Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Tanah yang Kembali Bernapas
Ayam jantan belum sempat berkokok ketika Lian Yue sudah berada di halaman belakang.
Udara pagi terasa dingin. Kabut tipis masih menyelimuti ladang-ladang di sekitar Desa Qinghe, membuat pepohonan di kejauhan tampak seperti bayangan yang mengambang di lautan putih.
Di samping kakinya tergeletak sebuah keranjang bambu berisi daun-daun kering, abu dapur, rumput liar, dan kotoran ayam yang telah ia kumpulkan semalaman.
Nyonya Han yang baru keluar rumah tampak terkejut. "Lian Yue?"
"Kau belum tidur?"
Lian Yue tersenyum tipis. "Aku sempat tidur."
Sebenarnya tidak. Namun ia tidak ingin membuat wanita paruh baya itu khawatir.
Nyonya Han menghela napas. "Anak ini... jangan terlalu memaksakan diri."
Lian Yue hanya mengangguk. Sejak datang ke keluarga Han, ia mulai memahami satu hal. Mereka memang miskin. Namun mereka juga keluarga yang hangat.
Tidak ada bentakan. Tidak ada saling menyalahkan. Bahkan ketika hidup begitu sulit, mereka masih saling mengkhawatirkan. Perasaan seperti itu begitu asing baginya.
Di dunia asal, seseorang yang terlalu peduli kepada orang lain justru akan mati lebih cepat.
.
.
Setelah sarapan dengan lauk sederhana dan ala kadarnya. Lian Yue membawa keranjang yang di isi daun-daun semalam itu menuju sebidang tanah kosong di belakang rumah.
Dengan cangkul tua milik Han Zheng, ia menggali lubang yang tidak terlalu dalam. Daun kering masuk lebih dulu. Disusul rumput liar. Kemudian abu dapur. Terakhir, sedikit kotoran ayam.
Ia menyiramnya dengan air secukupnya sebelum menutupnya kembali menggunakan tanah.
Han Zheng yang baru selesai menyiapkan kayu bakar menghampirinya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Membuat makanan untuk tanah."
Han Zheng tertawa kecil. "Kemarin kau juga mengatakan hal yang sama."
Lian Yue tersenyum.
"Kita lihat saja nanti."
Han Zheng mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Entah mengapa, ia mulai terbiasa dengan ide-ide aneh istrinya.
Dan anehnya lagi...
Ide-ide itu sering kali masuk akal setelah dijelaskan.
.
.
Menjelang siang, Lian Yue berjalan ke ladang keluarga Han. Hamparan tanah yang retak-retak membentang di hadapannya.
Jagung tumbuh kurus. Sayuran hampir mati. Beberapa bagian bahkan hanya ditumbuhi ilalang. Ia berjongkok, lalu menggenggam segenggam tanah.
Begitu tandus. Seolah tidak memiliki kehidupan. Saat itulah suara burung pipit terdengar dari atas pohon.
["Manusia aneh."]
["Kau datang lagi."]
Lian Yue mendongak ke arah sumber suara. Burung yang sama seperti beberapa hari lalu hinggap di dahan rendah.
"Aku ingin melihat ladang."
Burung itu mengepakkan sayap.
["Tanah ini sedih."]
Lian Yue tersenyum tipis. "Aku tahu."
["Dulu banyak cacing."]
["Sekarang sedikit."]
["Dulu banyak rumput."]
["Sekarang satu pun malah mati."]
Lian Yue kembali menatap tanah di tangannya. Kalimat sederhana itu membuatnya berpikir. Tanah yang sehat memang dipenuhi makhluk hidup.
Kalau bahkan cacing pun enggan tinggal... Berarti kondisinya benar-benar buruk.
Ia menghela napas pelan. "Semoga masih bisa diselamatkan."
Tanpa sadar, telapak tangannya mengepal. Segenggam tanah itu berada tepat di dalam genggamannya.
Hangat.
Tiba-tiba... Ia merasakan sesuatu. Sangat lembut. Seperti aliran air hangat yang mengalir dari dadanya menuju telapak tangan.
Lian Yue terkejut. "Apa ini?"
Ia refleks membuka genggamannya. Tanah itu masih sama. Namun entah mengapa... Warnanya tampak sedikit lebih gelap dan lembap. Bahkan aroma tanahnya berubah menjadi lebih segar.
