NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Waktu melaju tanpa belas kasihan. Enam hari yang tersisa berlalu begitu cepat bagaikan air yang meluncur di sela-sela jemari. Setiap detik yang berharga dipenuhi dengan usapan hangat, bisikan cinta di tengah malam, dan kebersamaan yang berusaha membekukan waktu. Namun, takdir dinasti tak pernah menunda langkahnya.

Pagi itu, plataran utama Istana Buckingham diselimuti kabut tipis khas London. Helikopter militer dan iring-iringan mobil taktis hitam sudah bersiaga dengan mesin yang menyala halus. Para perwira tinggi dan pengawal berpakaian dinas berdiri tegak dalam barisan kaku, menunggu pemberangkatan Pangeran Alistair Blackwood menuju pangkalan udara sebelum diterbangkan ke daerah konflik di Timur Tengah.

Alistair berdiri di puncak tangga batu granit. Pakaian dinas militernya yang berwarna gelap membuat bahu tegapnya tampak makin gagah, namun wajah tampannya diliputi rasa berat hati yang amat dalam.

Pangeran itu menarik Baxeena ke dalam dekapan hangatnya, sementara lengan satunya melingkari tubuh mungil Violet yang menempel tak ingin lepas.

Di hadapan seluruh pengawal dan pejabat istana, Alistair menundukkan kepala, mendaratkan ciuman yang begitu panjang dan dalam di bibir Baxeena—sebuah ciuman yang sarat akan kerinduan yang ditabung untuk enam bulan ke depan.

Setelah melepaskan bibir istrinya dengan perlahan, Alistair berlutut, mengecup kening Violet lama sekali. "Jaga Mommy-mu, Sayang," bisiknya parau.

Alistair kembali berdiri, menatap Baxeena dengan mata hazel-nya yang berkilat hangat. Jemari tegapnya merayap turun, mengusap perut rata Baxeena dengan kelembutan yang teramat dalam.

Sentuhan itu bukan sekadar usapan biasa, melainkan sebuah doa dan harapan tanpa suara—berharap di dalam rahim wanita yang paling dicintainya itu, benih cinta mereka sudah mulai tumbuh dan berakar, siap menyambut kepulangannya nanti.

Dari kejauhan, berdiri di dekat pilar besar istana, Ratu Lizzeebeeth menyaksikan pemandangan tersebut. Sebuah senyum sinis yang amat tipis menari-nari di bibir tuanya yang terpulas gincu merah.

Namun, dengan keterampilan diploma puluhan tahun, sang Ratu dengan cepat menyembunyikan senyuman beracun itu di balik raut wajah seorang ibu yang penuh keanggunan. Ratu tahu pasti bahwa obat penunda kehamilan yang terus dicampurkan ke dalam makanan Baxeena akan memastikan harapan putranya itu menjadi sia-sia.

Ratu Lizzeebeeth melangkah anggun mendekat, menghentakkan tongkatnya pelan di atas lantai batu.

"Para petinggi militer sudah menunggumu di pangkalan, Alistair," ujar sang Ratu, suaranya mengalun tenang dan berwibawa. "Jangan pernah menoleh ke belakang lagi, Putraku. Kau pergi hanya untuk enam bulan demi menunaikan kewajiban kerajaannmu. Ibu pastikan... istri dan putrimu akan baik-baik saja di istana ini di bawah pengawasan Ibu."

Alistair menatap ibunya dengan tatapan penuh selidik dan peringatan terselubung. Ia tidak menjawab sepatah kata pun Ratu Lizzeebeeth. Pria itu hanya memberikan ciuman terakhir di kening Baxeena, menepuk bahu Violet, lalu memutar tubuhnya lebar-lebar.

Tanpa menoleh ke belakang lagi sesuai perintah sang Ratu, Alistair melangkah mantap memasuki helikopter militer yang siap membawanya pergi menuju garis depan.

***

Kepergian Alistair meninggalkan celah keheningan yang cukup terasa di dalam istana. Namun, Baxeena tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan yang melumpuhkan. Ia tahu, tugas terbesarnya selama enam bulan ke depan adalah menjaga rumah yang ditinggalkan suaminya—dan yang paling utama, menjaga Violet.

