NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 — Raja Pemanjat Tembok

Tri baru sampai gerbang belakang Damokles ketika sebuah suara berkata, “Dari Gang Kelabu ke dinding barat, tujuh belas menit. Lambat.”

Ia berhenti.

Matahari Pasira baru naik setengah. Debu pagi masih tipis. Di depan gerbang belakang, seorang pria berseragam militer berdiri dengan tangan di belakang punggung. Bahunya lebar, posturnya lurus, dan cara ia berdiri membuat gerbang akademi terlihat seperti bagian dari tubuhnya.

Lencana di dadanya sederhana.

Mayor Bara Nurwana.

Tri menatap dinding di belakangnya, lalu menatap gerbang.

Ia baru saja memanjat dari sisi luar.

Mayor itu menunggu di sisi dalam.

Ini bukan kebetulan.

“Pagi, Mayor,” kata Tri.

“Kau tahu aku mayor. Bagus. Berarti kau bisa membaca.”

“Saya berusaha.”

“Kalau begitu baca ini.”

Mayor Bara mengangkat Kom militer kecil. Layar hologram terbuka.

Rekaman pertama: Tri turun dari dinding belakang Damokles malam pertama setelah tiba.

Rekaman kedua: Tri naik pipa pembuangan barat.

Rekaman ketiga: Tri melompat keluar dengan sepatu pengait.

Rekaman keempat: Tri masuk lewat jendela 707 sebelum subuh.

Rekaman kelima: Tri tadi malam, keluar dengan tas alat.

Rekaman keenam: Tri kembali dari Gang Kelabu, berdiri di lorong kosong sambil menggenggam obeng.

Tri melihat semua itu, lalu berkata, “Sudut kamera bagus.”

Mata Mayor Bara tidak berubah. “Itu komentar terakhirmu sebelum hukuman?”

“Kalau komentar bisa mengurangi hukuman, saya punya banyak.”

“Tidak.”

“Kalau begitu saya hemat.”

Mayor Bara menutup layar. “Murid baru Akademi Damokles, Tri. A tingkat Daya Indra. Kelas Prajurit Mecha. Pelanggaran keluar malam tanpa izin, memanjat dinding akademi, menghindari sensor, memasuki zona kota tanpa pendamping, dan kembali lewat jendela asrama.”

Tri menghitung.

Terlalu rapi.

Pria ini tidak hanya melihat tadi malam. Ia sudah mengumpulkan sejak awal.

“Mayor,” kata Tri hati-hati. “Saya tidak merusak fasilitas.”

“Kau merusak waktuku.”

“Itu masuk daftar denda?”

Mayor Bara melangkah maju.

Tri menutup mulut.

Terkadang insting hidup lebih penting daripada humor.

“Mulai hari ini,” kata Bara, “seluruh kredit kelas dan jam disiplin awalmu dibatalkan.”

Tri berkedip.

“Dibatalkan?”

“Nol.”

Kata itu jatuh lebih berat daripada pukulan Palu Batu.

Tri menatapnya. “Semua?”

“Semua.”

“Saya baru mulai.”

“Kau juga baru mulai melanggar.”

Beberapa murid yang masuk lewat gerbang utama mulai berhenti. Mereka melihat Mayor Bara, lalu melihat Tri yang berdiri di dekat dinding dengan debu di rambut dan tas alat di punggung.

Bisik-bisik menyebar cepat.

“Itu murid baru yang katanya dapat kamar 707.”

“Dia ditangkap mayor?”

“Memanjat dinding?”

Tri menahan napas.

Tidak masalah.

Pelanggaran bisa dibayar dengan kerja.

Asal tidak ada yang menyebut Bengkel Hitam.

Mayor Bara menatapnya cukup lama, seolah-olah tahu ada sesuatu di bawah pelanggaran itu, tetapi memilih tidak mengorek di depan gerbang.

“Kau akan melapor ke wali kelasmu setelah kelas pagi. Pak Mahar Wibisana.”

Nama itu membuat beberapa murid mundur setengah langkah.

Tri menangkap reaksinya.

Tidak bagus.

Orang yang namanya membuat murid mundur biasanya tidak memberi diskon.

“Saya mengerti, Mayor.”

“Tidak. Kau belum mengerti.” Bara mendekat, suaranya turun. “Orang yang pandai menghindari sensor sering mengira dirinya pandai menghindari konsekuensi. Di Damokles, konsekuensi mengejar lebih cepat daripada kamera.”

Tri menatap mata mayor itu.

Tatapan dingin tadi malam.

Pemiliknya ada di sini.

“Saya akan ingat.”

“Bagus. Mulai dengan berjalan lewat gerbang seperti manusia normal.”

Mayor Bara berbalik pergi.

Tri berdiri beberapa detik.

Lalu berjalan memutari gerbang, masuk dari jalur resmi di bawah tatapan puluhan murid.

Berita menyebar lebih cepat daripada tembakan Pak Cakra.

Sebelum jam pertama selesai, Forum Kubus internal Damokles sudah punya topik panas:

RAJA PEMANJAT TEMBOK DARI 707.

Di bawahnya, seseorang mengunggah gambar buram Tri sedang turun dari dinding, ditambah mahkota jelek di kepalanya.

Komentar pertama:

Baru datang sudah jadi legenda.

Komentar kedua:

Legenda kredit nol.

Komentar ketiga:

Ada yang tahu dia keluar cari apa?

