NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Malam yang Mengubah Segalanya

"Masuklah sebentar. Pak Teguh cuma mau bicara."

Telapak tangan Revan menekan punggung Keira, mendorongnya ke arah pintu ruang VIP yang setengah terbuka.

Keira menahan kusen. Tiga garis emas di bahu seragam pilotnya bergetar bersama tubuhnya. Musik dari ballroom hotel masih berdentum di ujung koridor, tetapi suara itu terdengar seperti datang dari dasar air.

"Kenapa harus di kamar pribadi?" Lidahnya terasa tebal. "Kalau soal jadwal terbang, kita bicara di kantor."

Revan mendekat, senyum yang dipakainya sepanjang acara tahunan NusAir telah hilang. "Jangan bikin malu aku. Kamu tahu berapa banyak orang yang ingin mendapat waktu khusus dari Pak Teguh?"

Di belakangnya, Wenny menyilangkan tangan di depan gaun merah berkilau. Gelas sampanye kosong masih ada di tangannya.

"Keira memang suka merasa paling istimewa," katanya. "Sudah ditawari kesempatan, malah jual mahal."

Keira menatap gelas itu. Tadi Wenny yang menyerahkannya. Revan yang berkata satu teguk saja demi menghormati direksi.

Sekarang tengkuknya terbakar. Pandangannya berbayang. Ini bukan mabuk biasa.

Pintu terbuka lebih lebar. Pak Teguh berdiri di dalam, jasnya sudah dilepas, dua kancing kemeja teratas terbuka. Senyum pria itu membuat isi perut Keira berbalik.

"Masuk, Keira." Tatapannya turun perlahan dari wajah ke tubuh Keira. "Kita bisa membicarakan masa depanmu dengan tenang."

Keira mundur satu langkah. Revan kembali menahannya.

"Lepaskan aku."

"Jangan lebay." Jemari Revan mencengkeram lengannya. "Pak Teguh bisa memastikan kamu masuk daftar penerbangan utama. Ini juga demi karier kita."

Karier kita.

Dua kata itu memotong kabut di kepala Keira.

Dia menoleh tajam. "Kamu tahu minuman itu dicampur sesuatu?"

Revan tidak menjawab. Hanya sepersekian detik, tetapi pandangannya beralih kepada Wenny.

Cukup.

Keira mengangkat siku sekuat tenaga. Ujungnya menghantam dada Revan. Saat cengkeraman pria itu longgar, dia menendang pintu VIP hingga menghantam lutut Pak Teguh, lalu berlari.

"Keira!"

Sepatu haknya menghantam lantai marmer. Sekali, dua kali, lalu terlepas dari kaki kanan. Dia tidak kembali mengambilnya.

"Tangkap dia!" bentak Pak Teguh.

Keira menerobos pintu servis. Udara lembap dan bau cairan pembersih menyergapnya. Seorang pramusaji yang membawa baki nyaris tertabrak.

"Lift ke parkiran di mana?"

Pramusaji itu menunjuk ke kiri. "Di ujung, Bu. Tapi Anda tidak apa-apa?"

Keira sudah berlari lagi sebelum pertanyaan itu selesai.

Pintu lift terbuka. Dia masuk, menekan tombol B3 berkali-kali, lalu menyandarkan tubuh ke dinding logam yang dingin. Bayangannya di pintu tampak kacau. Sanggulnya terlepas. Lipstik merah menempel di sudut bibir. Satu kaki hanya dibungkus stoking tipis.

Ponselnya bergetar.

Revan.

Keira menolak panggilan itu. Pesan WhatsApp masuk satu demi satu.

Jangan memperbesar masalah.

Kembali sekarang.

Kamu akan menyesal.

Dia memotret layar dengan tangan gemetar. Bukti. Apa pun yang terjadi setelah malam ini, dia membutuhkan bukti.

Lift berhenti di B2.

Keira membeku. Dia menekan tombol tutup, tetapi sebuah tangan menyelip di antara pintu.

Revan muncul dengan napas berat.

"Kita bicara baik-baik."

Keira menendang tulang keringnya dengan kaki telanjang. Revan mengumpat dan tangannya terlepas. Pintu menutup tepat ketika Wenny berlari dari ujung lorong.

Baru saat angka B3 menyala, lutut Keira kehilangan tenaga.

Dia harus keluar dari hotel. Harus mencapai pos keamanan atau jalan raya. Setelah itu dia akan menelepon Vera, polisi, siapa saja.

Pintu terbuka ke area parkir bawah tanah SCBD yang hampir kosong.

Lampu neon putih berkelip di langit-langit beton. Deretan mobil gelap berdiri seperti bayangan bisu. Udara berbau oli, debu, dan sisa hujan yang terbawa ban.

