"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 — Ikuti Hati, Bagian Pertama
Nama Surya baru tercatat pada dua puluh delapan persen Reputasi ketika pesawat mendarat di Jakarta.
Konferensi itu dihadiri ratusan dokter, peneliti, direktur rumah sakit, dan perwakilan industri. Mereka tidak datang untuk mengagumi kepala IGD termuda dari Surabaya. Mereka datang untuk membahas program pengadaan inclisiran, terapi penurun LDL berbasis siRNA untuk pasien berisiko tinggi yang memenuhi kriteria.
Token Misi Pemicu terakhir menyala.
『Menangkan seleksi program inclisiran secara terbuka. Tidak ada batas waktu. Penilaian wajib sah.』
"Sekali ini tugasmu terdengar seperti pekerjaan kantor," gumam Surya.
『Sistem juga bisa membosankan.』
Presentasi pertama dipenuhi grafik harga tanpa rencana pemantauan. Presentasi kedua menjanjikan obat untuk semua orang, mengabaikan indikasi, efek samping, biaya jangka panjang, dan akses pasien di luar kota besar.
Surya berdiri tanpa video mewah.
Dia menawarkan registri pasien, kriteria risiko yang jelas, audit LDL berkala, farmakovigilans, jalur rujukan, dan negosiasi harga berbasis hasil. Obat itu ditempatkan setelah diet, statin, ezetimibe, serta evaluasi klinis yang benar.
Pertanyaan datang tajam.
"Anda kepala IGD," kata seorang profesor. "Mengapa bicara kebijakan lipid?"
"Karena infark yang gagal dicegah berakhir di ruangan saya."
Beberapa peserta langsung menulis namanya.
Seorang direktur rumah sakit daerah mencoba menjatuhkan Surya dengan menuduh data program itu disalin. Bayu mengirim tautan rekaman rapat lama. Video justru memperlihatkan sang direktur meminta staf mengubah angka kematian agar proposalnya tampak berhasil.
Komite etik konferensi menghentikan presentasinya. Sore itu, rumah sakitnya mengumumkan penonaktifan sementara. Dua hari kemudian, dia mengundurkan diri setelah audit internal dibuka.
Surya tidak menambahkan satu kalimat hinaan.
Seleksi inclisiran dilanjutkan oleh panel baru. Mereka menguji Surya dengan skenario pasien gagal ginjal, ibu yang berencana hamil, pasien yang tidak patuh kontrol, serta daerah tanpa laboratorium rutin. Surya tidak memaksakan obat pada semua kasus. Beberapa cukup dengan optimalisasi terapi lama; beberapa harus ditunda; hanya kelompok risiko tertentu masuk program.
Jawaban itu menurunkan proyeksi jumlah pengguna dan keuntungan penyedia.
Justru karena itulah panel memilih rancangan RSUD Dr. Soetomo. Kontrak pengadaan mewajibkan harga transparan, pelaporan efek samping, dan larangan komisi personal. Tiga puluh persen dana penghargaan program dapat dipakai Surya untuk pengembangan layanan, tetapi tetap melalui rekening institusi dan audit.
Misi Pemicu dinyatakan selesai tanpa mengubah uang rumah sakit menjadi kekayaan pribadi.
Angka Reputasi melonjak.
Pada sesi terakhir, penghitung sistem menunjukkan 302 dari 305 orang telah mengingat nama lengkapnya. Nilai Pahala sudah memenuhi syarat. Tiga orang lagi menentukan Level Delapan.
Waktu konferensi tinggal sebelas menit.
Rizki menyebarkan poster. Anindya berbicara dengan moderator. Tidak ada yang boleh dipaksa mengaku mengenal nama hanya demi angka.
"Masih kurang tiga?"
Suara itu datang dari belakang.
Reza berdiri bersama tiga ahli lipid yang sejak pagi melewatkan sesi Surya. Dia tidak memuji kosong. Dia membuka rekaman operasi ayahnya, laporan program audit, dan artikel Surya tentang pencegahan organ.
"Saya pernah mencoba mengalahkan dokter ini," kata Reza. "Saya kalah karena sibuk menilai umur dan almamaternya sampai mengabaikan hasil. Dengarkan lima menit. Kalau setelah itu namanya tidak layak diingat, lupakan."
Surya menjelaskan program kepada ketiganya.
Profesor terakhir menutup tabletnya. "Surya Pratama, RSUD Dr. Soetomo. Saya ingat."
Angka berubah menjadi 305.
