NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Sumpah di Puncak Klub Enggar

“Perempuan bertopeng itu bukan tamu biasa.”

Amara meletakkan layar ponselnya di atas meja teh. Foto dari pesta amal memenuhi layar. Sosok perempuan bergaun gelap berdiri membelakangi kamera, sementara Damar Wibisana menahan seorang pria di depannya.

Sri Wahyuni hanya melirik sekilas. “Setengah perempuan di pesta itu memakai topeng. Apa yang istimewa?”

“Damar tidak pernah repot menolong orang yang tidak menarik perhatiannya.”

“Itu urusan keluarga Wibisana.”

Malam telah menutup rumah tua Wicaksana, tetapi ruang duduk masih terang. Sri Wahyuni bersandar di sofa yang dulu dipilih Laras, seolah seluruh rumah memang sejak awal dibuat untuknya. Di lorong, jam dinding berdetak terlalu keras.

Amara memperbesar foto. Wajah perempuan itu tidak terlihat. Hanya bahu tegak, tangan yang menggenggam kantong es, dan topeng KIMI dengan garis perak tipis.

“Dia juga membela Klub Enggar,” katanya. “Orang yang mengganggunya langsung dikeluarkan. Laporan hotelnya dikunci. Tidak ada media yang mendapat nama.”

“Karena dia tamu sponsor.”

“Dan beberapa minggu sebelumnya, Klub Enggar membuat kelompok investor menarik diri tanpa perlawanan. Mereka bahkan membayar kerugian pihak lain.”

Sri Wahyuni mengangkat cangkir. “Orang kaya saling melindungi. Kamu terlalu banyak membaca gosip.”

Amara tidak menjawab. Ada hal lain yang terus mengganjalnya, sesuatu yang tidak bisa ia susun menjadi bukti.

Anindya selamat dari Merapi. Ia menjalani operasi, menghilang dari jadwal terbang selama pemulihan, lalu kembali setelah pemeriksaan medis dan penilaian bertahap. Tidak ada keajaiban di sana. Semua orang di Adiwijaya mengetahuinya.

Namun Anindya yang kembali tidak lagi sama dengan perempuan yang menerima talak tanpa membanting pintu. Ia lebih tenang. Lebih sulit diprovokasi. Bahkan ketika Amara sengaja melewati ruang kru sambil membicarakan rencana pernikahan, Anindya hanya memeriksa dokumen penerbangan seolah suara itu tidak penting.

Ketenangan itu terasa lebih mengancam daripada tangisan.

“Ibu ingat orang Klub Enggar yang datang ke tahlilan Laras?” tanya Amara.

Tangan Sri Wahyuni berhenti sebelum cangkir menyentuh bibir. “Enggar hanya kenalan lama.”

“Dia membela Anindya.”

“Karena Pak Yahya membuat keributan lebih dulu.”

“Lalu di pesta amal ada perempuan yang dilindungi seperti tamu penting. Arka mendengar suaranya dan langsung pergi ke arahnya.”

“Kamu bilang wajahnya tertutup.”

“Arka tidak perlu melihat wajah untuk mengenali Anindya.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Sri Wahyuni menaruh cangkir sedikit lebih keras. “Kalau perempuan itu Anindya, lalu apa? Dia seorang kopilot yang baru sembuh. Kamu calon istri Arkana. Jangan bertindak seolah jabatan dan nama keluargamu tidak berarti.”

Amara menahan senyum pahit. Calon istri. Gelar yang terus disebut semua orang, tetapi tidak pernah disertai tanggal akad. Sejak Merapi, Arka menolak setiap pembicaraan yang mencoba mengubah rencana keluarga menjadi keputusan resmi. Di depan media pun ia sudah mengatakan belum ada tanggal yang disepakati.

Sementara itu, setiap kali nama Anindya muncul, wajah Arka berubah.

“Saya ingin seseorang memeriksa hubungan Anindya dengan Klub Enggar,” kata Amara. “Jadwalnya, orang yang menjemputnya, rekening yang bisa dilihat secara legal, siapa yang ia temui di luar penerbangan. Cari juga siapa pemilik kursi sponsor anonim di pesta itu.”

“Jangan gunakan orang perusahaan. Bramantya bisa mendengar.”

“Saya tahu.”

“Dan jangan sentuh dia lagi.” Tatapan Sri Wahyuni menajam. “Masalah di Merapi hampir menyeretmu. Orang yang kamu bayar masih bisa bicara.”