Tri membaca sampai komentar ketiga, lalu menutup Kom.

Hendra di sebelahnya menahan wajah terlalu keras.

“Tertawa,” kata Tri.

“Gue sedang bersimpati.”

“Wajah lo tidak.”

Hendra menunduk ke meja, bahunya bergetar. “Raja Pemanjat Tembok.”

Tri menatap papan kelas.

Pak Cakra sedang menjelaskan teori sudut tembak. Kapur di tangannya berhenti.

“Hendra.”

Hendra langsung duduk tegak. “Ya, Pak.”

“Kalau kau tertawa lagi, kau jadi target bergerak.”

“Baik, Pak.”

Pak Cakra menatap Tri. “Dan kau, Raja.”

Seluruh kelas menahan napas.

Tri berdiri. “Ya, Pak.”

“Setelah kelas, ke kantor Pak Mahar. Jangan lewat jendela.”

Tawa pecah.

Tri duduk kembali dengan wajah datar.

Hendra menulis sesuatu di kertas dan mendorongnya.

Kertas itu berbunyi:

Kredit nol itu berapa kredit?

Tri menulis balik:

Lebih mahal dari harga teman kaya yang tidak membantu.

Hendra berhenti tertawa.

Pukul empat sore, Tri berdiri di depan kantor Pak Mahar Wibisana.

Pintu tidak tertutup penuh.

Dari dalam terdengar suara seseorang membalik berkas dengan kasar.

“Masuk.”

Tri belum mengetuk.

Ia masuk.

Pak Mahar duduk di balik meja kayu besar. Rambutnya mulai memutih di pelipis, wajahnya keras, dan seragam latihannya tidak punya lipatan yang tidak perlu. Di dinding belakang tergantung beberapa foto tim lama, satu senapan latihan, dan sebuah lemari logam terkunci.

Di atas meja, lembar hukuman Tri sudah menunggu.

Pak Mahar menepuk kertas itu.

“Kredit awal, nol. Jam disiplin, nol. Catatan pelanggaran, panjang untuk ukuran murid yang bahkan belum sempat resmi membuat prestasi.”

Tri berdiri lurus. “Saya menerima hukuman, Pak.”

“Tentu kau menerima. Kau tidak punya pilihan.”

“Benar, Pak.”

Pak Mahar menatapnya. “Kau tahu kenapa aku tidak suka murid sepertimu?”

Tri memikirkan jawaban aman.

“Karena merepotkan?”

“Karena biasanya pintar.”

Tri tidak menjawab.

“Murid bodoh melanggar karena tidak mengerti. Murid pintar melanggar karena mengira alasan mereka lebih penting dari aturan. Yang kedua lebih susah diselamatkan.”

Kata diselamatkan membuat Tri menatapnya.

Pak Mahar membuka berkas lain.

Nilai ujian berburu.

Hasil Daya Indra A.

Data uji Mecha B.

Catatan Pak Cakra tentang tembakan ke laras senjata guru.

“Kau A tingkat Daya Indra,” kata Pak Mahar. “Tapi kontrolmu di Mecha B terlalu halus. Kau menembak alat Pak Cakra, bukan orangnya. Di Bengkel latihan, kau selalu melihat sendi sebelum melihat senjata. Kau pikir tidak ada yang mencatat?”

Tri menjaga wajahnya kosong.

Tidak menyebut Bengkel Hitam.

Tidak menyebut Tunduk pada Nasib.

Tidak menyebut sayap.

“Saya hanya terbiasa memperbaiki barang, Pak.”

“Jawaban miskin yang rapi.”

Tri merasa kalimat itu seperti pisau yang tahu jalannya.

Pak Mahar bersandar. “Aku tidak peduli kau miskin. Damokles penuh orang miskin, orang marah, orang keras kepala, dan orang yang terlalu cepat dewasa. Yang aku peduli, kau jangan mati karena mengira semua masalah bisa kau bongkar sendiri.”

Tri tidak tahu kenapa kalimat itu terdengar lebih berat daripada teguran.

Mungkin karena Pak Ilyas pernah berkata hampir sama, dengan cara yang lebih kasar.

“Saya mengerti, Pak.”

“Belum.”

Pak Mahar berdiri, berjalan ke lemari logam, lalu membuka kunci.

Dari dalam, ia mengeluarkan kotak kecil.

Kotak itu tidak besar.

Terlalu kecil untuk senjata.

Terlalu bersih untuk hukuman.

Pak Mahar meletakkannya di meja, tetapi belum membukanya.

“Kreditmu nol. Itu pantas. Forum menertawakanmu. Itu juga pantas. Mayor Bara akan terus mengawasimu. Sangat pantas.”

Tri menatap kotak itu.

“Tapi bakat tembakmu,” lanjut Pak Mahar, suaranya berubah lebih dingin, “kalau dibuang untuk memanjat dinding dan membuat poster bodoh, itu bukan hukuman untukmu. Itu pemborosan untuk Damokles.”

Ia membuka kotak.

Di dalamnya ada kalung penyimpanan kecil, warnanya merah gelap seperti setetes darah yang membeku.

Pak Mahar mendorong kotak itu ke arah Tri.

“Kreditmu hilang karena kau bodoh,” katanya. “Tapi kemampuanmu belum boleh hilang. Mari lihat apakah kau pantas memegang sesuatu yang lebih baik daripada dinding.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!