Keira melangkah cepat sambil memegangi dinding. Seragam yang biasanya membuat punggungnya tegak kini terasa menjerat leher. Keringat dingin merembes di bawah kerah.

Di belakangnya, lift berbunyi lagi.

"Dia turun ke sini!" Suara Wenny memantul di antara pilar.

Keira memaksa kakinya bergerak. Pandangannya menyempit. Huruf B3 di pilar beton terbelah menjadi dua.

Lalu dia menabrak sesuatu yang keras.

Bukan pilar.

Dua tangan menangkap bahunya sebelum dia jatuh. Aroma kayu, hujan, dan kopi pahit menembus bau parkiran.

"Pelan."

Suara pria. Rendah, tenang, terlalu dekat.

Keira mendongak. Wajah lelaki di depannya hanya terkena separuh cahaya. Kemeja hitamnya sederhana, tanpa dasi atau logo merek. Namun, cara dia berdiri sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bisa didorong siapa pun.

Keira menarik diri. "Jangan sentuh aku."

Lelaki itu langsung melepas bahunya, tetapi telapak tangannya tetap terbuka di dekat siku Keira, siap menangkap jika dia limbung lagi.

"Baik. Tapi kamu hampir jatuh."

Suara langkah mendekat.

"Keira!" Revan kini ikut berteriak. "Jangan bikin keributan!"

Wajah Keira kehilangan warna. Lelaki asing itu mengikuti arah pandangannya.

"Mereka mengejarmu?"

"Aku tidak mengenalmu."

"Itu bukan jawaban."

Keira menggigit bagian dalam pipinya agar tetap sadar. "Mereka memasukkan sesuatu ke minumanku."

Sorot mata lelaki itu berubah. Bukan kaget. Lebih dingin dari lantai beton di bawah kaki Keira.

"Bisa berjalan?"

"Bisa."

Dia mencoba membuktikannya dan nyaris tersandung kaki sendiri.

Lelaki itu melirik sedan abu-abu yang terparkir dua meter dari mereka. Pintu belakangnya belum terkunci.

"Masuk. Hanya sampai mereka lewat."

Keira ragu. Bersembunyi di mobil seorang pria asing terdengar sama buruknya dengan bertahan di tempat terbuka.

Suara Pak Teguh terdengar dari lorong lift. "Cari sampai ketemu!"

Lelaki itu membuka pintu belakang. Dia tidak menarik Keira, tidak menyentuhnya lagi. Hanya berdiri di antara tubuh Keira dan arah datang tiga orang itu.

"Pilih cepat," katanya.

Keira masuk.

Lelaki itu menyusul dan menutup pintu tanpa suara. Ruang di dalam mobil sempit, gelap, dan dipenuhi kehangatan tubuh mereka. Keira bergeser sampai bahunya menyentuh pintu seberang. Jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras hingga dia yakin lelaki itu bisa mendengarnya.

"Kunci," bisiknya.

Pria itu menekan tombol. Bunyi klik terdengar tepat ketika langkah kaki melewati bagian depan mobil.

"Dia tidak mungkin jauh," kata Wenny.

"Kalau dia membuat laporan, kalian berdua ikut jatuh," desis Pak Teguh. "Paham?"

Keira meraih ponsel. Pria di sampingnya menahan gerakannya dengan satu telunjuk di udara, bukan pada tubuhnya. Layar ponsel Keira terlalu terang. Dia menurunkan kecerahan, membuka perekam, lalu meletakkannya di jok.

"Cari di tangga darurat," perintah Revan.

Bayangan mereka berhenti di samping mobil. Keira menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram rok seragam sampai buku-bukunya memutih.

Pria asing itu melepas jas tipis yang tersampir di lengannya, lalu menutupkannya ke bahu Keira. Gerakannya lambat, memberi kesempatan untuk menolak.

Keira tidak menolak. Tubuhnya menggigil terlalu keras.

"Lihat aku," bisiknya.

Keira menoleh.

"Tarik napas pelan. Jangan sampai kamu pingsan."

"Aku tidak akan pingsan."

"Bagus. Marah saja. Itu lebih berguna."

Untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang tidak menyuruhnya diam, tersenyum, atau menjaga nama baik orang lain.

Langkah kaki akhirnya menjauh.

Keira mengembuskan napas, tetapi pria itu belum membuka kunci.

"Tunggu satu menit."

"Kamu siapa?"

"Orang yang kebetulan lewat."

"Orang yang kebetulan lewat tidak biasa memberi perintah seperti itu."

Sudut bibirnya bergerak tipis. "Kamu masih bisa curiga. Berarti obatnya belum menang."