Sore harinya, matahari mulai meredup membiaskan warna jingga di balik jendela perpustakaan pribadi sayap utara. Suasana di dalam ruangan berpanel kayu ek itu sangat tenang, hanya dihiasi aroma kertas tua dan teh hangat.

Baxeena duduk di sofa beludru, memperhatikan Violet yang sedang fokus menyelesaikan tugas sejarah kerajaannya di meja belajar kayu.

Di mata Baxeena, Violet adalah gadis yang sangat cerdas, namun kehidupannya yang terlalu terkungkung di dalam tembok istana membuat remaja tiga belas tahun itu cukup kurang jeli dalam menilai niat orang-orang di sekitarnya.

Usia tiga belas tahun adalah masa transisi yang rentan—masa di mana seorang anak belum memiliki jati diri yang kokoh dan sangat mudah dipengaruhi oleh kepura-puraan orang dewasa.

"Vio..." panggil Baxeena lembut, meletakkan cangkir tehnya ke atas piring porselen.

Violet mendongak, menyisipkan helai rambut pirangnya ke belakang telinga. "Ya, Mommy?"

"Kemarilah sebentar, Nak," Baxeena menepuk tempat kosong di sampingnya di sofa.

Violet menurut tanpa ragu. Ia berdiri dari kursi belajarnya dan mendudukkan diri di sebelah Baxeena. Baxeena meraih kedua tangan halus putrinya, mengusapnya dengan kehangatan seorang ibu.

"Mommy mau bicara sedikit," ujar Baxeena, menatap dalam ke balik mata jernih Violet. "Di istana ini, tidak semua orang yang tersenyum padamu benar-benar memiliki niat yang tulus. Menjadi putri seorang calon Raja berarti kau akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang berusaha memanfaatkan kepolosanmu demi keuntungan mereka sendiri."

Baxeena mengusap jemari Violet pelan, mengalirkan pemahaman dengan nada suara yang tenang tanpa bermaksud menakut-nakuti. "Ibu kandungmu, atau bahkan orang-orang di sekitarmu yang terbiasa menggunakan topeng politik... mereka sering kali menyampaikan kata-kata manis hanya untuk mempengaruhimu. Mengkritik bentuk tubuhmu, membandingkan dirimu, atau berpura-pura kasihan padamu—semua itu adalah cara mereka untuk mengendalikan pikiranmu. Kau harus belajar melihat bukan dari apa yang mereka ucapkan, tapi dari apa yang mereka lakukan."

Violet mendengarkan setiap patah kata Baxeena dengan saksama. Matanya berkedip pelan, mencerna nasihat yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh siapa pun di lingkungan bangsawan kaku ini.

"Jati dirimu tidak ditentukan oleh pendapat orang lain, Vi," tambah Baxeena dengan senyuman hangat penuh kepastian. "Kau berharga karena kau adalah dirimu sendiri. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa kurang, atau memanfaatkan kebaikan hatimu."

Baxeena mengelus pipi halus Violet. "Kau sudah paham, kan, Sayang?" ucap Baxeena mengakhiri nasihat lembutnya.

Violet, yang kini mulai menapak masa remajanya, mengangguk mantap. Sebuah senyuman tulus mengembang di wajah cantiknya. "Aku paham, Mommy. Terima kasih... tidak ada orang yang pernah menjelaskan hal seperti ini padaku sebelumnya."

Gadis remaja itu tiba-tiba berdiri dari sofa, berniat kembali ke meja belajarnya untuk merapikan buku-buku sejarah yang masih berserakan.

Namun, baru dua langkah Violet bergerak, langkah kakinya mendadak terhenti kaku di tengah ruangan. Wajahnya yang semula merona mendadak berubah pucat pasi. Ia merasakan sesuatu yang aneh dan hangat mengalir di balik gaun katun merah muda yang dikenakannya.

Saat Violet menoleh ke belakang untuk melihat tumpukan bukunya, Baxeena yang masih duduk di sofa tidak sengaja menangkap bercak noda merah segar yang menembus bagian belakang gaun bawah putrinya.

Baxeena seketika terperanjat pelan. Pengalamannya sebagai wanita dewasa membuat Baxeena langsung menyadari apa yang sedang terjadi.

