"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024: Proyek Andini
Andini Interior Design tidak besar, tetapi rapi.
Kantornya berada di lantai tiga sebuah gedung kreatif di pusat Kota Awan. Dindingnya putih, meja-meja kayu muda tersusun bersih, dan papan mood board memenuhi sisi ruangan. Kain, potongan marmer, sampel cat, denah, dan foto ruang tersusun seperti bahasa yang hanya dipahami orang yang benar-benar mencintai pekerjaan.
Arya berdiri di depan salah satu papan.
"Ini proyek yang kamu maksud?"
Andini mengangguk. "Restoran Fajar Indah ingin renovasi penuh. Mereka ingin konsep Jawa modern, tapi tetap cocok untuk tamu bisnis. Masalahnya, pemilik baru ingin proyek selesai dalam enam minggu."
"Terlalu cepat."
"Saya juga bilang begitu."
"Tapi kamu tetap mempertimbangkannya."
Andini menatapnya. "Karena nilai kontraknya cukup besar untuk membuat perusahaan saya stabil selama setahun."
Arya mengambil salah satu sampel kayu. "Apa risikonya?"
"Kualitas turun, tim kelelahan, atau pembayaran ditunda seperti kasus Sugiono."
"Kamu sudah belajar."
Andini tersenyum kecil. "Belajar dengan cara yang agak mahal."
"Tidak mahal kalau membuatmu tidak tertipu dua kali."
Wajah Andini melembut. "Itu terdengar seperti nasihat investor."
"Aku sedang mencoba terdengar seperti teman."
Ia menunduk pura-pura melihat denah, menyembunyikan senyum.
Mereka pergi ke Restoran Fajar Indah siang itu untuk melihat lokasi. Restoran itu terletak di kawasan bisnis, dengan pintu kaca tinggi, lampu gantung besar, dan meja-meja yang biasa dipakai eksekutif kota menandatangani kontrak sambil makan siang.
Manajer restoran menyambut Andini dengan sopan. Arya berjalan di sampingnya, tidak menonjolkan diri.
Selama hampir setengah jam, Andini menjelaskan alur tamu, ruang privat, akustik, pencahayaan, dan posisi dapur. Ia berbicara tenang, tetapi matanya hidup. Di hadapan pekerjaan yang ia kuasai, Andini bukan lagi perempuan yang mudah malu di depan Mbah Pradipta. Ia pemilik perusahaan.
Arya menyukai sisi itu.
"Kalau ruang privat dipindah ke sisi barat," kata Andini, menunjuk denah, "tamu VIP tidak harus melewati area umum. Tapi itu berarti jalur pelayan harus dipecah."
"Biayanya naik?"
"Sekitar dua belas persen."
"Naikkan. Privasi tamu bisnis lebih mahal daripada dinding tambahan."
Andini menoleh. "Mas Arya mulai terdengar seperti klien kaya yang menyebalkan."
"Aku klien kaya yang membaca kontrak."
Ia tertawa pelan.
Suara tawa itu berhenti ketika seorang lelaki berbadan besar mendekat dari area bar.
"Andini Pradipta."
Nada suaranya terlalu keras untuk restoran siang hari.
Andini berbalik. "Pak Dimas."
Dimas memakai kemeja mahal dengan dua kancing atas terbuka. Di jarinya ada cincin besar. Senyumnya lebar, tetapi matanya tidak ramah.
"Saya dengar kamu dapat proyek ini. Hebat juga. Setelah kasus Sugiono, saya kira perusahaan kecilmu akan takut mengambil pekerjaan besar."
"Kami menerima proyek sesuai kemampuan dan kontrak, Pak."
Dimas menatap Arya. "Dan ini siapa? Asisten baru? Atau pengawal pribadi?"
Andini menjawab sebelum Arya. "Beliau teman saya."
"Teman?" Dimas tertawa. "Sekarang desainer butuh teman pria untuk ukur ruangan?"
Arya menatapnya tanpa ekspresi.
Andini berkata dingin, "Pak Dimas, kalau tidak ada urusan pekerjaan, saya harus melanjutkan survei."
Dimas justru mendekat. "Saya ada urusan. Saya juga ingin proyek ini. Pemilik lama sudah janji bicara dengan saya. Tiba-tiba kamu masuk. Kamu kira karena nama Pradipta, semua orang harus minggir?"
"Saya ikut tender secara resmi."
"Tender bisa diatur."
"Maka Anda seharusnya protes ke panitia, bukan mengganggu saya di restoran."
Wajah Dimas menggelap.
Ia mengulurkan tangan, seolah hendak menyentuh lengan Andini.
Tangan itu berhenti di udara.
Pergelangan Dimas sudah berada dalam genggaman Arya.
Tidak keras.
Belum.
"Jangan sentuh dia."
Dimas menatap tangannya sendiri, lalu Arya. "Lepaskan."
"Minta maaf dulu."
"Kamu tahu siapa saya?"
"Pertanyaan itu biasanya keluar dari orang yang tidak punya argumen lain."
Beberapa tamu mulai menoleh.
Dimas berusaha menarik tangan, tetapi pergelangannya tidak bergerak. Wajahnya memerah.
"Security!"
Dua petugas keamanan restoran datang cepat. Di belakang mereka, satu lagi menyusul. Manajer restoran tampak panik.
"Pak Dimas, mohon..."
"Usir dia!" bentak Dimas. "Dia menyerang saya!"
Petugas pertama maju ke arah Arya. "Pak, tolong lepaskan."
Arya melepas pergelangan Dimas.
Dimas langsung mundur sambil mengusap tangannya. "Pukul dia."
Petugas itu ragu, tetapi tekanan Dimas membuatnya bergerak.
Gerakan pertama terlalu lebar.
Arya menggeser tubuh setengah langkah, menangkap siku, memutar bahu, lalu menurunkan petugas itu ke lantai tanpa suara keras. Petugas kedua mencoba menahan dari belakang. Arya berputar, mengunci pergelangan, dan membuatnya berlutut. Petugas ketiga berhenti sebelum sempat menyerang.
Semua terjadi kurang dari sepuluh detik.
Tidak ada meja yang hancur.
Tidak ada pukulan berlebihan.
Hanya tiga orang dewasa yang tiba-tiba mengerti bahwa tubuh mereka tidak lagi mengikuti kehendak sendiri.
Andini menatap Arya.
Ia pernah melihat Arya dingin.
Ia pernah melihat Arya berkuasa.
Namun setiap kali lelaki itu bergerak untuk melindunginya, ada sesuatu di dadanya yang sulit ia atur.
"Cukup," kata suara dari arah pintu utama.
Seorang pria paruh baya berjas abu-abu datang tergesa-gesa. Manajer langsung membungkuk.
"Pak Hendri."
Pemilik Restoran Fajar Indah itu melihat petugas di lantai, Dimas yang pucat, lalu Arya.
Wajahnya berubah seketika.
Ia menunduk dalam.
"Tuan Muda Arya. Saya mohon maaf. Saya tidak tahu Anda datang ke tempat kami."
Restoran hening.
Dimas membeku.
"Tuan... Muda Arya?"
Hendri menoleh tajam. "Pak Dimas, Anda tahu siapa yang baru saja Anda suruh dipukul?"
Dimas menelan ludah. "Saya..."
"Arya Suryanegara."
Nama itu jatuh seperti palu.
Beberapa tamu langsung berbisik. Seseorang hampir menjatuhkan sendok.
Dimas mundur satu langkah. Kakinya kehilangan kekuatan. Ia berlutut, bukan karena didorong, tetapi karena lututnya sendiri menyerah.
"Pak Arya... saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu."
Arya tidak memandangnya lama.
"Minta maaf kepada Andini."
Dimas segera menoleh ke Andini. "Bu Andini, maaf. Saya salah bicara. Saya salah besar."
Andini menarik napas. "Saya terima permintaan maaf Anda. Tapi untuk urusan tender, semua tetap lewat prosedur."
"Iya. Tentu. Tentu."
Hendri membungkuk lagi. "Tuan Muda, proyek renovasi tetap kami percayakan kepada Bu Andini. Mulai hari ini, semua pembayaran termin akan disimpan di escrow supaya tidak ada keterlambatan."
Arya baru memandangnya. "Bagus. Profesionalisme lebih penting daripada rasa takut."
"Saya mengerti."
Setelah mereka keluar dari restoran, Andini berjalan diam di samping Arya.
Di parkiran, angin siang membawa bau aspal panas dan bunga dari pot besar di dekat pintu.
"Mas Arya," katanya pelan.
"Hm?"
"Saya bisa melindungi diri sendiri."
"Aku tahu."
"Tapi tadi..."
"Tadi dia menyentuh batas."
Andini menunduk. "Terima kasih."
"Untuk proyek ini, aku akan kenalkan kamu ke dua klien lain. Bukan sebagai bantuan kosong. Portofoliomu memang layak."
Ia menatapnya. "Anda selalu membuat bantuan terdengar seperti audit."
"Itu agar kamu tidak merasa berutang."
Senyum Andini muncul perlahan.
"Terlambat. Saya sudah merasa berutang banyak."
Ponsel Arya bergetar sebelum ia sempat menjawab.
Nama Ratna muncul di layar.
Arya mengangkat.
Suara Ratna terdengar pecah.
"Arya..."
Ia tidak memakai Pak. Tidak memakai Tuan. Hanya nama, penuh takut.
"Yanto datang. Dia membawa orang. Dia bilang mau mengambil Bunga. Saya tidak bisa..."
Di belakang suara Ratna terdengar tangis anak kecil.
Wajah Arya langsung dingin.
"Kunci pintu ruanganmu. Jangan lawan. Aku datang."
Andini melihat perubahan itu. "Ada apa?"
Arya sudah berjalan ke mobil.
"Ratna dalam bahaya."
"Mas Arya..."
Ia menoleh.
Andini tidak bertanya apakah ia perlu ikut. Ia hanya berkata, "Hati-hati."
Arya masuk ke mobil.
Mesin menyala.
"Pak Satria," katanya lewat telepon, "siapkan berkas tentang Yanto sekarang. Semua bukti. KDRT, perselingkuhan, pengalihan aset, apa pun yang bisa dipakai di pengadilan."
Suara Pak Satria terdengar langsung siap. "Sudah saya simpan sejak Anda berinvestasi di Ratna Permata Jewelry, Tuan Muda."
Arya menatap jalan di depan.
"Bagus."
Mobil melaju keluar dari parkiran.
"Hari ini," katanya, "Yanto belajar bahwa anak kecil bukan barang yang bisa direbut."