Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tarian Sang Uchiha
Asap tebal berwarna kelabu masih mengambang di udara, tertahan di antara dua dinding batu yang tinggi. Aroma kain gosong, kulit melepuh, dan bebatuan yang meleleh menyengat hidung. Suara bara api yang mati perlahan terdengar seperti bisikan di tengah keheningan gang yang mencekam.
Nico Robin masih bersandar pada tembok bata di ujung jalan buntu. Tangannya yang gemetar perlahan mencengkeram kain mantelnya yang basah oleh keringat. Matanya yang berwarna biru jernih menatap sosok pemuda berarmor merah yang berdiri di tengah sisa-sisa kehancuran.
Uchiha Madara menghela napas pelan.
Uap tipis keluar dari sela-sela bibirnya. Dia mengulurkan tangan kanannya, memperhatikan telapak tangannya sendiri yang sedikit bergetar.
'Kapasitas chakra tubuh ini benar-benar menyedihkan,' batin Madara.
Jutsu Goukakyuu yang baru saja dia lepaskan adalah teknik tingkat dasar bagi klan Uchiha. Namun dalam tubuh remajanya yang masih terbelenggu oleh batasan Sistem, jutsu sederhana itu telah menguras hampir sepertiga dari total pasokan chakra yang dia miliki saat ini. Saluran tenketsu di dalam tubuhnya terasa panas dan berdenyut pelan.
Menggunakan ninjutsu skala besar secara beruntun dalam kondisi tubuh seperti ini adalah tindakan yang tidak bijaksana. Jika dia terus membuang energinya, dia bisa mengalami kelelahan chakra di tengah wilayah yang sama sekali tidak dia kenal.
Madara menurunkan tangannya. Dia tidak memperlihatkan kelemahan itu sedikit pun pada wajahnya. Wajahnya tetap datar, tenang, dan memancarkan keangkuhan yang dingin.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara asing dari atas atap bangunan.
Bukan hanya satu. Suara langkah kaki yang cepat, teratur, dan sangat ringan berdatangan dari berbagai arah. Suara sepatu kulit yang menapak di atas genteng kayu, diikuti oleh gesekan kain jas yang tertiup angin sore.
Insting sensorik Madara langsung bereaksi.
Dari arah depan gang yang hangus, sekitar enam orang pria berjas hitam melangkah masuk menembus sisa-sisa asap. Dari atas tembok bata di belakang Robin, tiga orang melompat turun dengan keluwesan yang terlatih. Dua orang lagi mendarat di atas bagian atap bangunan yang menjorok ke luar.
Sekitar belasan agen Cipher Pol kini mengepung gang sempit tersebut.
Pakaian mereka persis sama dengan tiga agen yang baru saja diubah menjadi abu oleh Madara. Setelan jas hitam licin, dasi gelap, dan topi fedora. Namun aura yang mereka pancarkan sedikit berbeda. Langkah kaki mereka lebih stabil, dan tatapan mata mereka jauh lebih tajam.
Bala bantuan telah tiba. Ledakan api raksasa sebelumnya telah memanggil seluruh agen rahasia Pemerintah Dunia yang berpatroli di sektor ini.
Seorang pria berjas hitam yang berdiri di barisan depan bala bantuan menatap ke arah tiga mayat yang gosong di atas tanah. Matanya menyipit di balik bayangan topi fedoranya.
'Tiga anggota tewas dalam hitungan detik,' batin pria itu.
Dia menyapu pandangannya ke sekeliling gang yang hangus. Dinding batu yang meleleh dan tanah yang retak mengindikasikan serangan dengan suhu yang sangat ekstrem. Pria itu kemudian menatap Madara yang berdiri dengan tangan kosong di tengah gang.
'Pengguna Buah Iblis Logia Api? Atau alat senjata eksperimental?' pikir pria itu cepat.
Dia mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat taktis kepada belasan rekannya.
“Format barisan pengepungan,” perintah pria itu dengan suara berat dan dingin. “Jangan beri ruang baginya untuk menarik napas. Target utama, Gadis Iblis dari Ohara, tetap menjadi prioritas. Tapi pemuda ini... harus dimusnahkan di tempat.”
Sret. Sret. Sret.
Secara serentak, belasan agen Cipher Pol mencabut senjata mereka. Sebagian menarik pedang baja lurus yang tajam, sementara sebagian lainnya menodongkan pistol flintlock modifikasi ganda. Mereka mengepung Madara dari segala sudut, menutup seluruh celah pelarian.
Suhu dingin dan tekanan taktis dari belasan pembunuh terlatih memenuhi gang tersebut.
