Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Tanpa Suara
Lampu gantung utama di dalam rumah megah itu telah dipadamkan, menyisakan pendar remang dari lampu dinding koridor yang membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas lantai marmer. Keheningan malam merayap begitu pekat, jenis keheningan yang tebal dan menghimpit, seolah-olah dinding-dinding rumah tinggi itu sendiri sedang menahan napas.
Di dalam kamar utama, Nabila sudah berbaring di balik selimut sutra. Wajahnya rileks, matanya terpejam tenang dengan napas yang teratur. Kehangatan dari beberapa gelas wine mahal di restoran tadi serta euforia akan nominal 100 miliar yang baru saja disetujui Arga membuatnya tertidur lelap tanpa beban. Di jemari tangannya, ia masih memeluk bantal guling, memiringkan tubuhnya membelakangi sisi tempat tidur yang kosong.
Sisi tempat tidur tempat Arga seharusnya berbaring.
Arga melangkah masuk tanpa suara. Ia melepaskan sepatu kulitnya di dekat pintu, berjalan berjinjit mendekati tepi ranjang. Pria itu tidak langsung berbaring. Ia berdiri di sana dalam kegelapan yang sunyi, menatap sosok wanita yang telah mendampinginya selama lima tahun terakhir.
Di malam-malam yang lalu, sebelum kebenaran berdarah itu membentang di depan matanya, jam seperti ini adalah saat-saat paling berharga bagi Arga. Ia akan membelai rambut Nabila, menyelimuti bahunya yang terbuka, dan membisikkan rasa syukurnya pada Tuhan karena telah dikaruniai seorang istri yang menemaninya dari titik nol. Dulu, sentuhan Nabila adalah satu-satunya penawar rasa lelah dari kejamnya pertarungan di dunia bisnis.
Namun malam ini, saat Arga perlahan merebahkan tubuhnya di samping Nabila, rasanya sangat berbeda.
Kasur berderit pelan. Nabila mengeliat halus dalam tidurnya, secara refleks membalikkan badan dan merapat ke arah Arga. Tangannya terulur melingkari pinggang Arga, menyandarkan wajahnya di dada tegap sang suami.
Tubuh Arga membeku seketika.
Setiap inci saraf di tubuhnya berontak. Bau wangi parfum yang menempel di tubuh Nabila—berbaur dengan ingatan pahit akan bayangan wanita itu di pelukan Reza—membuat perut Arga mual luar biasa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kasmaran, melainkan karena rasa benci dan jijik yang memuncak hingga ke tenggorokan. Ada dorongan emosi yang amat kuat untuk mendorong Nabila menjauh, menggoncang tubuhnya hingga terbangun, dan menumpahkan segala amarah yang selama ini ia kunci rapat.
Namun, Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas panjang dan perlahan melalui hidung, memaksa otot-otot tubuhnya yang tegang untuk kembali rileks.
Jangan sekarang, bisik batinnya yang dingin. Emosi sesaat hanya akan merusak jebakan yang sudah tersusun. Biarkan dia tetap merasa aman.
Arga memaksa tangan kanannya terangkat, mengelus rambut Nabila dengan gerakan yang sangat lembut dan teratur. Sebuah gerakan refleks mekanis seorang suami yang menyayangi istrinya, walau hatinya telah sepenuhnya mati rasa.
Nabila bergumam pelan dalam tidurnya, makin mempererat pelukannya di dada Arga. "Mas Arga..." bisiknya halus dalam mimpi, mungkin bermimpi tentang kemewahan baru yang akan ia nikmati.
Arga menatap langit-langit kamar yang gelap. Dalam keheningan tanpa suara itu, pikiran Arga berkelana sangat jauh. Ia mengingat masa-masa di mana ia harus menghemat uang makan demi membelikan Nabila gaun impiannya, masa-masa di mana tangannya kasar dan melepuh karena bekerja belasan jam sehari. Semua keringat, darah, dan cinta tulus yang ia persembahkan ternyata ditukar dengan pengkhianatan paling hina.
Airmata hangat menyusup di sudut mata kanan Arga. Satu tetes saja. Ia tidak terisak, tidak ada desah napas yang patah. Airmata itu mengalir perlahan melewati pelipisnya dan jatuh membasahi bantal. Itu adalah airmata terakhir yang akan Arga jatuhkan untuk Nabila dan untuk pernikahan mereka yang telah hancur.
Bersamaan dengan mengeringnya tetesan airmata itu di kain bantal, sisa-sisa kelemahan di jiwa Arga luntur sepenuhnya. Malam pertama tanpa suara ini bukan lagi malam seorang suami yang terluka, melainkan malam pengukuhan seorang algojo.
Arga melirik Nabila yang tidur lelap di dadanya. Senyum tipis, dingin, dan tanpa ampun terukir di bibirnya di tengah kegelapan malam.
"Tidurlah yang nyenyak, Nabila," bisik Arga sangat pelan di dalam hatinya, hampir tak bergetar di udara. "Nikmati mimpi indahmu malam ini... karena ketika kamu terbangun nanti, dunia yang kamu banggakan ini akan perlahan-lahan runtuh di bawah kakimu."
Arga tetap membiarkan Nabila memeluknya hingga fajar menyingsing, membiarkan tubuhnya menjadi sandaran palsu bagi sang pengkhianat, sementara pikirannya terus merancang eksekusi tahap berikutnya tanpa henti.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt