Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Damar menciumku seolah kue itu hanya alasan murahan.
Ia tidak mulai dengan lembut.
Ia juga tidak bertanya lagi.
Mulutnya menutup mulutku, panas, tegas, dan saat aku mencoba mengambil napas, ia memanfaatkannya untuk masuk lebih dalam.
Rasa stroberi bercampur dengan kopi dan dirinya.
Damar.
Jemari di jasnya melemah.
Aku masih duduk di pangkuannya. Tangannya ada di pinggangku, besar, berat, menahanku seolah belum berniat melepaskan.
Aku ingin mendorongnya.
Atau begitulah aku mencoba.
Tanganku tetap di dadanya, merasakan betapa keras tubuhnya di bawah kain.
Perlawanan yang sangat berguna.
Damar sedikit memiringkan kepala dan ciuman itu berubah.
Lebih lambat.
Lebih dalam.
Lebih buruk.
Suara basah keluar di antara mulut kami dan aku begitu malu sampai memejamkan mata rapat-rapat.
Ia mendengarnya.
Tentu saja ia mendengarnya.
Tangannya naik ke punggungku dan menarikku lebih dekat.
Aku kekurangan udara.
Aku juga kekurangan kemauan.
Ketika akhirnya ia menjauh, aku bernapas seperti baru selesai berlari.
Wajahku panas, bibirku hangat, mulutku terbuka.
Damar memegang daguku.
Ibu jarinya menyapu bibir bawahku, yang bengkak karena dirinya.
"Kamu masih belum bisa bernapas."
"Kamu masih mencium seperti ingin membunuhku."
Kalimat itu keluar sebelum sempat kuperbaiki.
Matanya turun ke mulutku.
"Aku tidak membunuhmu."
"Hampir."
Sudut mulutnya bergerak sedikit.
Gerak hampir-senyum itu membuatku lebih kacau daripada senyum penuh.
"Aku mendengar pasangan menjadi lebih dekat jika saling berpelukan dan berciuman," katanya.
"Kamu mendengar?"
"Ya."
"Dan kamu memutuskan berlatih di jam kerja?"
"Ini kantorku."
Aku melihat sekeliling dengan panik.
"Tepat. Kantormu. Tempat orang bekerja. Banyak orang."
"Tidak ada yang masuk tanpa mengetuk."
"Itu tidak membuatnya lebih baik."
Damar menatapku tenang.
Terlalu tenang untuk pria yang baru saja menciumku sampai kehabisan napas.
"Aku ingin menciummu lagi."
Jantungku berdentum.
"Damar..."
"Boleh?"
Aku diam.
Kami suami istri. Berciuman bukan kejahatan.
Tapi berada sedekat ini dengannya, dengan tangannya di pinggangku dan pahanya yang panas di bawah kakiku, membuat kata suami terdengar kurang legal dan jauh lebih berbahaya.
Aku mengangguk.
Sedikit.
Sebuah kesalahan.
Damar menahan tengkukku dan kembali menciumku.
Kali ini aku tahu apa yang akan terjadi.
Tidak membantu sama sekali.
Ia menciumku dengan kesabaran yang lebih kejam: menekan, melepaskan, menggigit pelan, masuk lagi saat kupikir aku bisa bernapas.
Punggungku melengkung tanpa izin.
Tangannya yang lain menekan pinggangku.
"Tenang," gumamnya di mulutku. "Jangan terlalu melawan."
Itu bukan perintah keras.
Justru lebih buruk.
Suara rendah menempel di bibirku, dan tubuhku menurut sebelum harga diriku sempat protes.
Aku rileks.
Sedikit.
Cukup bagi Damar untuk menciumku lebih dalam.
Yang kurasakan hanya mulutnya, tangannya di tengkukku, dan panas di antara kakiku karena duduk di atasnya.
Lalu pintu diketuk.
Tok, tok, tok.
Aku terkejut.
Aku menggigit.
Damar mengeluarkan suara rendah.
Rasa logam menyentuh lidahku.
Aku menjauh seketika.
"Maaf."
Bibir bawahnya robek.
Setetes merah muncul di mulutnya.
Dan itu tidak seharusnya terlihat menarik.
Tapi bagiku, sangat menarik.
Damar menyapu luka itu dengan ibu jari.
Darah menodai kulitnya.
Matanya tetap gelap.
Ia tidak terlihat marah.
Ia terlihat...
Tidak.
Aku tidak akan memikirkan itu.
"Tidak apa-apa," katanya.
"Ada orang di luar."
"Aku tahu."
Tapi ia tidak melepaskanku.
Tangannya masih di pinggangku. Aku masih di pangkuannya. Dan di luar, seseorang menunggu seolah kami tidak baru saja membuat kekacauan di atas mejanya.
"Damar," bisikku, "lepaskan aku."
Ia butuh satu detik lagi.
Lalu menarik napas panjang.
"Ada apa?" tanyanya ke arah pintu.
"Pak Mahendra, saya Satria. Ada dokumen mendesak untuk ditandatangani."
Aku memanfaatkan kesempatan untuk kabur.
Atau mencoba kabur dengan bermartabat.
Tidak terlalu berhasil.
Aku turun dari pangkuannya, memungut tisu yang nyaris kujatuhkan, lalu kembali ke sofa dengan punggung tegak, lutut rapat, dan wajah menyala.
Gambaran sempurna perempuan polos.
Tentu.
"Masuk," kata Damar.
Satria masuk membawa map.
Ia hendak bicara, tapi melihatku di sofa dan berhenti.
Damar mengambil pena.
"Bicara. Dia istriku."
Satria berkedip.
"Baik, Pak."
Ia membuka map, tapi matanya melirik bibir Damar.
Darah masih ada di sana.
Kecil.
Jelas.
"Pak... bibir Bapak."
Aku ingin masuk ke bawah sofa.
Damar bahkan tidak langsung menatapku.
Lalu akhirnya menatap.
Langsung.
"Tidak apa-apa. Aku tergigit."
Aku hampir tersedak kopi.
Tergigit?
Serius?
Di posisi itu bahkan akrobat pun tidak mungkin.
Aku menunduk agar Satria tidak melihat wajahku.
Atau bibirku.
Karena bibirku juga pasti bengkak.
Satria mengerti.
Atau setidaknya cukup mengerti.
Suaranya menjadi lebih cepat saat menjelaskan dokumen. Damar menandatangani. Satria mengambil map dan keluar nyaris berlari.
Pintu tertutup.
"Dia sudah pergi," kata Damar. "Kamu boleh mengangkat kepala."
Aku menatapnya.
Ada sesuatu di matanya.
Mirip ejekan.
"Kamu menertawakanku?"
"Tidak."
Pembohong.
Aku memperbaiki posisi di sofa.
"Kapan selesai?"
"Sudah."
"Oh."
Aku tidak tahu harus bagaimana dengan tangan.
Juga mulut.
Masih panas.
Dan kepalaku, si pengkhianat, mengulang seluruh ciuman: lidahnya, napasnya, cara ia menahanku saat aku berhenti melawan.
Damar mengamatiku dari meja.
Rambut Kirana jatuh di pipinya. Bibirnya merah, lebih penuh dari sebelumnya. Ia berpura-pura tenang, tapi jarinya terus menekan kain rok.
Ia menutup map.
Kalau terus menatapnya seperti itu, mereka tidak akan pernah sampai ke dealer.
"Ayo," katanya. "Aku bawa kamu melihat mobil."
Aku langsung berdiri.
Terlalu cepat.
Damar mengitari meja dan, saat aku sampai di sisinya, ia mengulurkan tangan.
Aku menatap jemarinya.
"Apa?"
"Tanganmu."
"Tidak perlu. Aku bisa berjalan."
Sunyi.
Tidak nyaman.
Damar menarik tangannya dengan ketenangan yang tidak menipuku.
"Ayo."
Ia keluar lebih dulu.
Aku mengikutinya.
Jarak di antara kami seperti bos dan karyawan.
Bukan seperti dua orang yang baru saja berciuman sampai berdarah.
Di area eksekutif, beberapa tatapan terangkat lalu turun dengan kecepatan konyol.
Tidak ada yang diskret.
Tidak ada.
Damar berjalan lebih lambat sebentar.
Aku tidak menyusul.
Lalu ia mempercepat langkah.
Aku harus ikut mempercepat.
Sempurna.
Sekarang aku bahkan terlihat mengejarnya.
Kami masuk lift.
Pintu tertutup dan akhirnya aku bisa bernapas.
Aku melirik Damar.
Ia tetap serius.
Dingin.
Bibir yang terluka tidak membantu. Justru sebaliknya. Membuatnya terlihat berbahaya, seperti pria tanpa cela yang baru saja disentuh di tempat yang tidak seharusnya.
Dan orang itu aku.
"Maaf," kataku.
Ia menoleh.
"Untuk apa?"
Aku menunjuk mulutnya dengan canggung.
"Karena menggigitmu. Aku membuatmu terlihat buruk di depan asistenmu."
Damar menurunkan pandangan ke bibirku.
Aku berhenti bernapas.
"Kamu tidak membuatku terlihat buruk."
"Kamu berdarah."
"Sedikit."
"Itu salahku."
Ia tidak menjawab.
Kupikir ia masih kesal.
Aku menggigit bibirku sendiri, gugup.
Salah.
Tatapannya berhenti di sana.
"Kalau kamu mau..." kataku sebelum keberanian hilang, "kamu boleh menggigitku balik."
Lift terus turun.
Damar tidak mengatakan apa-apa.
Tapi matanya berubah.