Robin memeluk bahunya lebih erat. Matanya bergerak panik menatap jumlah musuh yang berlipat ganda.
'Ini terlalu banyak,' pikir Robin dengan rasa cemas yang membakar dadanya.
Dia tahu seberapa berbahaya satu agen Cipher Pol. Menghadapi belasan agen elit secara bersamaan di dalam gang sempit seperti ini adalah skenario kematian yang hampir pasti bagi siapa pun.
Robin melirik ke arah Madara. Dia ingin berteriak, ingin memberi tahu pemuda itu untuk melompati tembok dan lari. Pemuda itu telah bertarung menggunakan api raksasa sebelumnya, pasti energinya sudah berkurang banyak.
Namun, Madara sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda panik.
Dia berdiri di tengah kepungan belasan pembunuh bayaran itu dengan sikap yang sangat santai. Tatapan matanya menyapu wajah para agen satu per satu, seolah-olah dia sedang menghitung jumlah rumput liar yang harus dicabut di halaman rumahnya.
'Chakraku terbatas,' batin Madara. 'Menggunakan ninjutsu lagi adalah pemborosan.'
Sudut bibir remajanya terangkat sangat tipis. Sebuah senyuman kecil yang sarat akan penghinaan.
'Kalau begitu, kita gunakan cara paling mendasar.'
Tangan kiri Madara bergerak perlahan menuju pinggang kirinya. Jari-jarinya menggenggam sarung pedang berwarna hitam. Sementara tangan kanannya memegang gagang pedang baja biasa yang dia dapatkan dari kapal bajak laut sebelumnya.
Kring.
Bilah pedang baja itu ditarik keluar dari sarungnya secara perlahan. Suara gesekan logam yang nyaring bergema di tengah keheningan gang.
Madara mengangkat pedang itu di depan wajahnya. Dia memperhatikan bilah besinya. Ada beberapa bintik karat tipis di dekat garda pedang. Kualitas tempaannya sangat kasar, dan keseimbangan berat antara gagang dan bilahnya sangat buruk.
Madara memutar pergelangan tangan kanannya, membuat bilah pedang itu berputar sekali di udara dengan suara hembusan angin yang halus.
“Besi murahan,” ucap Madara dengan nada datar, suaranya terdengar sangat jelas di antara kepungan musuh.
Dia menurunkan pedangnya, membiarkan ujung bilah besi itu menunjuk ke arah tanah dengan sudut miring.
“Tapi cukup untuk memotong ilalang.”
Pria berjas hitam yang memimpin bala bantuan merasa terhina oleh kata-kata itu. Wajahnya mengeras di balik topi fedoranya.
“Bunuh dia!” teriak sang pemimpin.
Empat agen yang memegang pistol flintlock langsung menarik pelatuk secara bersamaan.
Bang. Bang. Bang. Bang.
Empat letupan api dan asap menyembur dari laras senjata mereka. Empat proyektil timah melesat menembus asap dengan kecepatan tinggi, mengincar dada, leher, dan kepala Madara dari empat arah yang berbeda.
Pada detik yang sama ketika tembakan meletus, mata hitam kelam milik Madara mengalami perubahan drastis.
Iris matanya luntur menjadi warna merah darah yang menyala terang. Di sekeliling pupilnya, tiga tanda koma hitam muncul dan berputar dengan sangat cepat sebelum mengunci posisinya.
Sharingan tiga Tomoe telah aktif.
Dunia di sekitar Madara seketika melambat. Lintasan empat peluru timah itu terlihat sangat jelas di dalam penglihatannya. Dia bahkan bisa melihat gesekan udara yang menciptakan gelombang tipis di sekitar proyektil tersebut.
Madara tidak membuang energi untuk melompat atau merapal jutsu pertahanan.
Dia menggeser kaki kirinya ke belakang setengah langkah. Tubuhnya memiring dengan sudut yang sangat presisi.
Peluru pertama melintas beberapa milimeter di depan hidungnya. Peluru kedua melewati bawah ketiak kanannya. Madara mengangkat bilah pedang murahannya sedikit ke atas, menggunakan bagian datar besi itu untuk memantulkan peluru ketiga hingga meleset menabrak tembok batu. Sementara peluru keempat lewat di atas pundaknya, memotong sehelai rambut hitamnya.
Seluruh gerakan penghindaran itu dilakukan dalam satu aliran gerak yang sangat halus, tanpa ada satu pun hentakan yang kaku.
Sebelum asap mesiu dari senjata api sempat menghilang, tiga agen yang memegang pedang melompat maju dari arah depan. Mereka mengayunkan bilah baja mereka dengan kombinasi serangan silang yang dirancang untuk memotong tubuh musuh menjadi beberapa bagian.
Madara melangkah maju, justru menerjang ke dalam jarak tebas mereka.
Kenjutsu klan Uchiha bukanlah seni bertarung yang mengandalkan adu kekuatan murni. Itu adalah seni bertarung yang diciptakan di tengah medan perang ribuan kematian, mengandalkan kecepatan, presisi, dan aliran gerakan yang mematikan. Sebuah tarian kematian.
Madara menangkis pedang agen pertama dengan ujung pedangnya, mengalihkan arah tebasan itu hingga menabrak pedang agen kedua. Suara denting logam yang keras terdengar nyaring.
Dua pedang musuh saling terkunci akibat alihan serangan Madara.
Sebelum kedua agen itu sempat menyadari apa yang terjadi, Madara memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Gagang pedangnya yang terbuat dari kayu keras didorong maju dengan kecepatan penuh, menghantam tepat di bagian jakun agen pertama.
Krak.
Suara tenggorokan yang hancur terdengar menyedihkan. Agen pertama membelalakkan matanya, memegangi lehernya sambil jatuh berlutut, kehabisan udara.
Tanpa menghentikan putaran tubuhnya, Madara memanfaatkan momentum itu untuk mengayunkan siku kirinya ke belakang. Pukulan siku berlapis sedikit chakra menghantam rusuk agen kedua.
Suara patahan tulang rusuk bergema. Agen kedua memuntahkan darah dari mulutnya dan terhempas menabrak dinding batu di sisinya.
Agen ketiga yang tersisa mencoba mengayunkan pedangnya dari atas ke kepala Madara.
Mata Sharingan Madara berputar pelan. Dia sudah membaca niat serangan itu sebelum otot lengan agen tersebut berkontraksi penuh.
Madara tidak menangkis. Dia melangkah ke samping, membiarkan pedang musuh menebas udara kosong di sebelah tubuhnya. Saat bilah besi musuh berada di titik terendah, Madara menginjak bagian datar pedang itu dengan sandal kayunya, menekan senjata musuh ke tanah.
Agen ketiga terkejut, mencoba menarik pedangnya tetapi tidak bergeming sedikit pun di bawah pijakan Madara.
Madara mengayunkan bagian tumpul pedang murahannya ke atas. Gagang pedangnya menghantam rahang bawah agen tersebut dengan kekuatan yang memecahkan susunan giginya. Agen ketiga pingsan seketika, tubuhnya melayang sejenak sebelum jatuh telentang di atas bebatuan yang hangus.
Tiga agen elit lumpuh dalam waktu kurang dari lima detik.
Robin yang menyaksikan hal itu dari jarak dekat menahan napasnya. Mata birunya tidak berkedip sedikit pun.
Itu bukan sekadar pertarungan. Pemuda berarmor merah itu tidak terlihat seperti sedang bertarung demi bertahan hidup. Gerakannya begitu luwes, begitu anggun, dan begitu mematikan. Setiap tebasan, tangkisan, dan selangkah kakinya menyatu dengan sempurna, seolah-olah dia sedang menari di atas panggung yang megah.
Sebuah tarian kematian dari seorang ahli Kenjutsu sejati.
Sisa agen Cipher Pol yang berada di belakang mulai merasakan ketakutan yang merayap di punggung mereka. Pembunuhan yang presisi dan tanpa emosi ini berada di luar batas kemampuan manusia biasa.
“Jangan berdiri sendiri-sendiri! Serang bersamaan!” teriak sang pemimpin bala bantuan.
Delapan agen yang tersisa menerjang secara serentak dari segala arah. Empat dari tanah, dua melompat dari tembok, dan dua lagi menyerang dari atap bangunan. Mereka membentuk jaring serangan tanpa titik buta.
Madara menyeringai tipis.
Mata merah tiga Tomoe-nya berputar lebih cepat. Dalam penglihatan Sharingan, setiap pergerakan, setiap embusan angin, dan setiap detik dari delapan musuh di sekitarnya terurai menjadi informasi yang sangat jelas.
Dia melompat ke kanan, memijak dinding batu yang hangus dengan sandal kayunya.
Menggunakan sedikit chakra di telapak kakinya untuk menempel sekejap di permukaan dinding, Madara mengambil posisi miring secara vertikal. Dua tebasan pedang musuh dari atas menghantam tanah kosong tempat dia berdiri sebelumnya.
Dari posisi menempel di dinding, Madara mendorong tubuhnya melesat ke udara.
Dia berputar di udara bagaikan angin puting beliung. Pedang murahannya menyasar sendi-sendi vital musuh dengan presisi bedah.
Crat. Crat.
Dua tebasan cepat memotong urat tendon di bahu dua agen yang baru saja mendarat. Senjata di tangan kedua agen itu jatuh ke tanah bersamaan dengan jeritan kesakitan mereka.
Madara mendarat dengan mulus di tanah berbatu di belakang mereka.
Tanpa berbalik, dia memegang pedangnya secara terbalik. Dia memutar tangannya ke belakang, menusukkan gagang pedangnya ke dada agen ketiga yang mencoba menyerangnya dari balik bayangan.
Dada agen itu terhempas keras, tulang dadanya retak akibat hantaman gagang kayu tersebut.
Tiga agen yang tersisa di tanah mencoba menutup jarak dengan serangan tusukan lurus. Tiga bilah pedang baja meluncur menuju jantung, leher, dan perut Madara.
Madara tidak mundur satu langkah pun.
Dia mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar yang sempurna. Kenjutsu Uchiha: Tarian Bayangan.
Bilah pedang murahannya bergesekan dengan tiga pedang musuh secara bersamaan. Percikan bunga api memercik di udara remang-remang gang. Madara memanipulasi sudut benturan, mengalirkan gaya dorong serangan musuh ke arah samping.
Ketiga pedang musuh saling beradu dan terlempar dari genggaman pemiliknya.
Sebelum ketiga agen itu sempat menarik tangan mereka kembali, Madara melancarkan rangkaian serangan balasan. Dia menggunakan kombinasi Taijutsu dan Kenjutsu secara simultan.
Tendangan melingkar menghantam tempurung lutut agen pertama hingga pecah. Siku kirinya menghantam iluh hati agen kedua, membuat pria itu memuntahkan cairan lambung. Dan bagian samping pedangnya digunakan untuk memukul pelipis agen ketiga dengan kekuatan penuh.
Ketiga agen itu roboh ke tanah satu per satu, tidak bergerak lagi.
Kini, hanya tersisa satu orang.
Sang pemimpin bala bantuan berdiri gemetar beberapa meter di depan Madara. Topi fedoranya telah jatuh ke tanah, memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dan dibasahi oleh keringat dingin.
Di sekelilingnya, belasan rekan elitnya terkapar di atas bebatuan yang hangus. Ada yang mengerang kesakitan sambil memegangi bahu atau lutut mereka, dan ada yang pingsan dengan tulang-tulang yang hancur.
Tidak ada satu pun dari mereka yang terbunuh. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang masih bisa berdiri untuk bertarung.
Seluruh pertarungan itu terjadi dalam waktu kurang dari dua menit.
Pria itu menatap Madara dengan pandangan kengerian yang mutlak. Di matanya, pemuda berarmor merah ini bukan lagi manusia. Pemuda ini adalah iblis perang yang merobek-robek pasukan elit Pemerintah Dunia tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.
Madara melangkah mendekat secara perlahan. Sandal kayunya menapak di atas bebatuan.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara langkah kaki itu terdengar seperti ketukan lonceng kematian di telinga sang pemimpin agen.
Pria itu memegang pedangnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Rahangnya bergetar keras.
“M-Monster...” desis pria itu dengan suara parau. “K-Kau ini... ilmu pedang apa yang kau gunakan? Ini bukan ilmu pedang Angkatan Laut! Ini bukan teknik dari Dunia Baru!”
Madara tidak menjawab pertanyaan itu. Dia bahkan tidak memandang mata pria tersebut.
Mata Sharingan di wajahnya perlahan memudar, kembali menjadi iris hitam kelam yang dingin dan tak tersentuh emosi.
Sifat asli Madara yang selalu meremehkan musuh lemah kembali terlihat jelas. Bagi seorang veteran Perang Dunia Ninja yang pernah berhadapan dengan ribuan shinobi bersenjata lengkap dan monster Bijuu raksasa, pertarungan dengan belasan pembunuh berjas ini tidak lebih dari latihan ringan untuk merenggangkan otot-ototnya.
Melihat Madara tidak merespons, sang pemimpin agen kehilangan akal sehatnya akibat tekanan mental yang terlalu besar.
“Mati kau, Bajingan!” teriak pria itu histeris.
Dia mengayunkan pedangnya dengan seluruh sisa kekuatan dan berat tubuhnya, mengincar leher Madara dengan tebasan memutus.
Madara hanya mengangkat pedang murahannya secara horizontal untuk menangkis tebasan tersebut.
Kring.
Benturan keras antara dua bilah baja bergema di dalam gang sempit itu.
