NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:270.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Nampan Sarapan

"Sudah, diam dulu. Biar Kakakmu selesaikan urutnya. Kalau kamu teriak terus, nanti Rafka di bawah bisa bangun," omel Ibu Dania tanpa rasa bersalah sedikit pun, malah memegangi kedua pundak Keisha agar anak gadisnya itu tidak banyak merontak.

Satria sendiri sama sekali tidak terganggu oleh drama penyumpelan mulut tersebut. Wajah kakunya tetap tenang berwibawa, namun gerakan tangannya saat mengurut kembali pergelangan kaki Keisha justru berubah menjadi jauh lebih lembut dan berhati-hati. Dia tahu betul batas rasa sakit yang bisa ditoleransi oleh gadis di hadapannya.

Sentuhan demi sentuhan minyak hangat itu perlahan mulai membuat rasa nyeri di kaki Keisha berkurang, digantikan oleh rasa kebas yang nyaman. Keisha yang mulutnya masih tersumpel handuk akhirnya mulai berhenti merontak, napasnya berangsur-angsur menjadi lebih teratur meski dadanya masih naik turun.

Melalui sela-sela bulu matanya yang basah oleh air mata, Keisha menunduk, menatap puncak kepala Satria yang masih sibuk memijat kakinya dengan telaten. Jarak yang dekat ini membuat Keisha bisa mencium kembali aroma wangi maskulin dari tubuh Satria yang bercampur dengan bau tajam minyak sereh.

Ada sebuah rasa aman yang mendadak merayap masuk ke dalam relung hati Keisha. Di balik sikap dingin, kaku, dan ucapan-ucapan ketatnya yang mirip komandan perang, Satria selalu menjadi orang pertama yang ada di sana untuk menangkapnya setiap kali ia jatuh—baik saat nyusruk ke got siang tadi, maupun saat kepleset di tangga malam ini. Pria ini tidak pernah mengumbar kata-kata manis atau janji penenang, namun tindakan nyatanya selalu terasa begitu kokoh menopang kerapuhan Keisha.

Debaran aneh di dalam dada Keisha yang sempat hilang gara-gara rasa sakit, kini perlahan muncul kembali dengan intensitas yang lebih tenang namun menghanyutkan. Ada sebuah teka-teki besar yang kini menggantung di kepala Keisha tentang apa yang sebenarnya melandasi seluruh perhatian tak kasat mata dari sang Mayor selama ini.

Setelah memastikan aliran darah di kaki Keisha kembali lancar, Satria menyeka sisa minyak di tangannya menggunakan tisu, lalu merapikan kembali gulungan celana jeans Keisha ke posisi semula. Ia bangkit berdiri, menatap adik iparnya yang kini tampak lemas dengan wajah coreng-moreng bekas air mata.

Satria mengulurkan tangannya, menarik perlahan handuk kecil yang menyumpel mulut Keisha, lalu meletakkannya di atas nakas.

"Sudah selesai. Malam ini jangan banyak bergerak dulu. Tidur," ujar Satria pendek. Nadanya kembali kaku dan formal seperti biasa, seolah-olah getaran emosional yang sempat tercipta di antara mereka beberapa detik lalu tidak pernah ada.

Keisha hanya bisa mendengus kecil sembari mengusap sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, tidak berani lagi mengeluarkan celetukan di depan pria misterius yang baru saja sukses membuat hatinya morat-marit.

***

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui sela-sela gorden kamar yang setengah terbuka, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai keramik. Keisha melenguh pelan, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Hal pertama yang ia rasakan saat mencoba menggerakkan tubuhnya adalah rasa kaku dan linu di area pergelangan kaki kanan.

Sebenarnya, rasa nyerinya sudah jauh berkurang dibanding semalam. Pijatan tangan dingin Mayor Satria terbukti sangat manjur, membuat bengkaknya agak menyusut. Namun tetap saja, untuk dipakai menumpu berat badan berjalan ke kampus rasanya masih terlalu dipaksakan. Dengan sangat terpaksa, hari itu Keisha harus merelakan satu mata kuliah absen dan menitipkan surat izin sakit lewat Hilma.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang teratur membuyarkan lamunan pagi Keisha. Belum sempat dia menyahut atau membetulkan posisi duduknya, pintu kamar kayu itu sudah terdorong terbuka.

Keisha langsung melongo, menahan napasnya dalam-belam seketika.

Di ambang pintu, berdiri Mayor Satria Pramudya dengan penampilan yang luar biasa memukau. Pria itu sudah mengenakan seragam dinas harian (PDH) TNI AD lengkap dengan atribut pangkat Mayor di pundaknya. Kemeja hijau lumutnya yang disetrika sangat licin tampak melekat pas di tubuh bidangnya, memberikan kesan gagah, berwibawa, sekaligus maskulin yang tak terbantahkan.

