Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Menteng, Dunia yang Berbeda
Jalan tol membawa mereka menjauh dari bukit dan sawah.
Semakin mendekati Jakarta, ruang hijau di luar jendela menyusut. Truk, bus, dan deretan mobil memenuhi jalur. Bangunan rendah berubah menjadi gedung bertingkat, papan iklan besar, jalan layang, serta kaca-kaca tinggi yang memantulkan matahari sore.
Lucas berhenti menghitung mobil setelah jumlahnya terlalu banyak.
"Rumahnya di atas gedung itu?" tanyanya sambil menunjuk apartemen tinggi.
"Bukan," jawab Karina. "Kita masih jalan."
Nathan tidak banyak bicara. Ia duduk sangat dekat dengan Karina, satu tangan memegang tas kecil berisi pakaian mereka. Setiap kali mobil berpindah jalur, jarinya mengencang pada pegangan tas.
Karina mengusap punggung tangannya. "Pusing?"
Nathan menggeleng. "Ramai sekali."
"Kalau capek lihat luar, tutup mata sebentar."
Anak itu tidak menutup mata. Ia terus memperhatikan jalan seperti sedang menghafal rute pulang.
Karina sendiri menatap pantulan tubuhnya pada kaca. Bajunya bersih, tetapi warnanya telah pudar karena terlalu sering dicuci. Ada jahitan kasar di dekat siku. Di luar, perempuan-perempuan turun dari mobil dengan sepatu mengilap dan tas yang mungkin bernilai lebih besar daripada seluruh isi rumah Cibungur.
Perbedaan itu tidak membuatnya malu. Hanya membuatnya semakin sadar bahwa aturan dunia baru ini tidak akan ditulis dengan huruf yang mudah dibaca.
Menjelang sore, rombongan keluar dari jalan besar dan memasuki kawasan Menteng. Lalu lintas tetap padat, tetapi pepohonan tua berjajar di tepi jalan. Di balik pagar tinggi tampak rumah-rumah luas dengan halaman yang tersembunyi dari pandangan.
Mobil paling depan berhenti di depan gerbang besi hitam.
Kamera kecil bergerak. Beberapa detik kemudian, kedua daun gerbang terbuka tanpa suara.
Di baliknya terbentang jalan masuk berlapis batu, taman yang dipangkas rapi, dan bangunan putih bergaya rumah kolonial dengan pilar tinggi. Jendelanya memantulkan langit. Air mancur kecil berdiri di tengah halaman melingkar, terlalu bersih sampai tidak ada satu daun pun mengapung di permukaannya.
Kediaman Wijaya.
Lucas menekan wajah ke kaca. "Itu rumah?"
"Iya," jawab Karina.
"Semuanya?"
Karina hampir tertawa, tetapi Nathan sudah meraih tangannya. Telapak anak itu dingin.
Saat mobil berhenti, seorang petugas membukakan pintu. Karina turun lebih dulu, lalu membantu Lucas. Nathan turun sendiri, tetapi tidak melepas tangannya.
Tuti keluar dari kendaraan di belakang. Perban di pelipis dan pakaian sederhananya membuatnya tampak semakin kecil di tengah halaman luas. Ia memandang Karina sebelum berani melangkah mendekat.
Pintu utama terbuka.
Sekitar belasan orang telah berdiri dalam dua baris di serambi dan aula. Sebagian mengenakan seragam rumah tangga, sebagian pakaian keamanan. Begitu Sebastian menaiki anak tangga pertama, kepala mereka menunduk hampir bersamaan.
"Selamat datang, Pak Sebastian."
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi keserempakan itu membuat Lucas bersembunyi di sisi Karina.
Sebastian hanya mengangguk. "Lanjutkan pekerjaan. Jangan berkumpul terlalu lama."
"Baik, Pak Sebastian."
Tidak ada yang bergerak sebelum ia selesai bicara.
Karina memperhatikan cara para pegawai menghindari tatapannya, cara petugas keamanan menunggu satu isyarat, dan cara seorang lelaki segera menerima jas Sebastian tanpa perlu dipanggil. Ini bukan sekadar rasa hormat kepada anggota keluarga kaya. Ada kewenangan nyata di baliknya.
Seorang perempuan berusia sekitar akhir lima puluhan maju dari barisan. Sanggulnya rapi, seragamnya sederhana, dan suaranya hangat tanpa terdengar berlebihan.
"Selamat datang, Nyonya Wijaya. Saya Asih. Semua biasa memanggil saya Bi Asih."
"Terima kasih, Bi."
Mata Bi Asih singgah pada pakaian Karina, tangan Nathan yang menggenggamnya, lalu Lucas yang setengah bersembunyi. Tidak ada penghinaan di sana, tetapi perempuan itu jelas mencatat setiap detail.