Amara merapatkan jari di atas lutut. Ia memang hanya ingin membuat penilaian Anindya gagal, memaksanya keluar dari kokpit. Ia tidak merencanakan batu runtuh, darah, atau operasi darurat. Namun ketakutan setelah melihat akibatnya telah lama berubah bentuk. Kini yang tertinggal adalah kemarahan karena Anindya tetap berdiri.

“Kali ini saya hanya mencari informasi,” katanya.

Sri Wahyuni menatapnya lama, seolah mencoba mengukur seberapa besar dusta di dalam kalimat itu.

Amara mematikan layar ponsel. Kalau semua itu hanya kebetulan, ia akan menemukan kekosongan. Kalau tidak, ia akan menemukan titik lemah sebelum Anindya sempat mengambil sesuatu darinya.

Ia belum punya rencana untuk membunuh siapa pun. Tetapi satu keputusan telah menjadi jernih: apa pun yang menghalangi pernikahannya, harus dihancurkan lebih dulu.

Di sisi lain Jakarta, angin malam menyapu teras tertinggi Klub Enggar.

Anindya berdiri sendirian di depan pagar kaca. Lampu kota terbentang di bawahnya, memantul pada jalan basah dan dinding gedung. Tiga setengah bulan lalu, ia datang ke lantai yang sama setelah cincin nikahnya dilepas dari jari. Saat itu matahari pagi menyinari daftar kompensasi yang terasa seperti harga untuk menghapus hidupnya.

Malam ini, tidak ada daftar di tangannya.

Bahunya masih terasa kaku ketika udara terlalu dingin. Bekas luka tidak hilang hanya karena ia sudah kembali ke kokpit dalam jadwal terbatas. Ia masih menjalani latihan penguatan, masih melaporkan nyeri, dan masih menerima bahwa tubuhnya memerlukan waktu.

Namun rasa sakit itu tidak lagi menentukan arah langkahnya.

Dalam seratus tujuh hari, ia telah kehilangan rumah yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia dihina di makam ibunya, dijadikan sasaran di tempat kerja, dan hampir tertimbun batu saat menyelamatkan orang lain. Ia terbangun di rumah sakit dengan seorang mantan suami yang menangis di sisinya, lalu menyadari bahwa penyesalan Arka tidak otomatis mengembalikan martabat yang pernah ia injak.

Ia juga menemukan sesuatu yang sempat dilupakannya.

Dirinya sendiri.

Anindya menyentuh anting peninggalan Laras. Logam kecil itu dingin di ujung jarinya. Cincin nikah siri tidak ada padanya. Arka telah mengambilnya saat mengakhiri pernikahan mereka, seolah ikatan itu bisa dicabut bersama satu lingkaran logam.

Anting ini berbeda. Benda itu berasal dari seorang ibu yang suaranya telah lama hilang, tetapi kebenarannya belum mendapat tempat.

“Ibu,” bisik Anindya, “aku terlalu lama membiarkan mereka menulis cerita tentang kita.”

Ia menatap arah kawasan tempat kantor pusat Grup Wicaksana berdiri. Di balik gedung itu ada arsip, saham, kesaksian lama, dan sebuah keluarga yang mengira diamnya adalah kelemahan. Ia akan mengambil kembali nama Laras dari kebohongan Sri Wahyuni. Ia akan meminta Bramantya menjawab setiap tahun ketika ia memilih diam.

Lalu pandangannya bergeser menuju lampu kantor Grup Adiwijaya.

Ia tidak ingin Arka kembali hanya karena ketakutan kehilangan. Ia juga tidak akan memohon Amara menyerahkan tempat yang direbutnya. Utang mereka bukan hanya tentang cinta. Ada penghinaan, keputusan sepihak, dan bahaya yang dibiarkan tumbuh karena orang-orang berkuasa yakin ia akan terus menunduk.

Tidak lagi.

Mulai malam ini, ia akan menyusun bukti sebelum menyerang, menguatkan orang-orangnya sebelum membuka nama, dan memilih sendiri kapan harus terlihat. Mereka pernah membuangnya sebagai perempuan tanpa sandaran. Kelak mereka akan mengetahui bahwa ia berdiri karena tidak pernah membutuhkan izin mereka.

Anindya menurunkan tangannya dari anting Laras. Kesedihan masih ada, tetapi tidak lagi tumpul. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang tajam dan tenang.

Ia berbalik dari pagar kaca, menatap cahaya di kejauhan, lalu berkata pelan, “Arka, sudah waktunya kita mulai lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!