Di sampingnya, Rafka berdiri dengan pakaian tak kalah rapi. Bocah itu sudah mengenakan seragam TK-nya—kemeja kotak-kotak kecil dengan celana pendek dan sepatu kasual—siap untuk berangkat sekolah. Di kedua tangan mungil Rafka, terdapat sebuah nampan kayu berisi secangkir teh hangat, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, serta semangkuk kecil potongan buah. Satria ikut menopang bagian bawah nampan tersebut agar tidak tumpah oleh langkah anaknya.

Dua pasang mata berwajah mirip itu melangkah masuk mendekati ranjang, membuat Keisha yang baru bangun tidur, dengan rambut acak-acakan dan kaos oblong kedodoran, merasa mendadak ingin menghilang dari muka bumi karena saking jaimnya.

"Tante Keiii! Selamat pagi!" seru Rafka riang, wajah tampannya tersenyum lebar. "Lihat, Papa antarkan sarapan istimewa untuk Tante! Papa yang ambilkan nasinya banyak-banyak dari dapur, loh!" celetuk bocah polos itu tanpa beban.

Keisha meringis canggung sembari menutupi mulutnya yang refleks menguap pelan. Wajahnya mendadak terasa hangat. Dia melirik Satria yang berjalan tegap dengan wajah sedatar papan tulis, lalu kembali menatap keponakannya.

"Aduh, Rafka sayang ... Kak Satria ... harusnya enggak usah repot-repot begini, ih," cicit Keisha, suaranya masih serak khas suara bangun tidur. "Nanti Tante juga bakal turun sendiri kok kalau mau makan. Jadi enggak enak merepotkan Pak Mayor yang sudah siap dinas begini."

Satria tidak langsung menjawab. Dengan gerakan tenang dan presisi, dia mengambil alih nampan dari tangan Rafka, lalu meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur Keisha. Setelah itu, dia berdiri tegak di sisi ranjang, melipat kedua tangannya di belakang punggung—posisi istirahat di tempat yang kaku, namun entah kenapa terlihat sangat seksi di mata Keisha pagi ini.

"Bagaimana kaki kamu? Masih sakit?" tanya Satria. Suaranya yang berat dan dalam memecah keheningan kamar pagi itu, terdengar sangat intim.

Keisha buru-buru membetulkan posisi selimut yang menutupi kakinya. "Udah mendingan banget kok, Kak! Beneran deh, udah enakkan banget setelah semalam dipijat. Makanya enggak usah dipijat-pijat lagi ya, nanti malam juga udah bisa dipakai lari maraton," jawab Keisha asal, mencoba menolak opsi pijatan lanjutan karena ingatan tentang rasa canggung semalam masih membekas kuat di kepalanya.

Rafka yang berdiri di tepi ranjang tiba-tiba memicingkan mata bulatnya, menatap pergelangan kaki Keisha yang tersembunyi di balik selimut. Sifat jahil turunan dari tantenya mendadak bangkit.

"Masa sih udah enggak sakit? Rafka tes dulu ya, Tante!"

Puk!

Dengan sengaja dan tanpa peringatan, tangan mungil Rafka menyenggol tepat di bagian luar pergelangan kaki kanan Keisha yang semalam terkilir.

"AWWW! RAFKAAA! SAKITTT!"

Bersambung...

1
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 calon pelakor langsung pucat ... mommy kira2 Ingrid kerja apa ya kok sdh bawa mobil
Sugiharti Rusli
semoga Keisha dan bu Reni semakin harmonis yah, apalagi saat sekarang Satria sedang tugas jauh,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Ingrid masih berharap sang bude tetap mengharapkan dirinya buat jadi menantunya, padahal sudah menyadari kekeliruannya pada Keisha sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya bu Reni juga menyadari kalo si Ingrid masih saja terus berharap bisa jadi istri Satria yang jelas" sudah sangat mencintai Keisha,,,
Sugiharti Rusli
usia Keisha boleh muda dan dianggap bau kencur, tapi perhatian Keisha terhadap putra sambung dan mertuanya ga kaleng" yah,,,
Sugiharti Rusli
waduh mom ga konsen yah, bude apa tante tuh🤭🤭✌
Mommy Ghina: bude 😭😭
total 1 replies
Wiek Soen
betul juga ke-i ,dinas di perbatasan itu berat ,mental fisik harus kuat semua
Sugiharti Rusli
semoga saja Satria tidak mengalami masalah saat bertugas yah, apalagi buat cari sinyal saja sangat susah medannya itu
Sugiharti Rusli
yah begitulah bocil kalo tidak dikondisikan sedari awal, dia mah polos saja bilang ke ayahnya apa yang dia lihat tadi kan😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!