"Kamar Nyonya sudah disiapkan di lantai dua. Kamar anak-anak ada di sebelahnya. Kalau mereka belum nyaman berpisah, tempat tidur tambahan bisa kami atur."
"Untuk sementara mereka bersama saya dulu."
"Baik, Nyonya."
"Tuti terluka dan masih ketakutan. Tolong tempatkan dia di kamar yang tidak banyak dilewati orang. Besok dia perlu pemeriksaan lebih lanjut."
Bi Asih menoleh kepada Tuti tanpa menatap perbannya terlalu lama. "Ada kamar di sayap belakang dekat ruangan saya. Lebih tenang. Saya akan pastikan makan dan obatnya."
Tuti mengembuskan napas kecil. "Terima kasih, Bi."
Sebelum mereka bergerak masuk, seorang lelaki muda dengan kemeja biru gelap bergegas dari sisi aula. Ia membawa tablet dan dua map, tetapi langkahnya melambat tepat sebelum mendekati Sebastian.
"Pak Sebastian, maaf. Ada perubahan dari dewan komisaris. Mereka meminta rapat besok dimajukan, dan tim internal grup menunggu persetujuan dokumen restrukturisasi."
Sebastian menerima satu map. "Siapa yang meminta jadwal diubah?"
"Pihak Pak Herman menyampaikan lewat sekretariat."
"Kembalikan ke jadwal semula. Kirim dokumennya ke ruang kerja saya."
"Baik, Pak Sebastian."
Lelaki itu baru menoleh kepada Karina. "Selamat datang, Nyonya. Saya Reyhan, asisten Pak Sebastian. Kalau ada urusan perjalanan atau dokumen, saya bisa membantu."
"Terima kasih, Pak Reyhan."
Reyhan tampak hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi Sebastian sudah berjalan menuju sayap kanan. Ia segera mengikutinya sambil membuka tablet.
Kata dewan komisaris, grup, dan restrukturisasi tertinggal di kepala Karina. Potongan-potongan itu cocok dengan dokumen yang dilihatnya tadi malam, tetapi belum membentuk gambar lengkap.
Bi Asih membawa mereka menaiki tangga lebar. Lucas menghitung anak tangga dengan suara pelan. Nathan sesekali menoleh ke belakang, memastikan Tuti masih mengikuti sampai perempuan itu diarahkan ke koridor lain.
Kamar yang disiapkan untuk Karina lebih besar daripada seluruh rumah di Cibungur. Tempat tidurnya dapat memuat tiga orang dengan mudah. Ada sofa, lemari penuh pakaian baru yang belum disentuh, kamar mandi berlapis batu terang, dan jendela tinggi menghadap taman belakang.
Nathan berdiri di ambang pintu. "Kita boleh masuk?"
Pertanyaan itu membuat kemewahan di hadapan Karina terasa mendadak dingin.
"Ini kamar kita untuk sekarang," jawabnya. "Masuk saja."
Lucas berlari dua langkah, lalu berhenti karena takut menginjak karpet putih dengan sandal kotornya.
Karina melepas sandalnya sendiri. "Begini. Nggak usah takut."
Kedua anak itu baru mengikuti.
Setelah Bi Asih pergi menyiapkan makanan dan kebutuhan Tuti, Karina berdiri di depan jendela. Taman di bawah tampak terlalu sempurna. Tak ada lumpur, kayu retak, atau suara tetangga bertengkar. Namun pagar tinggi yang membuat tempat ini aman juga membuat dunia luar hampir tidak terlihat.
Dalam satu hari, ia berpindah dari rumah yang tidak mampu menahan lima lelaki ke rumah yang mungkin menahan siapa pun di dalamnya.
Karina menyentuh kaca yang dingin.
Rumah boleh berubah. Pakaiannya boleh berubah. Orang-orang boleh memanggilnya Nyonya Wijaya.
Tujuannya tidak berubah: Nathan, Lucas, dan dirinya sendiri harus tetap selamat tanpa kehilangan hak menentukan hidup.
Ia berbalik hendak membantu anak-anak membuka tas ketika suara dua pelayan terdengar dari koridor. Mereka berbicara pelan, mungkin mengira pintu kamar sudah tertutup.
"Jadi itu Nyonya yang dibawa pulang?"
"Pelan. Katanya sekarang berbeda."
"Kasihan dua anak itu kalau ternyata cuma..."
Suara mereka mendadak hilang, disusul langkah cepat menjauh.
Karina berdiri di tengah kamar luas dengan firasat yang jauh lebih sempit daripada dinding-dinding di sekelilingnya.