NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Hujan di Atas Aspal Sudirman

Langkah kaki Anya memecah kesunyian pelataran parkir luar rumah sakit yang mulai diguyur hujan sore. Langit Jakarta yang berawan kelabu menumpahkan airnya dengan deras, menghantam permukaan aspal dan kap-kap mobil mewah yang berjejer rapi. Anya tidak memedulikan payungnya yang tertinggal di dalam tas. Dia terus berjalan membelah hujan, membiarkan butiran air dingin membasahi blazer merah marun dan rambut panjang lurusnya yang hitam berkilau.

Dada Anya naik-turun menahan sesak. Pertemuannya dengan Papa barusan, melihat pria perkasa yang dulu mengusirnya kini terbaring tak berdaya dengan berbagai selang medis, menghantam ulu hatinya dengan keras. Rasa marah, bersalah, dan luka lama berkecamuk menjadi satu, meretakkan perisai yang selama setahun ini dia jaga dengan susah payah di Surabaya.

"Anya! Tunggu!" Sebuah teriakan bariton yang berat memecah deru suara hujan di belakangnya.

Langkah kaki Anya terhenti tepat di samping barisan pembatas taman parkir. Dia membalikkan tubuhnya dengan perlahan, membiarkan air hujan mengalir melewati pipi putih cerahnya.

Edgard Baskoro berlari mengejarnya tanpa memedulikan tubuh tegapnya yang kini ikut basah kuyup. Kemeja putihnya melekat ketat di tubuh atletisnya, menampilkan siluet otot yang kokoh. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern mirip Daniel Henney tampak sangat kuyu, dilingkupi oleh kepanikan dan rasa cemas yang murni.

Edgard menghentikan langkahnya tepat satu meter di hadapan Anya. Sepasang mata elangnya menatap wajah cantik Anya dengan getaran yang hebat. "Anya, di luar hujan deras. Masuk ke mobil saya, saya antar kamu kembali ke hotel. Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini!"

Anya tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang langsung tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di langit ibu kota. "Menyiksa diri sendiri, Pak Edgard? Anda pikir air hujan ini adalah bentuk siksaan bagi saya?"

Anya maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata elang Edgard dengan sorot mata yang teramat kosong. "Air hujan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dinginnya malam pertama saya di apartemen studio Surabaya, saat saya menangis sampai kehabisan napas karena ayah saya sendiri mengusir saya demi investasi perusahaan Anda. Di mana Anda saat itu, Edgard? Anda sibuk dengan angka-angka saham Anda di gedung pencakar langit ini!"

Edgard menahan napasnya sejenak. Setiap patah kata yang keluar dari bibir Anya terasa seperti belati yang menusuk tepat di jantungnya. Air mata pria itu—sesuatu yang selama bertahun-tahun terkunci rapat di balik keangkuhannya—kini luruh bersama air hujan yang membasahi wajah tampannya.

"Saya tahu saya salah, Anya... Saya salah karena terlalu pengecut untuk mengakui perasaan saya malam itu," bisik Edgard, suaranya terdengar serak dan pecah di antara deru badai sore. Dia melangkah maju, meraih kedua pundak Anya dengan cengkeraman tangan yang kuat namun teramat lembut. "Saya membatalkannya dengan Joana... Saya merestrukturisasi manajemen demi menstabilkan posisi perusahaan Papa agar dia tidak lagi menekarmu. Saya melakukan semuanya agar kamu bisa pulang..."

"Tapi saya menolak untuk pulang!" potong Anya dengan teriakan yang sarat akan rasa sakit hati yang teramat dalam, menyentak kasar bahunya agar terlepas dari genggaman Edgard. "Kalian semua mengatur hidup saya seolah-olah saya ini hanya boneka! Dulu kalian buang karena dianggap merusak bisnis, sekarang kalian panggil pulang setelah kalian merasa bersalah? Saya bukan Anya yang dulu, Edgard Baskoro! Anya yang bodoh dan mengemis cinta Anda sudah mati!"

"Anya, tolong dengarkan saya sekali saja!" Edgard kembali meraih pergelangan tangan Anya, mengabaikan hantaman air yang membuat pakaian mereka semakin berat. Tatapannya memancarkan keputusasaan seorang pria yang takut kehilangan satu-satunya hal berharga dalam hidupnya. "Saya tahu penyesalan saya egois. Saya tahu mengemis maaf darimu saat ini adalah hal yang tidak tahu diri. Tapi melihatmu mengeras seperti ini, melihat matamu yang kehilangan binar cerianya karena kesalahan saya... itu menyiksa saya setiap detik, Anya!"

"Menyiksa Anda?" Anya menatap pergelangan tangannya yang dicengkeram Edgard, lalu mendongak dengan senyum yang semakin dingin. "Lalu ke mana rasa tersiksa itu saat saya berdiri di depan meja kerja Anda setahun lalu, Kak Edgard? Saya membawakan makanan, saya memakai blazer kebesaran agar terlihat dewasa di mata Anda, saya mengemis waktu lima menit saja dari seorang Edgard Baskoro!"

Anya melangkah mendekat, membiarkan dadanya berjarak sangat tipis dari dada bidang Edgard. "Anda tahu apa yang Anda katakan hari itu? Anda bilang tindakan saya tidak profesional. Anda bilang saya mengganggu waktu Anda yang berharga. Anda menyuruh saya keluar dan mengambil kembali sampah yang saya bawa. Hari itu, di pelataran kantor Anda, kotak bekal saya jatuh, makanan saya berserakan di tanah, dan saya harus merangkak memungutinya di bawah terik matahari Jakarta sementara semua orang menonton saya seperti orang gila!"

Suara Anya bergetar hebat, air matanya kini tumpah sepenuhnya, berbaur dengan derasnya air hujan. Seluruh beban emosional yang dia pendam selama empat ratus hari di Surabaya meledak di pelataran parkir ini.

"Hari itu saya menyadari, di dunia Anda yang penuh dengan angka dan logika korporat, tidak ada tempat untuk gadis delapan belas tahun yang bodoh ini," lanjut Anya, napasnya memburu. "Maka saya pergi. Saya patahkan kartu SIM saya. Saya hapus semua ingatan tentang Jakarta. Saya belajar naik bus kota yang pengap, saya belajar menghemat uang jajan, saya belajar memegang pena digital sampai jemari saya kapalan demi membuktikan bahwa saya bisa hidup tanpa belas kasihan Anda maupun Papa!"

Edgard membeku. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Anya perlahan melemas, namun dia tidak melepaskannya sepenuhnya. Setiap rincian rasa sakit yang Anya paparkan adalah dosa besar yang dia torehkan dengan tangannya sendiri. Pria dengan garis wajah setegas Daniel Henney itu menundukkan kepalanya, membiarkan dahinya menyentuh pundak basah Anya, menangis dalam diam di bawah kecamuk badai.

"Maafkan saya, Anya... Maafkan saya..." hanya kata itu yang mampu keluar dari tenggorokan Edgard yang tersekat. Keangkuhannya sebagai CEO utama runtuh total di atas aspal basah Sudirman sore ini.

"Lepaskan saya, Pak Edgard," bisik Anya, suaranya kembali berubah menjadi sangat rendah, datar, dan sedingin es gunung. Perisai di hatinya yang sempat retak karena ledakan amarah kini kembali mengeras, membungkus rapat seluruh kerapuhannya. "Sopir taksi pesanan saya sudah menunggu di luar gerbang. Hubungan kita selesai di ruang rapat tadi pagi. Di luar itu, kita adalah orang asing."

Anya menarik tangannya dengan sentakan yang kuat, memutuskan sisa kehangatan yang sempat tercipta di antara jemari mereka. Dia membalikkan tubuhnya dengan keanggunan yang dingin, melangkah menembus tirai hujan yang lebat tanpa menoleh ke belakang lagi.

Edgard berdiri terpaku di tengah pelataran parkir yang sepi, menatap punggung Anya yang perlahan menghilang di balik kabut hujan dengan rasa sunyi yang teramat pekat di dalam dadanya. Pria itu tahu, luka di hati Anya terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan air mata penyesalan sore ini. Namun, di dalam lubuk hatinya yang membeku, sebuah sumpah baru telah terpatri dengan kokoh: dia tidak akan pernah kembali ke Jakarta sendirian, dan dia akan menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi perisai yang melindungi wanita itu, sampai hari di mana binar kehangatan itu kembali menyala di sepasang mata indah Anya.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!