『Nilai Pahala dan Reputasi terpenuhi. Level Delapan dibuka.』
Panel lama pecah. Nilai Pahala dan Reputasi menghilang, digantikan satu baris baru.
『Hitungan Penyelamatan: 0/10.000.』
Hadiah turun: lima Obat Luka Emas, lima Obat Anti Nyeri Super, dan lima puluh penggunaan Mata Tembus Super.
Reza mengulurkan tangan. "Lain kali gue yang menang."
Surya menjabatnya. "Antre."
Untuk pertama kalinya, persaingan mereka tidak menyisakan kebencian.
Malam itu sistem mendadak diam. Sebuah suara lain, dingin dan tanpa humor, muncul di panel.
『Pemberian Radioterapi Super sebelum Level Delapan melampaui kewenangan. Sistem pendamping dikenai pembatasan selama Ujian Sistem.』
Surya menegakkan badan. "Kamu dihukum karena menolong pasien?"
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu sistemnya berbisik.
『Aku suka Inang ini. Aku tidak mau kehilangannya.』
Saldo bank Surya berbunyi. Transfer legal senilai Rp15.000.000 masuk sebagai bonus sistem dengan catatan pajak yang dapat dilaporkan.
『Uang saku. Jangan terharu. Ada energi buruk di depan.』
Peringatan pertama datang setibanya Surya di Surabaya.
Seorang pria dengan demam, hidrofobia, spasme tenggorok, dan riwayat gigitan anjing dua bulan sebelumnya dibawa ke IGD. Gejala klinis mengarah pada rabies, tahap yang hampir selalu fatal.
Surya menjelaskan kepada keluarga bahwa tidak ada janji kesembuhan. Namun kematian pasien tinggal beberapa menit menurut pemantauan sistem.
Dia menggunakan satu Double Super Dopamin.
Obat itu tidak memperbaiki otak yang telah rusak. Ia mempertahankan hidup dan imunitas pasien selama tiga bulan, memberi tim waktu untuk isolasi, perawatan intensif, konfirmasi virologi, serta konsultasi protokol eksperimental.
"Kita belum menyembuhkannya," kata Surya. "Kita membeli waktu. Jangan bohong kepada keluarga."
Kemudian seluruh koridor berubah merah.
Tanda seru muncul di atas kepala perawat, dokter, petugas kebersihan, dan pasien. Jumlahnya mencapai ratusan.
Surya mengaktifkan satu Mata Tembus Super. Di balik paru-paru yang tampak normal, dia melihat pola peradangan halus yang sama pada kelompok tertentu. Pemeriksaan cepat biasa belum menangkapnya.
Dia tidak menyebut kemampuan itu.
"Saya menemukan pola dari warna mukosa, napas, nadi, dan tanda permukaan," katanya dalam rapat darurat. "Pakai ini sebagai skrining awal, lalu konfirmasi laboratorium. Pendekatan Ilmu Pengobatan Kuno ini belum memberi diagnosis akhir."
Sampel dikirim ke laboratorium rujukan berpengamanan tinggi. IGD menutup akses umum. Ventilasi dipisahkan. Kontak dicatat. Staf bergejala masuk isolasi tanpa menunggu panik menyebar.
Pak Bambang mengaktifkan komando insiden dan memberi tahu dinas kesehatan. Tidak ada siaran yang menyebut nama staf terinfeksi. Keluarga menerima nomor pusat informasi tunggal agar rumor tidak menguasai lorong.
Anindya membagi gedung menjadi zona bersih, transisi, dan merah. Bayu menghitung persediaan oksigen. Rizki, yang mulai demam, tetap ingin bekerja sampai Surya menariknya dari meja triase.
"Masuk isolasi. Sekarang."
"Masih banyak pasien."
"Karena itu gue butuh lo tidak menulari mereka."
Rizki ingin membantah, lalu melihat tangan Surya menunjuk pintu. Dia pergi tanpa kata kedua.
Sistem tidak memberi diagnosis. Pembatasan ujiannya benar-benar aktif. Surya mengandalkan epidemiologi, pemeriksaan, laboratorium, dan satu penggunaan kemampuan yang sudah tersimpan sebelum hukuman.
Hasil awal tiba menjelang dini hari.
Agen infeksi itu telah direkayasa. Penyebarannya cepat, dan terapi biasa tidak menghentikannya.
Sembilan puluh delapan orang telah positif.
Di atas semuanya, tanda merah menunjukkan waktu yang hampir sama.
Kurang dari dua belas jam.
Sistem muncul sekali lagi meski sedang dibatasi.
『Ada satu cara menyelamatkan mereka. Harganya adalah aku.』