Violet yang keputusasaan melihat noda merah di gaunnya sendiri mulai gemetar hebat. Tangan kecilnya meremas ujung gaun dengan panik luar biasa. Air mata jernih seketika menggenang di pelupuk matanya.

"Mommy..." panggil Violet dengan suara melengking panik dan bergetar hebat. "Mommy... ada apa denganku?! Apa aku terluka?! Kenapa... kenapa ada darah?!"

Tangis Violet pecah seketika. Kepolosan remaja tiga belas tahun yang belum pernah mendapatkan edukasi kewanitaan secara tepat membuat gadis itu berpikir bahwa dirinya sedang menderita luka parah atau penyakit mengerikan.

melihat kepanikan luar biasa yang melanda putrinya, Baxeena bergerak dengan sangat cepat namun tanpa sedikit pun menunjukkan raut panik di wajahnya. Ia berdiri anggun, melangkah mendekati Violet, lalu dengan kelembutan yang melumpuhkan, Baxeena merengkuh tubuh gemetar gadis itu ke dalam pelukannya.

"Sstt... tenang, Sayang. Tidak ada yang terluka," bisik Baxeena lembut di samping telinga Violet, mengusap-usap punggung putrinya dengan ritme yang menenangkan. Baxeena membiarkan Violet menumpahkan rasa takutnya di dadanya. "Kau sama sekali tidak sakit. Tidak ada yang perlu ditakutkan."

Baxeena menarik tubuh Violet sedikit, mengusap air mata yang membasahi pipi halus putrinya dengan jemarinya sendiri. Tatapan Baxeena memancarkan kehangatan dan rasa bangga murni seorang ibu.

"Dengar Mommy, Vi..." ujar Baxeena dengan suara yang amat lembut, hampir menyerupai bisikan pengantar tidur. "Ini adalah tanda bahwa putri kecil Mommy sedang bertumbuh menjadi seorang wanita muda yang sehat dan cantik. Ini disebut menstruasi, atau datang bulan. Setiap wanita di dunia ini melewatinya, dan ini adalah hal yang sangat alami dan indah."

Violet mengerjapkan matanya yang basah, isak tangisnya perlahan mereda mendengar nada suara Baxeena yang begitu tenang dan tidak menghakimi. "J-jadi... aku tidak akan mati, Mommy?"

Baxeena terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang hangat dan meruntuhkan seluruh ketakutan Violet. "Tentu saja tidak, Sayang. Kau sangat sehat."

Baxeena merangkul bahu Violet, membimbing gadis remaja itu melangkah pelan menuju kamar mandi utama di dalam kamar suite mereka.

Tanpa ragu atau rasa canggung sedikit pun, Baxeena membantu Violet membersihkan diri, menyiapkan pembalut pertama untuk putrinya, dan mengajarkan cara menggunakannya dengan sangat sabar dan detail.

Setelah meletakkan gaun yang kotor ke dalam keranjang perawat dan mengganti pakaian Violet dengan piyama katun yang longgar dan nyaman, Baxeena mendudukkan Violet di tepi tempat tidur megah. Baxeena mengambil sebotol minyak aromaterapi hangat, lalu mengusapkannya perlahan di perut bagian bawah Violet untuk meredakan kram ringan yang mulai dirasakan gadis itu.

"Bagaimana rasanya? Masih takut?" tanya Baxeena lembut sembari memijat perut Violet dengan gerakan memutar.

Violet menggelengkan kepalanya pelan, menyandarkan tubuhnya pada lengan Baxeena. Rasa hangat dari pijatan dan aroma minyak aromaterapi membuat tubuhnya yang tadi tegang kini menjadi sangat rileks.

"Tidak lagi, Mommy..." bisik Violet lirih, menatap Baxeena dengan rasa kagum dan sayang yang tak terukur. "Terima kasih sudah ada di sini bersamaku."

Baxeena tersenyum manis, mencium kening Violet dengan penuh kasih sayang. "Mommy akan selalu ada di sini untukmu, Vio. Apa pun yang kau rasakan, apa pun yang membuatmu bingung tentang tubuhmu atau hidupmu... kau bisa selalu datang pada Mommy."

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!