Burung pipit di atas pohon mendadak meloncat kegirangan.
["Eh? Tanahnya senang!"]
Lian Yue membeku. "Apa maksudmu?"
["Tadi tanahnya menangis."]
["Sekarang dia tertawa."]
Burung itu tidak mengerti apa yang terjadi. Namun instingnya mengatakan bahwa tanah di bawah sana baru saja berubah.
Lian Yue segera menyebarkan segenggam tanah itu kembali ke ladang. Ia tidak berani mencoba lagi. Baru beberapa detik berlalu, sesuatu yang nyaris tak terlihat mulai terjadi.
Daun jagung yang semula terkulai perlahan tampak sedikit lebih tegak. Retakan di sekitar tanah menjadi lebih lembap.
Perubahannya sangat kecil.
Kalau tidak diamati dengan saksama, tidak akan terlihat sama sekali. Namun Lian Yue menyadarinya. Jantungnya berdegup kencang.
"Kemampuan...pemurnian?"
Ia akhirnya mengingat kilasan terakhir sebelum kesadarannya berpindah ke dunia ini.
Cahaya putih.
Suara yang begitu lembut. Lalu kehangatan yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Mungkinkah... Inilah kemampuan yang ikut terbawa bersama jiwanya?
.
.
Menjelang sore, Han Zheng datang membawa seikat kayu bakar. Ia berhenti saat melihat Lian Yue masih berdiri di tengah ladang.
"Kau sudah di sini sejak tadi?"
Lian Yue mengangguk. "Aku sedang berpikir."
Han Zheng ikut memandangi ladang mereka. "Kalau hujan tidak turun dalam beberapa hari...hasil panen tahun ini mungkin lebih buruk."
Lian Yue tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada satu batang jagung yang tadi ia sentuh. Daunnya memang masih kecil. Namun dibandingkan tanaman di sebelahnya...
Warnanya sedikit lebih hijau. Perbedaannya hampir tidak terlihat. Tetapi cukup untuk membuatnya yakin bahwa apa yang terjadi tadi bukan kebetulan.
Ia menahan diri agar tidak tersenyum.
Belum saatnya. Jika ia langsung menggunakan kemampuan itu dalam jumlah besar, orang-orang pasti akan curiga.
Ia harus bergerak perlahan. Sedikit demi sedikit. Seperti hujan yang membasahi tanah tanpa disadari.
.
.
Malam itu, setelah semua orang tertidur, Lian Yue berjalan dengan hati-hati dengan langkah mengendap untuk kembali ke ladang seorang diri. Langit cerah dipenuhi bintang. Ia berjongkok di tempat yang sama.
Kali ini, ia sengaja mengambil segenggam tanah.
Menutup mata. Menenangkan napas. Perlahan, rasa hangat itu muncul lagi. Mengalir dari dalam tubuhnya menuju ujung jari. Tanah di telapak tangannya kembali berubah.
Tidak mencolok. Hanya sedikit lebih hitam.
Sedikit lebih lembap. Sedikit lebih hidup. Namun sebelum ia sempat mencoba lebih jauh, rasa pusing mendadak menyerang.
Pandangannya berkunang-kunang. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Lian Yue buru-buru menopang dirinya pada cangkul tua yang tertancap di tanah.
"Napas ku sesak...ternyata kemampuan ini menguras tenagaku."
Ia tersenyum tipis.
Entah mengapa, hal itu justru membuatnya lega. Kalau kemampuan ini memiliki batas, berarti ia tidak akan bergantung padanya.
Ia masih harus menggunakan pengetahuan, kerja keras, dan kesabarannya. Seperti yang selalu ia lakukan di dunia asal. Dari atas pohon, burung pipit kecil menguap sambil menyelipkan kepalanya ke balik sayap.
["Manusia aneh..."]
["...kenapa tidak tidur?"]
Lian Yue terkekeh pelan. "Aku hanya sedang menanam harapan."
Burung itu tentu tidak mengerti. Namun angin malam yang berembus melewati ladang membawa aroma tanah yang sedikit berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tandus. Sebidang kecil ladang keluarga Han mulai kembali bernapas.
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang