NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"

​Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun Mawar di taman istana, membiaskan titik-titik embun menjadi kilau perak di atas kelopak bunga yang mekar. Udara segar musim gugur membawa aroma tanah basah dan kelopak mawar yang lembut. Bagi sebagian besar orang, taman ini adalah tempat peristirahatan yang menenangkan, namun bagi Alena, setiap sudut tempat ini adalah ladang ranjau kenangan.

​Pagi itu, Elian terbangun lebih awal dari biasanya. Energi khas anak usia tujuh tahun yang baru berpindah ke tempat asing membuatnya tak betah berlama-lama di dalam kamar Paviliun Barat yang serba formal. Dengan langkah-langkah kecilnya yang terburu-buru, anak itu berlari melintasi lorong luar menuju area taman yang terbuka, mengabaikan panggil pelan Mira dari kejauhan.

​"Elian, jangan berlari terlalu jauh!" tegur Mira sembari membawa wadah air minum, namun langkah anak itu terlalu lincah untuk dikejar.

​Elian melompati undakan batu kecil yang membatasi petak mawar. Matanya yang jernih dan berbinar penuh rasa penasaran menyapu sekeliling. Bangunan tinggi berarsitektur batu ukir, patung-patung ksatria berzirah tua, dan kebun bunga yang ditata rapi terasa seperti dunia dongeng yang melompat keluar dari naskah-naskah tua yang pernah dibacakan ibunya.

​Ia menghentikan langkah tepat di bawah naungan pohon eboni tua—pohon yang sama di mana tujuh tahun lalu dua insan mengikat janji yang kini hancur berkeping-keping.

​"Kelereng kristal ini pasti jatuh di dekat sini..." gumam Elian pelan. Ia menunduk, menyibak semak mawar dengan ranting kayu kecil yang ditemukannya di jalanan, mencari batu sungai berurat kristal yang dibawanya dari Bellmare yang tak sengaja terlempar dari saku celananya.

​"Anak kecil tidak seharusnya bermain di dekat duri mawar tanpa pengawasan."

​Suara berat, dingin, namun bervibrasi hangat itu membuat Elian terlonjak pelan. Ia mendongak mendadak, hampir saja kehilangan keseimbangan jika tidak ada sebuah tangan kekar bertulang tegas yang dengan cekatan menahan bahu kecilnya.

​Elian berdiri tegak, matanya yang berwarna abu-abu membelalak pelan.

​Di hadapannya, Pangeran Adrian Valerian berdiri tanpa jubah kebesarannya. Pria itu hanya mengenakan kemeja katun hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku dan celana penunggang kuda berbahan kulit tebal. Tanpa mahkota dan tanda kepangkatan yang mengintimidasi, struktur wajahnya terlihat jelas—garis rahang yang keras, hidung mancung yang tegas, serta tatapan mata yang dipenuhi lapisan emosi yang teramat dalam.

​Adrian telah berada di taman itu sejak fajar menyingsing. Ia tidak bisa tidur semalaman. Bayangan mata anak ini dan pertanyaan-pertanyaan yang menggerogoti otaknya telah menahannya tetap terjaga.

​Elian menatap pria di hadapannya tanpa rasa takut yang biasanya ditunjukkan rakyat biasa saat berhadapan dengan calon raja. Ada rasa ingin tahu alami yang tidak bisa ia jelaskan—sebuah kehangatan asing yang seolah menarik jiwanya mendekati pria ini.

​"Saya hanya mencari batu saya, Yang Mulia Pangeran," ujar Elian polos. Ia menegakkan punggungnya, berusaha meniru cara berdiri tegap yang sering ia lihat pada para pengawal di lorong istana.

​Sudut bibir Adrian terangkat tipis. Gerakan refleks anak itu—berusaha terlihat berani walau tubuhnya mungil—begitu menghentak dadanya.

​"Batu berurat kristal putih itu?" tanya Adrian seraya membuka genggaman tangan kanannya. Di atas telapak tangannya yang lebar dan berkapalan, terbaring batu sungai milik Elian yang meluncur ke selokan batu tadi.

​Mata Elian berbinar seketika. "Batu saya! Terima kasih, Yang Mulia!"

​Ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya, namun bukannya langsung menyerahkannya, Adrian menundukkan tubuhnya, berlutut di atas satu kaki di atas jalan setapak berkerikil agar tingginya sejajar dengan Elian. Untuk pertama kalinya, mereka berdua saling menatap dari jarak yang begitu dekat tanpa ada halangan protokol atau kepanikan Alena.

​Adrian memperhatikan setiap detail halus di wajah anak itu. Jarak antara kedua matanya, tahi lalat kecil di dekat telinga kirinya, hingga bentuk bibirnya saat berbicara... Semuanya adalah tiruan sempurna dari dirinya saat masih anak-anak. Penyesuaian matematis di kepalanya kini genap seratus persen.

​"Kau sangat menyukai batu ini?" tanya Adrian, suaranya melunak tanpa ia sadari.

​"Ibu bilang, segala sesuatu yang berkilau di dalam gelap punya cerita sendiri," jawab Elian riang. "Batu ini saya temukan di sungai dekat rumah kami di Bellmare."

​"Bellmare..." ulang Adrian pelan. Nama desa tempat anaknya dihabiskan selama tujuh tahun tanpa kehadirannya sebagai seorang ayah. Ada rasa perih yang teramat sangat menusuk ulunya saat menyebut nama itu. "Apakah kau menyukai hidup di sana?"

​"Suka," Elian mengangguk kencang. "Tetapi di sana sepi. Hanya ada Ibu, Bibi Mira, dan Paman Marc. Anak-anak lain sering bermain bersama ayah mereka di ladang."

​Kata Ayah yang terucap dari bibir mungil Elian membuat napas Adrian tertahan sekilas. Jemari tangannya yang menggenggam batu mengetat tipis.

​"Apakah... ibumu sering bercerita tentang ayahmu?" desak Adrian, suaranya terdengar hati-hati, seolah ia sedang melangkah di atas kaca tipis yang rawan pecah.

​Elian memiringkan kepalanya ke kanan—kebiasaan khas yang membuat Adrian harus menahan gejolak emosi di dadanya. Anak laki-laki itu menghela napas pelan, raut wajahnya yang ceria mendadak berubah sedikit redup, memancarkan kedewasaan dini yang prematur.

​"Ibu selalu bilang hal yang sama setiap kali saya bertanya," bisik Elian, menunduk menatap batu kristal di tangan Adrian.

​"Apa yang ibumu katakan?"

​"Ibu bilang... Ayah adalah seorang pedagang yang baik. Tapi Ayah sudah meninggal dunia dalam perjalanan jauh sebelum saya lahir. Ibu bilang Ayah sudah berada di tempat yang sangat jauh dan tidak bisa pulang lagi."

​Dada Adrian serasa diremas oleh cengkeraman besi. Meninggal. Alena memberitahu anak mereka bahwa ayahnya telah mati. Kebohongan itu terasa begitu menyakitkan, namun di saat yang sama, Adrian mulai memahami alasan pahit di baliknya. Alena membunuh identitas sang ayah demi menghapus jejak darah kerajaan dari diri Elian.

​"Apakah kau mempercayai cerita ibumu?" tanya Adrian pelan.

​Elian tidak langsung menjawab. Ia menatap mata abu-abu Adrian yang dalam. Ada keheningan yang panjang di antara mereka, hanya diisi oleh suara desir angin pagi yang menerpa daun-daun mawar.

​"Awalnya saya percaya," kata Elian dengan suara yang teramat pelan, hampir tenggelam oleh desir angin. Anak itu melangkah maju satu pukulan jarak, menatap Adrian tepat di matanya. "Tapi..."

​"Tapi kenapa?"

​"Yang Mulia... apakah semua anak di dunia ini punya ayah?" tanya Elian polos.

​Adrian terdiam kaku. "Ya. Semua anak memiliki ayah."

​"Lalu kenapa saya tidak pernah melihat foto Ayah? Kenapa Ibu selalu menangis setiap kali saya menemukan liontin batu mawar perak di bawah bantalnya?" Elian menggigit bibir bawahnya, menunjukkan keraguan yang selama bertahun-tahun dipendamnya sendiri di dalam hati kecilnya.

​"Saya rasa..." Elian menundukkan kepala, memelankan suaranya menjadi bisikan rahasia, "Saya rasa Ibu berbohong. Ayah saya belum meninggal."

​Jantung Adrian rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Paru-parunya mendadak tak sanggup menyerap udara. Kalimat polos dari anak berusia tujuh tahun itu menghantam seluruh pertahanan mental yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

​Keinginan dahsyat untuk merengkuh tubuh mungil itu, mendekapnya erat ke dadanya, dan berteriak kepada dunia bahwa dirinya adalah ayah dari anak ini, meluap begitu hebat hingga tubuh Adrian gemetar tipis. Tangan Adrian yang memegang batu terangkat perlahan, jemarinya yang gemetar menyentuh pipi Elian yang halus, mengusapnya dengan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun dalam hidupnya.

​"Elian..." bisik Adrian, suaranya pecah oleh kepedihan dan cinta yang meluap.

​"Elian!"

​Jeritan histeris itu memecahkan momen di antara mereka.

​Dari balik belokan jalan setapak taman, Alena berlari dengan wajah pucat pasi. Gaun hijaunya melambai kasar diterpa angin. Napasnya memburu, matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang luar biasa saat melihat Adrian berlutut begitu dekat dengan Elian, jemari pria itu menyentuh pipi putranya.

​Alena menerobos semak mawar tanpa peduli duri yang menyabet kain gaunnya. Ia menarik Elian secara kasar dari jangkauan Adrian, menyembunyikan tubuh mungil anak itu di belakang tubuhnya secara total.

​"Yang Mulia!" Alena berteriak tertahan, napasnya tersengal-sengal oleh kepanikan yang tak terikat. "Apa yang Anda lakukan pada putra saya?!"

​Adrian berdiri perlahan dari posisi berlututnya. Wajah kaku dan dinginnya telah lenyap sepenuhnya, berganti menjadi raut wajah seorang pria yang telah menemukan kebenaran yang teramat dalam dan menyakitkan. Ia menatap Alena—bukan lagi dengan kebencian atau luka dari surat masa lalu, melainkan dengan tatapan penuh pengakuan dan penyesalan yang mendalam.

​"Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Alena," suara Adrian terdengar begitu tenang, namun memiliki gema ketegasan yang sanggup meruntuhkan dinding-dinding kebohongan Alena. "Aku hanya mengembalikan batunya."

​Alena menatap tangan Adrian yang terulur, menyerahkan batu kristal sungai milik Elian. Tangan Alena gemetar hebat saat mengambil batu itu dari telapak tangan Adrian, sebisa mungkin menghindari kontak kulit dengan pria itu.

​"Terima kasih. Kami... kami harus kembali ke paviliun sekarang," kata Alena terburu-buru, memegang tangan Elian dan berbalik untuk pergi.

​"Tujuh tahun, Alena," panggil Adrian dari belakang.

​Langkah kaki Alena membeku seketika di atas lantai batu. Tubuhnya kaku bagai patung.

​"Kau memberitahunya bahwa ayahnya sudah meninggal?" tanya Adrian, suaranya menajam oleh intensitas emosi yang tertahan. "Kau membuat anakku percaya bahwa aku telah mati?"

​Darah di seluruh tubuh Alena serasa terkuras habis. Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi begitu hening dan berbahaya. Kata anakku yang terucap dari bibir Adrian memutarbalikkan kenyataan yang berusaha ditutupinya.

​Alena perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap Adrian dengan mata hijau hazelnya yang berkaca-kaca, membuang rasa takutnya dan menggantinya dengan keteguhan seorang ibu yang siap bertarung.

​"Putra saya tidak memiliki ayah yang hidup di istana ini, Pangeran Adrian," tegas Alena dengan nada dingin yang dipaksakan. "Ayahnya hanyalah seorang pria biasa yang telah lama hilang. Jangan pernah mendekati Elian lagi. Ini adalah peringatan terakhir saya."

​Adrian menatap Alena yang kini menggandeng Elian berjalan cepat meninggalkan Taman Mawar. Anak laki-laki itu sempat membalikkan kepalanya, menatap Adrian dengan mata abu-abu pekatnya yang memancarkan rasa tahu yang mendalam.

​Adrian tidak mengejar mereka. Ia berdiri membisu di bawah naungan pohon eboni, menggenggam erat jemarinya sendiri. Kebenaran telah terungkap di antara mereka—meski tanpa kata-kata pengakuan resmi. Rahasia darah kerajaan itu telah pecah, dan Adrian tahu, permainan politik Istana Valerian tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

​Ia tidak akan lagi membiarkan Alena menanggung beban itu sendirian, dan ia bersumpah demi takhtanya, tidak akan ada satu orang pun di kerajaan ini yang boleh menyentuh anak dan wanita yang dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!