Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Batin Keith
Ruang kerja Keith di lantai paling atas gedung perkantoran itu sunyi senyap, hanya diterangi oleh satu lampu meja yang temaram. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun pria berusia 38 tahun itu masih duduk tegak di kursi kulitnya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham yang tak lagi masuk ke dalam otaknya.
Keith memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kepalanya terasa seperti akan meledak. Bisnis, proses perceraian yang melelahkan, tuntutan harta gono-gini dari keluarga mantan mertuanya yang serakah, hingga kondisi mental Lucian semuanya menekan saraf otaknya secara bersamaan.
Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya menerawang ke arah kaca jendela besar yang menampilkan gemerlap kota yang sudah mulai tertidur.
"Kenapa hidup harus serumit ini?" gumamnya lirih, suaranya parau.
Keith teringat kembali masa lalunya. Usia 20 tahun. Usia di mana seharusnya ia bisa menikmati masa muda, namun ia justru terjebak dalam sumpah pernikahan atas dasar perjodohan bisnis. Keluarga Vivian saat itu begitu maruk, tidak puas hanya dengan merger perusahaan. Mereka melakukan langkah fatal, menjebak Keith dan Vivian dalam satu malam yang terencana. Hasilnya? Vivian hamil di luar rencana, dan Lucian lahir di tengah-tengah dua orang tua yang tidak memiliki persiapan, tidak memiliki cinta, dan yang paling parah tidak memiliki kasih sayang.
Keith memejamkan mata, membayangkan wajah pucat Lucian di kamar saat ia mencoba membuka diri malam itu.
"Vivian..." Keith memejamkan mata semakin rapat.
"Bahkan setelah semua yang kamu lakukan padaku, kenapa aku masih memberikan hartaku padamu?"
Keith tahu jawabannya. Ia memberikan harta gono-gini itu secara cuma-cuma bukan karena dia mencintai Vivian. Tidak pernah ada cinta di antara mereka. Ia memberikannya karena Vivian pun korban. Tubuh wanita itu rusak demi melahirkan Lucian, dan Keith merasa memiliki hutang moral yang harus ia lunasi agar ia bisa benar-benar memutus ikatan yang selama ini mencekiknya.
"Selesai. Semuanya sudah selesai," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, benarkah semuanya selesai?
Keith meraih bingkai foto kecil di sudut mejanya. Bukan foto Vivian, melainkan foto Lucian yang diambil secara diam-diam oleh sekretarisnya saat Lucian sedang berjalan di koridor sekolah. Keith menatap foto itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada penyesalan yang mendalam di sana.
"Aku nyaris menghancurkannya," gumamnya pelan.
"Aku nyaris membuat putraku sendiri hancur karena kebodohanku yang ingin terus menjadi mesin diktator itu."
Lalu, ingatannya berbelok ke sosok lain. Jeslyn.
Keith meletakkan foto itu dan mengembuskan napas panjang. Jeslyn. Wanita yang muncul di hidupnya seolah-olah seperti badai yang tidak diharapkan. Jeslyn yang menjebaknya di kapal pesiar, Jeslyn yang membuat mereka terpaksa menikah, dan Jeslyn yang saat ini sedang mengandung anaknya yang lain.
"Apa yang terjadi dengannya?" Keith bergumam, bertanya pada dinding ruang kerjanya.
"Wanita itu... kenapa tiba-tiba berubah?"
Jeslyn yang ia kenal dulu adalah wanita yang haus akan perhatian, yang selalu memakai gaun mencolok dan parfum menyengat. Tapi Jeslyn yang sekarang? Jeslyn yang cerewet, yang berani memarahi Keith demi Lucian, yang menangis karena khawatir akan kondisi kesehatan anak tirinya, dan yang paling mengejutkan Jeslyn yang secara tidak sadar sedang meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di hati Keith.
Keith membuka laci mejanya, mengambil ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan pesan masuk dari Jeslyn beberapa jam lalu.
“Jangan lupa makan malam. Kalau kamu pulang dengan perut kosong, jangan harap bisa tidur di rumah! Aku sudah pesankan makanan sehat buat kamu di kantor. Makan atau aku akan datang ke sana dan menyuapi kamu sendiri!”
