauh." Gue senyum ke arahnya. "Karena sekarang kita jalan tanpa beban."

Farhan berhenti di depan pagar rumah gue. Natap gue lama di bawah cahaya lampu.

"Mir..."

"Iya?"

"Gue gak tau apa yang bakal terjadi besok. Masih ada ujian, tugas, hal-hal yang ribet." Dia mendekat pelan. "Tapi gue tau satu hal — apa pun yang datang, gue mau hadapin bareng lo."

"Selalu," jawab gue mantap. "Apa pun."

Dia senyum, lalu peluk gue pelan di depan pagar. Cuma sebentar, hangat dan menenangkan.

"Selamat malam, Mir."

"Selamat malam, Han."

Gue masuk ke dalam rumah, taruh bros pemberian Bu Sari di meja belajar, di sebelah bunga matahari yang udah mulai mekar penuh.

Gue buka buku catatan, tulis pelan:

"Dulu gue pikir cerita ini soal siapa yang dipilih di antara dua. Ternyata bukan. Cerita ini soal belajar memilih diri sendiri dulu — dan baru kemudian memilih orang yang mau kita temani sepanjang jalan. Dan di akhir... bukan dua hati yang dipertaruhkan. Tapi satu hati yang akhirnya pulang ke rumahnya sendiri."

Gue tutup buku, tarik napas lega.

Di luar, langit bersih. Bintang terang. Dan untuk pertama kalinya... gue gak takut apa yang akan datang. Karena gue tau — apa pun badainya, kita sudah punya payung. Dan kita berdua berdiri di bawahnya, bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!