Namun, pedang bajak laut yang dipegang oleh Madara tidak dirancang untuk menahan beban benturan yang terlalu sering. Bintik-bintik karat dan kualitas besi yang buruk mencapai batas ketahannya.
Klak.
Bilah pedang di tangan Madara patah menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah. Potongan besi bagian atas terbang berputar di udara sebelum menancap di dinding batu.
Mata sang pemimpin agen menyala dengan harapan palsu saat melihat senjata musuhnya patah.
Namun sebelum dia sempat memanfaatkan momen tersebut, Madara sudah bergerak.
Mengabaikan pedangnya yang patah, Madara memanfaatkan celah dari tebasan musuh yang tertahan. Kaki kanannya diangkat tinggi-tinggi, melancarkan tendangan kapak lurus dari atas ke bawah.
Brak.
Sandal kayu Madara menghantam bahu kanan sang pemimpin agen dengan kekuatan fisik yang luar biasa.
Suara tulang selangka yang hancur terdengar sangat nyaring. Pria itu menjerit histeris saat tubuhnya dihantam paksa ke tanah oleh kekuatan tendangan tersebut. Tanah di bawah tubuhnya retak, dan pria itu terbaring tidak berdaya, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Keheningan kembali menguasai gang sempit berbatu itu.
Asap tebal perlahan terangkat tertiup angin sore, memperlihatkan pemandangan belasan agen Cipher Pol yang terkapar di tanah. Tidak ada lagi ancaman. Tidak ada lagi laras senjata yang menunjuk.
Madara berdiri di tengah-tengah tubuh para musuhnya yang mengerang.
Dia mengangkat tangan kanannya, memperhatikan sisa gagang pedang kayu yang masih dipegangnya. Hanya ada sekitar sepuluh sentimeter bilah besi patah yang tersisa di gagang tersebut.
Madara mendengus pelan dengan wajah yang penuh dengan rasa muak dan kebosanan.
“Besi rongsokan,” gumam Madara.
Dia melepas genggamannya, membiarkan sisa gagang pedang yang patah itu jatuh begitu saja ke tanah. Logam itu berdenting pelan saat membentur bebatuan yang hangus.
Madara memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak pelan. Dia merapikan bagian depan armor merahnya yang sedikit berdebu.
Dia menatap belasan agen yang tergeletak di bawah kakinya dengan pandangan merendahkan yang sangat dingin.
“Lemah,” desis Madara, suaranya dipenuhi oleh kekecewaan yang mendalam. “Kalian hanya merusak suasana hatiku.”
Pertarungan yang dia harapkan akan memberi sedikit hiburan ternyata berakhir dengan sangat cepat dan mengecewakan. Orang-orang yang mengklaim diri sebagai pelaksana keadilan Pemerintah Dunia ini sama sekali tidak memiliki teknik bertarung yang bernilai di matanya.
[Menerima ketakutan absolut dan kekaguman dari 13 individu. Poin Reputasi +150. Kapasitas Chakra maksimal meningkat.]
Sebuah layar biru transparan berkedip sebentar di sudut pandangannya. Madara mengabaikan notifikasi Sistem tersebut. Dia merasakan aliran chakranya melonggar sedikit lagi, namun perubahan kecil itu tidak mampu menghapus rasa bosannya.
Dia memutar tubuhnya perlahan, bersiap melangkah pergi meninggalkan gang tersebut.
“T-Tunggu...”
Sebuah suara wanita yang lemah dan bergetar menghentikan langkahnya.
Madara melirik dari sudut matanya.
Nico Robin masih berdiri bersandar pada tembok bata di ujung jalan buntu. Tubuhnya gemetar hebat, bukan lagi karena ketakutan pada agen Cipher Pol, melainkan karena kelelahan ekstrim yang akhirnya mencapai batasnya.
Kekuatan Hana Hana no Mi yang sempat dia persiapkan sebelumnya telah menguras seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya yang kelelahan.
Robin melangkah satu kali ke depan, mencoba menghampiri pemuda berarmor merah itu. Namun kakinya tidak lagi memiliki kekuatan untuk menopang berat tubuhnya.
Pandangan mata birunya mulai mengabur. Dunia di sekitarnya terasa berputar dengan cepat.
Robin tergelincir dari tembok batu, tubuh jenjangnya jatuh lunglai ke arah tanah yang hangus.
Sebelum kegelapan menelan kesadarannya sepenuhnya, Robin melihat pemuda berrambut hitam panjang itu berbalik pelan, menatapnya dengan mata hitam yang dingin dan tak tersentuh.
Gadis Iblis dari Ohara itu akhirnya pingsan, tergeletak tidak berdaya di depan kaki sang Hantu Uchiha.