Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Sempoa dan Kehormatan
Pria berjaket cokelat itu ternyata hanya seorang pemabuk yang salah turun dari taksi online.
Begitulah laporan Made keesokan paginya.
Tidak ada senjata. Tidak ada hubungan dengan keluarga Phua. Tidak ada bukti ia mengikuti Liana sejak kantor. Ia hanya mabuk, kehilangan arah, lalu memilih bertanya kepada perempuan pertama yang terlihat mudah didekati.
Secara logika, itu kabar baik.
Namun Edwin tidak terlihat lega.
Di ruangannya, ia membaca laporan security sampai selesai, lalu meletakkannya di meja.
"Pengawalan tetap jalan."
Arman tidak terkejut. "Baik, Boss."
"Jarak lebih rapi. Jangan sampai Bu Liana merasa dibuntuti."
"Made sudah saya briefing ulang."
Edwin mengangguk. "Kalau ada orang dari pihak Phua mendekat tanpa janji, laporkan dulu sebelum mereka sampai ke lobi."
"Termasuk Jason?"
Edwin menatapnya. "Termasuk siapa pun."
Arman mencatat. Ia tidak bertanya lagi. Ada kalanya perlindungan seorang Edwin Loh terlihat seperti prosedur dingin, tetapi orang yang cukup lama bekerja dengannya tahu, semakin pendek perintahnya, semakin serius orang yang ingin ia lindungi.
Hari itu, Liana tidak tahu apa pun tentang keputusan tersebut. Ia hanya tahu Made muncul sebentar di lobi, menjelaskan dengan sopan bahwa pria semalam sudah diamankan dan tidak berbahaya.
"Maaf kalau saya membuat Ibu kaget," kata Made.
Liana memandangnya. "Pak Made dari security Loh Group, kan?"
Made terdiam setengah detik, lalu mengangguk. "Betul, Bu."
Liana tidak bertanya siapa yang mengatur. Ia sudah bisa menebak, meski belum berani menamai tebakannya.
"Terima kasih," katanya.
"Saya hanya menjalankan tugas."
Kalimat itu terdengar seperti milik orang lain juga.
Menjelang siang, Arman memberi tahu Liana bahwa ia harus ikut masuk ke ruang rapat besar. Ada rapat dewan direksi dan komisaris terkait kerja sama dengan pemasok Singapura. Tugasnya sederhana: membantu memastikan istilah kontrak dan angka dalam dokumen terjemahan tidak salah saat dibahas.
Sederhana, kata Arman.
Namun ketika Liana masuk ke ruang rapat, ia langsung tahu tidak ada yang sederhana di sana.
Meja panjang berkilau dipenuhi direktur, komisaris, kepala divisi, dan staf legal. Layar besar di depan ruangan menampilkan tabel berlapis angka: dolar Singapura, rupiah, biaya logistik, potongan volume, dan penalti keterlambatan. Di sisi kanan, tim finance sudah membuka spreadsheet dengan baris yang begitu rapat sampai tampak seperti jaring.
Edwin duduk di kursi utama. Kevin Loh berada di sisi kirinya sebagai peserta pengamat, memainkan pena di jari kiri dengan santai, tetapi matanya tajam memperhatikan ruangan. Arman berdiri di belakang Edwin.
Liana mengambil tempat di kursi samping, bukan di meja utama. Ia sudah terbiasa dengan posisi itu. Dekat cukup untuk dipanggil, jauh cukup untuk tidak mengganggu.
Rapat berjalan lancar pada awalnya. Tim legal menjelaskan klausul. Finance memaparkan estimasi. Namun saat pembahasan masuk ke konversi pembayaran tiga tahap, angka di layar tidak cocok dengan lampiran kontrak.
"Selisihnya kecil," kata kepala finance, "tapi kalau volume masuk penuh selama tiga tahun, totalnya bisa jadi besar."
Seorang direktur perempuan mencondongkan tubuh. "Apakah ini salah kurs, salah rounding, atau salah terjemahan istilah rebate?"
Suasana menegang.
Liana membuka dokumen yang sudah ia tandai. Dalam bahasa Inggris, bagian itu memang rumit. Rebate dihitung dari total purchase commitment, tetapi penalti dihitung dari delayed shipment value, bukan gross contract value. Kalau satu istilah dipahami keliru, angka akhir bisa melenceng miliaran rupiah.
Ia mengangkat tangan sedikit. "Maaf, bagian itu..."
Belum selesai ia bicara, suara berat menyela.
"Sebentar."
Semua menoleh kepada Pak Hartono, salah satu direktur paling senior. Rambutnya putih sebagian, kacamata tipis, dan cara duduknya seperti orang yang sudah terlalu lama terbiasa didengar.
Ia menatap Liana dari ujung meja.
"Ibu ini kan sekretaris, benar?"
Ruangan langsung hening.
Arman mengangkat wajah. Kevin berhenti memutar pena.
Liana merasakan panas naik ke leher, tetapi ia tetap duduk tegak. "Saya membantu bagian dokumen, Pak."
"Saya tahu Ibu membantu terjemahan. Tapi ini hitungan bisnis internasional. Apakah Ibu benar-benar paham, atau hanya membaca ulang teks?"
Kalimat itu tidak diteriakkan. Justru karena diucapkan tenang, lukanya terasa rapi.
Beberapa orang menunduk ke dokumen. Tidak ada yang ingin berada di tengah.
Edwin meletakkan tangannya di meja. "Pak Hartono, Bu Liana memahami dokumen itu."
"Saya tidak meragukan keputusan Pak Edwin membawa beliau," jawab Hartono sopan, tetapi matanya tetap pada Liana. "Saya hanya ingin rapat dewan tidak mengambil angka berdasarkan asumsi seseorang yang bukan bagian finance."
Liana menatap tabel di layar.
Tiga puluh tahun ia diam setiap kali orang menganggap pekerjaannya tidak penting karena tidak punya jabatan. Hari itu, ia hampir diam lagi. Hampir.
Lalu ia teringat ruang kerja ayahnya.
Teringat papan kayu kecil dengan manik-manik hitam, suara tek-tik-tek yang dulu mengisi sore. Ayahnya mengajarinya sempoa sebelum ia lancar memakai kalkulator. Ibunya sering berkata, angka itu bukan untuk ditakuti, angka hanya ingin ditempatkan dengan benar.
Liana menarik napas.
"Pak Edwin," katanya pelan, "boleh saya memakai papan tulis?"
Edwin menatapnya. Dalam tatapan itu tidak ada keraguan. "Silakan."
Liana berdiri. "Dan kalau ada sempoa kecil di ruang training, saya ingin meminjam."
Bisik-bisik kecil muncul.
Kevin mengangkat alis, kali ini benar-benar tertarik.
Arman segera keluar. Dua menit kemudian ia kembali membawa sempoa kayu kecil dari ruang pelatihan finance. Benda itu jarang dipakai, lebih sering menjadi properti edukasi untuk program CSR sekolah. Liana menerimanya dengan kedua tangan.
Manik-maniknya dingin.
Namun begitu ujung jarinya menyentuhnya, sesuatu dalam dirinya pulang.
Ia berdiri di dekat papan tulis. "Masalahnya bukan di kurs utama. Masalahnya di urutan penghitungan rebate dan penalti."
Ia menulis tiga baris.
Purchase commitment.
Delayed shipment value.
Net payable after rebate.
Lalu ia menjelaskan dalam bahasa Indonesia yang rapi, tanpa kata berlebihan. Tahap pertama harus memakai nilai pembelian bersih. Tahap kedua memakai kurs tengah BI yang dicatat pada tanggal invoice, bukan tanggal pengiriman. Penalti hanya dihitung untuk keterlambatan barang yang benar-benar terlambat, bukan seluruh kontrak.
"Kalau memakai gross contract value, angka penalti terlihat lebih besar, tetapi itu tidak sesuai klausul Inggris halaman tujuh belas."
Pak Hartono masih menatapnya, kali ini tanpa menyela.
"Boleh saya hitung manual?"
Kepala finance mempersilakan dengan wajah penasaran.
Liana meletakkan sempoa di meja samping. Jarinya bergerak.
Tek.
Tek-tek.
Suara kecil manik-manik memenuhi ruang rapat yang tiba-tiba terlalu sunyi. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berbisik. Semua mata mengikuti tangan perempuan lima puluh tahun yang selama ini mereka kenal sebagai life secretary CEO.
Gerakannya cepat, tetapi tidak terburu-buru. Setiap angka dari layar masuk ke sempoa, berpindah ke papan, lalu kembali ke tabel. Liana meminta satu angka kurs dikonfirmasi. Finance membacakannya. Ia mengangguk dan melanjutkan.
Kevin perlahan mencondongkan tubuh.
"Cepat juga," gumamnya tanpa sadar.
Arman mendengar, tetapi tidak berkomentar.
Dalam beberapa menit, Liana menulis angka akhir di papan.
Rp 18.742.600.000.
Kepala finance langsung mengetik ulang formula di laptopnya. Semua orang menunggu. Detik terasa panjang.
Lalu layar spreadsheet berubah.
Angkanya sama.
Sampai digit terakhir.
Ruangan yang tadi sunyi kini pecah oleh suara napas tertahan. Direktur perempuan yang tadi bertanya menutup mapnya, tersenyum kecil. Seseorang dari legal berbisik, "Tepat."
Pak Hartono melepas kacamatanya.
Ia memandang angka di layar, lalu memandang Liana. Wajahnya tidak lagi meremehkan. Ada rasa terkejut, ada sedikit malu, tetapi juga ada kejujuran yang tidak semua orang seusianya sanggup tunjukkan.
"Luar biasa," katanya akhirnya.
Liana menunduk sedikit. "Terima kasih, Pak."
Hartono berdiri.
Semua orang menatapnya.
"Saya salah menilai Ibu Liana."
Kalimat itu lebih berharga daripada tepuk tangan. Namun tepuk tangan datang juga, pertama dari direktur perempuan, lalu dari kepala finance, lalu beberapa orang lain. Arman ikut bertepuk tangan singkat. Kevin tersenyum lebar, seperti baru menemukan tontonan yang jauh lebih menarik daripada rapat bisnis.
Edwin tidak bertepuk tangan keras. Ia hanya duduk di kursinya, mata tertuju pada Liana. Di sudut bibirnya ada senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.
Tetapi Liana melihatnya.
Dan entah kenapa, senyum kecil itu membuat dadanya lebih hangat daripada seluruh ruangan.
Setelah rapat selesai, Edwin tidak langsung membubarkan semua orang.
"Mulai minggu depan, Bu Liana ikut mendampingi Arman untuk dokumen internasional proyek akuisisi. Khusus bagian terjemahan klausul dan ringkasan risiko."
Beberapa kepala menoleh. Itu bukan tugas kecil. Proyek akuisisi berarti akses ke inti rencana perusahaan, bukan lagi pekerjaan pinggir.
Liana terkejut. "Pak Edwin..."
"Kamu mampu," kata Edwin singkat.
Tidak ada pujian panjang. Tidak ada kata manis. Justru karena itu, kalimatnya terasa seperti keputusan yang benar-benar ia percayai.
Arman mendekati Liana setelah sebagian orang keluar. "Selamat, Bu Liana. Tidak banyak orang masuk proyek akuisisi secepat ini."
"Saya takut salah."
"Bagus. Orang yang takut salah biasanya memeriksa dua kali."
Liana tertawa pelan.
Ia hendak merapikan catatan ketika Kevin menghampiri. Dari dekat, pria muda itu punya energi berbeda dari Edwin. Lebih terbuka, lebih cepat, tetapi matanya sama tajamnya.
"Bu Liana."
Liana menoleh. "Pak Kevin."
Kevin meringis. "Aduh, jangan Pak. Saya jadi merasa tua."
Liana sedikit kebingungan.
Kevin melirik sempoa di meja. "Saya belum pernah lihat orang mengalahkan spreadsheet pakai itu."
"Saya tidak mengalahkan. Saya hanya memeriksa."
"Tetap keren." Ia berhenti sebentar, lalu suaranya berubah lebih sopan, hampir hati-hati. "Ci Liana, boleh saya panggil begitu?"
Kata Ci Liana jatuh begitu lembut sampai Liana tidak langsung menjawab.
Di dadanya, sesuatu bergetar.
Bukan karena panggilan itu baru. Banyak anak muda Tionghoa bisa memanggil perempuan lebih tua dengan Ci. Tetapi dari mulut Kevin, entah kenapa, suara itu terasa seperti menyentuh pintu yang lama tertutup.
Liana menggenggam buku catatannya.
"Boleh," jawabnya pelan.
Kevin tersenyum, puas seperti anak yang mendapat izin kecil.
"Terima kasih, Ci Liana."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/