Keira hendak membalas, tetapi lampu mobil dari ujung jalur menyapu kaca. Sebuah Rolls-Royce hitam meluncur mendekat dan berhenti beberapa langkah dari sedan mereka.

Seorang pria berjas turun dari kursi depan. Dia membuka pintu belakang Rolls-Royce, lalu memandang ke arah lelaki di samping Keira.

"Bos, mobilnya sudah siap."

Keira menatap jas sederhana yang menyelimuti bahunya, lalu jam tangan gelap di pergelangan lelaki itu. Tidak ada sesuatu pun yang tampak murahan. Dia hanya terlalu kacau untuk menyadarinya sejak awal.

Lelaki itu membuka pintu sedan dan keluar. Udara dingin menyusup masuk.

"Tunggu," kata Keira. "Jasmu."

"Pakai dulu. Cari petugas keamanan di lobi timur. Aku sudah mengirim orang ke sana."

Keira mengerutkan kening. "Mengirim orang?"

Dia tidak menjelaskan. Matanya turun pada kartu identitas yang tergantung miring di dada Keira, tetapi kartu itu terbalik.

"Nama kamu siapa?"

Sebelum Keira sempat menjawab, suara pintu lift berdenting lagi.

Pria berjas di dekat Rolls-Royce menegang. "Bos."

Lelaki asing itu mundur satu langkah. Pintu mobil mewah tertutup setelah dia masuk, lalu kendaraan hitam itu melaju meninggalkan garis cahaya di lantai basah.

Keira tetap duduk di sedan yang kini terbuka, memeluk jasnya erat-erat.

"Bu Keira?"

Dua petugas keamanan hotel berlari mendekat bersama seorang manajer perempuan. Yang tertua melepas jaket seragamnya untuk menutupi kaki Keira yang hanya berstoking.

"Kami menerima laporan ada tamu yang membutuhkan bantuan. Ambulans sedang menuju lobi timur. Apakah mereka yang mengejar Anda masih di lantai ini?"

Keira belum sempat menjawab ketika Revan muncul dari balik pilar. Langkahnya melambat saat melihat seragam keamanan.

"Keira, syukurlah kamu di sini." Wajahnya berubah cemas begitu cepat hingga hampir meyakinkan. "Dia minum terlalu banyak. Kami hanya ingin membawanya pulang."

Manajer perempuan itu menatap Keira, tidak beralih kepada Revan. "Apakah Anda mengenal pria ini?"

Keira mengangkat ponselnya. Rekaman masih berjalan. Suara Pak Teguh terdengar jernih dari pengeras kecil.

Kalau dia membuat laporan, kalian berdua ikut jatuh.

Wajah Revan mengeras.

"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Matikan dulu, kita bicara."

"Jangan dekati saya."

Keira mengucapkannya dalam nada yang biasa dia gunakan di kokpit ketika cuaca buruk mulai mengguncang pesawat. Tidak keras, tetapi tidak menyediakan ruang untuk dibantah.

Petugas keamanan langsung berdiri di antara mereka.

"Pak, silakan mundur."

"Saya pacarnya."

"Tidak malam ini," kata Keira.

Kalimat itu membuat Revan berhenti.

Keira menyerahkan ponselnya kepada manajer perempuan. "Tolong salin rekaman ini dan amankan CCTV dari ballroom, koridor VIP, lift, serta parkiran B2 dan B3. Jangan hapus apa pun. Saya juga mau diperiksa di rumah sakit."

"Baik. Kami akan dampingi Anda."

Revan mencoba maju lagi. Dua petugas menahannya.

"Keira, kalau kamu keluar dari sini sambil membawa masalah ini ke polisi, kariermu di NusAir selesai. Pak Teguh tidak akan tinggal diam."

Keira menatapnya melalui cahaya putih parkiran. Beberapa menit lalu tubuhnya hampir tidak bisa berdiri. Kini telapak kakinya masih sakit dan darah menghangatkan stoking yang robek, tetapi suaranya tetap utuh.

"Kalau karierku hanya bisa bertahan dengan masuk ke kamar Pak Teguh, lebih baik semuanya dibongkar."

Pintu lift kembali terbuka. Wenny berdiri di dalam, tetapi langsung menekan tombol tutup saat melihat petugas keamanan dan ponsel di tangan manajer hotel.

Revan memucat.

Keira tidak memberinya satu kata pun lagi. Dengan bantuan manajer perempuan, dia berdiri dan melangkah menuju lobi timur.

Namun matanya masih terpaku pada lampu belakang Rolls-Royce yang menghilang di tikungan.

Bos.

Siapa sebenarnya pria itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!