Keith mendengus kecil. Bibirnya tanpa sadar membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Menyuapiku sendiri? Dia pasti benar-benar akan melakukannya," pikir Keith.
Ia memutar kursinya, menatap tumpukan berkas di mejanya yang sudah tak lagi relevan untuk dibaca malam ini. Selama 18 tahun, hidupnya diatur oleh keluarga. Ia tidak pernah memiliki waktu untuk jatuh cinta, tidak pernah memiliki waktu untuk memilih wanita yang ia inginkan. Ia selalu hidup di bawah tuntutan.
"Haruskah aku menerimanya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Ia berpikir tentang Jeslyn. Tentang bagaimana wanita itu perlahan tapi pasti mulai masuk ke dalam celah-celah hatinya yang selama ini beku. Jeslyn tidak sempurna, dia sedikit bar-bar, sangat cerewet, dan terkadang sangat menyebalkan. Tapi dia adalah orang pertama dalam hidup Keith yang tidak memandangnya sebagai aset bisnis atau sebagai mesin. Dia memandang Keith sebagai seorang pria.
"Menerima Jeslyn..." Keith bersandar lagi, kali ini menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Bukankah itu tidak buruk?"
Keith tahu dia tidak beruntung soal asmara. Percintaannya selama ini adalah sebuah kegagalan sistematis yang dirancang oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Dia bukan lagi pria berusia 20 tahun yang bisa disetir oleh keluarganya. Dia adalah Keith, pria yang memegang kendali atas hidupnya sendiri sekarang.
"Aku lelah," keluh Keith lagi, kali ini dengan nada yang lebih jujur.
"Aku lelah menjadi orang yang selalu menutup diri."
Ia berdiri dari kursinya, merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut. Ia menatap cermin di sudut ruangan. Wajahnya terlihat jauh pucat karena beban yang ia pikul sendiri. Namun, saat ia memikirkan tentang mansion nya, tentang Lucian yang mulai mau bicara dengannya, dan tentang Jeslyn yang mungkin saat ini sedang menunggu kepulangannya dengan rasa cemas... hatinya terasa sedikit lebih ringan.
"Istri," bisik Keith, mencoba mengucapkan kata itu dengan nada yang berbeda.
"Dia memang istriku."
Ia berjalan menuju pintu, langkahnya tidak lagi seberat saat ia pertama kali masuk ke ruangan ini. Ia sudah berperang dengan batinnya sendiri selama berjam-jam, dan ia telah sampai pada satu titik kesimpulan, ia tidak ingin lagi menjadi mesin. Ia ingin menjadi ayah bagi Lucian, dan mungkin, ia ingin menjadi suami yang sesungguhnya bagi Jeslyn.
Keith mematikan lampu ruang kerjanya. Sebelum ia melangkah keluar, ia menatap ponselnya sekali lagi, berniat mengirimkan pesan singkat. Namun ia mengurungkannya.
"Besok," ucapnya pada diri sendiri.
"Besok, aku akan mulai belajar menjadi orang yang sebenarnya."
Keith berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju lift pribadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa harus pulang ke mansion untuk menyelesaikan urusan pekerjaan atau menuruti tuntutan keluarga. Ia merasa harus pulang karena ada orang-orang yang entah bagaimana caranya telah menunggunya di sana.
Malam itu, di dalam lift yang meluncur turun ke lantai dasar, Keith tidak lagi memikirkan tentang harta untuk Vivian atau tuntutan mantan mertuanya yang serakah serta keluarganya. Ia hanya memikirkan tentang Jeslyn yang mungkin besok pagi akan memarahinya lagi karena ia pulang terlalu larut, dan betapa ia tidak keberatan jika harus menghadapi ocehan wanita itu untuk selamanya.
"Pria bodoh," umpatnya pada diri sendiri sambil terkekeh pelan.
Ternyata, mengakui bahwa hatinya mulai luluh pada Jeslyn adalah hal yang jauh lebih sulit daripada menandatangani kontrak bisnis bernilai miliaran. Namun, anehnya, itu adalah hal terbaik yang ia rasakan selama bertahun-tahun.
Bersambung...
Hohoho sepertinya aa Keith mulai tertarik pada Jeslyn guys, apakah kita jahui aja keduanya?🤭
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.